21 November 2013

TUJUAN MENGHALALKAN CARA?

Dapatkah dibenarkan bahwa demi suatu tujuan yang baik dan mulia, kita melakukan perbuatan yang salah? Dapatkah dibenarkan bahwa demi suatu penolakan terhadap keputusan kenaikan BBM yang merugikan orang banyak, para mahasiswa/i melakukan pemblokiran jalan sehingga membuat kemacetan yang menyiksa juga banyak orang dan bahkan lebih memboroskan BBM itu sendiri? Dapatkah dibenarkan bahwa demi mendukung seorang yang diperlakukan tidak adil akibat perlakuan terhadap seorang pasien, maka para dokter melakukan pemogokan yang kemungkinan dapat membahayakan jiwa-jiwa orang lain yang harus dirawatnya? Dapatkah dibenarkan bahwa, demi melaksanakan apa yang dipikirkan sebagai keinginan yang Ilahi, maka orang-orang melakukan kekerasan bahkan pembunuhan sekalipun terhadap ciptaan-Nya sendiri? Dan sekali lagi, dapatkah dibenarkan jika demi apa yang dinamakan tujuan yang baik dan mulia, kita menghalalkan segala cara untuk mencapainya?

Demikianlah akhir-akhir ini yang demikian terasa di tengah masyarakat kita. Segala cara ditempuh demi menegakkan apa yang kita sebut kebenaran dan keadilan, segala cara sekalipun kita harus melakukan ketidak-benaran dan ketidak-adilan. Dan anehnya, mereka yang melakukan hal yang sama dapat saling mempersalahkan terhadap pihak lainnya. Padahal, bukankah esensinya sama saja? Baik pemblokiran jalan, pemogokan maupun tindakan kekerasan, sama-sama mungkin bisa merugikan siapa saja yang tidak terkait sama sekali dengan tujuan yang ingin kita perjuangkan tersebut. Kita tidak dapat menolak perbuatan yang satu sementara menerima perbuatan yang lain hanya karena kita merasa ikut terlibat di dalam persoalan tersebut. Logika kebenaran adalah, jika kita menolak sikap pemaksaan dengan kekerasan dan pelanggaran terhadap kepentingan orang lain, seharusnya kita juga menolak melakukan hal yang sama jika persoalan itu melibatkan diri kita, atau kelompok kita sendiri.

Tetapi nampaknya virus egosime dan individualisme telah kian menggerogoti masyarakat yang membuat masing-masing kelompok hanya bisa membenarkan dirinya sendiri sementara menolak jika hal yang sama dilakukan oleh kelompok lain. Semakin luas jaringan, semakin berkembang cakupan komunikasi, semakin mudah pula terjadi saling keterpengaruhan sehingga setiap peristiwa lokal yang terjadi di pelosok terpencil tiba-tiba menjadi problem bersama dalam kelompok yang sama, sering tanpa ingin mencari tahu apa latar belakang dari peristiwa tersebut. Kita ingin mencari cara yang mudah, mendukung dan melawan, tanpa ingin mencoba memahami dan mencari-tahu latar belakang kejadian tersebut. Lawan ketidak-adilan! Sebuah seruan yang demikian gagah terdengar, padahal bagaimana jika ketidak-adilan itu disebabkan oleh ketidak-adilan lain? Bagaimana jika mempertahankan subsidi BBM dapat membuat ekonomi negeri ini menjadi minus sehingga banyak orang yang harus dikorbankan? Bagaimana dengan para pasien yang ditelantarkan atau ditolak padahal dia dalam kondisi yang demikian gawat hanya karena mereka tidak punya dana? Bagaimana jika orang-orang yang didakwakan hidupnya bertentangan dengan keinginan Ilahi terpaksa melakukan demi untuk mempertahankan keberadaannya agar tidak mati kelaparan? Bagaimana? Apakah mereka-mereka yang kecil, tidak berdaya, miskin papa dan tidak punya kekuasaan-kekuatan-kekayaan harus disisihkan? Kemanakah mereka harus mengadu jika kebenaran bahkan Sang Pencipta sendiri seakan-akan telah dan hanya dimiliki oleh yang merasa dirinya bersih, suci dan benar?

Sudah saatnya kita semua merenungkan segala pemikiran dan perbuatan kita sendiri, dan tidak hanya menjadi manusia-manusia yang enggan untuk mempergunakan satu anugerah terbesar dari Sang Pencipta kepada kita. Kita semua. Berpikir dan merenungi segala kemungkinan yang terjadi. Mencari-tahu penyebab peristiwa tersebut dan mencoba untuk memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi. Lalu bertindak dengan lebih bijaksana tanpa terikat dengan kepentingan individu atau kelompok yang seringkali bias dan hanya mementingkan diri dan kelompoknya masing-masing. Dan, jika pun nyata tujuan kita benar dan adil, janganlah melawan dengan berbuat sesat dan tidak adil, terlebih kepada mereka yang sama sekali tidak ada sangkut paut dengan persoalan tersebut. Tujuan tidak layak menghalalkan segala cara. Tidak layak sama sekali.


Tonny Sutedja

17 November 2013

ARTI KEHIDUPAN

Apa yang membuat kita hidup? Yang membuat kita memiliki arti dalam kehidupan? Serta tidak merasa sia-sia dalam menjalani kehidupan ini? Renungan ini saya tulis, setelah mendengar sebuah keluhan dari seseorang yang berkata bahwa, betapa dia telah memberikan banyak sumbangan buat mereka yang miskin tetapi tetap menjadi sasaran kemarahan saat gejolak sosial timbul. Seseorang yang merasa sia-sia saja segala kebaikan yang telah diberikannya selama ini. “Semuanya tak berguna....” katanya dengan penuh rasa sesal. Dan kesal.

Saya mengenal dia sebagai seorang yang cukup berada, selalu siap menyumbang buat kegiatan sosial dalam masyarakat, tetapi tak pernah aktip bersosialisasi. Dikenal tetapi tak mengenal. Baginya, cukuplah dia membantu dengan sebagian dana yang dimilikinya tanpa perlu terlibat secara langsung dalam kegiatan-kegiatan yang berjalan. Mungkin karena merasa bahwa lebih berguna waktu yang dimilikinya dipergunakan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, agar sebagian dapat dibagikan, daripada hanya membuang waktunya tanpa hasil yang nyata. Merasa bahwa semua dapat diganti dengan materi, bahkan persahabatan sekali pun.

Entah mengapa, kita seringkali menganggap bahwa semua persoalan dapat diatasi dengan dana yang kita miliki. Dengan bantuan materi yang kita siap bagikan. Tetapi kenyataannya hidup tidaklah demikian. Terkadang materi saja tidaklah cukup. Bahkan sering bukan solusi sama sekali. Perkenalan, persahabatan dan pergaulan tidaklah mungkin dibeli. Selain dikenal dan terkenal, kita juga harus mengenal. Tanpa mengenal, kita bagaikan hidup terasing di tengah masyarakat, mungkin menjulang tinggi, tetapi hanya menjadi sekedar tontonan yang, jika dalam situasi mendesak, dapat didaki dan dijarah. Hingga ke puncaknya.

Bagaimana pun, hidup kita ini tidak cuma sekedar materi belaka. Kita pun memiliki perasaan yang mampu membuat kita merasa dekat, merasa intim dengan mereka yang kita kenal, kita sayangi dan selalu ingin kita raih dan kita rangkul. Perasaan demikianlah yang membuat kita lebih dapat menerima mereka yang kita kenal secara langsung daripada mereka yang hanya muncul dalam bentuk benda dan materi, berguna sesaat tetapi kemudian mudah terlupakan. Sebab materi tidak berwajah. Tidak berperasaan. Dan sering tidak menyentuh kehidupan kita senyata kehadiran seseorang secara langsung.

Maka hidup tidak cukup hanya dikenal saja. Kita pun harus mengenal. Sebab hidup yang baik selalu berkomunikasi satu sama lain. Tidak cukup melalui perantara materi, sebesar apapun materi itu. Tidak. Dan itulah arti kehidupan ini. Setiap percakapan sesederhana apapun bentuknya, setiap sapaan dan kunjungan satu sama lain, sering jauh lebih bernilai daripada sekedar kiriman. Jauh lebih bermakna daripada sekedar titipan. Bagaimana pun, materi tidaklah akan berbicara seindah suara kita. Tidaklah akan semesra dengan kehadiran kita. Kita sulit tersentuh oleh materi tetapi akan tersentuh oleh kehadiran wajah-wajah yang hadir untuk tersenyum atau berbagi simpati di depan kita. Secara langsung. Secara nyata. Suatu bukti bahwa kita ada. Kita nyata.

Apa yang membuat kita hidup? Yang membuat kita memiliki arti dalam kehidupan ini? Bukankah itu karena kehadiran orang-orang saat kita membutuhkan mereka? Maka sungguh mengherankan ketika kita merasa telah membeli kebaikan dengan sumbangan. Telah membayar persahabatan dengan materi. Telah berbuat baik hanya dengan sekedar membagikan amplop berisi uang. Tanpa perlu tahu. Tanpa butuh mengenal. Saling mengenal. Saling membantu. Saling melayani. Saling berkomunikasi.


Tonny Sutedja

14 November 2013

KEPERCAYAAN

Apa yang hilang di tengah kita saat ini adalah kepercayaan. Bukan saja kepercayaan kepada orang lain, tetapi juga dan terutama kepercayaan kepada diri sendiri. Sebab, hanya mereka yang tidak punya kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri yang selalu ingin menghabisi lawan-lawannya. Hanya mereka yang tidak percaya diri yang menolak adanya perbedaan dan selalu ingin menjadi satu-satunya yang hidup, satu-satunya yang ada. Bagi mereka, kebenarannya harus ditegakkan sebagai kebenaran mutlak. Sebagai kenyataan tunggal. Tetapi nampaknya mereka lupa bahwa sikap itu justru merupakan sikap yang penuh egoisme, penuh kepentingan diri....

Ya, bagi mereka yang tidak percaya diri, perang adalah satu-satunya jawaban. Kekerasan adalah satu-satunya jalan. Pembasmian adalah satu-satunya cara. Untuk memusnahkan yang lain. Untuk meniadakan yang berbeda. Sehingga dunia dapat ada untuk dirinya sendiri. Dunia dapat menjadi milik pribadi. Tanpa tantangan. Tanpa perdebatan. Tanpa tanya-jawab. Semua kebenaran hanya bagi dirinya. Dan demi dirinya semata. Tetapi tidakkah ada kesadaran bahwa dunia yang mereka dambakan adalah sebuah dunia yang kosong? Sebuah alam yang hampa dan tak punya makna? Sebuah dunia dengan satu warna yang akan demikian membosankan sekaligus menakutkan?

How many deaths will it take till he knows, that too many people have died...” demikian penggalan lagu indah dari Bob Dylan, “Blowing In The Wind”. Berapa banyak kematiankah harus terjadi sebelum manusia sadar betapa sia-sianya semua usaha dengan kekerasan, perang, teror hingga pembantaian terhadap sesamanya? Aku menang, kau menang, kita menang, mereka menang, apakah artinya semua itu jika yang tertinggal hanya jasad-jasad yang membisu kaku dan kita semua kehilangan saudara tempat tukar pikiran dapat berbuah kebijaksanaan tentang hidup ini?

Apa yang lenyap di antara kita sekarang adalah kepercayaan. Kepercayaan bahwa kita semua mampu untuk menyelesaikan perbedaan dengan saling bertukar pikiran. Dan kepercayaan terhadap diri sendiri untuk menerima mereka yang berbeda pendapat, ide, suku, agama, ras dan aliran bukan sebagai musuh yang harus dihabisi tetapi sebagai teman bertukar pikiran agar bisa menghasilkan tujuan yang lebih mulia daripada hanya kepentingan diri dan kelompok kita saja. Tetapi sayangnya, kita tidak lagi percaya bahwa Yang Maha Kuasa sesungguhnya memberikan anugerah perbedaan itu untuk dapat saling mencari dan menemukan kebenaran. Kita justru merasa sebagai Yang Maha Kuasa itu sendiri dengan bersikap seakan-akan apa yang ada dalam pikiran kita sama dengan apa yang dikehendaki-Nya. Sebagai kebenaran-nya. Sungguh sikap yang teramat angkuh. Sekaligus sia-sia. Sangat sia-sia.


Tonny Sutedja

TUA

Apa yang tersisa dari hidupku sekarang hanyalah kenangan kemarin. Dan hari-hari sekarang dilalui seperti sebuah penantian. Penantian pada akhir yang akan tiba besok...” Wajah ibu tua itu, wajah yang telah dipenuhi keriput dan kuperkirakan usianya telah melewati 70-an, tetap berseri. Tetap dengan menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya. “Saya sudah melewati banyak peristiwa, telah berjalan jauh menelusuri tempat-tempat yang dapat kukunjungi, dan susah senang sekarang menjadi bahan cerita yang menyenangkan. Tetapi begitulah hidup, nak. Begitulah hidup. Saat kita mengalami masa susah, masa dimana seakan-akan semua ingin kita akhiri dengan jalan pintas, yang ternyata mampu kita lewati dengan baik walau masih tersisa luka dalam hati, kita sadar bahwa hidup yang kita jalani ini bukannya tanpa guna sama sekali. Sebagai pengalaman, peristiwa demi peristiwa mengajar kita untuk selalu mawas diri, selalu sadar pada keterbatasan hidup kita masing-masing...”

Demikianlah, aku selalu mengenang kalimat-kalimat yang diucapkan oleh ibu tua itu saat sedang mengalami kejadian yang sulit, dan selalu membuatku untuk tidak kehilangan harapan, bahwa pada akhirnya di ujung semua itu pasti akan ada akhir yang baik. Hidup ini memang melelahkan, penuh dengan kesulitan yang tidak kita inginkan, namun kita selalu dapat belajar darinya. Dengan memahaminya. Dengan menerima apa yang ada. Sebab tanpa tantangan kita tidak akan berjuang, tanpa penderitaan kita tidak memiliki harapan. Menjalani hidup ini sebagai suatu pengalaman dalam perjalanan yang tidak selalu menyenangkan, tidak selalu lurus dan lancar, akan membuat kita semua belajar untuk menerima kenyataan. Dan kenyataan, sepahit apapun, haruslah diterima sebagai akibat hidup.

Musim hujan tidak pernah tanpa akhir. Demikian pula musim panas tidak pernah abadi. Segala hal berputar, datang silih berganti. Masa panen. Masa paceklik. Berputar seperti roda dalam waktu yang terus berlalu. Sedih dan gembira. Tawa dan tangis. Kita harus mengalami semua hal untuk dapat memahami bahwa ada sesuatu yang lebih besar, jauh lebih besar daripada hanya sekedar ambisi, hasrat dan nafsu kita sendiri. Ada yang tak mungkin kita cegah dan tak mungkin kita hindari. Yang dapat kita lakukan hanya melewatinya, belajar darinya dan menerima apa adanya. Maka tak perlulah rasa sedih, sesal dan kekecewaan itu kita biarkan merusak keseluruhan hidup kita.

Memang, ada pengalaman-pengalaman pahit yang telah terjadi, yang telah menimpa kita. Pengalaman yang membuat kita terluka, bahkan sangat terluka. Tetapi tubuh ini hanya sekedar daging yang suatu saat akan binasa. Dan kata-kata menyakitkan yang terlontar pun suatu saat akan menguap dalam waktu. Maka yang perlu kita lakukan hanya menjalaninya, berbuat sesuatu yang lebih baik, berjuang untuk mengubah hidup kita sendiri. Sebab pada akhirnya, itulah yang akan membuktikan keberadaan kita. Setiap perjuangan yang kita lalui tidak akan lewat tanpa arti. Bahkan kekalahan di dunia ini pun, bukanlah sebuah tanda bahwa kita tidak memiliki harapan. Bukan. Kekalahan di dunia ini bahkan bisa menjadi kemenangan kita kelak. Sebab, siapa tahu apa yang akan kita temui di alam sana? Siapa yang tahu apa yang menjadi kehendak Sang Pencipta? Tidak seorang pun tahu. Bahkan tidak juga kitab suci. Sebab kitab suci hanya tonggak pematok yang diharapkan oleh Sang Pencipta tetapi bukan Sang Pencipta kita sendiri.

Maka saat di suatu waktu, di suatu masa kelak, jika semua telah kita lalui, jika usia kian meninggi, kita semua dapat merenungkan segala pengalaman hidup kita. Mungkin sedikit sesal, tetapi pasti yang pasti kita akan sadar bahwa segala pengalaman hidup kita, tidaklah sepahit yang kita sangka saat pengalaman itu kita hadapi. Tidak seperih seperti saat kejadian itu kita alami. Dan di momen seperti inilah, kita semua bisa tetap tersenyum saat menengok masa lalu kita. Sambil mengharapkan yang terbaik di masa depan nanti. Saat kita telah beristirahat dalam kekal. Saat jasad kita telah kalah, jiwa kita, roh kita akan melayang dengan kemenangan mutlak. Pengharapan mutlak. Raihlah itu dengan sukacita. Genggamlah itu dengan kegembiraan abadi. Sebab kita telah bersama Sang Pencipta sendiri....


Tonny Sutedja

PADA AKHIRNYA

Titik


Tonny Sutedja

DI TANAH RANTAU

Di tanah rantau ini
Darahku berceceran
Serupa kelopak bunga
Berhamburan
Atas bumi kelu

Di tanah rantau ini
Tubuhku tercabik
Sebagai persembahan
Padamu
Yang diam membisu

Tapi
Keluh tak guna
Segala beban
Kupanggul
Dengan diam
Dengan diam

Di tanah rantau ini
Hatiku membisu
Perlahan menyeret jiwaku
Ke dalam malam
Ke dalam sepi
: Hampa!


Tonny Sutedja

PEWARTAAN BARU

Waktu berkembang dan dunia pun ikut berkembang. Segala kebiasaan, tradisi dan budaya bergerak mengikuti segala perubahan yang terjadi. Penemuan baru di zaman sekarang ini tak bisa dihentikan selama pemikiran manusia bergerak terus, melaju mengikuti semua pembaruan yang telah terjadi. Maka cara pewartaan pun tidak lagi hanya terpatok pada gaya lama yang terbatas, tetapi juga harus mengikuti segala perubahan yang terjadi.

Di masa silam, para pewarta terpilih berkelana menembus terra inconigta, ke wilayah-wilayah yang asing dan tak dikenal, dengan segala upaya yang kadang sampai mengurbankan diri sendiri, kini setiap orang dapat menjadi pewarta hanya dengan duduk di depan layar monitor atau bahkan hanya dengan memakai handphone atau gadget lainnya sambil berkelana ke seluruh dunia yang terjangkau oleh jaringan internet. Sebuah dunia yang disebut maya tetapi sekaligus nyata karena sedemikian banyak yang terlibat di dalamnya secara real-time.

Dengan segala perkembangan dan perubahan yang sedang berlangsung saat ini, kini kita semua, khususnya yang menjadi pewarta, dituntut untuk menguasai cara-cara baru tersebut. Kita tidak bisa hanya terpaku pada cara-cara lama yang hanya berpusat di seputaran kita saja tetapi juga harus mampu untuk menjangkau secara luas ke seluruh jagat yang dapat mendengarkan dan mengenal kita. Jadi kita dituntut untuk menguasai cara pewartaan baru tersebut. Bukan lagi hanya dengan tenaga, keringat dan airmata tetapi dan terutama dengan pemikiran dan penguasaan tehnologi. Dengan belajar untuk memahami dan menguasai segala perkembangan dan perubahan zaman.

Maka sangat diharapkan setiap keuskupan, paroki bahkan hingga stasi dan rukun dapat mempunyai dan membuat satu jaring tersendiri yang menyatu di internet sebagai satu bentuk pewartaan baru untuk membentuk opini, komunikasi hingga pengajaran yang punya pengaruh kepada dunia yang luas. Segala kemajuan tehnologi di jaman ini telah memungkinkan kita untuk melakukan hal itu. Tinggal apakah kita mau untuk belajar menguasainya atau tidak.


Tonny Sutedja

12 November 2013

TAKJUB

Suatu malam, ketika listrik mendadak padam sehingga kegelapan tiba-tiba melingkungiku, aku membawa Deo, putraku yang menangis karena merasa takut pada gelap, keluar rumah dan mengajaknya menikmati langit malam. Saat itu bulan sedang purnama. Aku menunjuk ke atas dan berkata padanya, “itu bulan, itu planet, itu bintang”. Deo melihat ke langit, mulutnya melongo, wajahnya takjub menatap ke atas. Dan tangisnya pun terhenti. Ya, langit saat itu sungguh indah. Kesempatan yang tak mungkin kami nikmati jika bumi dipenuhi cahaya lampu. Bulan yang purnama, planet bercahaya dan bintang berkedip-kedip jauh di atas. Langit bersih dari awan. Dan di bumi suasana terasa hening. Damai.

Saat ini aku mengenang wajah Deo, wajah seorang anak kecil yang baru pertama kali menyaksikan indahnya langit malam saat kegelapan ada di sekitarnya. Wajah yang takjub. Wajah yang penuh semangat untuk mengetahui dan menikmati segala sesuatu yang baru. Bahwa kegelapan tidak perlu ditakuti karena dia selalu mengandung keindahan lain yang baru akan muncul ketika gelap datang. Dan aku merenungkan bahwa hidup pun selalu demikian. Kita tidak pernah tahu apa yang tersembunyi dalam gelap, namun setiap kegelapan pasti punya sesuatu yang takkan dapat kita ketahui sebelum dia muncul. Karena itu tak usah ditakuti, apalagi sampai disesali.

Tidak takjubkah kita kala musibah tiba dan mendadak ada orang yang tak kita kenal, atau bahkan mereka yang mungkin tak pernah kita sadari keberadaannya tiba-tiba hadir membantu dan ikut bersimpati? Tidak takjubkah kita saat sedang berada dalam masalah yang seakan tanpa harapan, lalu datang seseorang yang asing dan tidak kita kenal menolong? Dan aku teringat ketika di suatu malam, dalam kondisi yang sangat gelap di jalan menuju rumahku sementara jauh dari pemukiman, mendadak rantai motorku putus. Dan saat aku merasa khawatir dan bingung, datang menghampiriku pengendara motor yang lain yang sama sekali asing bagiku, lalu membantu menarik sehingga aku dapat tiba di rumah dengan aman dan selamat. Kemanakah kekhawatiran yang tadi demikian mengusik perasaanku?

Sungguh hidup ini, terang atau gelap, punya sisi yang menakjubkan. Pun yang menakutkan. Sebab siapa yang dapat mengatakan bahwa terang tidak mengandung bahaya? Tidak perlu dikhawatirkan? Ingat, justru dalam suasana yang terang, kita dapat terlena dan mengira bahwa segala sesuatu baik karena dapat terlihat secara jelas, sampai ternyata kita telah mengambil arah yang salah. Dan ketika itu terjadi, tak seorang pun datang membantu karena menyangka bahwa memang semua sudah jelas dan baik adanya bagi kita. Demikianlah hidup ini. Segala sesuatu yang sedang terjadi sekarang dan saat ini, tidak perlu digelisahkan. Tidak usah ditakutkan. Tetapi cari dan temukanlah sisi yang luput dari pandangan, rasakan dan nikmati apa yang ada. Maka kita dapat merasa terkesan karena ternyata, dalam situasi apapun juga, hidup selalu menawarkan harapan. Yang perlu kita lakukan hanya bergerak untuk mencari dan menemukan hal-hal indah yang dapat membuat kita melongo. Membuat kita terkesan. Takjub.


Tonny Sutedja

LURUS

Di jaman ini, mereka yang hidup lurus akan berjalan di lorong sunyi. Nyaris tanpa teman...” demikian kata seorang bapak padaku suatu ketika.”Entah kita meninggalkan atau kita ditinggalkan, kita menjadi orang aneh yang mengasingkan diri dari hiruk pikuk materi. Dan tak jarang membuat kita bertanya dalam hati, apa diri ini salah? Ataukan situasi dan kondisi kita yang salah urus?”

Saat merenungkan kalimat-kalimat itu, tiba-tiba aku sadar akan kebenaran yang terkandung di dalamnya. Paling tidak, jika dilihat sepintas. Kemajuan tehnologi telah menciptakan begitu banyak perubahan dalam diri kita. Benda yang bertaburan setiap saat dapat kita baca lewat iklan, dapat kita saksikan di layar kaca atau monitor, sungguh sangat menggoda hasrat kita. Sementara apa yang kita terima tidak dapat membeli segala yang tersaji di depan mata, maka kita mempergunakan segala cara, halal atau tidak, hanya demi dapat memiliki dan menguasai benda tersebut.

Demikian pula, percakapan dalam setiap pertemuan sering dibumbui dengan benda-benda yang ada di tangan kita, benda yang kita miliki dan kita pakai walau mungkin tidak sepenuhnya kita pahami. Maka mereka yang tidak mampu, tidak memiliki dan tidak tahu akan benda tersebut pada akhirnya akan tersisih. Mereka akan melalui lorong sepi dalam hidup yang jauh dari jalan raya yang bertaburan cahaya kemajuan. Tersisih dari pergaulan, tersudut dan hanya sekedar menjadi penonton dengan perasaan yang pahit. Tetapi juga rumit.

Tetapi haruskah hidup ini kita jalani dengan meninggalkan kesadaran hati nurani kita hanya demi agar dapat memasuki jalan raya yang demikian berkelimpahan cahaya gemerlap tetapi sesungguhnya belum sanggup kita pahami? Belum sanggup kita nikmati? Haruskah kita hanya dapat menjadi pembeli dan pemakai saja, dan tidak menjadi penjual dan pencipta yang jauh lebih memahami apa yang dapat kita peroleh? Mengapa kita lebih suka menjadi pengikut daripada menjadi perintis kemajuan?

Sungguh benar, mereka yang hidup lurus akan berjalan di lorong sunyi. Sebab hanya mereka yang berjalan dalam keheningan dapat menjadi pencipta yang kreatip, menjadi penemu karena perenungan yang dalam, menjadi pelopor kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tidak terpikirkan. Sebab sesungguhnya, kemajuan jaman ini tidak di tentukan di jalan raya yang gemerlap dengan pasar jual-beli yang hiruk pikuk tetapi di ruang-ruang terpencil yang memunculkan segala ide dan pemikiran untuk membuat manusia lebih nyman dengan dirinya. Atau paling tidak, membuat sang penemu lebih nyaman menjalani hidupnya.

Maka mereka yang hanya dipenuhi hasrat untuk memiliki dan menguasai, sesungguhnya tidak akan mampu untuk menciptakan kebutuhannya sendiri. Tidak akan bisa memikirkan kemungkinan lain yang dapat dilakukannya dengan kemampuan yang dimilikinya. Mereka hanya membeli keinginannya, bukan menciptakan apa yang diinginkannya. Sebab mereka hanya mencintai keramaian pasar, hiruk pikuk jalan, cahaya iklan yang gemerlapan. Mereka enggan untuk menyepi memikirkan apa yang dapat menjadikan hidup lebih bermanfaat, segan untuk menaklukkan keinginannya. Karena mereka tidak menyukai jalan yang berliku, penuh kesulitan dan rumit. Dan malas untuk terus menerus belajar memperbaharui dirinya.

Begitulah, kemajuan telah menciptakan suatu kontradiksi yang aneh pada kita. Sebab seharusnya, dalam pemikiran, hidup lurus selayaknya jauh lebih mudah untuk ditelusuri. Jauh lebih nyaman dan aman untuk dilewati. Hanya perlu usaha dan kerja nyata, belajar dan berpikir, mempergunakan semua kemampuan yang telah kita miliki. Tetapi ternyata kita jauh lebih menyukai sikap duduk dan menerima. Tanpa mengeluarkan keringat dan berpikir dalam. Berharap semua hal datang sendiri. Bagaikan memegang pengatur jarak-jauh. Serba instan. Serba ringkas. Maka kita mempergunakan segala macam cara selain dari bekerja secara jujur dan keras. Jika harus korup maka korup-lah. Jika harus menendang sesama maka tendang-lah. Yang penting kita dapat membeli dan membayar apa yang kita inginkan. Jika harus bekerja dan berpikir? Jangan...... Sebab hidup bukan untuk dipikirkan tetapi dinikmati. Ahhhhh......


Tonny Sutedja

MEMBACA DAN MENULIS

Kegiatan membaca adalah kegiatan untuk mengenal dunia. Mengenal orang lain, sesama kita. Mengenal alam semesta. Bahkan untuk mengenal diri kita sendiri. Sedang kegiatan menulis adalah memperkenalkan diri kita, semangat hidup kita, pandangan kita dan segala sesuatu tentang kita kepada dunia. Maka kegiatan membaca dan menulis adalah kegiatan dua arah: percakapan kita dengan sesama, dunia dan alam semesta yang indah ini.

Sungguh menyebalkan ketika kita berbicara dengan mereka yang merasa bahwa dia tahu segala sesuatu sementara dia enggan untuk membaca. Juga mereka yang selalu memaksakan kehendaknya sementara dia tidak pernah bisa menuliskan pendapatnya sendiri.. Bagaimana pun, bagiku, seseorang yang tidak pernah membaca dan menulis sesungguhnya bersikap masa bodoh terhadap lingkungannya dan hanya mementingkan dirinya sendiri.

Demikian catatan ini kutulis ketika, dalam suatu percakapan, seseorang berkata bahwa dia malas untuk membaca, tetapi dengan gigih atau malah terkesan keras kepala mempertahankan pendapatnya, seolah-olah dia yang menentukan benar dan salahnya orang lain dan selalu ingin memenangkan dirinya sendiri. Padahal, apa yang diketahuinya tentang hidup orang lain? Rahasia-rahasia terdalam perasaan orang lain? Kekecewaan, kekhawatiran bahkan kehampaan dalam hidup orang lain?

Kecenderungan untuk memaksakan kebenaran diri sendiri tanpa ingin memahami pendapat orang lain hanya membuktikan bahwa dirinya tidak pernah membaca, mencari-tahu dan memeriksa sejarah kehidupan yang demikian luas dan penuh warna. Baginya, hidup sekedar berarti hitam atau putih. Dan saat dia merasa dirinya putih, maka warna lain diluar putih adalah tidak relevan untuk dipertahankan, bahkan harus dihapus karena baginya, hanya warna putihlah satu-satunya yang ada dan mesti dipertahankan. Sungguh suatu yang sangat membosankan.

Begitu pula, jika dia memberikan pendapatnya secara pribadi, dalam suatu percakapan langsung, umumnya atau bahkan hampir pasti, dia akan kehilangan kesempatan untuk merenung sebelum mengutarakan apa yang diinginkannya. Apa yang dihasratkannya. Kemajuan dunia tidak akan tercapai tanpa proses membaca dan menulis. Tanpa proses memahami sesuatu dengan membaca dan merenungkan pikirannya sebelum menulis. Keindahan hidup ini sesungguhnya terletak pada catatan-catatan yang telah ditinggalkan oleh manusia, baik mereka hanya mendengarkan sebagai saksi mata maupun mereka yang telah berbuat. Dan catatan-catatan yang telah dibaca itulah yang mampu mengubah kehidupan kita semua.

Dan saya percaya bahwa setiap orang yang dapat membaca seharusnya juga dapat menulis. Mungkin dia tidak menjadi pengarang, sebab pengarang membutuhkan bakat alam, tetapi bagaimana pun dengan menulis kita dapat mengutarakan apa isi pikiran kita. Dan untuk menulis, hanya perlu satu syarat saja, yaitu selalu dapat dipahami oleh pembacanya, walau mungkin dengan bahasa yang sulit. Harus dapat dimengerti. Itu saja.

Maka membaca dan menulis selalu penting bagi kehidupan kita. Membaca dan menulis akan selalu meninggalkan jejak dalam kehidupan kita. Jejak yang mungkin tidak berarti tetapi mungkin pula menjadi tonggak-tonggak jembatan untuk menyeberangi ke hidup yang lebih baik kelak. Untuk anak cucu kita. Untuk generasi mendatang. Puluhan, ratusan, ribuan tahun hingga ke keabadian. Kita takkan pernah tahu dimana ujung dari apa yang telah kita tulis di kelak kemudian hari. Baca dan tulislah. Itulah kehidupan yang indah. Sangat indah.


Tonny Sutedja

DUA DUNIA

Orang dewasa jelas sangat aneh” (Pangeran KecilAntoine de Saint-Exupéry)

Orang dewasa memang terkadang aneh. Ada yang sering nampak aktip dalam kegiatan sosial dan keagamaan tetapi memperlakukan buruhnya sendiri seperti budak. Ada yang demikian pemurah bahkan boros saat mentraktir teman-temannya tetapi begitu pelit memberikan pinjaman bagi pegawai dan keluarga sendiri. Ada yang demikian hebat saat memberikan petuah kepada mereka yang punya masalah tetapi dia sendiri tak mampu menyelesaikan persoalannya sendiri.

Orang dewasa nampaknya selalu atau bahkan senang hidup di dua dunia yang berbeda, dunia yang saling bertentangan. Antara kepentingan diri dan kepentingan lingkungannya. Antara apa yang dikatakannya dengan apa yang dilakukannya. Seakan-akan dia hidup di dua dunia yang berbeda, yang bertentangan dan tidak saling menyapa. Tidak saling berhubungan satu sama lain. Betapa seringnya kita merasakan hal itu. Bahkan dengan diri kita sendiri. Dan hampir setiap saat kita mempergunakan topeng untuk menutupi diri kita yang sesungguhnya. Diri kita yang mungkin bahkan kita sendiri tidak mengenalnya.

Manusia melompat ke dalam kereta ekspres,” kata Pangeran Kecil, “tetapi mereka tak tahu lagi apa yang mereka cari. Maka mereka menjadi gelisah dan berputar-putar.” Demikian tulis Antoine de Saint-Exupéry dalam novel mininya yang indah, The Little Prince. Demikianlah, setiap saat kita selalu menghadapi dilema dalam hidup. Antara apa yang menjadi keinginan kita dengan apa yang harus kita tampilkan demi membuat kita tetap eksis di mata masyarakat. Dua dunia yang saling bertolak belakang.

Kemenduaan itulah yang sering membuat kita merenungkan tentang makna kemunafikan dalam hidup. Tetapi jika kita ingin jujur kepada diri sendiri, jujur kepada dunia, haruslah kita akui bahwa ternyata kita, ya kita semua, sering atau bahkan setiap saat melakukan hal yang sama. Hidup kita selalu bertopeng. Apa yang tampak diluar ternyata bertentangan dengan diri kita yang sesungguhnya. Semua kenyataan yang nampak adalah semu. Dan kita memiliki rahasia masing-masing, yang kadang dapat dirasakan tetapi enggan diakui.

Maka ketika kita memandang sekeliling, ketika kita merenungi kehidupan, akan nampaklah bahwa hidup ini sesungguhnya sebuah panorama yang sangat indah sekaligus sangat menyedihkan. Sebuah kisah di atas panggung sandiwara dengan banyak rahasia yang tersembunyi di balik layar. Dan Sang Sutradara kehidupan telah membebaskan kita untuk melakoni peran apa saja yang kita sukai. Tetapi kelak, kita semua dituntut untuk bertanggung-jawab atas peran tersebut. Dituntut untuk Dan ketika saat itu tiba, kita tak bisa menciptakan alibi. Semua topeng harus ditanggalkan. Dan dunia akan menyatu kembali. Menjadi satu.

Orang dewasa memang aneh. Mereka bermain dengan hasratnya. Dengan keinginan dan kesenangannya. Dengan kepentingan dan ambisinya. Seakan tak ada hal lain yang tersisa selain dirinya sendiri. Dan setiap pemikiran yang berbeda dengannya mesti dilawan, disingkirkan bahkan dihancurkan. Tetapi apakah kepentingan itu? Apakah ambisi itu? Siapakah kita? Bukankah pada akhirnya kita semua menjadi gelisah dan berputar-putar tanpa arah walau tetap ingin berkeras bahwa kebenaran ada di genggaman kita? Apakah Kebenaran (dengan K besar) yang kita yakini dapat dipastikan? Kita bukanlah Sang Pencipta Kebenaran. Kita hanya senoktah debu di samudra ketidak-pastian. Bagaimana kita bisa memikirkan dan melakukan hal yang seakan-akan kitalah Sang Penentu Kebenaran itu? Dan karena itu merasa berhak memaksa orang lain mengikuti keinginan kita?

Orang dewasa jelas sangat aneh. Sungguh aneh. Karena dia mengakui Sang Kebenaran sekaligus menciptakan kebenarannya sendiri. Dua dunia. Topeng. Wajah kehidupan kita semua. Kita semua.


Tonny Sutedja

GEREJA DIGITAL

Saya membayangkan sebuah gereja digital sebagai sebuah gereja paperless. Sebuah gereja yang saling terhubung dan berkomunikasi tanpa lewat lembaran kertas dan tanpa melalui jalur transportasi tradisional. Sebuah gereja yang keseluruhannya dapat saling menyapa, mencari informasi dan membagi informasi secara real-time. Maka untuk topik ini, saya sekaligus menuliskan sebuah harapan yang semoga dapat terwujud.

Saya membayangkan setiap keuskupan memiliki ruang tersendiri, baik di jalur website maupun di jalur media sosial yang bertaburan di dunia internet. Dan website tersebut berisi semua kegiatan yang ada, baik rencana maupun sedang dan telah terlaksana. Juga data-data tentang umat, sejarah dan link-link ke setiap paroki, stasi/wilayah bahkan hingga ke rukun-rukun yang ada di keuskupan tersebut.

Saya membayangkan setiap rukun dapat mengetahui setiap rencana kegiatan maupun data yang diperlukannya hanya dengan mengunjungi link parokinya. Begitupun setiap paroki dapat mengetahui kegiatan di stasi/wilayah hingga rukun hanya dengan mengunjungi link mereka. Dan setiap keuskupan dapat mengetahui kegiatan dan data di paroki hingga rukun hanya dengan mengunjungi link yang sama. Dengan demikian, setiap penerima sakramen pembaptisan, sakramen pernikahan hingga ke kematian umat dapat diketahui secara pasti dan langsung tanpa jeda waktu yang kadang memakan waktu lama dengan jalur transportasi tradisional.

Saya membayangkan semua komunikasi, baik antara keuskupan dan paroki, antar paroki maupun paroki dan stasi/wilayah hingga ke rukun-rukun dapat dilakukan dengan cara yang sama sehingga menghemat kertas, tinta, biaya pengiriman sampai jangka waktu yang tertunda dengan akibat kadang atau bahkan kabar diterima setelah jadwal yang dikirim sedang atau bahkan telah berlangsung. Sebuah gereja digital adalah sebuah gereja yang dapat saling terhubung setiap saat, dapat saling berkomunikasi dan berbagi info secara langsung lewat jaringan dan tehnologi yang dimanfaatkan secara tepat guna.

Dan tentu ini bukan sebuah impian tetapi dapat diwujudkan jika kita mau karena semua sarana dan prasarana telah tersedia dimanapun ada jaringan internet kecuali di daerah yang sama sekali tak bisa terakses komunikasi digital. Hanya, maukah kita semua belajar untuk memanfaatkan semua kemajuan tehnologi itu menuju ke gereja digital yang dibayangkan di atas?


Tonny Sutedja

06 November 2013

YOU SIAPAKAH?

You tidak tahu siapa saya? You berani macam-macam dengan keluargaku? Awas kau....”

Suara yang meninggi itu kudengar di suatu pagi, diucapkan oleh salah seorang kenalanku ketika berbicara melalui handphone-nya dan membuatku terpana. Dan ketika, setelah dia selesai berbicara, aku menanyakan, ada apa?, dia menjawab bahwa ada adik perempuan-nya yang ditangkap karena ketika keluar rumah berkendara, ternyata adik perempuan-nya itu lupa membawa STNK mobil. Dan sebab dia melanggar lampu pengatur lalu lintas akibat sedang terburu-buru untuk mengurus sesuatu maka dia dihentikan oleh seorang polisi lalu lintas yang sedang dinas di perempatan jalan tersebut. Mereka adalah anak seorang pejabat yang cukup tinggi kedudukannya.

Saya, yang sering bercakap-cakap dengan dia tentang apa saja, tapi terutama mengenai situasi negeri, politik dan kasus-kasus korupsi yang telah terjadi, merenungkan sikapnya itu. Dan sadar bahwa ternyata sering terjadi, pendapat yang diutarakan berbeda dengan sikap yang ditunjukkan. Sungguh berbeda. Dan saya kira, itu tidak hanya terjadi padanya, tetapi pada saya, dia bahkan mungkin saja kita semua. Dalam masalah yang terjadi pada orang lain, orang yang tidak kita kenal, kita dengan mudah bersuara keras mengecam tetapi saat kita sendiri yang terkena masalah, saat kepentingan kita terusik, sungguh bisa sangat lain kelakuan kita. Kita semua. “You tidak tahu siapa saya?....”

Sebenarnya apa yang terjadi? Sungguhkah kita memang sudah kehilangan perasaan malu? Ataukah menurut kita, aturan dan hukum hanya bisa berlaku bagi orang lain, bukan bagi kita? Barangkali soalnya tidak sesederhana itu. Saya berpikir bahwa kita semua, saat kedapatan berbuat salah lalu membela diri seakan-akan tidak salah, karena merasa bahwa kita diperlakukan tidak adil. Karena melihat kenyataan sehari-hari, betapa banyaknya terjadi pelanggaran yang dibiarkan begitu saja, sementara hanya pelanggaran kita saja yang diproses. Pelanggaran kita saja yang dipermasalahkan. Ya, perasaan ketidak-adilan itulah yang sering menjadi sebab mengapa kita semua bersikap menolak bahkan melawan ketika ingin diproses atas pelanggaran dan kesalahan yang kita lakukan.

Kini kita semua hidup di tengah masyarakat yang sangat menomor-satukan materi. Dan dengan kekuasaan dan kekuatan itulah kita dapat meraup materi sebanyak-banyaknya. Bahkan tidak hanya hukum saja yang tergantung pada berapa banyak materi yang kita miliki dan mampu kita bagikan. Juga gelar, kedudukan dan kehormatan semuanya dapat dibeli dengan materi. Kebanggaan yang, walau terkadang sangat mahal harganya, selalu ingin kita raih sebagai manusia yang hidup di tengah masyarakat. Dan jika kita tahu atau bahkan mengenal mereka-mereka yang korup tetapi ternyata sangat dihormati, bagaimana kita dapat menerima saat kita dipersalahkan hanya karena kita merasa apa yang kita lakukan itu hanya soal yang sepele saja? Apalagi jika kita punya relasi yang mampu kita pergunakan juga? Relasi yang mungkin memiliki kekuasaan-kekuatan-kekayaan yang serupa?

Maka siapapun kita, pada akhirnya harus mengakui bahwa, kesalahan seseorang atau sekelompok yang lalu membela diri seakan-akan tidak bersalah merupakan cermin kondisi ketidak-adilan yang demikian nyata di sekeliling kita semua. Ketidak-adilan karena semuanya bisa dan tergantung pada materi. Pada kekayaan-kekuasaan-kekuatan yang kita miliki. “You tidak tahu siapa saya?...” Tetapi kita sendiri, tahukah kita siapa mereka? Mereka yang tak berdaya dan hanya bisa menerima saja ketidak-adilan yang terjadi. Karena mereka hanya orang-orang kecil, tanpa materi, tanpa kekuasaan dan tanpa kekuatan untuk membantah dan melakukan perlawanan. Mereka, orang-orang sederhana itu. Yang jujur, yang patuh terhadap hukum, yang sadar akan keterbatasannya sendiri. Siapakah mereka? Tahukah kita?


Tonny Sutedja

05 November 2013

PENGETAHUAN TENTANG HIDUP

Metam properamus ad unam

Pada akhirnya, semua akan usai. Tak ada yang kekal. Kita semua hanya noktah kecil di semesta raya, dan sama seperti semesta, kita berawal untuk menuju akhir. Sesederhana itu hidup. Dan tak ada rahasia sama sekali. Tak ada. Namun dalam perjalanan dari awal menuju akhir itulah kita semua diuji dan menyimpan banyak rahasia di setiap perbuatan, perasaan dan pemikiran kita. Sebab itulah pengetahuan tentang hidup dibutuhkan. Karena hidup bukan sekedar dijalani untuk hidup. Banyak lorong-lorong gelap yang harus kita lalui. Banyak peristiwa tersembunyi yang membuat kita harus merenung. Dalam menjalani riwayat singkat ini, hidup bisa memanjang, teramat panjang hingga ke keabadian....

Kita ini hanya setitik noktah debu di siang panjang kemarau. Kita ini hanya setetes embun di pagi yang sejuk. Kita ini hanya sepenggal kisah teramat singkat dalam samudera sejarah kehidupan. Tetapi bagaimana pun, kita adalah inti dari kehidupan itu sendiri. Kita masing-masing mengalami, merasakan dan memikirkan apa saja yang menjadi hasrat, gairah dan keinginan kita. Sekaligus mencoba memahami segala peristiwa yang terjadi di seputar kita. Hidup yang singkat ini ternyata bisa menjadi luas, sangat luas bahkan tak berujung. Sebab itulah, kita perlu menyadari makna keberadaan kita. Perlu merenungkan arti perbuatan kita. Dan mencoba untuk memahami kehidupan itu sendiri. Dengan belajar. Dengan mengetahui apa itu hidup.

Tidak mudah memang menjalani hidup ini. Tidak mudah, apalagi jika demikian banyak tembok penghalang seakan mengurung kita sementara hasrat dan keinginan kita demikian menggebu-gebu. Atau demikian banyak peristiwa yang tak kita inginkan mencederai kehidupan kita. Kadang hidup terasa demikian melelahkan, demikian tak tertanggungkan, demikian pahit dan penuh derita sehingga dapat membuat kita merasa putus asa yang dapat menjerumuskan kita untuk mengakhirinya begitu saja. Rasa takut, cemas bahkan pedih dan kecewa mendalam membuat kita kehilangan kepercayaan pada apa saja. Kita ingin pergi. Kita ingin hilang. Kita menolak lagi untuk bertanggung-jawab atas keberadaan kita.

Maka jika saat putus asa demikian menjerat pemikiran dan perasaan kita, belajarlah pengetahuan tentang hidup. Belajarlah karena hidup memang adalah sebuah proses untu belajar terus menerus. Ketak-berdayaan kita, kekecewaan kita bahkan ketidak-mampuan kita bukanlah milik kita sendiri, tetapi merupakan milik kehidupan itu sendiri. Walau setiap orang harus meniti jalannya masing-masing, tetapi selalu ada jejak-jejak yang ditinggalkan dalam sejarah yang membuktikan betapa sesungguhnya kita semua mampu untuk bertahan, mampu untu tetap berjuang bahkan hingga akhir yang demikian tragis sekalipun tanpa berputus-asa. Tanpa meninggalkan tanggung-jawab kita sebagai manusia yang telah hadir dan ada sekarang.

Sebab semua memang akan usai. Semua pasti akan berakhir. Sebab itu, mengapa ragu untuk terus melangkah maju? Mengapa takut untuk melewati lorong-lorong gelap kehidupan kita? Mengapa kita kehilangan keberanian untuk menerima kenyataan dan menolak untuk bertanggung-jawab atas hidup yang telah kita miliki sekarang? Kita punya kesadaran. Kita punya kemampuan untuk berpikir, merenung dan mengolah semua sebab akibat dari apa yang sedang kita hadapi, untuk tetap mampu bertahan meneruskan langkah kita menuju akhir yang gemilang. Bahkan biarpun terasa tragis dan menyedihkan di kehidupan ini, setelahnya kita akan menerima kebenaran yang sempurna, dan saat itu kita semua dapat berkata: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2Tim 4:7)

Tonny Sutedja


I

Mors ianua vitae

Aku memandang ke jasad yang kurus itu sambil membayangkan kehidupan yang telah dilaluinya. Membayangkan bagaimana dia kala bayi yang mungil menggemaskan. Saat balita dengan kelincahannya yang tak bisa dibendung untuk menjangkau apa saja yang dilihatnya. Saat memasuki masa remaja dengan keberaniannya untuk meraih semua yang dihasratkannya. Saat dewasa dengan ketak-sabarannya ketika menemukan sesuatu yang salah dalam pandangannya. Dan saat mulai berumur ketika pengalaman hidup telah mengajarkan kepadanya banyak hal untu mulai lebih sabar dalam menghadapi dan menerima ketidak-sempurnaan dunia ini. Serta saat-saat akhir ketika usia tua dan penyakit mulai menggerogoti dagingnya, ketidak-mampuannya untuk bergerak lagi walau semangatnya tak pernah surut.

Aku memandang ke jasad yang kurus itu sambil mengingat kembali bulan-bulan terakhir dalam hidupnya. Khususnya di suatu hari menjelang senja ketika aku datang mengunjunginya. Wajahnya yang terlihat lesu mengarah ke arah jendela sambil memandang lalu-lintas yang sedang ramai: kendaran yang seakan saling berkejaran, pekik klakson dan berbagai suara lain yang memasuki ruangannya yang sepi ini. Dia duduk di sebuah kursi kayu, dan sesekali nampak menghela napas panjang. Waktu yang lewat seakan telah meninggalkannya. Bahkan melupakannya. Dan tiba-tiba aku merasa iba. Aku bukan iba karena penyakit dan usia tua yang terus mengikis kekuatan tubuhnya. Bukan sama sekali. Sebab setiap kehidupan kelak akan mengalami hal yang sama walau dalam bentuk yang berbeda-beda.

Aku merasa sadar bahwa penderitaan yang sesungguhnya bukan hanya penyakit daging, tetapi perasaan sepi dan bosan. Sendirian tetapi tidak tahu harus berbuat apa. “Sering aku mau omong-omong dengan seseorang, tetapi tak ada yang berada di dekatku. Atau ada tetapi hanya pura-pura mendengarkan. Sering pula aku ingin berdiri, bekerja sesuatu yang kuinginkan tetapi keinginan itu hanya ada dalam kepalaku karena tubuhku tak mampu lagi mengikuti pikiranku.” Demikian keluhnya suatu ketika. “Maka inilah hidupku sekarang, duduk dan duduk tanpa bisa berbuat sesuatu sementara pikiranku masih jernih dan perasaanku masih punya semangat untuk berbuat sesuatu. Pikiranku telah dikalahkan oleh ragaku sendiri. Setiap hari aku merasa sepi dan bosan. Sepi dan bosan. Tidak tahu harus berbuat apa selain dari hanya mengalami sakitku saja.......”

Aku memandang ke jasad yang kurus itu sambil membayangkan bahwa saat ini dia pasti telah berbahagia. Karena pada akhirnya kesepian dan kebosanannya telah usai. Dan sambil memandang ke sekelilingku, ke wajah-wajah yang sebagian kukenal tetapi jauh lebih banyak terasa asing bagiku, tiba-tiba aku merenungkan, berapa banyakkah dari antara kita yang sadar bahwa sesungguhnya penderitaan terberat dalam hidup ini justru bukan saat kita menderita sakit? Bagiku, perasaan sepi dan bosan sungguh merupakan siksaan yang berat dan perasaan itu bisa kita alami juga di saat kita sama sekali tidak menderita penyakit apapun. Sepi dan bosan dapat menjerumuskan kita ke dalam kesesatan atau bahkan dapat membuat kita menjadi sungguh-sungguh sakit dan mematikan walau kita masih tetap hidup. Tetapi mereka yang sakit, yang masih dikelilingi oleh sanak keluarga dan sahabat yang mau mendengarkan dan selama dia mampu untuk melakukan kegiatan yang disenanginya, sesungguhnya tetap hidup walau dengan tubuh yang sakit sekalipun.

Sepi. Bosan. Belajarlah padanya. Itulah hidup!


Tonny Sutedja

KELAK

Kelak. Kataku

Langit senja memerah
Aku menuju padanya
Bumi semerah langit

Tetes hujan
Menusuk dingin. Angin barat
Aku membisu. Sendiri

Hening
Udara
Malam
Diam

Di nisan yang sepi
Namaku pudar
Digigit senja

Kelak. Kataku.

Dan akupun lewat!


Tonny Sutedja

ANAK. ANGAN. ANGIN

Apa yang melintas dalam angan seorang anak? Dan bergerak bagai angin yang melintasi padang kehidupan yang baru dikenalnya? Adakah perasaan takjub yang berhembus memasuki pikirannya? Berhembus, kadang lembut kadang kencang, menembusi segala yang dapat dilihatnya? Dan berusaha untuk meraih apa saja yang membuatnya heran? Tidakkah segala sesuatu terasa baru dan menyegarkan? Sesegar elusan angin di pipi kala udara yang hangat memeluk raga? Siapa yang dapat mengenali pikiran yang mendarat di wajah mungil itu?

Hanya seorang anak yang dapat memandang dunia yang nampak di sekelilingnya sebagai sesuatu yang baru dan karena itu selalu mencoba untuk tahu dan mengenalnya. Dia berusaha untuk menyentuh segala sesuatu, bermain dengan apa saja yang dapat diraihnya, memegang, melempar, mencoret dan tidak peduli apakah yang benda yang dimainkannya itu akan rusak atau tidak. Karena baginya, bagus atau rusak, selalu menarik untuk dimainkan. Baginya, keberadaan sesuatu itu sendiri adalah sebuah permainan yang menyenangkan. Selalu menyenangkan.

Maka ketika kita mencoba untuk memahami gerak anak-anak itu, kita yang tahu, sering tak menyadari ketak-tahuan seorang anak. Kita yang sudah mengenal sering tak sadar akan ketakjuban seorang anak yang baru mencoba untuk memahami. Bagi kita, hidup adalah kenyataan, tetapi bagi anak-anak itu hidup adalah rasa heran yang selalu ingin dicoba dan dimainkannya dengan apa yang dapat dibuatnya. Anak-anak berlari, melompat, berguling, di tanah yang bagi kita mungkin nampak kotor dan berdebu, tetapi apakah arti kotor dan debu itu baginya selain dari sebuah ladang permainan untuk bergerak yang baru saja dapat dilakukannya dengan tubuhnya yang kecil itu?

Anak-anak. Angan yang selalu bertiup bagai angin di padang pengetahuan. Tak berbatas. Dunia bebas yang baru dikecapnya. Dan ingin dikenal dan dipahaminya. Pikiran yang bermain dengan lincah, tubuh yang bergerak dengan leluasa, kebebasan alam pemikiran dan perasaan yang sedang dicoba untuk dinikmatinya sendiri. Kehidupan baru. Setiap saat. Setiap waktu. Rasa heran itulah yang membuat anak-anak mencoba apa saja, walau sering nampak berbahaya bagi orang-orang dewasa yang sudah tahu, sudah kenal dan paham, karena itu membatasi hidupnya dengan kesadaran yang sempit. Tetapi tidak sadar bahwa anak-anak selalu memiliki dunia imajinasinya sendiri. Kebebasannya sendiri.

Apa yang melintas dalam angan seorang anak adalah angin yang berhembus, kadang lembut kadang kencang, dan bebas pergi kemana saja dia ingini. Baginya, barat-timur-utara-selatan, adalah sesuatu yang asing karena dunia ini nampak di matanya sebagai alam yang lapang dan seakan tanpa batas. Dan ketika kita mencoba untuk memahami anak-anak itu, sadarilah bahwa apa yang nampak biasa bagi kita, selalu terasa luar biasa bagi mereka. Apa yang tidak bisa bagi kita, selalu bisa bagi mereka. Sebuah dunia serba mungkin, dimana kita selalu harus belajar untuk tahu, untuk mengerti, untuk dinikmati. Apa adanya. Bagaimana adanya. Dapatkah kita menghentikan hembusan angin itu? Dan haruskah? Tidak bisakah kita ikut bergerak dengan angan mereka, dan sambil menjaga tangannya agar tidak terjatuh dan terluka, kita ikut bersama mereka menuju ke dunia yang menakjubkan ini?


Tonny Sutedja

GELAR

Suatu ketika, ada seorang yang bercerita kepadaku, dengan nada bangga, tentang betapa hebatnya seorang teman yang dikenalnya. Teman yang juga punya deretan gelar di belakang namanya sehingga rasa-rasanya malah lebih panjang dari namanya sendiri. Dan dia, dengan penuh semangat memuji-muji sang sahabat sebagai seseorang yang sempurna, bahkan sangat sempurna sebagai seorang manusia. Karena gelarnya. Karena kekayaannya. Mungkin karena sang sahabat telah memberikan sumbangan dana yang sangat besar untuk kegiatan pembangunan rumah ibadat yang sedang dilaksanakannya.

Gelar. Kekayaan. Tiba-tiba aku merasa betapa dua hal tersebut jarang saling terkait. Atau bahkan tidak seharusnya saling terkait. Tetapi di negeri dimana gelar dapat diperoleh dengan menghapal, atau bahkan mungkin hanya dengan membeli tanpa perlu belajar, apa artinya sebuah gelar? Pendidikan kita lebih mengutamakan penghapalan dari pada pemahaman, lebih mementingkan isi dompet daripada isi kepala, sehingga walau kita sebenarnya belum atau tidak paham tentang ilmu yang kita dalami, tetap dapat memperoleh secarik kertas yang bernama ijazah karena kita mampu untuk menghapal semuanya. Atau jika tidakpun, kita bisa membelinya.

Maka nampaknya, pujian dan kebanggaan seseorang lebih tertuju pada materi daripada pengetahuan. Pengetahuan adalah sesuatu yang harus dihapal, bukan sesuatu yang mesti dipahami. Dan selama kita mampu menghapal baris demi baris apa yang ada di buku teks yang dijual kepada kita, selama kita mampu membayar sebesar harga yang ditawarkan kepada kita, dengan mudah kita dapat memperolehnya. Sebab itulah, tidak jarang kita bersua dengan mereka yang punya gelar sangat panjang tetapi ternyata hanya memiliki pola pikir yang sederhana dan opini yang hitam putih melulu.

Padahal, pengetahuan haruslah dipahami. Demikian pula kehidupan ini, haruslah dimengerti. Dunia pengetahuan adalah sebuah dunia yang dinamis, penuh perubahan, dan kita harus menciptakan perubahan itu tanpa terkungkung dalam teori yang mandek, hampa dan bisu. Sungguh, pemahaman jauh lebih penting daripada penghapalan. Sebuah gelar yang diperoleh hanya dengan menghapal, apalagi cuma dengan sekedar membayar, tidak punya nilai untuk dapat dibanggakan. Sama sekali nihil nilai.

Jangan heran jika sesekali kita merasa takjub mendengar pendapat seseorang yang tanpa gelar dalam percakapan sehari-hari jika dibandingkan dengan pendapat mereka yang punya gelar panjang dan ditulis sebagai berita utama di koran-koran. Kebijaksanaan yang berbeda, kadang sangat jauh antara langit dan bumi, tetapi siapakah dia yang tanpa gelar sama sekali untuk dapat diambil opininya sebagai berita utama? Maka bagiku, gelar tidak punya arti apa-apa. Yang menentukan adalah bagaimana seseorang dapat memahami hidup ini. Bagaimana seseorang mampu mengerti apa yang sedang dihadapinya. Bukan secara teori saja tetapi berdasarkan praktik secara langsung. Secara nyata.

Gelar. Kekayaan. Jika keduanya saling kait mengait, maka yang dapat kita peroleh hanyalah sebuah rangkaian kata di belakang nama tanpa arti sama sekali. Sebab itu, janganlah terkejut bila suatu saat kita mendengar atau membaca atau menonton berita betapa seseorang yang memiliki gelar panjang, sangat panjang, terlibat dalam kegiatan yang tidak halal. Korupsi. Fanatisme. Kekerasan. Karena gelar hanyalah sesuatu yang dapat diperoleh dengan menghapal dan membeli. Bukan dengan memahami. Bukan dengan mengerti. Dan gelar sepanjang apapun ternyata gagal menciptakan kemajuan dan perubahan. Nihil nilai.


Tonny Sutedja

MALAM INI HUJAN TURUN

Malam ini hujan turun Tapi kau tak ada Hujan turun bagaikan malaikat Yang merindukan kata Tetapi melupakan kalimat Dan diam-dia...