Cari Blog Ini

Memuat...

Pencarian dengan Google

Custom Search

26 Maret 2013

ETIKA


Suatu siang, saat aku sedang berkendara, sebuah mobil melintas. Mobil yang di tubuhnya terpampang nama sebuah perusahaan ternama, yang baru pagi hari saya baca di koran lokal mengadakan aksi “Peduli Lingkungan”. Tiba-tiba dari dalam mobil tersebut terlempar keluar hamburan kulit rambutan dan tisu bekas. Aku terpaksa melambatkan kendaraanku agar hamburan sampah itu tidak menerpa diriku. Beberapa kendaraan lain kulihat melakukan hal yang sama. Aku memandang mobil itu, yang nampaknya tidak peduli, terus melaju dengan cepat sambil tetap menghamburkan sampahnya. Perasaanku gemas tetapi tak mampu berbuat apa-apa.

Aku pun mengingat kembali kalimat-kalimat berbunga yang tadi pagi kubaca, dari seorang wakil perusahaan itu tentang manfaat kebersihan, tentang etika untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Betapa mudahnya kalimat-kalimat itu meluncur keluar dan di saat yang lain, ternyata hanya menjadi sampah bagi para pengendara dan penumpang mobil milik perusahaan yang sama. Tetapi inilah potret buram dari kondisi kita saat ini. Kata-kata indah hanya tertinggal di mulut, lain yang diucapkan lain yang dilakukan. Apa yang kita sering ucapkan seringkali hanya pemanis agar kita dihargai dan dipuji oleh mereka yang tidak melihat sendiri perbuatan kita yang sesungguhnya.

Kita senang hidup dengan pencitraan belaka. Dalam banyak hal, etika yang kita katakan semakin kehilangan arti bila dikaitkan dengan apa yang kita lakukan setiap saat. Dan itu tidak hanya terkait dengan mereka yang kita anggap tidak berpendidikan cukup. Mereka yang bahkan memiliki banyak gelar di belakang namanya, mereka yang telah banyak belajar dan banyak tahu, ternyata, jika kita kenal kata dan perbuatannya, sebenarnya adalah mereka yang ternyata tidak mampu untuk berpikir sendiri. Pengetahuan hanya untuk dihapalkan dan hapalan itulah yang menjadi pernyataan namun tidak diamalkan dalam laku sehari-hari.

Demikianlah, kita hidup dalam dan bersama jebakan kesendirian dan kesepian, bukan hanya karena kita memang seorang diri tetapi lebih kerap karena kita hidup untuk diri sendiri saja dan tidak mau terlibat serta enggan untuk bertanggung-jawab secara sosial kepada masyarakat. Kita menganggap bahwa cukuplah pengetahuan itu sebagai bahan hapalan, sebagai pemanis kalimat saat diwawancarai tanpa memahami dan mendalami pengetahuan itu. Gelar didapat hanya dari hapalan semata, bukan pemahaman. Ilmu untuk diketahui bukan untuk dipikirkan dan dikembangkan. Betapa sia-sianya. Betapa tidak bermanfaatnya.

Aku memandang mobil perusahaan yang meluncur cepat itu sambil menggerundel dalam hati. Dan merenungkan betapa etika yang tadi pagi kubaca di koran lokal itu tertinggal hanya pada kalimat yang indah tetapi tidak bermakna apa-apa dalam tingkah laku sehari-hari. Aku tidak tahu siapa pengendara maupun penumpang mobil itu, dan mungkin saja bukan orang yang sama yang berbicara, yang kata-katanya kubaca, tetapi jelas bahwa ada jurang lebar antara apa yang dicitrakan dengan apa yang dilakukan atas nama yang sama. Menyedihkan sekaligus ironis. Dan inilah potret kita. Inilah citra kita di hari-hari yang kian kehilangan etika walau tetap menjadi pemanis citra bagi yang tidak melihat secara langsung beda antara kata dan laku.

Mobil itu kemudian lenyap dari penglihatanku. Meninggalkan siang yang terik. Meninggalkan sampah yang berhamburan di atas aspal di tengah jalan yang terkelupas di sana-sini. Meninggalkan etika hanya sebagai teks indah di halaman satu koran lokal. Tanpa makna apa-apa. Tetapi jelas bahwa aku kehilangan kepercayaan pada kata-kata yang indah itu. Bahwa yang tertulis tinggal tertulis, tidak untuk dipahami. Tidak untuk ditanamkan dalam hati dan pikiran serta kemudian dilaksanakan dalam hidup kita sehari-hari. Setiap saat. Menyedihkan. Betapa kita telah demikian banyak belajar, demikian banyak mengetahui pengetahuan namun kita ternyata gagal untuk berpikir sendiri. Dan di ujungnya, kita tertinggal dalam sepi, bukan karena kita sendirian, namun karena kita lebih senang hidup tanpa tanggung jawab sosial dalam masyarakat. Sungguhkah kita demikian adanya?

Tonny Sutedja
Poskan Komentar