25 Mei 2017

MALAM INI HUJAN TURUN

Malam ini hujan turun
Tapi kau tak ada

Hujan turun bagaikan malaikat
Yang merindukan kata
Tetapi melupakan kalimat
Dan diam-diam
Mimpi melumurinya
Dengan kocak

Tanyanya:
Siapakah aku?

Hujan dan malam
Gelap dan sepi
Endapkan rindu
Dalam jiwa
Yang menangis
Dan air mata
Menjadi hujan
Dalam jiwa

Malam ini hujan turun
Tapi kau tak ada


Tonny Sutedja

19 Mei 2017

SIMPHONY

Aku akan pergi
Dan takkan kembali
Jangan sedih
Jangan juga takut
Demikianlah siklus hidup
Sebab kelak
Kita akan berjumpa
Kembali
Dalam keabadian
Yang sempurna

Malam membawa dingin
Pagi bersama angin
Lirih mengalun nada
Dan kita
Menyerap dalam sukma
Segala yang terucap
Dan tak terucap
Seakan semesta
Adalah kita
Semua

Aku akan pergi
Dan takkan kembali
Taburkan bungamu
Di atas kehidupan
Dan aku akan tahu
Betapa harum aroma
Hidup yang mewangi
Karena kita
Takkan pernah terpisah
Takkan

Kita adalah semesta


Tonny Sutedja


AGAMA DAN MANUSIA

Agama adalah sarana menuju kepada Sang Maha Pencipta semesta ini. Agama bukan Sang Maha Pencipta itu sendiri. Dan sebagai sarana, berbagai agama diturunkan sesuai dengan habitat manusia. Karena manusia diberikan kebebasan untuk memilih sesuai dengan kesadarannya masing-masing. Dan setiap agama selalu dituntun oleh mereka yang dianggap pandai dan punya integritas terhadap agama itu. Penuntun yang juga manusia tetapi memiliki keahlian dalam menafsirkannya. Tetapi akhir-akhir ini, agama tiba-tiba menjadi seakan-akan Sang Maha Pencipta yang tidak dapat dibantah, tidak dapat salah dan mutlak benar. Padahal sebagai sarana yang dilaksanakan oleh manusia, selalu ada ketidak-sempurnaan dalam berbagai bentuk karena manusia bukanlah mahluk yang sempurna.

Setiap agama memiliki lambang-lambang khas yang menjadi tanda khusus bagi para penganutnya. Namun, ketika lambang-lambang itu lebih diutamakan daripada kelakuan dan perbuatan para penganutnya, dimana mereka yang mengenakan lambang tersebut bisa dianggap tidak pernah salah, sesuatu yang sempurna, apapun yang telah dilakukan para penganut itu, maka timbullah kekisruhan. Ketika para pemakai lambang-lambang tersebut berhadapan dengan mereka yang tidak memakainya, mereka yang berbeda walau mungkin juga sama agamanya, dan bahkan menuding kepada mereka yang berbeda sebagai tidak beragama bahkan sebagai yang tidak percaya kepada Sang Maha Pencipta, sebagai kafir, bukankah itu malah menjadikan lambang-lambang agama sebagai sang maha pencipta, bahkan sebagai berhala baru?

Sang Maha Pencipta itu sempurna, tetapi sebagai manusia kita semua tidaklah sempurna. Kita hanyalah ciptaan yang berkembang sesuai dengan karakter, pola pikir dan kesadaran kita masing-masing, dan sesuai dengan habitat lingkungan dimana kita berada di dalamnya. Itulah yang membuat kita berbeda. Bahkan dalam habitat lingkungan yang sama pun, kita tetap berbeda karena masing-masing dari kita telah diberi karunia khas masing-masing: akal untuk berpikir dan menyerap semua pengalaman yang telah kita alami sebagai sesuatu yang unik pada masing-masing individu. Menyalahkan akal dan karakter seseorang sama saja dengan mempertanyakan, bahkan tidak mempercayai kekuasaan mutlak Sang Maha Pencipta Semesta ini untuk menjadikan kita sebagai manusia di dunia yang beragam dan tidak sempurna ini. Sebab, keberagaman diciptakan agar dunia ini menjadi lebih bermakna dan perjuangan untuk menjalani kehidupan ini punya arti bagi Sang Maha Pencipta sendiri.

Maka siapakah kita ini? Bukankah kita ini memiliki kesadaran untuk dapat berpikir, untuk dapat belajar dari segala yang ada di sekeliling kita, baik yang telah kita alami sendiri, maupun yang bisa kita serap dari segala sesuatu yang kita ketahui di dunia ini? Dan di ujung semua itu, bukankah kita pada akhirnya akan berakhir dengan satu pertanyaan besar tentang makna keberadaan kita di alam semesta ini? Ya, siapakah kita ini yang mungkin merasa paling tahu, paling hebat, paling jago bahkan paling sempurna tetapi sesungguhnya hanya senoktah kehidupan yang kelak akan menjadi tanah belaka? Mencari makna kehidupan ini selalu harus dengan belajar memahami, dan bukannya dengan menghapal segala apa yang telah kita terima dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak mungkin berubah, yang paling benar dan bahkan sempurna dan kekal. Sebab hanya Sang Maha Penciptalah yang sempurna, dan semua makna keberadaan kita di dunia ini tersimpan dalam rahasia Ilahi yang kelak akan terkuak setelah kita, ya kita semua, berhadap-hadapan dengan DIA.


Tonny Sutedja

07 Mei 2017

MENGAPA KAMU MENCARI AKU?

Udara terasa dingin. Angin berhembus kencang. Hanya ada dia seorang diri, dia seorang remaja putra yang tertunduk dengan sedih. Dan gerimis membasahi rambutnya. Mendung tebal yang menggantung di langit membuat hatinya merasa sunyi. Dia duduk dengan lesu di depan patung Bunda Maria yang sedang mengembangkan kedua belah lengannya. Seakan ingin memeluk dirinya. Dia tahu bahwa dirinya telah bersalah. Dia tahu bahwa apa yang telah dilakukannya adalah suatu dosa yang tidak terhapuskan. Tetapi toh semuanya telah terjadi, bahkan di luar kesadarannya. Bagaimana lagi dia harus menghadapi hidup ini? Bagaimana lagi dia harus menghadapi masyarakatnya? Bagaimana dia dapat menerima kenyataan ini tanpa harus merasa putus asa karena ketidak berdayaannya sendiri? Bagaimana?

Dia ingat pada rumahnya yang di musim penghujan seperti saat ini, sering kebanjiran. Dengan air kotor yang berwarna coklat menggenang di mana-mana. Bahkan di kamar tidurnya. Dia ingat pada ayahnya yang sering tidak pulang ke rumah. Dan jika pulang, hanya akan menimbulkan pertengkaran tanpa ujung pangkal dengan ibunya. Ayahnya yang pemabuk dan bekerja sebagai makelar rumah yang sering gagal menghasilkan. Dia ingat pada ibunya yang terbungkuk-bungkuk di depan mesin jahit tuanya. Mencari nafkah untuk makan sehari-hari yang sering tidak mencukupi untuk mereka berenam. Dia teringat pada adik perempuannya yang masih kecil. Adik bungsunya yang tiap hari hanya merengek meminta sesuatu yang tidak mampu dipenuhi ibunya. Dia ingat pada kakak wanitanya yang hanya tamat SMA dan kini bekerja di sebuah mall yang amat mewah. Yang lantainya licin dan mengkilap sebagai cermin. Dan kakak lelakinya yang menganggur. Yang kerjanya hanya begadang setiap hari bersama teman-teman se lingkungannya. Dan kadang-kadang harus berurusan dengan kantor polisi karena terlibat perkelahian. Maka di sinilah dia berada, dia yang merasa terkucil. Dan dikucilkan. Dia baru saja keluar dari penjara karena melakukan penjambretan di Mall tempat kakak perempuannya bekerja. Maka kini dia bermuka-muka dengan kenyataan yang harus dihadapinya nanti.

Aku memandang remaja itu dari kejauhan. Gerimis merintik. Tetapi dia masih duduk seorang diri merenungi waktu yang akan datang. Waktu yang jauh, jauh lebih kelam dari mendung yang menebal di angkasa. Dan aku sadar bahwa kami sama tidak berdaya untuk saling memahami kenyataan ini. Sering terasa bahwa aku tersesat dalam lingkaran tak berujung, saat menghadapi situasi dimana aku tak berdaya untuk mengubahnya sendiri. Bagaimanakah kami menghadapi nasib masing-masing? Adakah jalan untuk mendobrak kebuntuan ini? Wajah patung Bunda terasa lembut memandang ke bawah, memandang kelemahan insani kami semua.

"Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" Ya, saat di mana kita merasa sesak. Saat di mana harapan nampak padam. Saat hidup terasa hambar dan sia-sia. Bukankah kita semua sama seperti Maria dan Yusuf yang sedang kehilangan putra mereka? Dan jawaban itulah yang ditawarkan oleh Yesus kepada orang tuaNya. Dan juga kepada kita semua. Pada akhirnya kita akan sadari bahwa kelemahan kita adalah kekuatan Kristus sendiri. Dia yang tak pernah meninggalkan kita bahkan di saat di mana harapan nampaknya telah lenyap sama sekali.

Maka kini bangkitlah dia dari duduknya yang lama. Kulihat wajahnya menjadi lebih teduh. Raut mukanya yang persegi terasa lembut. Aku tidak tahu apa yang telah diputuskannya. Dan langit pun masih tetap kelam. Namun nampaklah suatu pancaran kedamaian dari matanya yang berair. Dengan pelan dia melangkah, kelihatan sedikit berpikir, dan berjalan menuju ke gerbang gereja. Dan lenyap dari pandanganku.

Kini, setelah hampir setahun lewat, aku kembali bertemu dengan remaja itu. Dia membawa becak. Becak yang dibelinya dari dana yang diberikan oleh romo paroki kami. Rupanya, dia telah membawa persoalannya kepada romo dan membuat keputusan untuk berusaha secara baik sebagai penarik becak. Suatu keputusan yang membuatnya meninggalkan perasaan gengsi dan harga diri untuk menghasilkan sesuatu secara benar bagi keluarganya. Dia tetap kelihatan berkumpul di antara teman-temannya tanpa merasa rendah diri. Dia aktip sebagai anggota THS-THM di paroki kami. Dan setiap pagi, saat aku berada di gereja, aku melihatnya duduk tertunduk di depan patung Bunda Maria. Tetapi kini dengan wajah yang jauh lebih segar dari yang kulihat tahun lalu. Namanya Anis.

Dan kukira, itulah sebabnya kita semua mencari Dia. Dan Dia ada di rumah Bapa. Di rumah, di mana kita semua adalah penghuninya sebagai saudara-saudara Kristus sendiri. Maka jika kita tidak saling membantu, siapakah yang dapat membantu kita lagi? Bukankah kita semua sesungguhnya adalah insan-insan lemah, sepandai, sekaya atau sekuat apapun kita? Kita saling membutuhkan dan karena itu kita layak untuk saling membantu dalam memenuhi kebutuhan itu. Mengapakah kita mencari Dia jika kita tahu dimana Dia berada?


Tonny Sutedja

GADIS KECIL PENJAJA KOREK API

Langit amat kelam. Hujan mengurapi bumi. Deras. Genangan air naik hingga ke trotoar pertokoan. Bumi amat muram. Sementara itu lampu jalan dan neon-sign berkedap-kedip, berkilauan menyajikan mimpi. Seorang gadis cilik dengan buntalan kantung plastik hitam berjalan menelusuri tepian jalan yang gelap. Tangan dan kakinya, yang telanjang, membiru diterpa cuaca dingin. Dia berjalan sendirian sambil menjajakan korek api dagangannya kepada satu dua orang yang melintas. Tetapi tak ada yang memperhatikannya. Semua hanya bergegas lewat, memikirkan diri mereka sendiri, megejar waktu untuk pulang ke rumah masing-masing. Malam ini malam tahun baru dan semua orang bergegas untuk berkumpul bersama.

 “Aku takut pulang” desah gadis itu pahit. “Ayah pasti akan memukulku lagi bila aku pulang tanpa uang.” Dia membayangkan rumahnya yang sempit dan kusam. Dinding yang retak dan ditutupi koran bekas serta kalender tua agar angin tidak menusuk masuk. Terakhir kali dia pulang tanpa uang, ayahnya yang sedang mabuk memukulnya. Kata ayahnya:”Tidak ada makanan bagi orang malas!” Toh, dia tak dapat memaksa orang untuk membeli korek apinya. Maka dia terus menelusuri trotoar kota.

Di depan sebuah Restauran dia berhenti dan memandang ke dalam. Dia melihat kumpulan orang yang sedang bergembira. Di depan mereka terhidang makanan yang kelihatan amat lezat. Sayup-sayup dia mendengar alunan lagu Natal serta suara tawa. Dan beberapa anak seusianya berlarian memutari meja makan itu. Dengan sedih ia kemudian melihat pantulan tubuhnya pada kaca etalase Restauran. Wajah kurus, mata kuyu dan bajunya yang compang-camping membuatnya pilu. Dengan air mata yang mengembang di matanya dia meninggalkan tempat itu. Sayup-sayup dia mendengarkan alunan nada: “Joy to the world, the Lord is came…………” Sementara itu malam makin pekat. Jalanan kian sepi. Dan muram.

Akhirnya, dengan letih dia duduk di sudut gelap depan pertokoan yang telah tutup. Dia meringkuk kedinginan. Hujan semakin deras saja. “Mama, mama….” Bisiknya pelan. “Dimanakah engkau?” Kata tetangga-tetangganya, ibunya pergi meninggalkan mereka sejak dia masih berumur satu tahun. Entah kemana. Kini dia telah berusia tujuh tahun. Dia tinggal bersama ayahnya yang menjadi pemabuk setelah ditinggalkan ibunya serta tidak punya kerja tetap lagi. Kadang-kadang mereka bahkan tidak mempunyai nasi sebutir pun untuk makan sehari. Seluruh penghasilannya akan diambil ayahnya untuk dibelikan arak.

Cuaca dingin kian menusuk tulangnya. Jari-jarinya terasa kaku dan beku. Dengan ragu-ragu dia membuka kantung plastik hitam jinjingannya. Dikeluarkannya sekotak korek api. “Ah, kalau saja aku berani untuk menyalakan korek api ini, tanganku tentu akan terhangati” Dia merasa bimbang. Tetapi akhirnya dia mengambil sebatang dan menyalakannya. Dan sungguh indah api yang berkilauan dalam gelap. Bagaikan nyala lilin. Sesaat dia merasa berada dalam sebuah ruang yang amat indah. Cahaya itu menari-nari membentuk pendiangan yang memanggil tubuhnya mendekat. Maka diapun menghampirinya. Tetapi sayang, korek api itu lalu padam dan bayangan itu pun menghilang.

Maka dinyalakannya korek yang kedua. Cahayanya jatuh memantul di tembok. Tembok itu lalu berubah menjadi ruang yang amat lapang. Dan ditengah-tengahnya ada sebuah meja bertaplak putih bersih. Di tengah-tengahnya nampak beberapa piring porselen yang berisi makanan kesukaannya. Ada bernebon, ayam panggang rica dan berbagai macam kue seperi panekuk kesukaannya dan juga buah-buahan. Dan, hmm, sungguh lezat aromanya. Dia lalu mengulurkan tangan untuk meraih makanan kesukaanya tetapi mendadak segalanya sirna kembali. Korek itu telah padam. Yang disentuhnya hanya dinding yang keras dan dingin.

Dia lalu menyalakan koreknya yang ketiga. Dia lalu merasa berada di bawah sebuah pohon Natal yang besar dan indah. Pohon Natal terindah yang pernah dilihatnya. Ratusan lilin kecil nampak berkedap-kedip pada dahan dan rantingnya, di sela-sela selimut daun yang hijau rimbun. Sungguh menakjubkan. Dengan rindu dia mengulurkan tangannya untuk memegang pohon tersebut. Tetapi sesaat saja segalanya pun menghilang. Koreknya telah padam dan yang dilihatnya kini hanya tetesan air hujan dari langit yang kelam.

Demikianlah gadis itu terus menyalakan batang-batang korek yang membawa hidupnya ke alam mimpi yang tak pernah dialaminya. Pada batang terakhir muncullah seorang ibu berparas lembut, mengenakan sutera putih berikat biru dan menggendong seorang bayi yang bercahaya, datang menghampirinya. “Ah” pikirnya, “Aku pernah melihat Ibu ini di dalam gereja Tuhan” Dia ingat waktu kecil dulu, saat ayahnya belum menjadi pemabuk seperti sekarang ini, sesekali dia dibawa ke gereja tersebut. Dengan takjub dia memandangi wajah lembut itu. Dan tiba-tiba dia melihat bayi di gendongan Ibu itu tersenyum lembut kepadanya. Dengan perasaan amat riang dia bangkit berdiri dan berlari memeluk mereka……..

Keesokan harinya, Tahun Baru, tubuh gadis itu ditemukan meringkuk oleh orang-orang yang lewat. Maka berkerumunlah mereka disekitarnya. “Kasihan” kata seorang ibu, “Pasti dia mati kedinginan”. “Bodoh amat” seru seorang bapak mencemooh, “Berkeliaran sendirian dalam hujan”. “Tetapi dia nampak bahagia” bisik seorang gadis, “Lihat senyumnya, seakan dia melihat sesuatu yang kudus sebelum meninggal”

Dan di dalam Gereja Tuhan, koster yang sedang membersihkan ruangan sedang mengomel. “Siapa lagi yang bermain-main di sini” Dia melihat ke patung Maria yang menggendong Yesus, basah kuyup. Airnya menetes-netes ke lantai. Lamat-lamat dari kejauhan, sekelompok Suster Biara bernyanyi: “Agnus Dei, Qui Tollis Peccata Mundi. Miserere Nobis…………………

Diadaptasi amat bebas dari Hans Christian Andersen Fairy Tales


Tonny Sutedja

DOMBA YANG TERSESAT

Waktu sepanjang hidup. Hidup sepanjang nafas. Begitu sederhana. Namun rumit. Ada demikian banyak suka. Dan duka. Begitu banyak manis. Dan pahit. Sepanjang waktu nafas yang singkat ini. Awalnya mungkin perkenalan biasa. Lalu debaran-debaran di dada. Disusul masa pacaran. Lalu pernikahan. Begitulah awal sebuah cinta. Keluarga pun terbentuk. Wanita menjadi istri. Lelaki menjadi suami. Waktu terus melaju. Hidup tetap melata. Wanita melahirkan. Anak-anak bermunculan. Mereka hidup menyatu di sebuah rumah kontrakan. Kecil dan mewah, mepet sawah. Lelaki itu bekerja di sebuah perusahaan kecil. Sebagai satpam. Penghasilan pas-pasan membuat hidup mereka nyaris tanpa hiburan. Maka anak-anak pun terus bermunculan. Dengan tujuh bocah kecil, kehidupan mereka pun semakin sulit. Biaya untuk hidup. Biaya untuk sekolah. Biaya untuk segala macam. Maka air kesulitan berada tepat di bawah lubang hidung mereka.

Kehidupan yang keras dan sulit membuat perubahan drastis dalam sikap. Kambing hitam lalu dicari. Mereka mulai saling menyalahkan. Segala yang dilakukan oleh pasangan menjadi sasaran kemarahan. Saling tuding. Saling tuduh. Hari-hari menjadi tak tertahankan. Istri menjadi amat peka dan ceriwis. Suami menjadi pemarah dan ringan tangan. Maka lumrahlah jika saat-saat tertentu wajah sang istri menjadi biru lebam akibat tamparan dan pukulan suaminya. Suami menjadi jarang di rumah. Ngelayap kemana-mana. Anak-anak pun terlantar.

Suatu hari saat dua dari anak mereka akan Sambut Baru, tak ada uang sepeser pun di kantung. Padahal ibu sang suami datang berkunjung dari daerah khusus untuk menghadiri acara tersebut. Maka pontang-pantinglah mereka mencari dana. Hutang kiri kanan. Wajah sang Istri selalu cemberut. Suami marah terus. Situasi menjadi peka dan mudah meledak dan memang itulah yang akhirnya terjadi. Seorang anak mereka, yang bungsu, tiba-tiba jatuh sakit. Mertua pun ikut campur dalam segala hal. Akhirnya sang istri tidak tahan lalu lari ke rumah orang tuanya. Tetapi sang suami datang dan menyeretnya pulang. Di rumah, di hadapan anak-anak dan mertuanya, dia diperlakukan bak samsak. Darah berceceran di wajahnya. Ia jatuh terjerembab ke tanah. Penglihatannya nanar. Lalu gelap. Gelap!

Aku merenungkan hal itu saat duduk di sebuah Restauran Cepat Saji. Di tanganku tergenggam koran Pedoman Rakyat tanggal 5 Nopember 2001. Dan berita tentang seorang suami yang membunuh istrinya ketika anak mereka akan menerima sambut baru hanya karena kekurangan dana. Di luar kulihat seorang wanita, berpakaian compang-camping, berjalan dibawah cucuran hujan. Jalan Sultan Hasanuddin sepi karena waktu buka puasa telah tiba bagi umat muslim. Dan di dalam Restauran ini suasananya amat hiruk pikuk. Penuh tawa ria. Ironi yang demikian tajam menusuk pikiranku.

Bagaimana kita memaknai kejadian-kejadian tersebut saat Natal menjelang? Dan Hari Ibu akan kita rayakan bersama? Saat baju-baju baru disiapkan. Saat libur panjang mulai direncanakan. Dan acara-acara gembira siap digelar? Selalu dan selalu ada yang terlupakan di belakang. Selalu dan selalu ada yang tertinggal dalam laju waktu. “Maka raja itupun menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Kukira itulah jawaban yang ditawarkan Tuhan Yesus pada kita saat kita bersama-sama menyambut kelahiranNya. Sebab “Dia datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani” (Mrk 10:45). Untuk itulah Kristus lahir ke dunia. Maka saat lonceng-lonceng Natal mulai bergema, patutlah kita renungkan kembali makna kelahiranNya. Kembali ke hakekat inti pada makna dan bukan hanya menikmati kulit luarnya saja. Marilah kita melakukan sesuatu yang tidak kelihatan namun berharga daripada melakukan sesuatu yang kelihatan jelas namun tidak punya harga apa-apa di hadapan Bapa.

Kembali ke kehidupan nyata, aku duduk dengan gundah. Sambil menyantap makanan yang tersaji di depanku, pandanganku terarah ke luar. Ke jalanan yang sepi. Gelap sepanjang hujan. Hujan sepanjang malam. Malam sepanjang hidup.


Tonny Sutedja

MALAIKAT ITU PUN PERGI

Oma itu terbaring lemah. Oma itu merintih kesakitan. Untuk ketiga kalinya dia mengalami patah tulang. Tulang yang rapuh karena osteoporosis. Sementara itu tubuhnya mulai digerogoti sel-sel kanker. Kanker payudara kini telah menjalar ke paru-parunya. Paru-paru yang kini dibanjiri cairan karena oma itu harus terbaring terus. Pnemonia menyerangnya. Aku memandang dia dengan perasaan sedih yang dalam. Penderitaan, penyakit dan rasa putus asa yang pedih. Bagaimana aku dapat memberikan empatiku padanya? Mengapa hidup terkadang terasa tak terpahami? Mengapa seseorang yang baik, seseorang yang setahuku rajin dan takwa, harus mengalami penderitaan demikian? Tidak adilkah Tuhan padanya?

Memang hidup sering tak terpahami. Suatu peristiwa riang gembira sering harus berakhir dengan rintihan duka. Maka, saat menjelang kelahiran Kristus ini, aku pun terkenang pada Maria. Dapatkah Maria membayangkan masa depan? Bahwa anak yang kini dikandungnya dalam kemuliaan kelak akan membuatnya meratap duka di bawah kaki salib? “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” Itulah yang dikatakannya kepada malaikat Gabriel yang mengunjunginya. Dan mengabarkan berita sukacita itu. Lalu malaikat itu meninggalkan dia. Meninggalkan dia seorang diri untuk menghadapi kehidupan di dunia ini. Melepaskan dia untuk menjalani peristiwa demi peristiwa yang kelak berakhir demikian tragis. Tidak adilkah Tuhan padanya?

Pada saatnya, waktulah yang akan menjawab segala makna keadilan Tuhan kepada kita semua. Apa yang terjadi sekarang mungkin terasa demikian menusuk hati. Tetapi haruskah karena itu kita merasa diperlakukan tidak adil? Jika demikian, untuk apakah Kristus lahir, yang setelah berkeliling sambil berbuat baik harus mati tersalib karena dakwaan yang tak adil? Bahwa Dia mengaku Anak Allah dan karena itu telah menghina Allah. Hingga layak untuk dibunuh. Dan apapun pledoi yang diberikanNya, para pendakwa itu tetap tak dapat dan tak mampu untuk mempercayaiNya. Kebenaran sungguh tersembunyi. Keadilan seperti bayang-bayang. Dekat namun tak teraih. Pada akhirnya, yang dapat dilakukan hanyalah tabah untuk menghadapi kenyataan hidup. Karena hidup adalah pengalaman nyata yang harus kita terima dan jalani sebagaimana Maria yang harus menjalani hidup nyata setelah malaikat itu pergi. Sebagaimana Kristus sendiri yang menolak kemuliaan yang ditawarkan oleh setan di padang gurun. Dan bahkan merasa ditinggalkan oleh BapaNya sendiri saat tangannya yang terpaku terentang di atas salib. Adilkah itu bagiNya?

Aku melihat penderitaan yang dialami oma itu dengan perasaan duka. Tetapi tahu bahwa hidup memang mengandung banyak pertanyaan yang tak punya jawaban. Maka dengan pelan kuusap lengannya. Dan dia berkata kepadaku: “Bawakan aku buku untuk dibaca. Aku mau membaca untuk mencoba memahami deritaku. Dan, mudah-mudahan melupakan rasa nyeri ini sejenak. Aku mau punya kegiatan.......” Maka dengan terpana aku tahu bahwa itulah jawaban yang sesungguhnya. Bahwa hidup bukanlah untuk dinikmati atau dialami dalam diam. Hidup adalah berbuat. Kita dapat merintih kesakitan. Kita dapat mengalami penderitaan hebat. Tetapi selama kita masih sanggup untuk berbuat, kita harus melakukan sesuatu. Dengan demikian waktu hidup tidak terbuang sia-sia. Dan bahkan dapat berguna bagi diri kita dan orang lain. Dengan terharu aku melihat satu ujud kepahlawanan dalam penderitaan yang dialaminya. Sama seperti Yesus yang dalam penderitaanNya masih sanggup menghibur penjahat yang tersalib bersamaNya. Hidup baru berarti jika kita berupaya untuk tidak kalah dengan derita yang melanda kita. Maka di sinilah aku melihat keadilan Tuhan berada.

Kini, setiap kali aku mengunjungi oma yang terbaring lemah itu, aku melihat bayi Yesus yang lemah di palungan. Bayi yang munggil dan tak berdaya. Tetapi telah menarik hati para malaikat dan para gembala. Telah memanggil kasih tiga orang majus dari negeri seberang yang jauh. Bahkan kini telah memanggil kita semua. Untuk berkumpul di sisiNya. Untuk saling membantu. Saling memahami. Tidak hanya hidup untuk menikmati suka dan duka kita sendiri. Tetapi untuk saling berbagi. Maka malam yang indah, sejuk dan hening dengan ribuan bintang bertaburan di langit seakan melelapkan kita semua dalam damai. Ada yang harus dijaga, dirawat dan dipelihara terus. Iman kita dalam perbuatan yang berguna baik bagi diri kita sendiri mau pun dan terutama bagi sesama kita. Janganlah sia-siakan hidup ini......
Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai di bumi bagi manusia yang berkenan padaNya


Tonny Sutedja

MALAM INI HUJAN TURUN

Malam ini hujan turun Tapi kau tak ada Hujan turun bagaikan malaikat Yang merindukan kata Tetapi melupakan kalimat Dan diam-dia...