Cari Blog Ini

Memuat...

Pencarian dengan Google

Custom Search

23 Februari 2013

MANUSIA


Sesungguhnya siapakah kita ini? Jika kita jujur pada diri sendiri, dan mau merenungkan dengan dalam keberadaan kita saat ini, siapakah sebenarnya kita? Apakah kita ini manusia yang penuh daya, penuh kekuasaan? Penuh kemampuan dan kuat menghadapi apa saja? Ataukah kita hanya mahluk yang lemah dan tak berdaya menghadapi situasi dan kondisi kehidupan yang teramat keras ini? Ya, siapakah kita ini? Yang kadang dengan penuh kesombongan membanggakan kekayaan-kekuasaan-kekuatan kita dalam menghadapi kenyataan tetapi sering ceroboh menyamakan kebenaran yang kita pikirkan sebagai kebenaran utuh bagi semua mahluk hidup?

Entah mengapa, tetapi kadang-kadang aku berpikir bahwa kita sering merasa seperti dewa atau dewi yang berhak untuk memaksakan keinginan kita hanya agar kita dapat menikmati hidup. Hanya agar kita senang karena segala keinginan kita dapat terwujud. Padahal, siapa yang tahu hari esok yang akan kita hadapi kelak? Siapa yang bisa memastikan masa depan yang akan kita terima? Siapa? Tidakkah mendadak kita dapat hilang begitu saja dengan tanpa kita sangka-sangka. Dan tanpa kita rencanakan sama sekali? Tidakkah kita sungguh hanya debu yang sekali angin bertiup akan terbang melayang entah kemana seturut angin yang berhembus itu?

Kesadaran akan keberadaan kita selalu menyembunyikan satu kepastian yang berusaha atau mungkin memang sengaja kita lupakan. Ujung hidup. Mati. Kita tidaklah abadi. Kita tak pernah akan kekal. Sesekali mungkin kita menyadari hal itu. Sesekali kita mungkin tahu tentang itu. Tetapi kita lebih senang melupakannya dan hidup hanya untuk sekarang, hari ini, demi kesenangan dan agar segala hasrat dan ambisi kita dapat teraih. Tetapi siapakah kita? Mengapakah dalam kekuatan dan kekuasaan dan kekayaan kita selalu bertindak seakan-akan kita ini jauh dari segala kesia-siaan atas apa yang semua mampu kita miliki?

Mereka yang hidup dalam kesedihan akan berpikir seakan-akan kesedihannya merupakan inti kehidupan. Dan melupakan wajah-wajah lain yang berada bahkan tepat di depannya. Seakan-akan semuanya bersenag hati kecuali dirinya. Mereka yang hidup dalam kegembiraan akan berpikir sekan-akan semua orang pun bergembira dan tak seorang yang nampak susah. Wajah-wajah berseliweran di depannya. Datang dan pergi. Dikenal atau asing. Akrab atau hanya lewat saja. Tetapi wajah-wajah itu bukan dia. Bukan dirinya. Dan itu memang pasti. Tetapi siapakah kita? Apakah kita memang berbeda dengan yang lain?

Kita. Aku. Diri ini. Sesungguhnya adalah sebuah misteri terbesar yang enggan kita selami lebih dalam. Kita. Aku. Seakan-akan pusat kehidupan dan selain dari diri ini sering hanya berada dalam bayang-bayang keterasingan yang tak dikenal dan tak ingin dikenali. Tetapi entah apa mereka memang asing, atau justru diri ini yang terasing, kita sendiri adalah potret kehidupan di dunia yang tidak sempurna. Dan dalam ketidak-sempurnaan itu, kita selayaknya menyadari bahwa kita pun sama seperti dunia ini. Tak sempurna. Dan takkan pernah sempurna.

Maka, sekali lagi, siapakah kita ini? Suatu ketidak-pahaman? Suatu ambisi, hasrat dan keinginan belaka? Waktu berlalu. Dan suatu hari kelak, saatnya akan tiba dan tiba-tiba kita sadar betapa terbatasnya kita. Kita pun akan lewat. Lalu menghilang dalam kenangan. Menghilang lenyap bersama satu kepastian. Kita tak ada lagi disini. Kita tak akan ada lagi. Sirna dalam keabadian. Jadi siapakah kita ini?

Tonny Sutedja
Poskan Komentar