24 Agustus 2013

KEMUNGKINAN-KEMUNGKINAN

Di dunia ini, ada banyak hal yang dapat membuat kita merasa risau namun tak berdaya untuk mengatasinya. Kita tahu bahwa ada banyak masalah, kita sadar bahwa ada banyak persoalan dan pertanyaan yang mengusik pikiran. Namun tanpa jalan keluar. Serta tanpa jawaban sama sekali. Tetapi dalam ketidak-berdayaan kita untuk dapat menyelesaikan atau bahkan untuk menghindarinya, kita hanya bisa pasrah menerima dan menjalani hidup kita apa adanya. Sebagaimana mestinya.

Maka siapa pun kita, dimana pun kita, bagaimana pun kita, dibutuhkan kesadaran akan keterbatasan kita dalam menjalani hidup ini. Musibah, bencana dan kekejaman terjadi dimana-mana. Tetapi bagaimanakah keadaan kita sekarang? Saat ini? Mungkin saat kita sedang membaca renungan ini, kita sedang duduk dengan kopi hangat di samping kita, di atas meja kecil dalam udara yang nyaman. Mungkin saat ini kita sedang berbaring dengan nyaman sambil mendengarkan lagu “what a wonderful day” yang indah dari Louis Amstrong. Ya, semua mungkin saja.

Hidup memang punya semua kemungkinan, baik yang dapat kita bayangkan dan kita pikirkan maupun yang tidak. Dan setiap kemungkinan memang sering menyembunyikan kejutan-kejutan yang dapat membuat kita terpana. Terkejut dan merasa sedih atau pun gembira. Sebab memang demikianlah kenyataan sehari-hari yang kita alami. Hidup adalah kenyataan yang kadang sangat pahit tetapi pun tak jarang terasa amat manis menyentuh jiwa. Dari semuanya itu, yang dapat kita lakukan hanyalah menerima dan menjalaninya sebagaimana dia terjadi. Sebagaimana adanya.

Dan itulah tantangan yang harus kita terima dan kita hadapi setiap hari. Sebuah tantangan yang menyadarkan kita bahwa kita ada dan tidak hanya hidup di alam dongeng saja. Dan sebagaimana dengan semua kemungkinan yang tidak pasti tetapi selalu memiliki harapan, setiap tantangan juga akan selalu memiliki peluang di saat semuanya dapat kita jalani dengan baik. Walau sering tertatih-tatih, letih dan mendekati putus asa, kita harus tetap memiliki semangat untuk berjalan menempuh semua itu. Tak ada badai yang tak berlalu. Tak ada kemarau yang berakhir. Hidup selalu punya banyak hal untuk dinikmati. Disyukuri. Selama kita masih memiliki semangat. Selama kita tetap percaya kepada kemungkinan.

Ingatlah bahwa kita ini bukanlah robot yang hanya dapat menjalankan program yang telah ditanam secara permanen dalam otak kita. Kita bukanlah benda mati, bukan hanya batu-batu yang tak bernyawa dan bisu tak berdaya. Kita hidup. Kita berpikir. Kita dapat merasakan semua penderitaan dan kesenangan yang sedang kita alami. Sebab itu, setiap hari, setiap saat kala kita rubuh dikalahkan dan gagal dalam apa yang sedang kita perjuangkan, bangkit dan percayalah bahwa hidup memang seharusnya demikian. Sebab kita tidak hidup sendirian. Kita hidup selalu dalam keterkaitan dengan orang lain, sesama kita, lingkungan kita, alam semesta raya kita. 

Lihatlah, pernahkah kita menyaksikan panorama fajar yang sama persis setiap pagi? Dapatkah kita menemukan panorama senja yang tidak berbeda setiap sore? Tidak! Sebuah peristiwa berlalu dan dia takkan kembali persis sama di saat yang berbeda. Hiduplah. Percayalah pada semua kemungkinan. Maka kita tidak akan terkalahkan. Tidak akan pernah terkalahkan. Bersyukurlah pada semangat yang dapat kita rasakan setiap hari. Bersoraklah pada segala kemungkinan yang demikian tak pasti itu. Itulah tanda bahwa kita hidup. Tanda kita ada. Dan tidak kenal menyerah. Hidupilah hidupmu.

What a wonderful world.......”


Tonny Sutedja

LANGIT MALAM

Saya senang menatap langit malam. Saat udara cerah dan bintang-bintang menampakkan keindahannya jauh tinggi di atas kepalaku. Saya senang menyaksikan kelap-kelip cahayanya yang demikian indah, yang berasal dari alam semesta yang seakan tak berujung jauh di sana. Tetapi, selain memandang bintik cahaya bintang, saya juga merenungkan betapa langit malam yang sedang kutatap ini sesungguhnya merupakan cermin masa lalu alam semesta. Cermin masa lalu keberadaan kita.

Bukankah apa yang saat ini dan sekarang saya nikmati sesungguhnya adalah masa lampau dari titik-titik cahaya itu sendiri? Saya ada disini, sekarang, tetapi entah apakah titik cahaya itu masih ada sekarang? Ataukah dia telah meredup lalu lenyap sebagai lubang hitam yang tak tembus pandang bahkan tak lagi punya waktu nyata? Saya tidak tahu. Yang jelas, langit bagaikan cermin masa lalu. Kita sedang menyaksikan yang bukan sekarang. Kita memandang ke masa lampau sedang apa yang ada kini hanya menjadi teka-teki yang mungkin tak bisa dijawab.

Saya sungguh senang menatap ke langit malam, menyadari keberadaan diriku, sambil merenungkan betapa singkatnya waktuku di alam semesta ini. Menatap cahaya bintang yang bersinar dari puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun yang lampau, masa lalu tiba sekarang, sedang masa sekarang sesungguhnya mengandung rahasia yang sangat sulit diselami. Kesadaran keberadaanku, merasakan elusan lembut angin malam, mendengarkan suara nyanyian binatang malam, sambil menatap jauh ke langit yang menampakkan masa lampaunya, sebagai cermin tak berbatas, saya sungguh terpesona padanya. Sungguh membuatku takjub. Misteri ah, misteri kehidupan ini sungguh luas tak terbatas...

Langit malam. Indah mempesona. Rahasia yang membisu. Dan yang dapat kulakukan hanya menikmati dan merenungkan betapa tak terbatasnya kebesaran semesta dalam kekerdilan diri ini. Debu. Sungguh, hanya debulah kita ini. Sesuatu yang sangat rapuh di luasnya misteri dan panjangnya masa. Dan kelak, kita pun akan menjadi lubang hitam yang tak berada lagi dalam sejarah. Kelak, kita akan melemah dimakan waktu, menua dan kemudian kehilangan waktu yang sangat mempesona ini. Kelak, ya kelak, kita mungkin dapat disaksikan oleh mereka yang berada jauh, jauh di langit malam itu. Sementara kita tak ada lagi. Tak ada lagi. Betapa menakjubkannya.


Tonny Sutedja

PULANG

Aku mau pulang, ma
Aku mau pulang

Kemana langit menyambut sepi
Dan bumi menanam duka

Aku mau pulang, ma
Aku mau pulang

Berbisik aku berbisik
Jangan lagi merayuku
Telah pergi
Sajak yang dulu ada
Telah pergi
Mata yang dulu memandang
Telah pergi
Rasa yang dulu mengoyak
Berbisik aku berbisik
Jangan lagi menahanku
Disini
Sini
Ni

Aku mau pulang, ma
Aku mau pulang

Bersama angin dan awan
Bersama dedaunan yang gugur

Letih
Bersamamu
Bersamamu
Letih

Aku akan pulang, ma
Aku akan pulang

Tonny Sutedja


20 Agustus 2013

RASA

Di suatu fajar, aku terpesona memandang cahaya rembulan yang sedang purnama. Sambil merasakan dinginnya udara pagi yang menyegarkan tubuhku. Kemudian, sayup-sayup terdengar suara seruling bambu yang ditiup oleh entah siapa. Merdu. Indah. Sangat mempesona. Maka sambil memegang telpon selulerku, aku merekam suasana itu lalu membagikannya ke dalam grup. Maka teman-teman yang lain pun turut berkomentar tentang indahnya panorama itu. Tentang bagusnya nada seruling bambu itu. Menakjubkan dapat saling berbagi keindahan dalam hidup ini.

Tetapi tiba-tiba aku sadar bahwa walaupun semua panorama serta irama yang indah dalam pengalaman hidupku dapat aku bagikan dengan mudah di jaman ini, ada sesuatu yang tetap tak mungkin kuberikan kepada mereka. Kepada kalian. Pengalaman rasa. Pengalaman dinginnya udara yang demikian menyegarkan sehingga membuat hati ini ingin bernyanyi. Pengalaman sejuknya angin yang membelai pipiku. Sesuatu yang harus dialami langsung. Sesuatu yang hanya bisa dinikmati sendiri. Dan mustahil dibagikan kepada siapa pun yang tidak berada denganku saat itu.

Dan memang demikianlah hidup ini. Kita yang tidak berada di lokasi yang sama hanya mampu melihat dan mendengar, tetapi tak bisa turut merasakan. Jadi, jika lokasi yang berbeda saja tak mungkin dapat kita rasakan bersama, apalagi hati yang berbeda dalam individu yang berbeda. Sebab kita masing-masing punya pemahaman yang berlainan walau mungkin berada di tempat dan waktu yang bersamaan. Demikianlah aku memandang kepada beberapa orang yang melintas di jalan ini tetapi tak sekali pun memandang pada rembulan yang sedang purnama jauh di ufuk sana. Dan tak berhenti sejenak untuk mendengarkan nada seruling yang demikian indah dan terasa menyayat hati itu. Suara yang bagai sembilu bagiku mungkin bahkan tak terasakan oleh mereka.

Namun jelas itu bukan sebuah kesalahan. Sebab setiap orang memiliki perasaannya sendiri-sendiri. Setiap orang punya pilihan atas apa yang ingin dinikmatinya. Walau kadang ketidak-pedulian pada keindahan yang ada di sekeliling kita mungkin terasa mengusik hati kita, selalu ada kemungkinan lain yang membuat orang melalaikan situasi lingkungannya dan hidup hanya bersama dirinya sendiri. Kita tak pernah tahu apa sedang dipikirkan seseorang. Kita tak mungkin tahu apa yang sedang dirasakan seseorang. Adakah dia sedang gembira atau sedih? Adakah hidupnya mulus saja ataukah ada masalah yang teramat besar melilit hidupnya. Setiap orang bisa tersenyum walau dengan hati yang pedih...

Tetapi, kita semua bisa memiliki kesadaran bahwa hidup ini selalu menakjubkan jika saja kita mau membuka diri. Memandang, mendengar dan merasakan bukan hanya apa yang kita ingini tetapi semua yang ada diluar diri kita juga. Bahkan walau pun kita mungkin tidak menginginkannya. Sebab keindahan alam tak bisa ditiadakan bahkan walau pun kita menolaknya begitu saja. Dia ada dan tetap ada. Tinggal tergantung pada kita, apakah kita mau atau tidak menerima dan menikmati apa yang ada, apa yang dengan rela dan telah diberikan kepada kita. Keindahan alam selalu membagikan dirinya kepada siapa saja dengan rela dan tanpa pamrih. Bagi kita. Bagi kita semua.

Demikianlah, setiap hari fajar tiba dengan satu kepastian: bagaimana pun hidupmu, selalu ada harapan yang akan menyingsing. Selalu ada keindahan yang akan kita alami. Saat udara cerah. Saat mendung dan hujan. Bahkan saat badai menerpa. Hati kita selalu dapat menikmati apa yang hanya bisa kita rasakan sendiri. Dan walau sering kita tidak mengenal alam yang penuh dengan rahasia ini, percayalah bahwa dia sungguh mengenal kita. Sangat mengenal kita. Manusia yang hidup dan melangkah bersamanya dalam waktu yang terus bergulir. Terus menerus bergulir. Hiduplah bersamanya. Kenalilah dia. Nikmatilah dia. Dan takjublah sesekali sambil melupakan dirimu sendiri. Sebab percayalah, alam ini sungguh mengagumkan. Teramat mengagumkan.


Tonny Sutedja

17 Agustus 2013

TARGET

Mereka diberi target pembelian sebesar Rp. 120 juta perbulan untuk mendapatkan harga murah sehingga dapat bersaing di pasar...” demikian kata seorang temanku, seorang kepala bagian penjualan sebuah perusahaan barang konsumen. Kami sedang bercerita tentang betapa cepatnya sebuah usaha berkembang dan membuka cabangnya dimana-mana. “Dengan membuka cabang, terutama dimana sebuah daerah mulai berkembang, mereka memastikan penjualannya akan meningkat sehingga target yang diberikan oleh distributor dapat dipenuhi. Dan keuntungan yang diterima pun dapat lebih tinggi...”

Saya teringat seorang teman yang bekerja di bagian kredit sebuah Bank. Dia mendapat target untuk mencapai jumlah tertentu peminjaman sehingga dia berusaha untuk mendapatkan orang-orang yang mau menerima pinjaman dari Bank itu. Kadang dengan membujuk orang yang sebenarnya tidak atau belum membutuhkan dana tunai untuk mengembangkan usahanya. Demikian juga mereka yang bekerja di bagian deposito mendapat target untuk mengumpulkan sejumlah tertentu pula orang-orang yang mau menyimpan dananya di Bank itu. Agar dapat dipinjamkan kembali. Keuntungan pun mengalir dari masuk dan keluarnya dana tersebut. Makin banyak dana diterima, makin banyak yang dapat dipinjamkan, makin tinggi pula keuntungan yang diperoleh. Demikianlah para pegawai diberi target untuk meraih bagiannya masing-masing.

Demikianlah, para pegawai punya target untuk mendapatkan bonus dan mempertahankan jabatannya. Para pengusaha punya target agar dapat menaikkan laba dan mengembangkan usahanya. Semua punya sasaran yang ingin dicapai. Tujuan yang mau diraih. Maka setiap saat kita berupaya, bahkan sering dengan segala cara, agar target yang kita inginkan dapat dicapai. Itulah mengapa kita sering menerima sms, telpon atau surat atau juga surat elektronik yang isinya penawaran kepada kita. Kadang dengan iming-iming yang sangat menggoda agar kita tertarik untuk menerima atau membeli sesuatu yang barangkali sama sekali tidak kita butuhkan. Karena mereka harus bekerja. Karena mereka harus hidup. Dengan memenuhi target yang diberikan kepada kita, bonus pun mengalir. Dompet makin penuh. Dan kita dapat tersenyum gembira.

Target. Memang, kita semua pasti memiliki target dalam hidup ini. Bukan hanya selama kita hidup tetapi terutama setelah kita hidup di dunia ini. Maka target paling utama sesungguhnya adalah bagaimana kelak kita meraih kekekalan bersama Sang Pencipta. Bagaimana kelak kita mendapatkan kebahagiaan setelah semua upaya dan kerja keras kita di dunia ini berakhir. Dan kita menuju kepada-Nya. Setiap hari atau bahkan setiap saat kita berharap, kita berdoa agar kita dapat mencapai sasaran itu. Tetapi apakah sungguh perjuangan kita untuk meraih kehidupan kekal itu sekeras dan seulet upaya kita untuk meraih keberhasilan duniawi? Apakah sungguh kita lebih mengutamakan target menuju kepada Sang Pencipta daripada target yang diberikan kepada kita demi keuntungan duniawi?

Maka menjadi suatu pertanyaan, jika terjadi pertentangan antara target kehidupan duniawi dengan target kehidupan kekal kelak, manakah yang kita pilih? Tidakkah sering kita lebih menyerah pada keinginan duniawi daripada apa yang ingin kita raih setelah hidup ini usai? Tidakkah kita lebih memilih untuk menipu, untuk korupsi, untuk menghalalkan segala cara demi memenuhi target-target pribadi kehidupan kita di dunia ini daripada berbuat jujur, adil dan tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan orang lain? Tidakkah ternyata sering target yang diberikan oleh pekerjaan dan usaha kita jauh lebih utama daripada target utama kita sendiri agar kelak dapat bersatu dengan Sang Pencipta? Bukankah lebih sering kita melanggar perintah-Nya daripada melanggar perintah pimpinan, daripada melanggar kepentingan diri kita yang hanya sesaat di dunia ini?

Hidup ini singkat. Tetapi sering kita tak sadar akan hal itu. Setiap hari, setiap saat kita mengalami peristiwa yang saling bertentangan antara kenikmatan duniawi yang nyata dapat kita rasakan sekarang dengan tujuan utama kehidupan yang terasa jauh dan seolah tak berujung sehingga kita lalaikan begitu saja. Kita tak sadar bahwa, setiap saat, hidup ini dapat segera usai dan kita menuju kepada-Nya. Pada saat itu terjadi, semoga kita semua mampu mempertanggung-jawabkan segala apa yang telah kita lakukan selama berada di dunia ini. Semoga kita semua dapat berkata dengan sejujur-jujurnya bahwa, kita telah berbuat yang terbaik bagi Sang Pencipta daripada berbuat sebaik-baiknya hanya bagi diri dan kepentingan kita sendiri. Semoga kita semua dapat mencapai target utama kehidupan kita, bukan hanya sekedar target hidup sehari-hari yang fana di dunia. Semoga demikian adanya. Tuhan memberkati. Amin.


Tonny Sutedja

SIAPAKAH DIRI INI?

Sebuah email kuterima beberapa waktu lalu. Dan isinya mengomentari sebuah tulisanku, lalu mengisahkan pengalaman hidup pengirim email itu. Tetapi ada satu kalimat yang membuatku terpaku saat membacanya. “Dari tulisan-tulisan anda, aku tahu siapa anda..” Siapakah aku? Siapakah engkau? Apakah kita sungguh dapat mengetahui dan mengenal seseorang hanya dari apa yang nampak? Dari apa yang ditulis atau diceritakannya? Lihat, Sedemikian banyak nama-nama teman dalam daftar sahabat kita, baik di Facebook, Tweeter, Milis, kontak email atau dimana saja dalam media sosial lain yang kita ikuti. Tetapi sungguhkah kita mengenal mereka? Bahkan mereka yang setiap saat dapat kita temui secara langsung, muka dengan muka, siapakah mereka? Dan siapakah kita sendiri? Diri ini?

Ada satu kisah pendek yang aku lupa judul dan pengarangnya tetapi dulu saat membacanya pertama kali membuatku sangat terkesan. Cerita itu bertutur tentang seorang pelawak yang setiap malam membuat para penontonnya tertawa terpingkal-pingkal. Dan memujanya. Riang. Gembira. Dan orang-orang mengira hidupnya pasti sangat berbahagia. Sangat jauh dari masalah. Penuh sahabat dan keluarga yang mencintainya. Tetapi kenyataannya, di luar panggung, hidup si pelawak ternyata amat sengsara. Hidup seorang diri. Selalu kesepian. Selalu merasa tak berarti. Selalu berkekurangan. Hingga di ujung kisah itu, setelah sang pelawak meninggal, terbukalah semua kedok hidupnya. Dan para pemujanya sangat terkejut. Betapa menderitanya dia. Betapa hidupnya penuh dengan kepiluan dan kehampaan. Tetapi dia telah membuat banyak orang senang. Dan bahagia. Jadi siapakah kita ini? Siapakah aku?

Oleh sebab itu, saat seseorang memuji kita, renungkanlah, apakah memang kita ini layak dipuji? Apakah kita ini sungguh sadar bahwa pujian yang dialamatkan ke diri kita adalah benar sesuai dengan siapakah kita yang sungguh? Yang nyata? Ataukah hanya karena penampakan luar kita saja? Tampilan yang menutupi luka dan borok kita di dalam. Atau jika kita mengejek seseorang, sungguhkah kita memang layak mengejek dan mengkritik orang? Jangan-jangan kita mengejek dan meng-kritik hanya karena ketidak-mampuan kita dalam mencapai apa yang telah dicapainya. Atau, jika saja kita dapat mengalami dan merasakan sendiri apa pengalaman hidupnya, jangan-jangan keputusan dan kelakukan kita justru lebih buruk daripada tindakan orang tersebut. Memang tidak mudah untuk memahami seseorang. Apalagi segala pujian ataupun kritikan selalu berdasarkan pada apa yang kita pikirkan dan alami dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sesungguhnya teramat sulit untuk dapat mengenal orang lain. Teramat mustahil untuk dapat tahu apa sesungguhnya yang dialami, dipikirkan, dirasakan dan melanda kehidupan mereka yang bukan kita. Bahkan kita sendiri sering merasa sulit untuk memahami pengalaman kita. Kelakukan kita. Keputusan dan tindakan kita. Ya, ada kalanya sesuatu kita lakukan dengan nyaris tanpa dipikirkan, walau setelah itu kita pun menyesali tindakan kita tersebut. Tetapi begitulah hidup ini kita jalani. Kita masing-masing. Kita sering terperangkap dalam topeng yang tak ingin kita buka. Kita menghindari kesusahan, kesulitan dan kesepian kita terbongkar karena kita tak ingin menjadi beban bagi orang lain. Menjadi duri dalam daging mereka yang kita kenal, bahkan yang tidak kita kenal sekali pun. Kita penampilan luar kita dapat mengesankan orang lain. Membuat orang-orang bahagia bersama kita. Membuat masyarakat tidak mencibir kita. Padahal apa yang ada dalam rasa dan pikiran kita sungguh berbeda. Sungguh bertentangan dengan penampakan luar yang kita tampilkan di depan umum. Apalagi hanya dalam tulisan yang dibuat dengan penuh penalaran untuk kebersamaan dengan hidup orang lain. Jadi tahukah anda sekarang siapa sesungguhnya aku?


Tonny Sutedja

TENTANG CINTA

Apakah cinta itu? Cinta adalah belaian lembut angin yang menyentuh kulit. Cinta adalah kehangatan sang surya saat fajar menyingsing. Cinta adalah tetesan air hujan pada rambut. Cinta adalah keindahan bung-bunga yang sedang mekar. Cinta adalah hamparan dedaunan di bumi yang menguning layu setelah lepas dari tangkainya. Cinta adalah dinginnya malam yang membuat kita menggigil. Cinta adalah segala sesuatu yang dapat kita nikmati setiap hari. Setiap saat.

Bukankah hidup ini adalah cinta itu sendiri? Kita ada, kita hadir disini, sekarang dan saat ini, dikehendaki atau pun tidak, selalu dapat kita nikmati. Selalu dapat kita hayati. Dan pahami. Jika kita mau. Jika kita tidak menolaknya. Ya, cinta adalah penerimaan kita pada hidup yang kita miliki. Bahkan dalam badai topan pun kita dapat menemukan cinta. Setiap pengorbanan adalah cinta yang menampakkan wujudnya secara nyata. Setiap kesedihan, kekecewaan dan sakit hati adalah cinta yang meminta kita untuk dipahami dan diterima.

Maka cinta adalah sesuatu yang tak pantas kita tolak. Walau kadang dia membuat kita terluka. Walau sering dia membuat kita kecewa. Bahkan sesungguhnya, kesakitan dan penderitaan yang kita alami tidaklah berarti bahwa cinta telah gagal. Tidak. Tetapi perasaan sedih, hampa dan duka yang melilit kita justru karena penolakan kita terhadapnya. Justru karena kita enggan untuk menerima dia apa adanya. Karena kita lebih menyukai diri dan kepentingan kita daripada apa yang siap diberikan oleh cinta kepada kita.

Lihat, dengarkan dan rasakanlah betapa setiap saat cinta memberikan dirinya kepada kita dengan tanpa syarat. Dengan tanpa mengharapkan imbal jasa. Dan karena dia memberikan hidup ini tanpa kepentingan diri, maka kita pun selayaknya menerima tanpa perhitungan untung rugi. Hanya dengan kepekaan menerima pada apa saja yang ada. Hanya dengan menghargai apa saja yang dapat kita lihat, rasa dan raih. Sebab cinta adalah semua hal yang baik dan indah jika kita mau menyisihkan keinginan, hasrat dan ambisi pribadi kita masing-masing.

Cinta adalah kehidupan ini. Dalam keheningan dan keriuhan. Dalam ketenangan dan badai. Dalam kecemerlangan dan kegelapan. Dalam pagi dan malam. Dalam lembah terdalam dan gunung tertinggi. Dalam samudra tak bertepi dan gurun pasir terluas. Dalam segala apa yang dapat kita lihat, dapat kita rasa, dapat kita dengar: alam semesta, udara, desah angin. Bahkan eongan kucing manja maupun auman singa buas. Cinta adalah segala yang dapat kita kenali dalam hidup ini. Terimalah dia apa adanya. Tanpa penolakan. Tanpa keinginan diri sendiri. Cinta adalah hidup kita semua. Hidup kita semua.


Tonny Sutedja

SUBUH

Tahukah kalian bahwa kondisi paling kelam justru terjadi sesaat sebelum fajar tiba? Ketika sang surya belum lagi terbit tetapi cahaya bintang-bintang mulai memudar. Dan udara paling dingin pun dirasakan di saat yang sama. Ketika matahari belum tiba untuk memberikan kehangatannya sementara bumi telah kehilangan kehangatan hari kemarin. Ya, subuh adalah saat-saat terkelam dan terdingin yang membuat udara mengembun menjadi tetesan air yang melekat di udara terbuka. Pada dedaunan, pada rerumputan, pada kelopak bunga dan benda apa saja yang ada di hamparan terbuka....

Hidup pun demikian juga. Kesedihan, kepahitan, kekecewaan yang terburuk selalu berada di saat dimana begitu banyak persoalan yang tak punya penyelesaian, begitu banyak pertanyaan yang tak bisa dijawab, begitu banyak hal yang demikian membuat kita terpuruk bahkan sampai ke titik perasaan putus asa demikian mengguncangkan hati. Di saat-saat demikian, percayalah bahwa, memang banyak pertanyaan yang tak punya jawaban, banyak masalah yang tak mungkin diselesaikan, banyak hal yang mustahil dihindari. Yang dapat kita lakukan hanyalah dengan tabah menerimanya, sabar melewatinya dan setelah itu, harapan baru pun tiba. Fajar baru pun hadir. Sang surya pun terbit. Dan kita pun dapat tersenyum bersamanya. Sebuah semangat baru....

Maka siapa pun kita, bagaimana pun kondisi dan situasi yang telah dan sedang kita alami, segelap apapun hidupmu, percayalah bahwa di saat-saat demikian, itu berarti bahwa hanya sejenak lagi, ya hanya sesaat lagi, sebuah harapan baru akan segera hadir. Cahaya baru akan terbit. Kita hanya perlu menunggu. Kita harus sabar menanti. Dengan tabah. Dengan teguh. Jangan menyerah dalam keputus-asaan. Tetapi berjuanglah dengan waktu. Dengan sabar. Dengan percaya bahwa di titik dimana ketidak-mungkinan kita untuk mampu menyelesaikan semua masalah yang sedang kita alami, sejenak kemudian kita akan segera melihat sebuah kemungkinan lain yang tak pernah kita duga. Tak pernah kita bayangkan. Sebelumnya.

Sebab, sesaat sebelum Yesus menyerahkan nyawa-Nya, sesaat sebelum Dia berseru dengan nyaring: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” kegelapan memenuhi langit dan beberapa orang yang sedang menjaganya malah datang memberi minum anggur asam dengan bunga karang yang dicucukkan pada sebatang buluh dan beberapa lainnya malah berkata: “baiklah kita lihat, apakah Elia datang menyelamatkan Dia...”. Dan kita tahu bahwa, ternyata tidak ada yang datang untuk menyelamatkan-Nya. Keajaiban tidak hadir. Dan Yesus pun menyerahkan nyawanya. Namun di saat itulah, seorang kepala pasukan dan para prajurit berseru: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah”. Setelah penderitaan. Setelah seolah-olah semua harapan sirna. Setelah semua pertanyaan seolah-olah tidak terjawab. Setelah Dia ditinggalkan sendirian menghadapi hidup-Nya. Dan Allah hanya bungkam. Hanya bungkam.

Tetapi apakah harapan sungguh telah mati? Apakah yang ada hanya kegelapan dan penderitaan saja yang harus dihadapi? Apakah masalah yang sedang dihadapi tidak dapat terselesaikan? Ya. Dan tidak. Ya, masalah-masalah mungkin tidak punya penyelesaian. Pertanyaan-pertanyaan mungkin tak bisa dijawab. Tetapi tidak, karena harapan tidak pernah mati. Dan kita tidak tahu, ya kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi sejenak kemudian. Setelah waktu berlalu. Setelah tiga hari lewat. Yesus pun bangkit. Dan kebangkitan-Nya membawa satu jawaban tunggal: Manusia bisa dikalahkan tetapi tak mungkin ditaklukkan. Persoalan mungkin gagal kita selesaikan tetapi pasti mampu kita lewati. Dan saat itu, setelah semuanya berlalu, kita akan sadar betapa sia-sianya semua perasaan putus asa kita. Kita bahkan mampu untuk tersenyum. Bahkan tertawa riang....

Maka jika ada banyak persoalan yang sedang melilit hidup ini, ada banyak peristiwa yang sedang menimpamu, ada banyak pertanyaan yang seakan tak mampu terjawab, tanggunglah semua itu dengan sabar. Dengan tabah. Karena hanya sesaat lagi kita akan melihat fajar terang menyingsing. Hanya sesaat lagi maka sang surya akan muncul. Bahkan, lebih dari semuanya, nikmatilah kedinginan dan kegelapan itu dengan satu pengharapan: hari sudah subuh. Sebentar lagi sang surya akan terbit. Dan cahaya dan kehangatan baru akan membuat hidupmu bersinar kembali. Bersyukurlah karena dapat hidup untuk mengalami semua itu. Alam ciptaan ini indah. Sungguh indah....


Tonny Sutedja

15 Agustus 2013

SEBUAH PENANTIAN DALAM KATA

Sesungguhnya hidup bukan hanya permainan kata. Walau sering kita senang berumah dengan kata dan kata. Hidup adalah sebuah pengalaman yang langsung kita alami dan kita hadapi. Setiap hari. Setiap saat. Tetapi pengalaman itu memang harus kita tulis. Dengan kata. Dengan kalimat yang kadang panjang kadang singkat. Tergantung pada suasana hati. Tak perlu kita merasa sedih. Maupun gembira berlebihan. Apa yang sedang kita hadapi, apa yang lagi kita alami sekarang, hanya selintas peristiwa yang akan segera berlalu. Akan segera usai. Kita hanya perlu menunggu. Kita hanya dapat menanti.

Kata orang, dalamnya laut dapat diukur namun dalamnya hati siapa tahu? Tetapi kita masing-masing, dalam kesadaran kita, paham bahwa setiap pengalaman akan membawa hidup kita menuju ke pemahaman yang baru. Yang berbeda. Yang lain. Dan tak pernah sama. Maka bila kita bertanya pada diri sendiri tentang makna kehadiran kita, akan kita temui dia di sudut hati kita masing-masing. Bagaimana pandangan kita tentang peristiwa yang telah dan sedang terjadi. Bagaimana tanggapan kita terhadap situasi dan kondisi yang telah dan sedang berlangsung.

Sesungguhnya jarang ada dua individu dalam suatu situasi yang sama memiliki pendapat yang sama pula. Sepaham bagaimana pun kita, selalu ada nuansa yang berbeda. Selalu ada kontradiksi dalam hati setiap manusia. Dan itu tidaklah salah. Dan tidak perlu dipersalahkan. Hati kita memiliki kebebasannya masing-masing. Pemikiran kita memiliki pola yang tersendiri dan tak usah dipaksanakan untuk sama. Bahkan mirip sekalipun. Sebab memang demikianlah hidup ini ada. Dan berwujud. Ia milik kita masing-masing. Pribadi demi pribadi.

Jadi setiap kata yang kita tulis, setiap kalimat yang kita goreskan, membuat tanda yang mencerminkan keberadaan kita di dunia ini. Bahwa kita eksis. Bahwa kita nyata. Demikianlah hidup kita miliki. Maka hidup pun memiliki kita. Bukan sebagaimana harusnya. Tetapi sebagaimana adanya. Pengalaman-pengalaman membuat kita sadar bahwa ada hal yang tak bisa kita kuasai. Tak bisa kita paksakan. Sekeras dan segigih apapun kita. Yang dapat kita lakukan hanya mencoba untuk memahami. Bukan saja memahami peristiwa yang telah atau sedang berlangsung, tetapi juga memahami diri kita sendiri dan tidak melupakan mereka yang berada di luar kita. Dan di titik dimana ketidak-sabaran mencoba untuk menguasai hati kita, kita selalu harus menanti. Sabar menanti.

Kita bukanlah batu tanpa rasa. Kita bukanlah angka dalam statistik. Walau mungkin ada yang memandang kita hanya sebagai nama tanpa makna. Hanya nama tanda bahwa kita ada. Kita bukan juga kata yang hanya dapat dibaca dalam kata tertulis di atas kertas. Tetapi selalu ada rahasia dalam hati. Selalu ada gelora dalam rasa. Selalu ada kemelut dalam pikiran. Hidup kita tidak abadi, memang. Tetapi kita pun menyadari bahwa kelak akan tiba masanya kita akan menemui yang abadi. Dan melebur ke dalamnya. Bersamanya. Sebelum itu, kita hanya dapat menanti. Dengan sabar. Dengan tekun. Dengan mengalami dan menjalani. Dengan kata yang kita tuliskan sebagai bukti keberadaan kita yang fana ini. Kita adalah kita masing-masing. Mungkin serupa tetapi selalu berbeda. Tak sama. Tak pernah sama.


Tonny Sutedja

13 Agustus 2013

DALIH

Berawal dari pemerkosaan yang dilakukan oleh Sikhem, putra dari Hemor - raja kaum Hewi, terhadap Dina, putri dari Lea dan Yakub. Hemor yang ternyata kemudian jatuh hati kepada Dina, dan ingin mempersuntingnya sebagai pertanggung-jawaban atas perbuatannya itu serta bersedia menerima syarat-syarat yang diajukan oleh pihak Yakub. Tetapi karena merasa malu, putra-putra Yakub, atau saudara-saudara Dina, tidak mau menerima peristiwa itu dengan ikhlas. Dengan tipu daya, pada saat kaum Hewi sedang melaksanakan syarat yang diajukan oleh pihak Yakub, yaitu dengan disunat, Simeon dan Lewi, kakak dari Dina dan putra Yakub datang menyerang dan membunuh semua laki-laki suku itu, termasuk Sikhem dan Hemor lalu mengambil Dina, adik mereka. Menyusul saudara-saudara Dina yang lain kemudian datang lalu menjarah kota kaum Hewi dan merampas semua milik mereka, termasuk anak dan perempuan mereka. Peristiwa tragis yang dikisahkan dalam Kitab Kejadian 34: 1- 31 itu ditutup dengan satu pernyataan dari putra-putra Yakub sebagai dalih atas perbuatan keji mereka: "Mengapa adik kita diperlakukannya sebagai seorang perempuan sundal!"

Peristiwa yang disesalkan oleh Yakub tersebut menimbulkan suatu pertanyaan menarik. Apakah sungguh tindakan yang dilakukan oleh para saudara Dina itu sungguh-sungguh suatu pembalasan atas tindakan yang dialami oleh suadari mereka? Jika hal itu adalah tindakan pembalasan, mengapa semua laki-laki yang tidak bersalah pun harus menjadi kurban? Dan mengapa segala milik kaum Hewi itu harus dirampas, bahkan termasuk juga anak-anak serta para perempuan mereka? Apakah itu sungguh suatu balas dendam ataukah sekedar dalih untuk menyembunyikan motip lain dari tindakan kekejaman yang telah mereka lakukan? Pantaskah kejadian yang menimpa Dina tersebut harus dibalas dengan praktis memusnahkan sebuah kaum? Bagaimana sikap Tuhan atas tindakan putra-putra Yakub tersebut? Dan juga apa pendapat Dina sendiri, sang korban, yang sama sekali tidak pernah bersuara? Paling tidak, tak tercatat apa yang dipikirkannya atas kejadian yang menimpanya serta segala akibat-akibatnya. Semuanya serba gelap. Dan hanya dapat kita duga-duga tanpa sebuah kepastian.

Maka sungguh menarik untuk menimba dari kisah yang ditulis dalam kitab kejadian itu, kita dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan mendasar, mengapa dan untuk apa peristiwa yang demikian kelam tersebut disampaikan kepada para pembaca? Kepada kita semua? Dan jelas, menurutku, bukan untuk dijadikan teladan bahwa sebuah balas dendam dapat berarti apa saja. Bahwa kekerasan kepada siapa saja dapat dibenarkan saat kita berada di posisi sebagai korban. Bahkan balas dendam dengan motip keuntungan yang luar biasa dengan melakukan penjarahan dan perampasan atas segala yang dipunyai oleh sang pelaku. Sang pelaku yang mendadak menjadi korban. Dengan dalih apapun, tindakan balas dendam yang demikian berlebihan tersebut sesungguhnya menjadi catatan bagi kita bukan untuk dijadikan teladan tetapi untuk tidak mengulangi tindakan yang sama. Untuk menolak pembalasan yang berlebihan. Apalagi pembalasan yang mengandung motip-motip terselubung.

Tetapi kenyataannya kita seringkali dihadapkan atau bahkan mungkin justru melakukan hal-hal yang penuh dengan ancaman, pemaksaan bahkan kekerasan dengan dalih yang seakan-akan suci dan benar. Dalih yang dapat melindungi kita dari tindakan hukum dan pandangan umum. Padahal jika kita mau jujur, jika kita berani untuk jujur, sesungguhnya kita menyembunyikan motip kepentingan kelompok atau bahkan pribadi dibalik dalih tersebut. Sayangnya, kebanyakan dari kita menolak untuk jujur, sering terutama karena menyangkut nama baik dan harga diri kita sendiri. Atau kita takut kehilangan kenyamanan hidup kita. Namun dalih yang menyembunyikan motip kita sesungguhnya tidaklah pantas menjadikan kita sebagai teladan bagi siapa saja. Maka dalih apapun yang kita utarakan, yang menyembunyikan motip-motip terselubung pada perbuatan kita, sesungguhnya adalah teror bagi orang lain. Janganlah sebagai korban kita lantas merasa layak pula untuk kemudian mengorbankan orang lain. Apalagi yang samasekali tak bersalah dan tak berhubungan sama sekali dengan apa yang telah menimpa kita.

Maka Yakub berkata kepada Simeon dan Lewi: “Kamu telah mencelakakan aku dengan membusukkan namaku kepada penduduk negeri ini......”. Tetapi seperti biasa, sesal selalu terlambat datang. Sesal selalu tiba setelah semuanya terjadi. Peristiwa dalam kitab kejadian itu selayaknya menjadi renungan bagi kita semua agar tak ada lagi sesal atas perbuatan kita. Dengan belajar dari kisah itu. Dengan memahaminya. Dan menolak semua tindakan kekerasan dan balas dendam atas dalih apapun juga.


Tonny Sutedja

USANG

Aneh..” kata seorang temanku suatu ketika, “mengapa DVD player ini begitu cepat rusak. Padahal jarang kami pakai. Bahkan sejak kami beli, mungkin hanya beberapa kali kami pergunakan...” Dan aku melihat ke pemutar DVD itu yang memang nampak masih baru. Bahkan lapisan pembungkusnya pun masih melekat padanya. Tetapi alat itu tidak bisa lagi dihidupkan. Dia hanya diam teronggok menjadi hiasan di bawah TV berlayar lebar di ruang tamunya.

Tetapi memang sering demikianlah adanya. Sesungguhnya, sesuatu yang jarang dipakai bukannya menjadi awet tetapi malah cepat usang lalu rusak sehingga tak mungkin dipergunakan lagi. Demikian pula dengan kita, dengan kemampuan kita, dengan daya pemikiran kita. Semakin sering dipergunakan, semakin terasah dengan baik dan dengan sendirinya lalu menjadi kian tajam dan bermanfaat. Sebaliknya semakin jarang kita pakai, semakin cepat pula kita menua dan menuju kepikunan yang bahkan mungkin tak tersembuhkan sama seperti peralatan elektronik tersebut.

Maka menjaga hidup seharusnya tidaklah dengan menyia-nyiakannya begitu saja. Menjalani hidup seharusnya dengan mempergunakan apa yang kita miliki. Otak kita, keahlian kita, segala kemampuan dan milik kita, haruslah kita pakai setiap saat demi untuk membuatnya tetap atau bahkan semakin baik fungsinya. Itulah yang harus kita lakukan agar dapat tetap mempertahankan bahkan semakin meningkatkan fungsinya. Talenta-talenta yang kita punyai jangan hanya disimpan menjadi barang pajangan atau malah disembunyikan sehingga sama sekali kehilangan gunanya.

Aku memandang ke peralatan elektronik itu yang kini telah kehilangan manfaatnya. Walau nampak baru karena jarang disentuh, dia tidak lagi punya arti apa-apa. Serupa barang usang yang tak berguna. Dia tak lagi dapat menjalankan tugasnya sebagai alat untuk memberi informasi atau menghibur pemiliknya. Dan sesungguhnya bagiku, peristiwa itu mengajarkan kepada kita bahwa, sama seperti pemutar DVD itu, hidup selalu harus digunakan, karena untuk itulah kita hadir. Untuk itulah kita ada. Jika tidak, apa gunanya kita membeli alat itu dengan cukup mahal? Dan apa gunanya Tuhan memberi hidup kepada kita? Kehadiran kita di dunia ini bukanlah sebagai barang pajangan belaka. Bukan.

Kehadiran kita di dunia ini selalu punya arti bahwa kita berguna. Kita selalu punya guna. Dan sesungguhnyalah keberadaan tidak pernah sia-sia. Percayalah, kita tidak perlu khawatir selama kita dapat berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Kita selalu dapat berfungsi dengan baik selama kita mau mempergunakan diri kita, segala kemampuan kita, segala milik kita, demi kemanusiaan dan lingkungan di sekeliling kita. Janganlah menyembunyikan dirimu. Janganlah menanam talentamu sehingga kehilangan kemampuannya dan menjadi usang tak berguna sama sekali. Janganlah. Tetaplah berguna dan semakin berguna. Setiap hari. Setiap saat. Amin.


Tonny Sutedja

TOL

Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia
(Mite SisifusAlbert Camus)

Sisifus adalah nama seorang manusia yang dihukum oleh para dewa untuk mendorong sebuah batu besar ke puncak gunung, tetapi saat tiba di puncak, terdorong oleh beratnya, kembali akan meluncur ke kaki gunung sehingga seakan menjadi sebuah tugas yang sia-sia dan tanpa arti bahkan mustahil sama sekali. Kisah ini berasal dari legenda Junani yang sangat terkenal yang ditulis oleh Homerus. Sisifus pun menjadi lambang ketidak-berdayaan manusia menerima dan menghadapi hidupnya, kerja keras yang pada akhirnya akan sia-sia, ambisi dan hasrat yang tak punya makna apa-apa saat berhadapan dengan akhir kehidupan ini.

Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia” tulis Albert Camus, sastrawan dan filsuf Perancis penerima hadiah Nobel pada tahun.... Menurut Camus, hidup tidak diukur dari apa yang coba diraih seseorang, tidak dari tujuan yang dapat dicapai tetapi dalam bagaimana dia menjalani proses menuju tujuan itu sendiri. Apakah kelak dia berhasil atau gagal, sesungguhnya tidak terlalu berarti lagi. Karena proses-lah yang paling penting. Dan hidup harus kita jalani sepenuhnya berdasarkan proses keberadaan kita, bukan pada tujuan yang mungkin dapat ataukah gagal kita raih. Dengan kata lain, kita bisa umpamakan bahwa dalam sebuah pertandingan sepakbola misalnya, kemenangan atau kekalahan tidaklah sepenting bagaimana kita dapat bermain dengan indah, jujur dan penuh semangat. Ya, bermain jauh lebih bermakna daripada hasil dari permainan itu sendiri.

Demikianlah aku merenungkan hal itu saat aku dalam perjalanan antara Jakarta menuju Bandung lewat jalan tol yang mempersingkat waktu tempuh kedua kota tersebut. Dan terasalah ada yang hilang dari ketika sebelum ada jalan tol ini, aku menikmati jalur lama yang melewati jalan biasa sambil memandang panorama keindahan alam di Puncak dan seputarnya. Ya, nyatanya hidup saat ini semakin jatuh cinta pada jalan pintas. Makin cepat makin baik. Dan aku tiba-tiba membayangkan berapa banyak tetangga, sahabat atau bahkan keluarga yang harus terpisahkan karena adanya jalan tol itu sehingga mereka tak lagi mudah untuk saling berkunjung satu sama lain, tetapi harus mengambil jalan memutar yang jauh, teramat jauh hanya agar kita dapat menikmati kecepatan dan kenyamanan tersebut. Memang, kini semuanya lalu dibuat serba instan. Ada makanan instan, cepat saji, kaya pun dibuat instan dengan korupsi dan segala macam penerabasan pada etiket, adat dan hukum. Pun sampai ke cinta instan, pernikahan instan dan sebagian dari kita tetap dan sangat menyukai lewat jalur tol itu walau belum tentu bebas macet. Proses yang umumnya terasa lama dan berbelit-belit dibuat jadi cepat dan ringkas walau belum tentu nyaman dan baik.

Lalu aku mengenang di masa-masa lalu, ketika aku melihat nenek membuat makanan dengan peralatan yang serba sederhana, dimana semua belum tersedia di pasar-pasar swalayan seperti saat ini: santan harus diperas sendiri dari kelapa yang juga dikerik sendiri, tepung beras harus ditumbuk sendiri dari beras dengan memakai alu sederhana, dan hingga kulit lumpia yang harus diremas dan digiling sendiri dengan memakai potongan bambu yang sangat sederhana, tetapi anehnya, rasanya sungguh nikmat dan tak terlupakan bahkan hingga saat ini, dimana semua dapat dibeli dan dinikmati asal kita memiliki uang. Bahkan kerja membuat segala macam itu seringkali dilakukan secara bersama-sama dengan para om dan tante bahkan tetangga sambil mereka bercerita segala macam soal yang membuat suasana terasa akrab dan penuh persahabatan. Namun semuanya telah berubah. Dan ketika semua dapat kita beli, uang pun tiba-tiba menjadi sang primadona. Tanpa uang, segalanya tak ada, bahkan saudara, sahabat dan tetangga pun menghilang. Tak heran, di masa sekarang ini, semuanya dibuat serba cepat, serba mudah, serba indah dalam penampilan tetapi terasalah betapa ada kekosongan dalam jiwa yang selalu mendamba sesuatu yang akrab. Sesuatu yang bukan hanya hasil tetapi juga proses untuk mengada. Bukan hanya buah tetapi pertumbuhan untuk menjadi buah......

Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia” tulis Albert Camus. Tetapi berbahagiakah kita saat kita tidak lagi mau mendorong batu besar itu menuju ke puncak tetapi langsung dapat berada di puncak tanpa melakukan upaya apa-apa kecuali hanya dengan membayar? Berbahagiakah kita dengan apa yang kita dapat dengan membayar itu? Bahkan berbahagiakah kita dengan menerima uang untuk membayar itu tanpa usaha sama sekali kecuali dengan memakai jalan pintas, mempergunakan segala macam koneksi, kolusi kekuatan dan kekuasaan kita lewat jalur tol yang barangkali membuat segala sesuatunya lancar walau tidak tanpa kemacetan sama sekali? Berbahagiakah kita dengan keberadaan jalan tol itu walau secara tak kelihatan dapat mengurbankan kehidupan banyak orang lain yang terpaksa harus terpisah karena keberadaan tol itu? Berbahagiakah kita dengan semua itu? Berbahagiakah hidup kita sekarang? Saat ini? Berbahagiakah kita? Semoga. Walau sayangnya, kita tak mungkin hanya dengan memandang makanan yang tersaji di depan kita maka kitapun akan kenyang seketika. Selalu perlu proses untuk memasukkan ke mulut, mengunyahnya secara perlahan, walau selalu ada yang ingin terburu-buru tapi pasti sangat jarang yang langsung menelannya begitu saja, baru kemudian menelannya yang dapat membuat kita kenyang. Dan tetap hidup. Walau belum tentu sehat. Belum tentu.....


Tonny Sutedja

SENJA MEMUKAU

Memandang sang surya terbenam setelah siang yang teramat terik bagaikan memandang satu keindahan yang memukau setelah melintasi suatu perjalanan yang melelahkan. Pendar-pendar warna lembayung yang di ujungnya melepaskan sinar panjang menuju ujung yang tak berbatas sekan memanggil jiwa untuk melepaskan penat setelah sebuah perjuangan untuk menghidupi diri. Adalah satu kenyataan bahwa segala yang menakjubkan yang berasal dari alam seringkali luput kita saksikan walau dia ada di depan mata. Bukan karena kita tidak melihatnya. Tetapi lebih sering karena kita hanya memusatkan pandangan kita jauh ke dalam diri sendiri. Sesuatu yang indah tidak senantiasa terlihat saat kita diselimuti kabut kepentingan diri kita.

Ya, sedikit banyak kita seringkali tidak dapat menyaksikan indahnya kehidupan ini saat kita hanya memikirkan diri kita. Hanya memikirkan bagaimana untuk menghidupi diri, untuk menambah pemilikan kita, untuk terus memiliki, menambah dan makin menumpuk segala kepemilikan kita. Hasrat, ambisi, kekayaan, kekuasaan dan kekuatan yang tak terbatas membuat kita lupa bahwa sesungguhnya ada yang jauh lebih indah dalam hidup ini selain dari kepemilikan kita. Lihatlah, senja yang indah ini telah menjadi milik kita yang sangat menakjubkan tetapi mungkin karena juga menjadi milik siapa saja yang mampu meresapinya maka dia menjadi tidak berharga sama sekali. Sayang, sungguh sayang jika demikian hidup yang kita jalani. Kita gagal untuk menikmati keindahan yang sesungguhnya. Keindahan bersama seluruh isi alam semesta ini. Kebersamaan.

Tahukah kita bahwa hidup yang seringkali terasa pelik bagi kita ini sesungguhnya berlangsung sangat sederhana? Lihatlah pada bunga yang berkembang, pada cahaya bintang di subuh yang dingin, pada tetes air di rintik hujan yang menerpa dedaunan hijau, pada keanggunan gunung dan keluasan samudra yang tak kelihatan ujungnya. Pada apa saja yang setiap saat dapat kita lihat dan kita rasakan. Bahkan pada suara eongan kucing dan gonggongan anjing di tengah malam yang senyap. Semuanya mengandung makna sederhana. Bahwa hidup ada. Hidup berjalan. Hidup ini nyata. Sesungguhnya, tak ada yang lebih indah daripada itu. Kita telah diberikan semuanya. Dengan bebas. Dengan cuma-cuma. Alam itu sendiri adalah anugerah terindah yang dapat kita nikmati. Lalu mengapa kita berhasrat untuk memilikinya sendiri? Dan enggan untuk berbagi dengan sesama? Apakah kepemilikan sendiri jauh lebih utama daripada kepemilikan bersama hanya karena itu berarti bahwa kita istimewa? Bahwa kita memiliki kuasa? Bahwa kita yang paling utama? Apa artinya semua itu saat kita kelak menemui sang pemilik kehidupan? Adakah gunanya kekuasaan-kekuatan-kekayaan kita? Adakah?

Memandang sang surya yang perlahan merayap memasuki horison sambil meninggalkan kegelapan yang perlahan mulai menutup langit, selalu membuatku merenung tentang sesuatu yang telah ditinggalkannya sepanjang keberadaannya selama dia memberikan cahayanya bagi kita semua. Kesadaran bahwa dia pergi tetapi tidak menghilang, karena dia pergi dari kita hanya untuk menemui yang lain di bagian barat sana untuk nanti, keesokan harinya akan muncul kembali dari timur menemui kita. Demikianlah sang surya berputar mengelilingi bumi sama seperti hidup berputar bagaikan roda dalam kehidupan kita: kadang saat-saat kelam tiba tetapi dilain waktu kegembiraan membuncah dengan penuh tawa riang. Itulah sesungguhnya yang membuat kita memiliki kesempatan untuk menikmati kehidupan ini. Bukan dengan kepemilikan pribadi. Bukan dengan kemampuan kita untuk menguasai, membiayai dan memaksa alam mengikuti kehendak dan niat kita. Bukan itu.

Karena percayalah, alam tak mungkin kita taklukkan. Alam tak pernah dapat kita kuasai walau mungkin kita merasa mampu untuk menerabas semua yang ada demi keuntungan kita, sekali waktu dia akan merebut semua kepemilikan kita itu dengan suatu daya yang tak pernah dapat kita hadapi. Bahkan tak mampu kita pastikan. Walau mungkin kita bisa menduga bahwa itu akan terjadi tetapi tak selalu dapat menghentikan hasrat kita, atau sebagian dari kita untuk menguasai dan menaklukkannya. Hingga saat ketika bencana tiba. Hingga saat ketika kita semua harus gigit jari dan mengerang sedih. Kita semua. Sebab alam ini ada untuk semua, dan bukan kepemilikan pribadi-pribadi tertentu saja. Alam tak pernah menginginkan dirinya dimiliki hanya oleh segelintir orang tetapi rela memberikan dirinya kepada semua mahluk. Siapa pun dia. Apa pun dia. Dan bagaimana pun dia adanya.

Maka di senja hari ini, aku menyaksikan panorama yang demikian menakjubkan ini sambil berharap agar semua kita mampu pula menyaksikan dan merasakan keindahan ini sambil sejenak melupakan kepentingan-kepentingan pribadi masing-masing. Dengan demikian, kita dapat mencintainya. Kita ingin memeluknya sekaligus memeluk semua miliknya karena itulah yang diinginkannya. Keindahan ini dipersembahkannya bagi semua mahluk yang mau menikmatinya. Dan semoga semua mahluk berbahagia karena keberadaannya. Semoga semua mahluk hidup dalam kebersamaan dengan dia, saling menyayangi, saling mencintai dan saling membagikan keindahan masing-masing sama seperti dia telah rela membagikan dirinya buat semuanya. Kepada semuanya.


Tonny Sutedja

SEMESTA KITA

Kadang-kadang tak terasa betapa cepatnya waktu berlalu. Malam pergi pagi tiba. Dan pagi pun segera menghilang menuju malam kembali. Perayaan natal, tahun baru, imlek, paskah, lebaran seakan berlarian tanpa terkejar dalam ingatan. Demikian seterusnya. Dan kita, sadar atau tidak, terlena dalam perubahan yang tak terpikirkan sehingga sering merasa terkejut saat tahun akan segera berganti. Dan kalender akan segera ditukar. Begitulah kehidupan ini berlangsung. Senang, susah, tawa, tangis, apakah semua itu ada artinya dalam perjalanan hidup yang singkat ini?

Pikiran dan perasaan kita ternyata dapat menipu. Pikiran dan perasaan kita ternyata sering tak sadar akan perjalanan waktu yang telah membawa perubahan. Banyak perubahan telah terjadi dalam kehidupan nyata seiring jalannya waktu. Sementara kita masih berpikir bahwa segala sesuatu tetap. Masih beranggapan bahwa segala sesuatu masih seperti seperti apa yang kita pikirkan. Tetapi kita cenderung menafikan perubahan itu. Mungkin karena kita telah merasa nyaman dan aman dengan kondisi kita. Mungkin pula karena kita khawatir bahwa perubahan itu akan membawa kita menjadi sosok yang berbeda. Tetapi sesungguhnya kita melupakan bahwa yang dulu telah menjadi sejarah. Dan hari esok sesuatu yang mungkin akan menjadi lain sama sekali dari harapan kita. Sesungguhnya itulah tantangan bagi pikiran dan perasaan kita sekarang. Saat ini.

Siapakah kita ini? Sadarkah kita pada kenyataan yang ada di sekeliling kita sekarang? Kita, yang perlahan aus dimakan waktu, menua dengan cepat, menuju akhir yang pasti, dapatkah kita untuk berkeras menahan lajunya sang waktu? Dan haruskah itu? Bukankah kita ini hanya setitik debu di tengah lautan semesta yang tak bertepi? Bagaimana dapat kita membuat diri kita menjadi semesta itu sendiri tanpa mau menyadari betapa kecilnya kita ternyata? Betapa kecilnya. Betapa tak berdayanya. Betapa rapuhnya. Dalam perjalanan waktu, kita semua sama. Kita semua serupa. Kita semua.

Maka di tengah samudera kehidupan ini, dengan gelombang yang kadang mengamuk dalam badai menakutkan tetapi kadang hening menenangkan pula, kau-aku-kita-mereka, sungguh hanyalah riak-riak kecil yang tak berarti di antara alun gelombang yang tak bertepi. Walau kita adalah bagian dari pergerakan itu, kita hanya mampu untuk beralun bersama. Mungkin berbeda dalam ujud tetapi mirip dalam nasib. Keberadaan kita sungguh amat sederhana. Hidup dan menghidupi untuk menuju akhir yang pasti. Dan sesudah itu? Kita akan mendapatkan jawabannya hanya setelah kita mengalaminya. Sendiri. Masing-masing. Sebelum itu, kita bukanlah sang penentu kebenaran. Kita tidak mungkin dapat memastikan apa yang akan kita temui nanti.

Kita adalah manusia yang rapuh. Mudah retak lalu lenyap terhembus angin masa. Di tengah segara kehidupan, di antara lautan alam semesta, kita hanyalah noktah kecil, sangat kecil, yang setiap saat mengarungi nasib kita masing-masing. Seperti saat menulis satu kata, kita dapat mengubahnya kembali, memperbaharuinya, tetapi waktu yang telah lewat tak mungkin lagi dapat kita rengkuh kembali. Demikianlah, bersama waktu, kita tak berdaya sama sekali selain dari menerima dan menghadapi apa saja yang saat ini sedang kita alami. Dan kita harus meluruskan segala pemikiran kita yang sering tak sadar diri pada kemampuan dan kekuatan kita dalam hidup. Hari kemarin telah lewat dan takkan kembali. Hari esok akan tiba tetapi sering diluar jangkauan kita. Sekarang dan hanya saat ini saja kita hidup dan menghidupi diri. Dengan harapan. Dengan semangat. Dengan menjalani dan berupaya untuk menyadari betapa waktu tak mungkin kita kejar, seberapa pun hasrat kita untuk itu.

Pagi datang dan malam menyusul tiba. Hari berganti dan setiap saat kita harus menghadapi kenyataan yang ada dengan satu kepastian. Bahwa di ujungnya kelak, kita akan segera usai. Kita dan waktu akan segera berpisah. Tetapi kitalah yang akan meninggalkan sang waktu sementara dia tetap berlanjut seakan tak berujung. Dan walau kita sering melupakannya, dia tetap berjalan dengan tetap dan kelak akan melepaskan kita dalam kenangan hingga ke titik semuanya berakhir dan kita pun terlupakan. Tetapi, sementara kita ada dan masih ada, disini dan sekarang, kita, aku-kau-mereka, selalu dapat memperjuangkan hidup. Bukan dengan menghancurkannya. Bukan dengan menghilangkannya. Bukan pula dengan mengubahnya sesuai keinginan dan hasrat kita semata. Tetapi memperjuangkan keberlangsungannya dengan kesadaran bahwa, apa yang ada sekarang akan menjadi semakin baik kelak. Sepeninggal kita.

Betapa cepatnya waktu berlalu. Betapa tak terasakannya usia menelan kita. Dan semakin ke depan, semakin singkat pula waktu yang akan kita miliki. Kesadaran itulah yang perlu kita renungkan. Dengan demikian, kita dapat menikmati hari-hari kita. Dapat memperbaharui diri kita. Dan dapat menerima perubahan yang terjadi tanpa rasa pedih atau pun putus asa. Sebab waktu tak pernah berhenti. Sebab waktu selalu melaju. Ke depan. Dan jika kita tak mampu menerimanya, kita akan ditinggalkan. Kita akan dilupakan sebelum waktu kita bersamanya usai. Dan siapa yang berhenti di titik dimana dia masih ada dalam waktu, sesungguhnya telah gagal untuk menemukan makna keberadaannya sendiri di hidup ini. Baginya, dunia hanyalah mimpi yang mungkin indah tetapi tidak nyata. Sama sekali tidak nyata.

Mari kita menjalani hidup ini dengan menerimanya. Dan jika perlu, menerima sambil dengan rela mengubah pikiran dan perasaan kita. Mengubahnya menjadi lebih baik tanpa keinginan untuk menghancurkan. Tanpa ambisi untuk menguasai. Tanpa hasrat untuk menjadikannya sama dengan pikiran kita. Sebab kita hanyalah noktah yang kecil, sangat kecil, di antara kehidupan yang demikian luas. Sangat singkat di antara panjangnya sejarah yang telah, sedang dan akan terus berjalan. Dan jika esok tiba, dan kita segera akan berpisah dengannya, kita akan menemukan segala jawaban yang demikian mengusik kita sepanjang perjalanan kita. Karena hanya dengan meninggalkan waktu saja kita justru dapat mengenal dia dengan pasti. Sama seperti keindahan sebuah panorama hanya dapat kita nikmati dari kejuahan. Sama seperti kecantikan dan ketampanan seseorang selalu akan jelas jika kita punya jarak dengan dia. Bersamanya, kita mungkin terkejut akan kenyataan yang sesungguhnya. Demikianlah pula kita yang jika di dalam menjalani hidup ini memperjuangkan kebenaran kita di luar sang waktu, kelak mungkin akan terkejut mendapati kebenaran sesungguhnya. Kenyataan yang bisa sangat berbeda dengan apa yang akan kita hadapi. Percayalah. Dan sadarlah. Memang demikianlah adanya.


Tonny Sutedja

09 Agustus 2013

HUJAN

Hujan turun dengan derasnya. Sekelompok kambing nampak berteduh di emperan sebuah toko yang sedang tertutup. Dan hampir tak ada orang lewat di jalan yang terasa lengang di siang hari itu. Sementara aku menangkap dan menikmati momen tersebut, ada yang terasa demikian menggigit hatiku. Di tengah udara yang dingin. Di antara derasnya hujan. Dan saat jalanan terasa sangat lengang. Suasana tiba-tiba terasa akrab. Dekat dan menyentuh rasaku. Sangat intim dengan jiwaku.

Pengalaman hidup kita sebagai manusia yang mampu untuk merasakan sekaligus merenungkan momen demi momen situasi yang sedang kita jalani sesungguhnya merupakan realitas yang sangat menakjubkan. Dan kepekaan kita dalam menikmati suasana itu adalah tanda keajaiban diri kita sebagai insan yang mampu untuk berpikir. Sungguh, kita hidup di antara dunia yang luas ini, di tengah lautan manusia yang ada, adalah tetap dengan dan bersama keterasingannya masing-masing. Kesendirian kita secara personal. Dan tak ada yang mampu untuk menyibakkan hal itu. Tak ada dan tak seorang pun dapat. Kecuali kita sendiri. Kecuali kita.

Maka sambil menikmati derasnya hujan, sambil menyaksikan kesenyapan suasana di sekelilingku, sambil mendengarkan sesekali embekan kambing-kambing yang sedang bernaung menghindari cucuran air hujan di emperan toko yang sedang tertutup rapat, tiba-tiba aku merasakan sebuah keakraban dengan mereka.: betapa kami semua mencari aman dari basah kuyup. Kami semua menghindari cucuran hujan yang sedang menderas. Kami semua melindungi diri kami masing-masing. Tidakkah itu menakjubkan? Hidup tetaplah hidup. Kami semua nyata. Sangat nyata.


Tonny Sutedja

DI UJUNG HIDUP

Di ujung hidup, kita tahu, ada mati. Tetapi apa yang ada setelah mati? Apa memang ada kehidupan yang lain setelah kita mati? Ataukah tak ada apa-apa lagi karena kita ini memang mahluk yang hanya hidup sekali, setelah itu usai? Ataukah kita akan lahir kembali dalam wujud yang berbeda seperti yang diyakini sebagian dari kita? Kita tak tahu. Aku tak tahu. Bagaimana pun, keyakinan bukanlah kepastian. Dan kebenaran teramatlah semu.

Yang pasti hanya ini: kita hidup dan sekarang ada. Tetapi secara perlahan kita berubah. Kita menua bersama waktu. Larut di dalamnya untuk kemudian di suatu saat yang tak kita ketahui kapan-dimana dan bagaimana, kita akan lewat. Apakah setelah itu semuanya akan berakhir masih menjadi tanda tanya yang sangat misterius. Dan semuanya tergantung pada persepsi kita tentang apa yang kelak akan kita hadapi setelah hidup ini berlalu.

Tetapi alam kehidupan ini sangatlah indah. Sangatlah mempesona. Di balik segala baik dan buruk. Di balik semua penderitaan dan kesenangan yang kita arungi, hidup selalu siap untuk kita nikmati. Untuk kita alami. Dan dalami. Sebab kita dapat merasakan. Dapat memikirkan. Dapat merenungkan segala peristiwa yang telah dan sedang terjadi serta menebak apa yang akan terjadi. Dengan demikian, dapatkah kita katakan bahwa hidup ini membosankan? Ya, seandainya kita mau merenungkan segala pengalaman hidup kita, kita mampu untuk sadar bahwa selalu ada hal yang membuat kita berarti. Setiap hari. Setiap saat.

Pengalaman pahit. Pengalaman manis. Yang buruk. Yang indah. Semuanya sungguh nyata. Semuanya sungguh bagian dari hidup kita. Maka pantaskah kita mengatakan bahwa hidup ini tak berarti? Pantaskah kita ingin mengakhiri pengalaman itu dan meninggalkan waktu yang kita miliki dengan melupakan renungan bahwa sepahit-pahitnya dan sesakit-sakitnya pengalaman kita semuanya tidak punya manfaat apa-apa? Bukankah justru dari kesedihan itulah kita belajar untuk sadar bahwa kita sungguh ada. Kita sungguh nyata?

Maka apapun yang kita temui dalam perjalanan kita setiap saat sesungguhnya adalah bagian dari perenungan kita, bahwa banyak yang dapat pelajari, untuk kemudian mencari dan berusaha menemukan makna keberadaan kita sekarang. Bukan untuk disia-siakan. Bukan untuk ditinggalkan begitu saja. Kita harus berani menghadapi apa saja. Kita harus tahu mengapa dan bagaimana menerima sekaligus menemukan solusi dari segala permasalahan yang kita hadapi. Sebab hidup tanpa persoalan, tanpa kesedihan, tanpa kepahitan sesungguhnya bukanlah hidup. Mereka yang menginginkan hidup yang terus menerus berjalan mulus dan lurus pada akhirnya justru hanya akan menemukan kebosanan dan ketidak-berartiannya sendiri.

Selagi kaki kita masih menjejak di bumi, selagi jantung kita masih berdegup, selagi pikiran kita masih dapat menyadari keberadaan kita, selagi pandangan kita masih mampu melihat keindahan dan keburukan dunia, dan selagi kita masih dapat merasakan kesedihan dan kegembiraan, kita siap dan harus siap untuk belajar. Untuk mengetahui nilai kita. Untuk menjawab pertanyaan apa, bagaimana dan mengapa kita ada. Kita hanya noktah kecil di panjangnya waktu yang tak terukur. Kita hanya sebintik debu di keluasan semesta raya. Tetapi bagaimana pun, kita adalah tetap pusat alam semesta karena tanpa kita, tanpa adanya pikiran, perasaan dan pengalaman kita, sesungguhnya semuanya itu takkan ada. Takkan nyata. Kitalah yang hidup sekarang. Kitalah yang membuat segala sesuatu menjadi nyata.

Apa yang akan kita ketemukan setelah mati adalah tetap sebuah misteri besar yang hanya dapat kita jawab setelah kita mengalaminya sendiri. Tetapi apa yang ada sekarang, yang sedang kita alami, sedang kita jalani, merupakan bagian dari proses menuju ke titik itu. Janganlah menyia-nyiakan kesempatan untuk hidup. Jangan melepaskan kesempatan untuk ada. Tetaplah semangat menjalani waktu keberadaan kita karena itulah sebuah kepastian. Sedang apa yang ada setelahnya hanya sebuah kemungkinan. Kemungkinan dengan tanda tanya. Kemungkinan yang tak bisa kita jawab selain dari mengalaminya secara pribadi. Secara langsung. Sebelum kita mencapai titik itu, hidup adalah hidup. Selalu. Selamanya.


Tonny Sutedja

MERDEKA

Merdeka seringkali menakutkan. Menakutkan karena dengan kemerdekaan kita punya banyak pilihan dan kita harus memilih dari antara yang banyak itu, seakan mencari setetes kebenaran di lautan kehidupan yang tak terbatas. Sedang kita lebih suka hidup dalam satu kepastian yang membuat kita nyaman, aman dan tak perlu berpikir dan mempertimbangkan banyak kemungkinan. Maka kita seringkali berada di dunia ambigu, rindu tapi benci. Kita ingin merdeka tetapi enggan untuk memilih. Ingin bebas tetapi juga kepastian.

Merdeka memang seringkali membuat kita bimbang pada apa yang benar dan apa yang salah. Hidup menjadi beraneka warna, bukan lagi hitam atau putih saja. Dan kita pun mengambang di antaranya. Dengan banyak kekhawatiran. Dengan banyak ketakutan dan keragu-raguan. Apa yang benar dan apa yang salah tidak lagi pasti. Kita hidup dalam pemikiran kita masing-masing yang seringkali saling bertentangan demikian tajam dan mustahil dipertemukan. Membuat kita bertanya-tanya, apakah kemerdekaan yang kita miliki ini adalah sebuah anugerah atau sebuah kutukan?

Tetapi sesungguhnya kemerdekaan tidaklah berarti kebebasan secara mutlak. Tidaklah berarti bahwa kita dapat melakukan apa saja sesuai dengan keinginan kita saja tanpa memperdulikan orang lain. Tanpa memperdulikan lingkungan sekitar kita. Tidak. Kemerdekaan selalu memiliki rambu-rambu yang harus kita hormati. Keberadaan kita tidaklah sendirian. Selalu ada orang lain, sesama kita, alam lingkungan kita, semesta yang berada diluar kita yang juga memiliki kemerdekaanya sendiri. Dan kita harus menyadari bahwa kemerdekaan kita harus berbatasan dengan kemerdekaan mereka juga.

Maka kemerdekaan tidak berarti bahwa kita sungguh bebas berbuat apa saja demi diri kita, tetapi juga kita sungguh bebas berbuat demi sesama dan lingkungan kehidupan kita. Ada tonggak-tonggak yang harus menjadi patokan dimana kita tidak dapat melanggar dan melewatinya begitu saja karena kita merasa bebas melaksanakan apapun yang kita inginkan. Merdeka adalah kita tak ingin hak kita dilanggar sekaligus kita tak dapat melanggar hak orang lain. Hak alam lingkungan. Hak siapa dan apa saja. Tanpa mendatangkan bendana dan kesusahan bagi diri kita sendiri. Sebab masing-masing dari kita memiliki kemerdekaan yang sama. Yang tak berbeda. Dan tak bisa diutamakan.

Memang, merdeka seringkali terasa menakutkan jika kita hanya mau menerima satu kepastian yang aman dan nyaman bagi kita. Tetapi nyatanya hidup tidaklah demikian. Hari esok bukanlah satu kepastian yang dapat kita raih begitu saja. Bukan pula satu kebenaran yang harus sesuai dengan anggapan kita. Kita harus jujur. Kita tidak bisa mengarahkan masa depan sesuai keinginan kita. Dan segala ambisi, cita-cita dan hasrat kita dapat hilang begitu saja. Lenyap demikian mudah. Dan riwayat kita pun berakhir. Selesai. Tanpa pernah kita pastikan waktu dan tempatnya. Demikian mudah. Demikian nyata.

Maka di hari kemerdekaan ini, marilah kita bertanya, untuk siapakah kita mendengungkan kata merdeka itu? Untuk apakah kemerdekaan itu kita miliki? Dan bagaimanakah kita mempergunakan kemerdekaan kita? Jangan-jangan yang kita pikirkan hanya bahwa kemerdekaan berarti hanya bagi kepentingan, kebutuhan dan keinginan kita saja. Melulu untuk diri kita. Dan itulah sebabnya merdeka menakutkan kita. Karena kita tak pernah menyadari dan mengakui keberadaan yang lain di luar diri kita. Padahal kita tidak sendiri. Tidak pernah sendiri.

Dirgahayu Republik Indonesia!


Tonny Sutedja

MENDUNG DI SIANG TERIK

Ada angin berhembus kencang
Dan sunyi dalam hati
Berdegup dalam diriku meminta
Kencang mengikut angin lalu

Dan biru langit
Dan mendung awan
Dan hati sepi
Dan entah kemana

Ada mendung di langit biru
Seakan mengabari jiwaku tentang
Betapa indahnya hidup
Tak seindah kata merajut

Dimana tawa
Dimana tangis
Dimana sepi
Dimana rindu

Berbaring lesu
Mengharap
Mengharap
Hanya pada-MU


Tonny Sutedja

APATIS

"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Mat 7:7)

Saya tidak tahu mengapa sekarang kelihatannya umat menjadi apatis. Semakin tidak peduli akan keadaan gereja dan seakan-akan hanya berkewajiban setiap hari minggu datang, mengikuti perayaan ekaristi dan pulang begitu saja....” demikian suatu hari seorang ketua dewan pastoral mengeluh. “Demikian pula dengan para anggota dewan pengurus. Setiap rapat atau pertemuan hanya dihadiri oleh segelintir orang yang itu-itu saja. Sementara puluhan nama yang seharusnya terlibat tak pernah diketahui wajahnya. Hanya nama saja yang ada. Hanya nama...”

Keluhan demikian mungkin pula pernah atau sedang kita alami atau saksikan sendiri. Tentu tidak ada jawaban yang pasti mengapa hal itu terjadi. Ada banyak kemungkinan mengenai sebab-sebab keapatisan umat dalam kegiatan yang diadakan. Tetapi barangkali sebuah ilustrasi dari kisah nyata ini dapat membuat kita lebih bijak menyikapi hal itu. Bahwa barangkali ada sebab-sebab tertentu mengapa umat terasa menjauh dari setiap kegiatan yang diadakan sebuah paroki. Atau tak ingin terlibat secara langsung.

Saya pernah mengalami hal ini: sebuah undangan untuk rapat panitia suatu kegiatan dikirimkan kepadaku. Undangan rapat itu akan diadakan pada pukul 16.00 sore. Dan karena kemungkinan saya perhitungkan rapat akan berlangsung sekitar 3 jam saja, maka saya menyetujui janji sebuah pertemuan lain pada pukul 20.00 malamnya. Tetapi ketika saya sudah tiba di ruang rapat yang telah ditentukan, ternyata beberapa orang anggota panitia telah hadir tetapi para pengurus inti bahkan yang mengundang pun belum muncul. Kami terpaksa menunggu. Menunggu terus hingga satu per satu pengurus muncul. Dan sang pengundang sendiri baru hadir sekitar pukul 18.00 lewat. Akibatnya rapat baru dimulai sekitar pukul 18.30 petang. Saya mengajukan protes tentang keterlambatan itu, tetapi hanya dijawab dengan rasa tak bersalah pula, bahwa lagi ada kesibukan lain. Sibuk. Karena rapat baru dimulai pada pukul 18.30 sementara janjiku dengan seorang rekan pada pukul 20.00, saya terpaksa meninggalkan pertemuan itu sebelum materi inti dibicarakan...” kisah seorang teman. “Bagiku sendiri, sibuk alasan yang masuk akal. Jika ketua panitia tahu bahwa dia tak bisa menepati janji waktunya, mengapa dia tidak mengadakan rapat sesuai dengan waktu yang pasti dapat ditepatinya? Jika alasan sibuk diberikan, tidakkah setiap orang juga sibuk? Termasuk saya. Bagiku, apa yang terjadi bukanlah kesalahan sibuk, yang sayangnya sering dijadikan alasan keterlambatan, tetapi lebih pada masalah pengaturan waktu....”

Kami malas untuk mengikuti rapat karena semua yang akan dibicarakan hanya masalah pembagian tugas atau kerja. Dalam rapat tidak pernah dibicarakan rencana apa yang akan diadakan tetapi sudah pada apa yang akan dikerjakan oleh masing-masing anggota yang diundang tanpa terlebih dahulu menanyakan pendapat kami apakah rencana kerja itu layak atau tidak untuk dijalankan. Dan setiap pendapat yang kami ajukan pada akhirnya selalu ditolak atau mungkin diterima tetapi pada akhirnya tidak dilaksanakan dengan alasan bahwa sudah ada daftar kerja yang telah disusun dan harus dilaksanakan. Harus. Dan lebih menjengkelkan lagi, pada saat kerja dipersiapkan, yang merencanakan acara itu sendiri tidak muncul. Tidak pernah muncul. Baru kemudian di acara puncak, dengan bangga hadir dan berlaku seakan-akan itu semua hasil kerjanya. Kami hanya dijadikan pekerja saja tanpa dapat bersuara apa-apa...” keluh seorang pengurus yang lain suatu ketika.

Lalu suatu ketika saya pernah menanyakan mengapa seseorang enggan untuk terlibat di dalam kegiatan gereja. Jawabannya sungguh sederhana, “kan sudah ada orang-orang yang bertugas..” Dan ketika saya berkata bahwa memang sudah ada orang-orang yang mau bertugas, tetapi hanya yang itu-itu saja, dia menjawab, “saya tidak tahu harus terlibat dalam hal apa karena saya tidak pernah dihubungi sama sekali.” Ya, tidak jarang kita meilhat betapa hanya orang-orang tertentu saja yang mau dan selalu mau untuk melakukan tugas-tugas di gereja tanpa pernah mencari kemungkinan-kemungkinan lain karena berasumsi bahwa tidak ada orang yang mau menggantikannya. Padahal pernahkah kita berusaha mencari? Pernahkah kita menanyakan? Pernahkah kita menghubungi sekian banyak umat yang ada dalam paroki itu? Atau mungkin karena hanya sekali dua mencari tetapi ditolak, maka kita lalu hanya menunggu saja? Dan tidakkah lebih sering kita hanya menunggu dan menunggu ada yang mau menawarkan diri sementara yang lain menunggu untuk ditawari. Akibatnya, yang nampak seakan-akan bersedia untuk bekerja hanya mereka yang itu-itu saja.
Maka bagiku, pertanyaan mengapa umat seakan-akan kelihatan apatis, tidak peduli dan tidak mau terlibat dalam kegiatan di paroki barangkali mesti dirubah menjadi bagaimanakah kita mau merubah diri agar umat dapat lebih terlibat dan tidak hanya melihat kelemahan-kelemahan pada orang lain. Walau tak dapat dipungkiri bahwa memang ada yang sungguh tak mau terlibat dan melibatkan diri dalam kegiatan apa saja, pasti ada juga yang mau tetapi enggan terlibat bukan karena sibuk tetapi mungkin karena para pengurus selalu memakai ukuran kesibukannya sendiri tanpa sadar bahwa sesungguhnya dia dapat melakukan lebih baik jika mampu untuk mengelola waktu. Atau lebih lapang dalam mencari ide-ide atau usulan orang lain dan tidak hanya mengikatkan dirinya pada rencananya sendiri. Atau lebih aktip mencari dan memberikan kepercayaan kepada orang lain untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu dan tidak memborongnya untuk selalu dia dan dia saja yang mampu.

Memang, ‘pekerja sedikit dan tuaian banyak’ tetapi toh tidak bisa juga kita hanya berdiam diri tak berubah dan tak ingin mengubah diri serta hanya menunggu datangnya sebuah mujizat. Kita harus berusaha dengan terus meminta, mencari, mengetok secara terus menerus agar keapatisan itu dapat berubah menjadi dinamis dan menuju kemajuan bersama. Bagaimana pun, iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:26). Semoga kita tidak hanya lelap dalam kebiasaan sehari-hari yang hanya menerima dan menerima saja apa yang ada. Tidak. Minta, cari dan ketoklah maka yakinlah bahwa segalanya akan berubah menjadi lebih baik. Dan meninggalkan perasaan apatis yang sesungguhnya mungkin hanya ada dalam pikiran dan anggapan kita saja. Sebab sesungguhnya hidup ini sungguh dinamis. Teramat dinamis.


Tonny Sutedja

07 Agustus 2013

LEBARAN

Lebaran itu indah. Dirindukan. Sekaligus menyenangkan dan mengenyangkan. Setiap lebaran, bagiku, selalu berarti saat untuk berkumpul dan bercengkerama kembali dengan keluarga yang selama setahun seakan-akan terlupakan. Saat untuk saling menyapa sekaligus untuk kembali menegaskan bahwa walau ada perbedaan, kita semua adalah satu. Dan tetap satu.

Maka dalam situasi dimana hampir setiap saat kita membaca tentang pertentangan antar agama, antar suku dan antar keyakinan, ternyata bahwa, seringkali yang menjadi berita utama hanyalah sebuah noktah kecil di area yang luas, amat luas. Bahkan seringkali tidak terasakan di dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar dari kita. Apa artinya perbedaan dalam hubungan antar kekerabatan? Antar manusia? Tidakkah setiap saat kita masih dapat tertawa lepas, berbincang hingga saling mengusili satu sama lain tanpa menyadari adanya perbedaan satu sama lain?

Ya, lebaran adalah saat untuk merefleksikan diri bahwa walau kita hidup dalam lingkungan dan kondisi yang berbeda-beda, walau situasi yang kita hadapi setiap hari dan setiap saat berlain-lainan, kita semua tetap hanyalah manusia yang punya keterbatasan. Kita semua memiliki awal dan akhir. Kita hanyalah noktah debu di keluasan alam raya. Dan di suatu ujung nanti, kita akan menuju ke alam baru dimana yang ada hanyalah keabadian dan ketunggalan tanpa diperhitungkan siapa, apa dan bagaimana kita jalani hidup ini. Di ujung itulah, kita akan mempertanggung-jawabkan apa yang telah kita lakukan, bukan siapa dan bukan apa yang kita miliki.

Hidup dan mati adalah sebuah kepastian yang tak mungkin kita pertanyakan. Tetapi menjalani dan memutuskan apa yang harus kita jalani selama kita hidup itulah yang menjadi penentu makna keberadaan kita semua. Sebagai insan yang rapuh, walau sering kita merasa sekuat baja, kita harus menyadari keterbatasan diri kita. Keterbatasan kekuasaan-kekuatan dan kekayaan kita. Sebab manusia bukan hidup untuk itu. Tidak, bukan untuk itu. Tetapi demi dan terutama untuk saling mempertautkan diri, saling bermanfaat dan saling memahami kelemahan kita masing-masing.

Dan ketika saat ini lebaran tiba, inilah saatnya untuk membuang segala kebebalan kita dalam memandang kehidupan sebagai sekat-sekat yang pasti. Kau. Aku. Kami. Mereka. Semua hanya kata dalam dunia yang tak punya arti saat kelak kita semua menyatu di alam keabadian. Di hadapan Sang Pencipta hanya akan ada kita. Ya, kita semua. Maka saat lebaran, saat aku berkumpul bersama keluarga yang berbeda keyakinan, dan saling berseloroh tentang apa saja, menertawakan satu sama lain termasuk menertawakan diri sendiri, aku percaya bahwa sesungguhnya kita semua memiliki harapan untuk percaya bahwa di atas segala-galanya, perbedaan itu bukanlah sebuah kutukan melainkan sebuah anugerah yang harus kita terima, kita jalani dan kita manfaatkan demi memuliakan nama-Nya. Karena untuk itulah kita diciptakan. Untuk itulah kita ada. Untuk itulah.

Jadi pagi hari lebaran ini, mari kita bangun bukan dengan perasaan tertekan karena harus saling mengunjungi, tetapi dengan semangat bahwa hari ini tali persaudaraan disatukan kembali. Saling bersilaturahmi. Saling bercanda. Bahkan mungkin saling menikmati santapan yang enak dan mengenyangkan perut sekaligus jiwa kita. Selamat merayakan hari raya Idul Fitri 1434 H. Mohon maaf lahir dan batin kepada semuanya.


Tonny Sutedja

MALAM INI HUJAN TURUN

Malam ini hujan turun Tapi kau tak ada Hujan turun bagaikan malaikat Yang merindukan kata Tetapi melupakan kalimat Dan diam-dia...