Cari Blog Ini

Memuat...

Pencarian dengan Google

Custom Search

02 Juli 2016

ANDUONOHU, JULI 2016

Hujan sepanjang pagi
Mendung sepanjang siang
Dingin sepanjang malam
Senyap sepanjang kota

Akal menyimpan kata
Kata menyimpan rasa
Rasa menyimpan  duka
Duka sepanjang waktu

Kesenyapan jalanan
Keheningan rumah
Tanpa kata
Tanpa suara

: Tenggelam sepanjang waktu


Tonny Sutedja

30 Desember 2015

MANUSIA DAN WAKTU

Akhirnya, tibalah kita di ujung penanggalan tahun 2015. Dan besok, kalender lama akan diturunkan, diganti dengan kalender baru. Tahun 2016. Tetapi apakah semua itu punya arti bagi kita? Atau hanya sekedar kegiatan rutin setiap duabelas bulan sekali? Dan apakah angka-angka tahun itu punya makna khusus bagi kita? Atau hanya sekedar angka yang saling bertukaran apa adanya? Lebih dari itu, apakah waktu yang kita jalani setiap saat ini memang perlu ditandai dengan angka-angka yang sesungguhnya tidak menggambarkan sejarah alam semesta tetapi lebih karena pemikiran segelintir orang saja yang menginginkan keteraturan?

Tetapi keteraturan terkadang merepotkan. Dan juga membingungkan. Jika pada suatu malam yang cerah, kita menatap ke langit, memandang ke benda-benda yang bersinar di angkasa luas. Saat itu bagi kita sesungguhnya adalah memandang sejarah masa lampau benda-benda angkasa itu. Sejarah belasan, puluhan atau malah ratusan dan ribuan tahun cahaya yang lalu (kecepatan cahaya = 2.99792458 x 108 meter / detik), sehingga kemungkinan bahwa benda yang kelihatan bersinar indah itu pada kenyataannya saat ini mungkin sudah musnah. Demikianlah, selalu ada jarak, bukan saja dalam satuan metrik tetapi juga dalam waktu) antara kita, diri kita sendiri, dengan benda di luar kita yang dibatasi ruang.

Jadi siapakah kita ini? Mengapa kita ada? Untuk apa kita disini? Itulah pertanyaan yang sering mengusik pemikiran manusia, yang berupaya membuka kesardannya, dan karena itu memunculkan ber-aneka aliran agama dan keyakinan yang berbeda-beda. Dalam hal ini, tak ada yang bisa dikatakan salah atau benar. Sebab, kita memang selalu punya jarak antara pemikiran diri sendiri dengan pemikiran sesama kita. Bahkan yang terintim sekali pun. Kita adalah kita, bukan dia. Bukan mereka. Dan jika, kita sering tak mampu memahami pemikiran dan tindakan kita sendiri, bagaimana bisa kita yakin bahwa kita dapat memahami pemikiran dan kelakuan orang lain?

Maka di penghujung tahun 2015 ini, mungkin perlu kita menyadari keterbatasan kita sebagai manusia. Sebagai manusia yang sendirian. Untuk selalu sadar bahwa ada jarak dan waktu yang memisahkan kita dengan orang lain. Dengan sesama. Jarak dan waktu yang membuat kita tidak sama dan tidak mungkin sama dengan orang lain. Sebab itu, kita masing-masing perlu menahan diri atau bahkan menolak pemaksaan untuk penyamaan itu. Karena justru pada ketidak-samaan itulah terletak keindahan kehidupan ini. Bayangkanlah jika semua sama dan disamakan. Yang ada hanya manusia-manusia robot yang, mungkin bergerak dengan serasi, seragam dan terpadu, tetapi monoton. Dan membosankan.

Akhirnya, tibalah kita di ujung penanggalan tahun 2015. Tetapi sebagian dari kita, ujung penanggalan itu 7 Pebruari 2016 (8 Pebruari 2016 tahun baru Imlek 2567), sebagian lagi pada 1 Oktober 2016 (2 Oktober 2016 tahun baru Hijriah 1438). Maka apa artinya angka-angka itu, selain dari patokan waktu bagi kita masing-masing sesuai dengan lingkup keberadaan kita di dunia ini? Dan karena lingkup keberadaan kita berbeda satu sama lain, tak ada gunanya untuk saling memaksakan apalagi hingga saling meniadakan. Bukankah Sang Pencipta memang membuat kita apa adanya? Bagaimana kita bisa merasa wajib untuk menyamakan pikiran kita dengan pikiran Tuhan dan karena itu memaksa orang untuk sama dengan pikiran kita?

Selamat Tahun Baru 2016


Tonny Sutedja

29 Desember 2015

MENYAMBUT 2016

Ada yang datang

Ada yang pergi

Demikianlah, waktu mengalir dalam hidup kita.

Tanpa terasa, kita kembali berada di ujung tahun. Walau, apa yang kita sebut tahun dalam angka itu sesungguhnya hanya hasil kesepakatan bersama saja (bukankah demikian banyak suku bangsa yang memiliki angka waktunya sendiri-sendiri?). Sebab apakah makna 2015 yang segera akan kita tinggalkan dan 2016 yang selanjutnya akan kita masuki dalam sejarah perjalanan waktu yang demikian panjang sejak awal keberadaan dunia ini? Sungguh tak berarti apa-apa. Sama seperti keberadaan kita sendiri di alam semesta yang maha luas ini. Sungguh, kita ini hanya setitik atom atau malah jauh, jauh lebih kecil dari itu.

Demikianlah, tahun 2015 akan segera berlalu. Dan tahun 2016 akan segera tiba. Dan sebagian dari kita mungkin menjalaninya dengan biasa-biasa saja. Sebagian lagi dengan sedikit rasa haru mengenang penuh nostalgi akan momen-momen indah yang telah terjadi. Tetapi mungkin sebagian lagi dengan rasa syukur dan berharap agar hari-hari yang penuh kesulitan di tahun ini akan segera pergi untuk menemui tahun mendatang yang, barangkali, jauh lebih baik dari tahun ini. Apapun perasaan kita saat meninggalkan tahun lama untuk memasuki tahun baru mendatang, selalu ada kesadaran bahwa yang baru pun akan segera usang kembali. Sebab waktu meluncur terus.....

Namun, sebelum meninggalkan yang lama dan menyambut yang baru, inilah momen yang pas bagi kita untuk merenungkan perjalanan kita sepanjang tahun ini. Atau bahkan sepanjang kehidupan kita hingga saat ini. Apakah di penghujung tahun lama ini, kita dapat meninggalkannya dengan senyum kegembiraan atau hanya dengan senyum kecut atau bahkan senyum yang penuh kepedihan? Tentu, hanya masing-masing kita saja yang mampu mengetahuinya (walau terkadang kita bahkan tidak mampu mengenal diri kita sendiri).

Ada yang datang

Ada yang pergi

Sebagaimana layaknya kehidupan ini.

Sebab memang tak ada yang bisa abadi. Tak ada yang kekal dalam waktu kehidupan kita yang terus mengalir. Tetapi, semoga kita semua masih mampu untuk berkata: “Hidup ini memang sulit, tetapi harapan selalu ada. Musibah, bencana dan malapetaka memang selalu dan akan tetap terjadi tetapi hidup masih berjalan terus. Sebab itu, kita harus belajar untuk menghadapi dan menerimanya apa adanya. Dan sebagaimana mestinya. Sebagaimana harusnya.”

Dan di ujung tahun 2015 ini, kesadaran itulah yang sangat kita butuhkan. Untuk tetap percaya pada masa depan, betapapun sulitnya keadaan kehidupan kita. Untuk tetap yakin bahwa, memang tak ada yang mampu meramalkan masa depan, tetapi oleh karena itu juga, tak ada kepastian bahwa kesulitan kita akan tetap atau siapa tahu akan berubah menjadi kegembiraan. Sebuah pepatah berbunyi: “Saat-saat tergelap dalam malam justru tiba tepat sebelum fajar menyingsing”. Dan, pepatah lain lagi berbunyi “jika ingin menyaksikan keindahan pelangi, tunggulah setelah hujan reda”. Maka, marilah kita semua berharap (tanpa perlu berlebihan) bahwa tahun 2016 akan lebih baik, jauh lebih baik dari tahun 2015 ini. Bagaimana pun, tak ada yang abadi di dunia ini selain dari perubahan. Maka berubahlah menjadi insan yang lebih baik. Dengan hati yang lebih tegar. Dan semangat yang penuh kerelaan dan kesabaran untuk tidak hanya berkembang demi diri sendiri, tetapi juga dan terutama menjadi lebih berguna bagi sesama dan semesta.

Mari meninggalkan tahun 2015. Mari menyongsong tahun 2016. Apa yang pergi, biarlah pergi. Apa yang akan datang, masrilah kita sambut dengan kesadaran bahwa, baik atau buruk, semua pasti punya makna bagi kehidupan kita. Dan selama kita hidup, kita tetap punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Tetap punya harapan untuk menjadi lebih berguna. Baik untuk diri kita sendiri, baik untuk sesama kita semua. Baik untuk alam semesta ini.

SELAMAT TAHUN BARU 2016.
May The Power Be With Us.....


Tonny Sutedja

09 Maret 2015

KENDARI, MARET 2015

Ada titik air jatuh
Jatuh dalam syair dan lagu
Ada titik air jatuh
Mengendap dalam kenangan dan luka

Samudra pertanyaan menghampar
Saat jawaban mulai pudar
Dan suara menjadi kelu
Saat gerimis tiba

Ada titik air jatuh
Jatuh dalam kata dan sepi
Ada titik air jatuh
Membasahi bumi manusia

Lihatlah, gelap telah tiba
Dengarlah, musik mengalun
Rasakanlah, sepi memeluk
Dan jiwa. Dan jiwa.

: Entah kemana akan berlabuh.....


Tonny Sutedja

31 Desember 2014

WAKTU

Di malam Tahun Baru kemarin, sendirian aku merenungi satu pertanyaan: Apakah sang Waktu itu? Berbedakah antara tahun kemarin, hari ini ataupun esok? Ataukah semuanya sama saja? Apakah sekedar sebab hobbi atau iseng saja maka manusia menata sang Waktu ke dalam detik-menit-jam-hari-minggu-bulan-tahun-abad dan seterusnya? Atau sebab manusia selalu menginginkan keteraturan, sistimatika dan keseragaman dan untuk itulah maka sang Waktu dipatok-patoknya? Lalu, apakah maknanya tahun yang telah lewat, tenggelam dalam sejarah, bagi kita semua? Dan bagaimana pula arah masa depan yang akan menghadang kita nanti? Samar-samar aku merasakan suatu tirai yang aneh menyentuh kesadaranku. Di dalam bukunya yang laris, A Brief History of TimeStephen W. Hawking bahkan dengan jelas walau agak njelimet menulis bahwa, secara teori, sang Waktu bisa dibelokkan atau malah dipelintir. Jadi sesungguhnya apakah sang Waktu itu?

Hari ini, tahun 2014 telah tertinggal di belakang tetapi nanti tahun 2015 pun perlahan akan menjadi tua juga. Sebagian dari kita pun merasa bahwa kehidupan berjalan kembali dalam rutinitas, sama seperti tahun lalu. Tak ada yang berubah, kecuali mungkin bahwa penanggalan tua telah ditanggalkan diganti dengan penanggalan baru yang kelak pun menjadi usang dan akan diturunkan serta ditukar dengan yang baru yang pun akan menjadi tua pula. Demikianlah seterusnya. Lalu, apa pula artinya segala isak tangis dan tawa ria, segala kesepian dan kejayaan di dalam gelombang sejarah yang tak terukur ini? Mengapa kita selalu mencari pertanyaan dari kenyataan yang terjadi? Dan di manakah dapat kita temukan jawaban atas segala pertanyaan itu? Bahkan di jaman kemajuan tehnologi kini, saat informasi membeludak secara serempak dan langsung, kita malah menjadi bingung, mengambang serta masa bodoh dalam menyerap segala kejadian tersebut. Akhirnya, kita sering kian terpuruk dari segala kemajuan dan kemoderenan itu. Maka harus bagaimanakah semestinya kita hidup? Harus bagaimanakah kita memahami sang Waktu?

Demikianlah, dari satu renungan sederhana aku terpilin dalam spiral tanya tanpa jawab. Logika berpikir yang pelik gagal terterpa fakta yang aktual. Pemahaman kita terhadap sekeliling mau pun eksistensi kita sendiri, dalam gerak laju sang Waktu, hanya membuahkan bilur-bilur pencarian yang selalu gagal dicapai. Kebenaran, dalam kejadian sehari-hari, bagaikan bayangan kita sendiri yang nampak jelas namun tak terjamah. Hari esok pun selalu datang tetapi tak pernah tiba. Maka kebahagiaan maupun kemalangan, bagiku dan bagi kita semua, merupakan pengalaman pribadi yang tidak akan pernah tertangkap secara utuh tanpa melibatkan pribadi kita sendiri. Kita selalu asing satu sama lain. Pun boleh jadi terhadap diri sendiri juga. Padahal pemahaman itu sendiri merupakan hakekat keberadaan kita sebagai manusia untuk tampil secara utuh.

Berdasarkan pada perenungan tersebut di atas, tibalah aku pada satu titik. Satu titik di mana kita mesti memiliki pegangan agar tidak terombang-ambing dalam derasnya gelombang Waktu. Apakah waktu akan terpelintir atau tetap lurus ke depan, sama sekali tidak berarti selama kita tetap menyadari eksistensi kita sebagai manusia ciptaan Tuhan, manusia yang hidup bersama sesama dan bersama alam seputar kita. Satu pegangan telah dirumuskan dengan amat sempurna oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada penduduk Korintus: Iman, Pengharapan dan Kasih. Satu pegangan yang bersumber dari Firman yang Hidup. Firman yang telah menjadi daging yaitu Yesus Kristus, Tuhan kita. Dengan demikian, sang Waktu akan menjadi nisbi. Sang Waktu hanya sekedar gerakan, ke depan atau ke belakang tidak jadi soal lagi, selama eksistensi kita dinahkodai-Nya. Tanpa Dia kita hanya menjadi tong kosong yang terombang-ambing tanpa arah di lautan luas sang Waktu.

Sebab itu, marilah kita benahi logistik kehidupan kita dalam tahun yang terus menerus melaju. Dengan Iman kita percaya pada masa depan. Dengan Harapan kita tak akan merasa ragu untuk hidup. Dengan Kasih kita akan berbuah di saat ini juga. Kenyataan hanya sesaat saja. Kebenaran akan abadi. Semoga Kasih Kristus beserta kita semua dalam mengarungi sang Waktu yang demikian tak menentu ini. Amin!

Tonny Sutedja

09 Desember 2014

BURUK MUKA CERMIN DIBELAH

Demokrasi biang keladi Korupsi” demikian sebuah spanduk besar terpampang lebar yang dipegang oleh beberapa orang mahasiwa yang sedang melakukan aksi demo di pertigaan jalan menuju kampus di kota Kendari. Belasan orang nampak bergerombol di tengah jalan, melambai-lambaikan pamflet sehingga membuat lalu lintas menjadi tersendat. Saya melihat aksi mereka dengan perasaan gundah. Dan bingung.

Benarkah demokrasi merupakan biang keladi korupsi? Jelas bukan, menurut saya. Akar korupsi sesungguhnya mudah ditelusuri dalam hidup keseharian kita sendiri, terutama di jalanan. Sudah biasa terlihat betapa mudahnya kita melanggar lalu lintas, mengendara sambil berbicara lewat handphone, melintas tanpa memakai helm bahkan melawan arus lalu lintas yang sungguh membahayakan bukan hanya diri sendiri tetapi juga orang lain.

Biang keladi korupsi sesungguhnya berasal dari diri kita sendiri, dari keengganan kita untuk taat hukum. Baik awam, penegak hukum bahkan pembuat hukum sendiri seringkali justru melanggar semua hukum yang telah dibuat dengan banyak pemikiran dan biaya. Biang keladi korupsi sama sekali tidak berhubungan dengan demokrasi. Bahkan, jika dipikirkan lebih dalam, justru demokrasi yang telah membuat banyak korupsi terkuak karena kebebasan kita dalam bersuara, dalam menyampaikan fakta dan pendapat demi menguak kebenaran.

Demikian pula halnya dengan demo menentang kenaikan BBM beberapa waktu lalu. Banyak yang menolak kenaikan BBM dengan alasan harga di luar negeri justru turun. Subsidi meningkat akibat peningkatan pemakaian BBM. Maka pernahkah kita memikirkan sikap kita saat memakai BBM yang disubsidi itu? Bukankah setiap kesempatan, kita senang berputar-putar keliling kota bahkan tanpa tujuan sama sekali? Tidakkah itu hanya memboroskan BBM saja? Demikian pula. Tidak jarang pengatur ruangan dibiarkan terus nyala walau tak ada yang berada di dalam ruangan tersebut. Ya, bukan naik atau turunnya harga di luar negeri yang menjadi masalah tetapi sikap boros kita dalam memakai BBM yang tak tergantikan itulah yang memastikan bahwa harga harus naik. Maka tidakkah BBM naik akibat sikap kita sendiri dalam mempergunakannya?

Demikianlah, mempersalahkan yang diluar diri kita memang lebih mudah dan nyaman daripada mempersalahkan diri sendiri. Buruk muka cermin dibelah. Demikian peribahasa tua yang ternyata sangat relevan dengan apa yang sedang terjadi akhir-akhir ini. Kita lebih senang mencari kambing hitam daripada memikirkan solusi. Kita mmenyelesaikan masalah dengan menuding pihak lain tanpa pernah mau merenungkan sikap kita sendiri. Pada akhirnya, ‘dunia ini cukup untuk semua kebutuhan manusia, tetapi tidak untuk semua keinginan manusia....’ kata Gandhi . Dan kita justru lebih mengutamakan keinginan kita daripada kebutuhan kita. Entah sampai kapan....


Tonny Sutedja

07 Mei 2014

KAU AKU DAN SINGA KITA

Kapankah singa-singa itu tidur, sayangku?
Kapankah singa-singa itu tidur
Dan bulan
Dan bintang
Mengisi langit malam
Dengan keheningan
Dengan kedamaian

Sudah berapa lamakah kita berharap, sayangku?
Sudah berapa lamakah kita berharap
Tunas baru tumbuh
Dan bebungaan mekar
Tapi yang sisa hanya ranting kering
Meratap dalam sunyi
Tanpa suara

Dengarlah suara angin menderu, sayangku
Dengarlah suara angin menderu
Adakah dia memanggil namaku?
Adakah dia memanggil namamu?
Kita yang mengejar harapan
Tetapi harapan serupa bayang
Nampak tetapi tak teraih
Tak teraih

Semangat kita, sayangku
Semangat kita
Ringkih bagaikan domba
Di depan singa mengaum
Dan dia tak pernah diam
Dan dia tak pernah tidur
Sama seperti kita
Pemangsa dan mangsa
Waspada menanti celah
Untuk menerkam
Untuk diterkam
Kitakah dia?
Diakah kita?
Sementara langit kelam
Menyaksikan
Dengan damai
Dalam damai
Yang ada tetapi tiada
Yang nampak tetapi tak nampak
Kau
Aku
Dia
Siapkah kita?


Tonny Sutedja