24 September 2009

MENEMUKAN DUNIA

Memang, seringkali hidup terasa menjemukan. Baik saat kita dipenuhi kegiatan, apalagi saat lowong dan tak tahu apa yang harus kita buat. Perasaan jemu dan hampa membuat kita bingung dan bimbang. Apa gunanya hidup ini? Mengapa segala apa yang kita kerjakan terasa tanpa arti dan samasekali tak berguna? Lalu kita ingin melarikan diri dari gejolak kekosongan tersebut, kita ingin menyembunyikan kenyataan yang mendera kita lalu, larut ke dalam mimpi-mimpi semu bersama dunia gegap gempita, narkotika, kenikmatan badani dan apa saja yang dapat membuat kita melupakan perasaan jemu itu. Tetapi tenyata, yang kita temukan hanya impian sesaat. Ketika semuanya usai, dan kita masuk kembali dalam kenyataan, semuanya kembali seperti semua. Berputar bagai gasing, kita mengulang kembali proses pelupaan diri itu sambil, secara sadar dan tak sadar, melukai dan menghancurkan tubuh dan hidup kita sendiri.

Memang, seringkali hidup terasa menjemukan. Siapa yang tak pernah mengalaminya? Siapa? Tak seorang pun luput darinya. Namun, sesungguhnya hidup ini adalah suatu proses yang bergerak terus menerus. Kita berjalan menempuh waktu yang tak bisa kita tolak, dan tak mungkin kita balik langkah. Dan ada ujung yang demikian pastinya, suatu titik dimana kita berawal dan kelak akan berakhir. Dalam garis perjalanan itulah, kita ada, dan menikmati keberadaan kita. Jadi, jika kita memiliki titik awal dan titik akhir masing-masing, perlukah kita mengkhawatirkan apa yang sedang dan akan kita alami? Bukankah yang bisa kita lakukan hanya menikmati kegembiraan dan keberadaan kita di dunia ini? Sesungguhnya, ada banyak hal yang bisa kita rengkuh namun seringkali luput dari pandangan kita. Hal-hal sederhana, sesuatu yang indah dan murni, namun karena sempitnya pemikiran kita, sering kita lupakan dan tak pernah memperhatikannya.

Lihat, dua ekor kucing yang berbaring sambil saling menggosokkan tubuh mereka. Lihat, keindahan dan hiruplah keindahan dan keharuman bunga-bunga yang mekar mewangi. Lihat dedaunan yang menguning lalu gugur dari tangkai pepohonan yang ada depan kita. Lihat keceriaan anak-anak yang berlari-larian seakan tak ada beban yang ditanggungnya. Lihat dan rasakan. Apa yang ada di depan mata kita adalah suatu kenyataan hidup, suatu proses dari keberadaan kita. Tetapi, kita sering terperangkap dalam pikiran sendiri. Kita menolak keindahan dan kegembiraan dunia saat kita merasa didera kekecewaan, sakit hati, kegagalan dan dicemoohkan serta disudutkan seorang diri. Kita adalah kita dalam pikiran, bukan dalam kenyataan. Maka kita ingin lupakan dunia ini. Kita lari dan menolaknya karena merasa putus asa terhadapnya. Kita pun menghancurkan tubuh ini, kehidupan ini dan tanpa kita sadari, kita menghancurkan sekeliling kita juga, keluarga kita, sahabat kita dan masyarakat kita. Semuanya...

Memang, seringkali hidup itu terasa menjemukan. Apa yang kita buat seakan tak punya arti. Kita kehilangan makna, tak tahu apa yang kita cari, apa yang kita inginkan dan apa yang kita hadapi. Kita gagal memahami situasi karena kita hanya ingin dipahami dan ingin mencapai semuanya yang kita kehendaki tanpa menyadari bahwa, selain kita, ada banyak keterkaitan satu sama lain dengan sesama dan dunia seputar kita. Kita berpikir bahwa, dunia ini milik kita semata, padahal, bukankah ada sedemikian banyak kehidupan yang bergerak dan berdenyut setiap saat di seputaran kita? Bukankah kita hanya setitik noktah yang teramat kecil di keluasan alam raya ini? Bukankah kita hanya setetes air dalam samudera kehidupan ini? Kehidupan yang nampak demikian raksasa dan menakjubkan, namun juga bagi kita sedemikian rapuh dan kecil. Pernahkah kita menyadari hal itu?

Ada suara kokokan ayam jantan di saat fajar mulai menyingsing. Ada suara angin yang lirih berhembus dan menggerakkan daun di pepohonan. Ada suara percikan air dari keran yang mulai dibuka untuk mengisi bak mandi kita. Ada suara desis api dari kompor yang dinyalakan untuk memanaskan dan memasak masakan kita. Saat itu, ya saat itu, kehidupan mulai berjalan dengan sangat pastinya. Sangat pastinya. Apakah alam merasa bosan dengan rutinitas itu? Apakah kita tak juga mampu menikmati apa yang setiap hari kita alami? Detail kecil dari hidup. Mosaik kecil dari manusia. Rasa, rasakan dan nikmatilah betapa hidup ini berjalan dengan teratur dan rapi setiap hari, setiap saat, tanpa pernah merasa jemu dengannya. Kita, hanya kitalah yang dapat merasakan kejemuan, alam tidak. Ya, alam tidak. Padahal sesungguhnya kita adalah noktah kecil yang sekecil-kecilnya dari perputaran roda waktu di tengah lautan maha luas dan tak bertepi di alam raya ini.

Memang, seringkali hidup terasa menjemukan. Dan menyesakkan jiwa. Namun apabila kita mau memandang kehidupan kita sebagai apa adanya, mau melihat detail-detail kecil dari prosesnya, menikmati dan menyerap apa saja yang bisa kita rasakan, kita akhirnya akan mengetahui betapa indahnya dia. Sungguh, hidup itu indah jika kita mampu memahami, dan menerima apa adanya dia. Derita? Mari hadapi. Sakit hati dan kebencian? Biarkan berlalu. Kekecewaan? Untuk apa? Putus asa? Sama sekali tak berguna. Karena hanya akan merugikan diri kita saja. Ya, diri kita saja. Maka jika kita dikecewakan oleh hidup, mari kita biarkan hidup itu kecewa karena dia tak mampu menghancurkan kita. Kita, insan yang rapuh dalam raga, kuatlah dalam jiwa. Sebab kita ada, bukan untuk ditaklukkan, apalagi ditaklukkan oleh diri kita sendiri. Kita ada untuk menaklukkan dan menguasai keberadaan kita. Menaklukkan segala hasrat dan keinginan kita. Cari dan temukan diri kita, maka kita akan menemukan dunia. Menemukan dunia.

Tonny Sutedja

22 September 2009

KITA DAN ILMU PENGETAHUAN

Aku tak tahu mengapa, tetapi di dunia ini, semakin banyak yang aku tahu, rasanya semakin banyak pula yang aku tak pahami. Pengetahuan sering menjadi sumber informasi sekaligus menjadi sumber pertanyaan. Banyak hal misterius yang tersembunyi di balik ilmu dan pengetahuan kita. Contohnya, kita bisa tahu bagaimana menggunakan komputer dan berinteraksi di dunia maya, bagaimana komputer kita bisa hidup dan menjalankan tugas yang kita inginkan, tetapi bagaimana dengan bahan-bahan yang membuat komputer kita mampu melakukan tugas-tugas itu? Mengapa bahan itu bisa berfungsi demikian? Apa memang sudah dari takdirnya sehingga dia mampu dibentuk dan kemudian ditugasi untuk berfungsi demikian?

Dan semakin memikirkannya, semakin banyak kemungkinan jawaban yang bisa betul bisa tidak. Saat itu, keraguan muncul dan membuat pertanyaan lain kian menderas. Dunia yang semakin nyata dan transparan, ternyata adalah dunia yang semakin buram dan misterius pula. Coba tengok di kafe-kafe yang menyediakan fasilitas hot-spot itu. Kelompok-kelompok remaja duduk sambil menghadapi lap-topnya masing-masing, bersenda gurau dengan sobat-sobatnya di dunia maya, sobat-sobat yang jauh di di seberang, terasa akrab seakan di depan matanya. Sementara itu, sobat-sobat di sekitarnya, yang nyata dan jelas di depannya, terasa jauh entah dimana.

Tetapi mungkin demikianlah hidup. Kita ingin akrab dan merasa dekat dengan mereka yang jauh dari kita. Sementara kita mengambil jarak dan menjauh dari mereka yang ada di seputar kita, bahkan di samping kita. Mungkin karena mereka yang jauh tak mungkin menjangkau kita, tak mungkin mengenal dan mengetahui siapa kita secara pasti. Kita mengambil jarak sambil berinteraksi satu sama lain. Yang jauh menjadi dekat. Yang dekat menjauh. Kita menolak terlibat dalam kehidupan nyata karena mungkin akan mengganggu kepentingan kita, sementara sobat-sobat kita yang jauh tak mungkin masuk dalam kehidupan nyata kita.

Aku tak tahu apakah memang demikian harusnya. Sementara kita tidak merasa terasing karena memiliki banyak teman di dunia maya, senyatanya kita kian terasing dengan lingkungan kita sendiri. Setiap saat, setiap waktu, aku melihat banyak kumpulan manusia yang duduk dalam diam, sambil tertawa atau tersenyum sendiri, bukan kepada mereka yang ada di sampingnya, tetapi justru kepada layar monitor di hadapannya. Atau layar hand-phonenya. Tanpa jarak di dunia maya, ada jarak di dunia nyata. Kita duduk, merasa tidak sendirian, tetapi sungguhkah kita tidak sendirian? Suatu pertanyaan yang sulit terjawab.

Namun, semakin nyata pula betapa kita tidak lagi mengenal lingkungan seputar kita. Kita dengan cepat dapat mengetahui bencana dan musibah di tempat lain yang jauh di seberang, sementara bencana dan musibah yang terjadi pada tetangga kita sendiri amat lambat atau bahkan mungkin tak kita sadari telah terjadi. Kita menutup diri dan tidak mau peduli terhadap situasi yang langsung bisa mengusik kehidupan pribadi kita, tetapi amat terbuka terhadap apa yang terjadi jauh di luar kita. Bahkan, mungkin mereka yang jauh dari kita bisa lebih mengenal dan mengetahui perasaan kita daripada teman serumah kita sendiri. Sungguh terasa ganjil, namun nyata.

Semakin banyak aku tahu, semakin banyak aku kuasai pengetahuan, semakin terbentang pula samudra pertanyaan yang tak mampu kupahami. Kita ingin dikenal dan mengenal namun tak ingin secara langsung berkaitan dan bersentuhan dengan kehidupan nyata yang bisa mengusik kepentingan dan privasi kita. Kita ingin tahu dan mengetahui bagaimana keadaan teman-teman kita, tetapi menolak secara langsung terlibat dengan teman-teman kita dalam kenyataan hidup. Kita hanya senang mengetik, berbincang dan memberikan nasehat atau pandangan kita, tetapi tak mau berbuat sesuatu yang nyata karena akan membuat kesibukan yang tak menguntungkan kita sendiri. Kita terlalu sibuk untuk berbuat. Kita hanya sibuk untuk bertutur.

Apakah kemajuan hanya berarti demikian? Semakin dekat dunia ini, semakin jauh pula kita dari kenyataan. Maka belasan orang sahabat bisa duduk saling berhadapan di sebuah kafe yang sejuk sambil menikmati secangkir kopi, tanpa satu pun saling bertutur satu sama lain. Walau wajah mereka menyunggingkan senyum dan kadang tawa kecil, tetapi bukan karena perbincangan antara mereka sat sama lain melainkan kepada monitor yang diam di depan mereka. Mereka masing-masing sibuk bersama sahabatnya yang jauh entah dimana. Jauh entah dimana.....

Tonny Sutedja

DARI CINTA KE BENCI

"Aku benci dia. Aku benci gayanya saat menguap. Aku benci caranya makan. Aku benci melihatnya saat dia berbicara, nampak sinis dan tak pedulian. Aku benci dia. Sungguh...." kata seorang ibu kepadaku beberapa waktu lalu saat dia menceritakan krisis dalam rumah tangganya yang, katanya, disebabkan oleh kelakuan suaminya. "Aku benci padanya, dan rasanya aku ingin lari meninggalkannya. Biar dia tahu rasa. Tetapi, aku tak tahu akan kemana. Aku tak tahu. Juga takut...."

Benci. Dengan perasaan bingung, aku bertanya, apakah dulu suaminya tidak pernah menguap dengan gaya demikian? Apakah cara makannya telah berubah? Apakah gaya bicaranya memang telah berbeda dari saat-saat pacaran dulu? Ibu itu nampak bimbang. Nampak berpikir keras. Dan akhirnya, dia berkata: "Tidak, saya akui, sama saja dengan dulu...." Lalu mengapa kini dia membenci apa yang dulu dia bisa terima atau bahkan menikmati gaya suaminya saat masih pacaran? Siapakah yang berubah sekarang? Dia atau suaminya?

Sebuah perkawinan selalu dibayangi dengan perubahan dalam waktu yang berjalan. Tidak bisa tidak. Bukankah, di masa-masa pacaran dulu, kita hanya saling mengenal sebatas di ruang tamu saja? Bukankah, di saat pacaran, semua nampak indah dan menyenangkan karena masing-masing ingin saling menarik hati? Masa pacaran memang sering membuat kehidupan pribadi tersembunyi di balik topeng. Atau tertutup oleh hasrat senang dimanja, diutamakan dan disayangi. Tetapi ketika kita memasuki masa pernikahan, akan terkuaklah semua hal pribadi. Akan nampaklah semua kepentingan diri. Akan timbullah masalah dalam pertukaran ide dan kebiasaan. Jika kita tidak bisa menerima apa adanya, jika keinginan dan kepentingan diri lebih diutamakan, jika kita merasa kurang diperhatikan lagi, muncullah kebencian terhadap pasangan kita. Semuanya menjadi nampak buruk. Semuanya berubah menjadi serba salah.

Memang, tidak mudah untuk menyayangi seseorang tanpa kepentingan diri. Tidak mudah untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan gaya seseorang tanpa mau saling memahami. Apa yang pada mulanya nampak lumrah dan tak berarti, kelak mungkin bisa menjadi tidak menyenangkan. Apa yang pada mulanya kita anggap dapat diterima dan ditoleransi, kelak mungkin menjadi bom waktu yang akan meledak hanya karena soal sehari-hari yang sepele. Kita, manusia, memiliki perasaan yang mungkin bisa mengabaikan kebiasaan pasangan kita saat hidup kita masih berdiri sendiri. Saat itu kita masih merasa aman, terbiasa dengan diri dan keinginan kita saja. Namun, jika kita telah memasuki kebersamaan dalam hidup, saat kita setiap saat melihat dan merasakan kebiasaan tersebut, apa yang dulu kita anggap bisa kita terima, sekarang mulai menjadi ganjalan dalam hubungan dua insan, dua orang manusia yang kini saling terikat satu sama lain dalam satu keluarga.

Maka kejujuran, keterbukaan dan saling pengertian haruslah dipupuk sejak awal. Masa pacaran memang bukan hanya masa untuk bersenang-senang saja. Masa pacaran justru adalah masa untuk saling mengenal, saling menerima dan saling memahami tanpa ada tekanan dan paksaan, baik dari luar dan terutama dari dalam diri kita sendiri. Keinginan untuk, kelak siapa tahu bisa merubah sikap dan tabiat seseorang, haruslah dihindari. Adalah teramat sulit untuk merubah orang lain, jika merubah diri kita saja kita tak sanggup. Dan memang demikian adanya.

"Aku benci dia. Aku benci segala apa yang dilakukannya...." Mengapa dulu ibu bisa menerimanya? Ataukah saat itu ibu berpikir mampu untuk merubahnya? Dan jika ternyata sekarang gagal, ibu lalu merasa marah, jengkel dan menolak dia? Pernahkah dulu ibu memikirkan hal-hal itu sebelum memutuskan untuk memasuki dunia perkawinan, dimana satu sama lain harus bisa saling menerima dan saling memahami? Keputusan telah diambil. Dan tanggung jawab harus dilaksanakan. Jika ibu tak bisa merubah dia, bukankah ibu bisa merubah diri ibu? Jika itu tak bisa dilakukan, salah siapakah? Ya, salah siapakah?

Waktu mungkin bisa merubah sifat dan kebiasaan seseorang. Memang. Tetapi lebih sering lagi tidak. Apa yang telah tertanam dalam kebiasaan, bergerak secara otomatis dan sering tak dipikirkan lagi. Kita harus menyadari hal itu. Dan jika kita sendiri terbiasa dengan hidup kita serta tak mampu dan tak mau mengubahnya, bisakah kita memaksakan orang lain berubah sesuai dengan keinginan kita? Adilkah itu? Marilah kembali merenungkan masa lalu, marilah kembali mengenang saat-saat indah ketika masih pacaran, lalu bertanyalah dalam hati: apa yang kita inginkan saat itu? Apakah kita juga berpikir atau hanya bisa merasakan saja? Semoga dengan jawaban yang ibu dapat dari nurani ibu sendiri, ibu mampu mengubah kebencian itu menjadi suatu harapan baru. Ya, satu harapan baru.

Tonny Sutedja

21 September 2009

MANUSIA – MANUSIA KECIL

"Manusia melompat ke dalam kereta cepat" kata Pangeran cilik, "tetapi mereka tak tahu lagi apa yang mereka cari. Jadi mereka pun gelisah dan berputar-putar" (The Little Prince oleh Antoine de Saint-Exupéry)

Belasan anak-anak berlarian sambil bersenda gurau dan bermain di halaman sekolah itu. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil. Ada kelompok yang dengan riang sibuk berdiskusi. Ada pula yang bermain sambil saling menepuk-nepuk tangan. Sebagian lain saling kejar mengejar, berlarian mengelilingi halaman yang cukup luas itu. Suasananya demikian riuh. Demikian penuh gelak tawa dan senda gurau. Aku menyaksikan mereka, melihat betapa mereka tak peduli teriknya matahari yang mulai menusuk kulitku. Dipenuhi kegembiraan, mereka hidup di alam kekanak-kanakan yang demikian indah dan mempesona.

"Anak-anak mengumpulkan batu-batu kerikil dan menebarkannya kembali". Demikian tulis Tagore dengan indahnya dalam GITANJALI. Anak selalu memiliki mimpi mereka sendiri. Mimpi yang seringkali luput atau telah dilupakan oleh manusia-manusia dewasa. Anak-anak bertengkar lalu berangkulan kembali. Bagi mereka, hidup adalah sebuah permainan yang tak punya ambisi. Bagi mereka, kepemilikan bukanlah hasrat untuk menguasai, karena "dengan menyentuh engkau mungkin bisa membunuh, dengan tetap membiarkannya engkau bahkan dapat memilikinya" lanjut Tagore dalam satu sajak indahnya yang lain, melainkan hanya hasrat untuk saling berbagi dan bersenda gurau.

Tetapi waktu berlalu. Dan kedewasaan tiba sering tanpa terasakan sama sekali. Hidup pun berubah. Kedewasaan membuat pemikiran kita menjadi sempit, dan hasrat kita untuk memiliki sesuatu menjadi kian kuat. Kita ingin lebih, lebih dan lebih lagi tanpa mampu menyadari atau bahkan tanpa tahu dimana batasan yang mampu kita raih. Dan saat materi menguasai kehidupan kita, saat ambisi menjadi yang terbaik, terkuat, terbesar, terkaya dan terkuasa kita, hidup pun menjadi sulit, keras dan mengandung banyak kekecewaan dan sakit hati.

"Mereka tak tahu lagi apa yang mereka cari. Jadi mereka pun gelisah dan berputar-putar" kata sang Pangeran Kecil dalam buku tipis namun indah dari Antoine de Saint-Exupéry. Ya, semakin dewasa kita, semakin memilki banyak hasrat dan ambisi. Semakin berkembang pemikiran kita untuk membuktikan kemampuan kita, semakin kehilangan pula kesenangan dan keceriaan kita menghadapi hidup. Kita menjadi sulit untuk saling berbagi, menjadi demikian menghargai nilai materi, menjadi terobsesi oleh kekuasaan-kekayaan-kekuatan dan makin tak tahu pula arah mana yang akan kita tuju. Kita menjadi gelisah dan berputar-putar tanpa arah dan pegangan lagi.

"Orang dewasa jelas sangat aneh" kata Pangeran Kecil itu. Semakin berkembang pemikiran kita, semakin mudah pula kita untuk larut dalam kekuatan keinginan dan hasrat raga kita. Semakin jauh pula kita dari gelak tawa dan senda gurau masa kecil kita. Sebab sekarang, semua hal harus bisa terukur dengan timbangan dan norma yang telah tertanam dalam pikiran kita. Norma dan timbangan yang diberikan oleh orang-orang dewasa mulai sejak masa kanak hingga kedewasaan menjelang dalam hidup. Norma dan ukuran yang kelihatan sangat logis dan masuk akal, tetapi bukankah kita berpikir sesuai dengan apa yang telah ditanamkan dalam diri kita oleh mereka-mereka yang dewasa sebelumnya?

Demikianlah aku merenungkan semuanya itu saat melihat belasan anak-anak yang sedang bermain dan berlarian di halaman sekolah itu. Sinar matahari mulai menyengat kulit tetapi anak-anak itu seakan tak peduli. Ada sekelompok anak yang mencoba untuk memanjat pohon mangga di samping halaman, yang kemudian ditegur dan dibentak oleh bapak tua penjaga sekolah. Mereka berlarian bubar sambil meliuk-liukkan tangan mereka, bergaya bagaikan seorang pemain sepak bola yang terkenal yang telah berhasil membobol gawang. Toh, tak ada artinya bagi mereka, apakah mangga itu berhasil dipetik atau tidak. Yang penting mereka telah dan sedang bergembira. Mereka sungguh menikmati proses permainan itu, bukan tujuan dan hasilnya. Bukan tujuan dan hasilnya.

Tonny Sutedja

HIDUPLAH DENGAN PERCAYA PADA SESAMA

Walau kematian adalah suatu kepastian, kehidupan selalu penuh kemungkinan-kemungkinan yang tidak bisa dipastikan. Dan disanalah letak keindahan hidup ini. Kita tak pernah bisa menebak masa depan. Kita bahkan tak pernah mampu memastikan apa yang akan kita alami beberapa jenak di depan. Sebab bisa saja terjadi sesuatu yang tak pernah kita harapkan sebelumnya. Rencana dapat kita tata dengan rapi, tetapi siapakah yang dapat menyakini dengan pasti akan terjadi apa yang kita harapkan? Bahkan jika pun itu terlaksana juga, dapatkah kita memastikan bahwa rancangan kita itu adalah rancangan yang sunggu benar? Tak seorang pun mampu. Tak seorang pun.

Maka kita, yang sedang kehilangan kepercayaan terhadap hidup, kehilangan pegangan dan merasa betapa suramnya hari ini dan hari esok, ingatlah, bahwa tak ada suatu kepastian apa yang akan kita temui nanti. Mungkin akan ada penderitaan, tetapi mungkin pula akan muncul sukacita dan keberuntungan. Siapa yang bisa memastikannya? Yang terutama adalah, kita harus menjalani hidup kita dengan penuh keteguhan. Percaya terhadap diri kita sendiri, percaya terhadap orang lain dan percaya pada masa depan kita.

Sebab jika kita tak sanggup mempercayai, kita pun akan merumitkan kehidupan kita sendiri. Tak seorang pun yang hidup hanya dengan diri dan pemikirannya sendiri. Kehidupan saling terkait. Saling tergantung. Dan ada banyak kejutan yang akan kita temui, jika saja kita mau belajar untuk saling mengenal, saling memahami dan tidak hanya terpaku pada apa yang kita rasa dan pikirkan saja. Demikianlah, hidup itu sebenarnya indah, jika kita mau memaklumi kelemahan-kelemahannya. Hidup itu indah, jika kita mau memaklumi kesalahan-kesalahannya.

Setiap hari, mungkin kita melewati rimbun semak depan rumah kita. Bahkan mungkin kita pernah merasa kesal dengan tumbuhnya semak-semak itu. Namun, pernahkah kita memperhatikan saat semak itu mulai berbunga? Dari sebuah kelopak kecil yang tak berarti, perlahan berproses dan membuka kelopak-kelopaknya menjadi bunga kecil mungil yang menakjubkan keindahannya. Setiap hari, mungkin kita menyaksikan rombongan semut kecil yang berbaris beriringan di dapur kita. Bahkan, terkadang kita merasa jengkel saat melihat barisan semut itu sepanjang dinding kita. Tetapi pernahkah kita memperhatikan betapa hebatnya barisan semut itu dalam memperjuangkan hidupnya? Kerjasama mereka yang mampu untuk mengangkat dan membawa makanan sebesar apapun, sungguh luar biasa. Ah, tetapi jauh lebih sering kita, dengan perasaan sedikit jengkel, mencabuti rumpun semak itu. Dan menyemprot barisan semut itu dengan racun serangga. Padahal, ada banyak hal yang bisa kita pelajari jika saja kita meluangkan waktu sejenak, tidak hanya sibuk dengan perasaan dan urusan kita saja, untuk melihat dengan seksama kehidupan mereka.

Bahkan kita pun sering tak mampu mempercayai orang lain, sesama kita. Namun, bukankah kita selalu harus tergantung pada orang lain? Pada pengemudi kendaraan umum dan kendaraan pribadi kita? Pada tukang sampah yang mengangkuti kotoran kita? Pada polisi yang menjaga keamanan dan kenyamanan hidup kita? Pada mereka-mereka yang tidak kita kenal, dan tak pernah mengenal kita, yang dengan tulus berjuang demi keselamatan dan kenikmatan kita? Sementara itu kita hanya dapat mengeluh dan merasa tidak percaya terhadap sesama kita lagi. Siapakah kita? Bukankah ketidak-percayaan kita terhadap sesama berarti ketidak-percayaan kita terhadap diri kita sendiri? Dan ketidak-percayaan kita terhadap diri sendiri berarti ketidak-percayaan kita terhadap Sang Pencipta yang telah membuat kehidupan ini? Hidup itu indah, selalu indah, jika kita mau meluangkan waktu untuk mencoba memperhatikan sekeliling kita. Dan betapa kita akan terkejut saat sadar, betapa selama ini kita selalu tergantung satu sama lain. Ya, tak seorang pun yang bisa hidup sendiri. Tak seorang pun.

Dan masa depan kita. Apa yang kita khawatirkan? Mengapa kita selalu merasa takut terhadap derita yang kita rasa akan tiba, namun tak pernah mempersoalkan kebahagiaan yang mungkin akan hadir? Kita takut terhadap hari esok berarti kita takut karena ketidak-pastiannya. Ketidak-pastian yang berujung nestapa. Bukan ketidak-pastian berujung gembira. Kita sering tidak adil menilai kehidupan ini. Padahal, kehidupan adalah kepastian yang sungguh tak pasti. Apa yang kita anggap benar saat ini, akankah kita tetap anggap benar di hari esok? Kita telah belajar dari sejarah betapa nisbinya kebenaran itu. Dan betapa banyaknya kehidupan yang dikurbankan akibat apa yang kita anggap kebenaran itu. Kebenaran di masa lampau yang mendadak bisa berubah menjadi kesalahan di masa sekarang. Jadi, apa tidak mungkin jika kebenaran saat ini berubah menjadi kesalahan di masa depan?

Maka jika kita merasa sempurna, apalagi jika memaksakan anggapan kesempurnaan kita terhadap orang lain, pahamilah sejarah. Pahamilah kehidupan. Pahamilah juga orang lain. Sebab tak ada sesuatu pun sempurna di alam ini. Kita yang merancang apa yang kita anggap sempurna dan memaksakannya terhadap kehidupan sesama, hanya akan menimbulkan kekecewaan bagi diri sendiri, dan duka lara bagi orang lain. Kita yang merasa benar dalam pemikiran kita dan karena itu memaksakan kebenaran kita terhadap sesama, hanya akan membuat bencana bagi kehidupan itu sendiri. Kehidupan kita, kehidupan sesama bahkan kehidupan di alam raya ini.

Hidup sesungguhnya adalah kemungkinan-kemungkinan yang tak pasti. Memang begitu adanya. Kita hadir di dunia ini untuk memperbaiki dan menyempurnakan apa yang mungkin salah, namun kapasitas kita tetaplah terbatas. Sebab itu kita membutuhkan sesama kita, bukan sebagai lawan, tetapi sebagai anugerah bilamana kita tersesat dan tak tahu arah. Setiap orang, setiap pemikiran, berkembang sesuai dengan keterbatasannya dalam menjalani hidup. Bukan dengan pemaksaan. Bukan dengan keinginan untuk menundukkan orang lain demi apa yang kita anggap benar, tetapi dengan memahami dan menyertakan pemikiran mereka dalam kebenaran kita sendiri.

Maka, walau kematian adalah suatu kepastian, hidup selalu penuh kemungkinan. Salah atau benar. Gagal atau sukses. Semuanya tidak punya makna jika kita kehilangan prosesnya. Hidup ini tidak pernah bisa kita harapkan langsung jadi dengan sekali sentak. Kita harus menitinya langkah demi langkah, mengalami derita dan kekecewaan, frustrasi dan sakit hati, namun janganlah kita kehilangan kepercayaan terhadapnya. Lalu ingin menghancurkannya. Mengapa kita yang terkadang demikian meyakini kebenaran pemikiran kita atas nama Sang Pencipta, lalu ingin menghancurkan hasil ciptaan-Nya? Bukankah jika kita menghancurkan ciptaan-Nya berarti kita juga ingin menghancurkan Dia yang menciptakan kehidupan itu? Sebab siapa yang menolak menerima ciptaan-Nya, ciptaan yang diberikan anugerah untuk berpikir secara bebas – ciptaan yang telah diberi anugerah untuk memilih jalan hidupnya sendiri – berarti tidak menerima Dia yang menciptakannya. Bukankah demikian adanya?

Manusia memang tidak sempurna. Dan tak mungkin kita harapkan menjadi sempurna. Tidak! Lihatlah ke wajah orang-orang yang kita temui setiap hari. Lihatlah ke dalam mata mereka. Dapatkah kita memahami mereka? Tahukah apa yang sedang mereka alami? Apa yang sedang mereka pikirkan? Apa yang akan mereka lakukan? Bahkan, cobalah melihat wajah kita sendiri dalam cermin. Tataplah mata kita sendiri. Dan tanyalah pada diri kita, siapakah kita? Dan jika kita melakukannya dengan jujur, kita pasti akan terkejut saat menemukan betapa tak sempurnanya kita. Betapa tak sempurnanya. Dan jika demikian, masihkah kita yakin dengan anggapan-anggapan kita sendiri lalu berkeras memaksakan anggapan itu terhadap orang lain, sesama kita? Masihkah kita yakin?

Tonny Sutedja

20 September 2009

ELEGI SIANG

Langit menyimpan mimpi kita

Dalam gerah siang tersembunyi

Kata-kata yang tak terucap

Jiwa yang merontak sepi

Bergegas mencari penghibur diri

Namun tubuh yang letih

Hanya menyimpan semangat sesaat

Dan dalam diam menyapa

Dedaunan yang gugur menguning

Tapak-tapak yang tersisa nampak

Membekas di tanah merah

Lirih suara angin menyapa

Hati yang gundah gulana

Menjadi kelu dalam masa

Dalam diam langit bertabur

Duka dan Harapan kita

Sepenggal demi sepenggal terkuak

Hanya mimpi katanya pilu

Hanya mimpi tanpa arti

Dalam cermin terpampang wajah

Kerut di wajah menua

Hanya ini tersisa, bisiknya

Dan jejak-jejak kita menguning

Dalam waktu dan luluh dedaunan

Kepapaan kita makin dalam

Tak usah berbisik padanya

Sebab kisah yang tertulis

Kian menguning di lembaran tua

Tanpa satu kata dipahami

Sebab Langit dan mimpi

Semua lelap dalam kita

Semua lelap dalam kita

Hanya waktu...

Tonny Sutedja

MANUSIA-MANUSIA TANPA DAYA

Hari masih pagi. Kepala wanita paruh baya itu terasa amat mumet. Sedih dan khawatir menyebar dalam hatinya. Dia memandang kepada suaminya yang sedang terbaring dengan tak berdaya di atas ranjang mereka. Sementara dua orang anaknya yang masih kecil kedengaran sedang bertengkar. Entah meributkan apa, dia tak mau lagi untuk mempedulikannya. Di kepalanya berputar jumlah uang yang dimilikinya. Dan dia sadar, dia tahu pasti, bahwa dia tak punya apa-apa saat ini. Hampir tak punya apa-apa. Dengan sedih dan perasaan tak berdaya, dia menatap ke tubuh suaminya, melihat dada suaminya yang sedang kembang-kempis dan sesekali terdengar sayup erangan saat menahan derita yang sedang menerpa tubuhnya. Apa yang harus dilakukannya? Tak ada sanak, tak ada keluarga, tak ada sahabat dan tak ada tetangga yang mampu membantunya lagi. Dia terkucil. Dan merasa terpencil seorang diri menghadapi kehidupan mereka. Hidup orang-orang kecil yang miskin dan tak memiliki daya untuk menentukan hidup mereka sendiri. Tak berdaya.

Siang tiba dalam udara yang teramat gerah. Membuat ruang sempit dalam kamar tidur keluarga itu terasa pengap. Dan berselimut bau keringat yang meruap dari tubuh-tubuh yang tak berdaya. Saat itulah, wanita itu melihat tubuh suaminya meregang sejenak, kemudian, usailah semuanya. Dia terpana dan kemudian meledaklah tangisnya. "Mengapa...mengapa kau tinggalkan aku di saat begini? Mengapa, bagaimana aku harus hidup dan menghidupi anak-anak kita? Bagaimana aku harus menghidupi diriku sendiri? Mengapa ini harus terjadi kepadaku? Tuhanku, ya Allahku, dimanakah Engkau? Mengapa Kau meninggalkan aku? Mengapa Kau menyiksa aku? Mengapa? Mengapa?" Udara dalam rumah sewaan yang sempit itu tiba-tiba menjadi beku oleh aroma duka yang sangat pekat. Seorang manusia lewat, dan manusia-manusia lain yang tergantung pada hidupnya pun terseret dalam suatu ketidak-pastian. Ketidak-pastian dalam hidup yang sering tanpa perasaan. Tanpa perasaan.

Malam membayang dengan udara yang menggantung luka dalam sukma. Beberapa tetangga hadir dan turut membantu wanita paruh baya itu. Membantu dengan sepenuh hati. Banyak hal yang harus diselesaikan. Surat-surat yang harus dibuat sebagai pelaporan. Mempersiapkan peti dan makam. Mengurus mobil jenasah. Mengatur jemaat yang akan berkumpul untuk melantunkan doa-doa bagi almarhum. Waktu terasa bergegas pergi. Seakan ingin melarikan diri dari ketak-berdayaan manusia-manusia yang tanpa daya. Dan segalanya seakan bergelombang susul menyusul. Datang dan pergi. Bagaikan hidup itu sendiri. Saat akhir tiba, siapakah yang dapat memastikannya? Saat akhir tiba, dapatkah kita melihat mereka-mereka yang bersedih dan menderita karena kehilangan sosok hidup yang pernah kita miliki? Apakah kita merasa hidup ini hanya milik kita saja? Hanya kita saja?

Lalu kami pun berdoa. Sebagian mungkin dengan penuh perasaan, ikut larut dalam duka yang sedang melanda janda paruh baya itu. Sebagian lagi mungkin sekedar untuk ikut merasa prihatin. Sebagian pula karena merasa bahwa itu sudah kewajiban mereka. Hal-hal yang sepantasnya dilakukan saat ada peristiwa kematian. Kami berdoa. Kami berkidung. Melantunkan nada-nada sendu. "Tuhan berikanlah istirahat, abadi dan tenang bagi yang wafat...." Namun, terasa betapa ada jarak antara kami dan wanita paruh baya itu. Terasa ada jarak. Lebar dan tak terjangkau. Walau kita mungkin mampu ikut larut dalam derita mereka-mereka yang sedang berduka dan menderita, namun derita sesungguhnya hanya bisa dirasakan oleh yang mengalaminya. Hanya oleh yang mengalaminya. Karena setelah itu, kami lalu pulang ke rumah masing-masing, tanpa merasa ada beban yang menggantung di hati. Semuanya telah kami laksanakan. Semuanya telah kami lakukan sesuai dengan kewajiban manusiawi kami...

Keesokan harinya, menjelang siang, bersama-sama jenasah itu diusung untuk dimakamkan di tempat terakhirnya. "...manusia berasal dari tanah dan kembali ke tanah..." Kembang dan tanah ditaburkan. Doa penutup kehidupkan diucapkan. Lalu usailah sudah segala prosesi yang layak bagi seorang manusia. Pulang ke rumah, mungkin ada tersisa sepenggal cerita tentang yang baru saja dikebumikan. Mungkin. Tetapi waktu lewat bagai anak panah yang terlepas dari busurnya, dan kehidupan terus berlangsung normal bagi kita. Kita, yang hanya ikut sebagai pengiring dan pendoa bagi yang telah berpulang. Sebuah kehidupan perlahan terhapus dari ingatan. Sirna dalam kenangan. Terlupakan....

Malam tiba. Malam tiba dengan kegelapan yang bisu. Wanita paruh baya itu duduk di samping dua orang anaknya yang masih kecil. Menatap kedua tubuh mungil itu, tiba-tiba dia ingin menangis. Hatinya hampa. Dingin. Tak berdaya. Apa yang harus kulakukan selanjutnya? Apa yang akan kuhadapi di hari esok? Kehidupan apa yang mesti kujalani untuk tetap bertahan? Keragu-raguan, kekhawatiran, kesunyian dan perasaan tak memiliki siapa-siapa menyerang hatinya. Dia merasa sendirian. Mutlak sendirian di tengah hiruk-pikuk kehidupan milyaran manusia. Siapakah dia sehingga pantas diperhatikan? Siapakah dia sehingga pantas menjadi kisah dalam riwayat kehidupan? Ah, dia bukan apa-apa. Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya kita yang tak punya apa-apa, selain detak jantung dan otak yang masih bisa berpikir. Dialah kita, manusia-manusia lemah, tanpa daya, tanpa kekuasaan, tanpa kekayaan, tanpa kekuatan. Dialah kita, dan ini hanya sekedar kisah dan saksi mata kehidupan orang-orang yang tak memiliki apa-apa selain hidup mereka. Tak memiliki apa-apa selain kehidupan itu sendiri. "Ya, Tuhanku, dapatkah Kau menolong kami? Dapatkah?"

Buat C

Tonny Sutedja

18 September 2009

SENJA DALAM KATA

Senja datang dalam jingga

Terasa muram menanti kelam


 

Angin perlahan berdesir mengalir

Memahat rasa dalam sepi


 

Ombak mendebur memukul kata

Dan sajak tertulis dalam laut


 

Tersudut di pesisir senja

Menaut angin, pantai, kata dan aku


 

Menyatu dalam senja dan malam

Lelap dalam jiwa dan rasa


 

Kujinjing duka untuk hidup

Baringkan lelah dalam malam


 

Bisik padaku

Untuk apa

Kata menaut kata


 

Jika hanya

Menanti

Akhir


 

Bukankah segala

Hanya bisu

Dan diam


 

Tapi pagi kan tiba

Besok

Akan jelang


 

Tinggallah bersamaku

Kuramu kata demi kata

Bersama angin, pantai dan malam


 

Untukmu esok

Kudatang padamu

Menyerahkan kata


 

: Dalam kata aku ada


 

Tonny Sutedja

DOA MALAM

Jangan lagi menangis, sayangku

Jangan lagi menangis

Kala malam berkabut muram

Lampu kota berpendaran indah

Cahaya duniawi duka surgawi

Menyatu dalam semangat

Terhentak dalam bias rahmat

Sungguh perih sungguh pahit

Terasa Tuhan lelap dalamnya


 

Jangan lagi menangis, sayangku

Jangan lagi menangis

Karena para ahli kitab dan kata

Bertengkar sambil tertawa ria

Malaikat beterbangan bisu

Di tengah desing mesiu dan bom

Jasad-jasad yang bergelimpangan

Telah berjuang atas namaNYA

Yang memandang dengan kasih


 

Jangan lagi menangis, sayangku

Jangan lagi menangis

Kala kemunafikan berseliweran

Dan menyandang popor kebencian

Dan dendam

Dengan keras menantang dunia

Atas nama kebenaran Ilahi

Kita mesti tersenyum, sayangku

Kita mesti tersenyum


 

Tonny Sutedja

DI UJUNG HIDUP

Fajar mulai menyingsing. Di timur, langit mulai memerah. Semburat cahaya merah telah menebar pesona di atas gugusan pegunungan yang samar membentang sepanjang horison. Dia berdiri memandang keindahan itu sambil menghirup kesegaran udara yang mengalir ke dalam paru-parunya. Dia tergetar. Setelah tenggelam dalam kesibukan menghidupi diri, dia mengambil cuti panjang untuk mengenali kembali dunia yang seakan terasa menjauh selama ini. Untuk mengenali kembali dirinya sendiri. Hidup telah mengalir dalam waktunya. Hidup yang seringkali tak disadarinya sendiri. Hidup yang selama ini terlupakan. Ah, hidupkah dia? Atau hanya semacam perjalanan dalam waktu tanpa merasa dirinya sebagai siapa-siapa. Bukan siapa-siapa.

Siapakah kita? Adakah kegagalan atau keberhasilan mempunyai makna? Apakah hidup ini berguna atau hanya semacam keharusan yang tak dipahami? Mestikah kita berpikir atau hanya untuk dinikmati dan dirasakan begitu saja? Siapakah kita? Mengapa terkadang hati ini terasa hampa dan tak berarti? Mengapa terkadang jiwa ini terasa kosong dan tak berguna? Mengapa terkadang perbuatan yang kita lakukan hanya dengan semacam rutinitas yang tanpa makna? Haruskah kita ada di dunia ini? Siapakah kita? Mengapa terkadang kita tak merasakan apa-apa? Mengapa terkadang kita tak memikirkan apa-apa? Mengapa terkadang kita tak mampu berbuat apa-apa? Mengapa? Siapakah kita?

Di langit timur, perlahan sang surya menampakkan dirinya. Terang mulai menyentuh seluruh alam yang mampu dilihatnya. Beberapa anak gadis berjalan sambil bertutur dan bercanda. Beberapa penjual sayur mayur sedang memacu sepedanya untuk mulai mencari kehidupan mereka. Beberapa ekor camar nampak melayang di bawah serakan awan putih, sambil sesekali mengibaskan sayapnya. Dunia, hidup dan bergerak. Dunia, menyapa dirinya. Dan dia, ya, apakah yang dapat dia pikirkan saat ini? Apakah yang dapat dia rasakan kini? Apakah yang mampu dia lakukan sekarang? Apakah? Apa?

Hidup dipenuhi pertanyaan. Sering tak berjawab. Bahkan mustahil terjawab. Dia tahu itu. Dia sadar itu. Tetapi pertanyaan tetap mengalir dan mengusik dirinya. Setelah beberapa waktu lalu, dokter pribadinya telah memastikan carsinoma yang tumbuh dan berkembang di rahimnya, adalah jenis yang amat ganas. Dan waktu hidupnya tiba-tiba menjadi terbatas. Waktu akhir yang kian dekat. Kesadaran yang mendadak muncul, membuatnya menjadi gelisah, takut dan tak terpahami. Padahal, sebelumnya, dia adalah seorang wanita yang teramat aktip, bergerak dan bekerja tanpa batas waktu. Seakan-akan hidup ini abadi. Seakan-akan hidup ini tanpa akhir. Dihentak dari keterlenaannya sendiri, dia tiba-tiba sadar, betapa lemahnya tubuh ini. Betapa tak terduganya apa yang dialami oleh dagingnya sendiri. Tak terduga sama sekali.

Siapakah kita? Pentingkah kita? Bergunakah kita? Bukankah, jika suatu saat kelak, kita berlalu dan terlupakan, hidup tetap akan mengalir sebagaimana harusnya dia? Jika demikian, mengapakah terkadang kita harus ngotot dan memaksakan diri dan keinginan kita sendiri? Bukankah segalanya hanya sia-sia saja? Tapi, bagaimana mungkin hidup tak diisi dengan perjuangan? Dengan pemaksaan diri dan semangat yang berkobar? Bukankah karena itulah hidup kita menjadi menarik dan tak terasa hampa? Bukankah karena itulah, kita merasa ada dan hidup? Kita toh, tak harus pasrah diri dan menerima apa saja yang terjadi terhadap kehidupan kita? Kita toh, harus berjuang hingga titik terakhir dimana akan kita temui kesuksesan atau kegagalan. Kita toh, ingin tahu dan ingin diakui. Sebab itulah, hidup ini tak pernah tak berguna. Hidup ini tak pernah tak berharga. Kita berjalan bersamanya, membentuk dia dan mengisinya dengan keberadaan kita. Betapa tak menariknya hidup, jika kehilangan tantangan dan mesti diseragamkan demi keamanan dan ketenangan kita. Tidakkah demikian?

Dia menatap jauh ke depan. Dia menatap hari-harinya yang akan datang. Saat-saat terakhir itu, bagaimanakah nanti rasanya? Adakah dia akan mengalami rasa sakit yang tak tertahankan atau dapatkah dia menikmati penderitaannya itu sebagaimana dia menikmati hidupnya yang terasa sehat selama ini? Perlukah dia sesali masa lalunya yang telah bergulir lewat, atau dapatkah dia menerimanya sebagai sesuatu yang normal dan apa adanya? Mengapa harus ada kematian? Dan akan kemanakah dia sesudah itu? Dia merasa bimbang. Dia merasa tak berarti. Dia merasa terkucil. Dia merasa hampa. Dia takut. Dia bimbang. Dia bersedih. Dia menangis.....

Siapakah kita? Mampukah kita menerima dan menghadapi hidup kita sendiri? Mengapa keraguan seringkali menyerang kesadaran kita, terutama saat kita merasa lemah, sendiri, dan tak dipahami. "Allah, Allahku, mengapa disaat-saat demikian, Kau tidak hadir menghiburku?" jeritnya. "Tuhanku, mengapa sesal selalu datang terakhir?" renungnya. Mengapa? Bukankah hidup ini tak seharusnya disesali? Bukankah hidup ini selayaknya dijalani saja? Benar, atau salah, siapa yang dapat memastikannya? Siapa? Kesadaran ini, daya pikir ini, bukankah adalah diri kita sendiri? Tetapi mengapa kita pada akhirnya tak mampu untuk tersenyum dan tabah menerimanya? Mengapa? Bagaimana menjawabnya? Bagaimana?

Pagi telah tiba. Dan hari baru hadir. Dengan suatu keriangan. Dengan suatu elusan lembut dari sang surya yang mengelus pipinya. Tak berapa lama lagi, dia akan melupakan semua ini. Tak berapa lama lagi, semuanya akan usai. Apapun yang terjadi, apapun yang akan dihadapinya, dia harus siap. Dia harus menerimanya. Hidup tak mungkin berjalan mundur. Masa silam tak mungkin dijejaki kembali. Dan dia sadari itu. Akan disambutnya apa saja yang akan terjadi. Akan dihadapinya apa saja yang akan dialaminya. Setiap orang, siapa pun dia, harus belajar untuk hidup. Dan mati. Setiap orang, dan dia tahu bahwa tak ada yang perlu disesalinya. Tak ada. Dia hanya perlu tersenyum. Dia hanya perlu keberanian. Dia hanya perlu tekad. Bahwa hidup adalah suatu proses yang harus dipelajari terus menerus. Dipelajari terus menerus. Hingga akhir. Hingga usai.....

Tonny Sutedja

14 September 2009

IBU TUA YANG BERTUTUR

"Aku ini seperti keranjang sampah. Yang hanya diingat saat dibutuhkan. Namun, saat aku tak diperlukan, tak seorang pun mengingatku. Tetapi tetaplah aku bersyukur. Karena masih dibutuhkan. Siapa yang sudah tidak dibutuhkan lagi. Sesungguhnya dia telah mati....." Ibu tua itu mengatakan kalimat-kalimat ini dengan pelan. Dan tenang. Wajahnya tidak menyiratkan perasaan apapun. Aku mengagumi keteguhannya. Dan prinsip hidupnya. Kami terlibat dalam percakapan intens di suatu siang yang teduh di sebuah biara tua.

"Hidupku sudah panjang. Tujuh puluh empat tahun dalam waktu. Sepanjang itu, tetapi saat ini terasa, bagiku, hanya sekejap saja. Seakan mimpi. Ya, hidup itu bagaikan mimpi, nak. Kau hidup, kau mengalami berbagai pergumulan dalam perasaan dan pikiranmu. Kau menikmati hidupmu. Terkadang dengan tawa. Dan tak jarang penuh sesal dan kesedihan. Tetapi waktu lewat. Dan tepat di sinilah kau, sekarang, sambil memikirkan apa yang tersisa dari semua pengalaman itu. Dan bertanya-tanya dalam hatimu. Untuk apa semua itu? Untuk apa? Bukannya aku tidak percaya kepada Tuhan. Tetapi sungguh dulu sering, aku merasakan dan berpikir, bahwa dia menciptakan kita lalu lepas tangan begitu saja. Sebab dalam saat-saat krisis, Dia seakan-akan menghilang. Menghilang....."

"Justru yang paling kutakutkan, ya aku paling merasa takut, kepada mereka-mereka yang fanatik. Siapapun mereka. Yang menganggap bahwa semua bisa dijawab oleh Sang Pencipta lewat mereka. Seakan Kebenaran mutlak dimilikinya atas nama Tuhan. Siapakah mereka? Siapakah kita? Dapatkah kita memastikan kebenaran itu? Dalam usiaku yang panjang ini, pada akhirnya, aku sadar. Bahwa keindahan hidup ini bukan terletak karena kebutuhan kita. Tidak, bukan di sana keindahan itu. Kenikmatan hidup justru terletak saat kita merasa dibutuhkan. Kitalah yang harus terus belajar untuk memahami dan bukan untuk dipahami. Kitalah yang harus belajar untuk membahagiakan bukan untuk dibahagiakan. Kitalah yang harus berbagi, bukannya memaksa orang lain berbagi...."

"Kini aku menyadari. Dan percaya. Bahwa Tuhan sesungguhnya tidak pernah menjauh dari kita. Tuhan selalu ada dalam diri kita. Dalam hati kita. Saat kita menderita, Dia menderita. Saat kita berbahagia, Dia berbahagia. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah menghilang. Hanya sering kita tidak mengenal diri kita sendiri. Ya, kita sering lupa terhadap diri kita. Kita hanya tahu keinginan kita. Salah paham mengenai situasi. Tidak mengerti pada sikap orang lain. Dan tidak mau peduli akan kepentingan orang lain. Padahal, bukankah Tuhan yang ada pada kita juga Tuhan yang dimiliki oleh sesama kita? Tuhan itu satu, nak, hanya satu. Maka siapa pun yang memaksakan kebenarannya pada diri orang lain demi nama Tuhannya, berarti dia memaksakan keinginannya pada Tuhan yang Satu. Dia salah memahami dirinya. Dia tidak mengerti dirinya sendiri. Bukankah demikian, nak? Bukankah demikian?"

"Memang, terkadang aku merasa seperti keranjang sampah. Yang menjadi tempat pembuangan semua kesulitan sesamaku. Diingat saat dibutuhkan. Dilupakan saat tak diperlukan. Tetapi aku yakin, bahwa bukan itu sesungguhnya maksud mereka. Bukan. Hanya saat mereka mengalami kesenangan, mereka sedang menikmati diri mereka sendiri. Dan kita harus memahami hal itu. Kita perlu mengerti mereka sama dengan kita memahami diri kita sendiri. Sebab, bukankah sering kita juga melakukan hal yang sama, nak? Bukankah kita berbuat sama?"

Sambil menghirup segelas teh hangat manis yang dihidangkan padaku, aku memandang jauh ke halaman yang luas di depanku. Sebuah pohon beringin tua berdiri dengan teguh dan rimbun. Sebuah kapel kecil, seakan tersudut di keluasan halaman itu, nampak menyendiri dalam sepi. Waktu seakan berhenti di sini. Sayup-sayup, dari kejauhan aku mendengar alunan doa yang indah dan lembut, "Agnus Dei, Qui Tollis Peccata Mundi, Miserere nobis......"

Tonny Sutedja

POTRET DIRI 2009

Aku bayang

Dalam sosok


 

Menyemai kata

Menjadi makna


 

Tinggal bisu

Tanpa sepi


 

Tinggal menanti

Tanpa ujung


 

Aku sosok

Dalam kisah


 

Hangat api

Dingin es


 

Keraguan

Kepastian


 

Menunggu

Diam


 

Hanya

Aku


 

Siapa percaya

Pada kata

Yang

Membakar jiwa

Hangus

Jadi arang


 

Aku diam

Dalam nada

Penuh kata

Hanya kata

Tanpa harap

Pada makna


 

Datang

Datang

Aku

Bayang

Sosok

Menunggu

Mu

Tanpa

Ujung

Tanpa ujung


 

: Siapa aku?


 

Kepastian

Bertanyalah

Padaku


 

Keraguan

Jawablah

Aku


 

: Kemana aku?


 

Aku bayang

Dalam sosok


 

Dari mimpi

Menjadi ada

Dari ada

Menjadi tiada


 

Kudaki

Waktu

Menuju

Tempatmu

Menunggu

Dalam hening


 

Diamlah

Jiwaku

Biar kata

Bawa

Mimpi ini

Kepada

NYA

Kepada

NYA


 

Tuntas!


 

Tonny Sutedja

13 September 2009

PERTANYAAN TENTANG HIDUP DAN PENDERITAAN

Buat seseorang yang merasa putus asa pada hidupnya sendiri

Kita hidup bersama hujan pertanyaan yang menderas dalam hati. Kita hidup bersama ribuan keingin-tahuan yang seringkali tak mampu kita pahami. Kita hidup bersama kemungkinan-kemungkinan yang seringkali tak tertebak. Kita hidup, kita ada, kita berpikir dan berbuat, namun berapa banyak dari apa yang kita pikirkan, lakukan dan hasilkan, berjalan sesuai dengan rencana dan harapan kita? Adakah seseorang yang bisa dengan yakin mengatakan bahwa semua harapan dan rencana telah berjalan dengan baik, dan hasilnya sesuai yang dia ingini? Dalam sepanjang perjalanan hidup kita ini, hitunglah segala keinginan dan rencana kita, lalu pikirkanlah, apakah semuanya telah berjalan dengan baik dan sesuai harapan kita? Bukankah seringkali kita menemukan kegundahan dalam hati ini? Dan tak seorang pun luput dari kenyataan hidup itu. Tak satu pun. Bukankah demikian?

Pada akhirnya, kita sadar, betapa banyaknya keinginan dan rencana kita, sesungguhnya hanya memiliki harapan yang samar. Dan tak teraih. Demikianlah hidup. Bahkan kesedihan dan kekecewaan kita pun tak akan menghasilkan apa-apa. Kegundahan kita hanya membuat kita terpaku di tempat semula, sementara waktu terus mengalir deras. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Mengapa kita tak mudah melepaskan segala perasaan sakit hati, kesedihan, kekecewaan bahkan rasa putus asa kita sendiri? Mengapa tak jarang kita memikirkan untuk dapat sesegera mungkin mengakhiri semuanya ini? Bahkan terkadang ada yang lalu mengambil jalan pintas, dan berpikir bahwa segalanya telah selesai jika tubuhnya berakhir di dunia fana ini. Namun, sungguh berakhirkah pikiran kita? Apa yang akan kita rasakan, apa yang akan kita pikirkan di saat itu? Bisakah kita dengan yakin menjawabnya? Bisakah?

Kita hidup bersama hujan pertanyaan yang menderas dalam hati. Hujan pertanyaan, hujan harapan dan hujan kekecewaan. Siapa yang tidak? Tetapi tak sepantasnya kita menjadi insan yang pengecut, yang ingin mencari mudahnya saja, yang dengan keyakinanan penuh percaya bahwa semuanya akan berakhir setelah raga kita, ya raga yang hanya terdiri dari jutaan sel-sel mini ini, telah berhenti berfungsi. Tidak. Hidup nyatanya tidak sesederhana itu. Mari rasakan, ya rasakanlah denyut-denyut kehidupanmu sendiri. Dan renungkan, ya renungkanlah dengan dalam keberadaanmu saat ini. Raga kita mungkin didera derita, nama kita mungkin diejek habis, perasaan sunyi mungkin membuat kita lemah dan tak berdaya. Tapi kita hidup. Kita ada. Kita tak pernah bisa yakin, bahwa segalanya akan usai dengan penuh kesia-siaan. Kita pernah bisa yakin.....

Jadi mengapa takut menghadapi hidupmu? Mengapa malu dan putus asa menerima kenyataan? Yang terjadi telah terjadi. Apapun juga, waktu tak mungkin bisa kita kembalikan. Tak pernah ada jalan mundur. Tak pernah. Namun, ada suatu hal penting yang kita miliki, mungkin jarang kita sadari sendiri. Yaitu kemampuan kita untuk berubah. Kita memiliki daya yang tak terbatas, asal kita lakukan dengan yakin dan penuh daya. Kita adalah insan yang memiliki dan dapat melakukan serta mengalami mujizat. Waktu bergerak terus ke depan, dan siapa yang mampu menebak apa yang akan kita hadapi di depan? Nanti? Ada mereka yang kita anggap memiliki kemampuan untuk meramal, tetapi percayakah mereka sendiri pada ramalan yang mereka berikan? Percayakah mereka? Jangan bertanya kepada diri kita yang menerima ramalan itu, tetapi bertanyalah kepada mereka yang memberikan ramalan itu. Percayakah mereka dengan yakin? Dari sanubari mereka sendiri. Percayakah?

Kita hidup bersama hujan pertanyaan yang menderas dalam hati. Siapa yang tidak? Justru kekuatan kita terletak pada pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kekuatan kita adalah pertanyaan kita. Karena darinyalah kita akan menemukan hujan kemungkinan pula yang sering bahkan pasti saling bertentangan. Dengan segala kemungkinan itulah kita bisa dan mampu untuk merubah diri kita. Untuk merubah kenyataan yang ada saat ini. Merubah hidup kita sendiri, Jadi untuk apa takut, malu atau bahkan merasa putus asa? Untuk apa? Raga kita ini tidaklah abadi, tetapi percayalah bahwa kita abadi. Kita ada dan telah ada, maka tak seorang pun bisa mengatakan bahwa kita tak ada. Tak seorang pun. Kecuali kita sendiri yang berpikir demikian. Kecuali kita sendiri. Untuk apa kita lalu membohongi diri sendiri? Untuk apa kita melalaikan hidup kita sendiri? Untuk apa?

Maka teruslah berjalan. Teruslah maju ke depan. Sambil berjuang merubah diri dan kenyataan yang sedang kita hadapi. Sambil bertarung untuk mencari dan menemukan makna keberadaan kita di dunia ini. Kita ada dan telah ada, siapakah yang mampu untuk meniadakannya kembali? Tak seorang pun. Tidak juga kau sendiri. Dan percayalah bahwa, selama masih ada hidup, masih ada harapan. Selama masih ada waktu, masih ada kesempatan. Dan jika saatnya tiba, kelak, dan itu pasti terjadi, kita dapat dengan bangga menyatakan bahwa kita ada dan telah ada. Tak seorang pun yang mampu menaklukkan jiwa kita, walau raga kita mungkin dapat dikalahkannya. Dan kepada Sang Pencipta, kita dapat dengan bangga menyatakan bahwa talenta yang telah diberikannya kepada kita, kini kita kembalikan beberapa kali lipat. Beberapa kali lipat. Sebab untuk itulah kita diciptakan. Untuk itulah kita ada. Di sini. Sekarang. Saat ini. Ayo, bangkit!

Tonny Sutedja

12 September 2009

MUSIK DIRI

Duduk di sudut sendirian

Kuhela anganku bersama

Nada musik mengalun


 

Malam terasa indah

Terasa lembut manis

Merasuk dalam sukmaku


 

Kureguk segelas bir

Sambil meraih anganku

Yang melambung jauh


 

Dan suara membisu

Dan waktu mengalir

Dan aku melenyap


 

Hanya sisa nada

Hanya sisa nada


 

Tonny Sutedja

KESEPIAN KITA

Sepi di kejauhan

Mengalir masuk hati


 

'Diamlah' katamu

'Kita ini hampa'


 

'Begitukah?' tanyaku

Hampa namun ada


 

Sepi dalam hati

Melayang lepas jauh


 

Lihat!

Purnama bercaya

Sedang menanti

Kitakah itu?


 

Sepi datang pergi

Menemani kesunyian


 

Dimanakah kita?

Kemanakah kita?


 

'Diamlah' katamu

'Kita ini siapa?'


 

'Siapakah?' tanyaku

Sosok tanpa nama


 

Dan dunia tiba

Menendang

Kerinduan

Yang mengendap


 

Baik!

Nyanyikan untukku

Satu lagu indah

Malam ini


 

Tentang keresahan kita

Tentang dukalara kita


 

Tapi jangan-o, janganlah

Tentang rasa sepi ini


 

Sebab kita tak sendiri

Menikmati sepi ini


 

Tak pernah sendiri

Hidup dalam sepi


 

Purnama sendiri

Bernyanyi 'tuk dunia


 

'Tuk kau

'Tuk aku

'Tuk kita


 

Sepi ini

Kapankah usai?


 

Tonny Sutedja

11 September 2009

KESADARAN YANG TUMBUH

Dimanakah kita sebulan dari sekarang? Dimanakah kita seminggu dari sekarang? Apakah kita, dalam suatu pemikiran, masih punya prinsip yang sama dengan saat sekarang? Apakah kita, dalam kelakuan, masih tetap berbuat yang sama? Siapakah yang dapat memastikan, bahwa kita, saat itu, masih orang yang sama dengan kita saat ini? Waktu berubah, dan kita pun berubah bersamanya. Terkadang, waktu terasa berjalan lamban, amat lamban. Terkadang pula, waktu berjalan demikian gegasnya, sehingga tak terasa kita sudah melewati satu, lima, sepuluh bahkan puluhan tahun sejak kehadiran kita di dunia ini. Adakah kesadaran kita tumbuh kembang dengan kecepatan yang sama? Atau kita tetap berpegang teguh pada apa yang telah menjadi prinsip-prinsip kita sejak awal? Dan diantara keteguhan dan perubahan sikap kita itu, yang manakah dapat kita anggap sebagai kebenaran yang pasti? Dan jujurkah kita, paling tidak, pada diri kita sendiri? Mengapa kita berbuat begini dan bukan begitu? Mengapa kita harus berpikir seperti ini dan bukan seperti itu? Mengapa? Lalu, pada akhirnya, siapakah kita sebenarnya? Siapakah kita? Sadarkah kita bahwa kita ada, saat kita berbuat dan berpikir demikian? Pahamkah kita saat kita mengalami kehidupan kita? Mengapa kita harus ada? Mengapa kita harus hidup? Mengapa kita harus berpikir? Mengapa?

Aku melihat kelopak bunga yang perlahan tumbuh, berkembang dan membuka dirinya bagi kehidupan di dunia. Aku melihat betapa mawar yang indah itu mempersembahkan kecantikannya bagi kita semua. Aku mencium harum yang merebak bagi siapapun yang lewat di seputarnya. Aku merasa betapa seringnya aku tak mau mempersembahkan diriku bagi dunia ini. Aku sering merasakan betapa aku hanya ingin hidup hanya bagi diriku sendiri. Bagi kesenanganku. Bagi kenikmatanku. Bagi kepentinganku. Bagi kebahagiaanku sendiri. Bersalahkah aku? Tidakkah bunga itu pun tumbuh kembang bagi dirinya sendiri. Dan hanya kebetulan dapat dinikmati bagi mereka yang lalu lalang di dekatnya. Mungkinkah aku sendiri memiliki keindahan yang sama, yang tidak kusadari, yang telah membuat mereka-mereka yang berada di seputarku dapat memandangku dengan takjub? Apakah diriku pun demikian pula? Mengapa aku tak pernah menyadarinya? Aku, yang hidup bagi diriku sendiri, sesungguhnya telah memberikan hidupku bagi dunia ini, benarkah demikian? Mengapa kesadaran demikian terasa sulit merasuk dalam pemikiranku? Mengapa?

Matahari memberikan cahaya dan teriknya bagi siapa pun, tetapi toh ada yang menikmatinya dengan rasa syukur, namun tak sedikit yang mengeluh saat tersengat panas yang demikian menusuk kulitnya. Hujan yang turun dengan deras, membuat sebagian dari kita bergembira penuh harapan, namun tak sedikit pula yang mengeluh bahkan menyesalinya karena telah menimbulkan genangan air yang mengganggu kesenangan mereka. Jadi, yang manakah dapat kita namakan rasa syukur atas segala anugerah alam itu? Tidakkah kebenaran terasa samar-samar, bahkan tak ada sama sekali? Sebab semuanya tergantung dari apa yang kita pikirkan, rasakan dan lakukan dalam kehidupan yang hanya sejenak ini. Bahkan keindahan dan harum bunga yang demikian menakjubkan itu, mungkin dapat menjadi gangguan bagi sebagian mereka yang alergi terhadapnya. Dan tiba-tiba, semuanya menjadi relatip. Semuanya tergantung pada diri kita. Semuanya terpulang pada pemikiran kita. Pada kita semata.

Dan hidup, akhirnya, memang demikian adanya. Kita tumbuh bersama sikap kita. Kita berkembang bersama pemikiran kita. Kerelaan kita untuk menerima apa adanya. Penolakan kita terhadap perubahan. Tidakkah kita berpikir demikian? Apa yang ada, apa yang sekarang kita alami, apa yang saat ini kita pikirkan, mungkin berubah mungkin tidak, semua terpulang pada bagaimana kita menyadari keberadaan kita di dunia ini. Semuanya harus dicari dan ditemukan. Semuanya harus dipelajari dan dipahami. Semuanya mengandung kepastian yang demikian tak pasti. Kita berjalan dalam kehidupan kita, bagaikan seorang yang menjelajahi kegelapan sambil mengira-ngira apa yang ada di seputar kita. Dan perkiraan kita itu, siapa yang bisa memastikan kebenarannya, jika semuanya berjalan di tengah kegelapan yang sama? Siapa yang dengan keras hati memastikan pendapatnya, sambil mengibaskan pendapat yang lain, pada akhirnya akan terantuk pada ketidak-tahuannya sendiri mengenai hidupnya. Maka apapun yang terjadi dalam hidup ini, apapun yang kita alami dalam hidup ini, memang harus terjadi karena pilihan kita sendiri. Dan tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditangisi. Kita semua berjalan dalam kegelapan, dalam ketak-tahuan, dalam ketidak-pastian sambil mencoba mempelajari dan memahami hidup ini. Memahami dan menerimanya apa adanya. Demikianlah seharusnya kesadaran kita tumbuh. Demikianlah seharusnya perubahan kita berlangsung. Sebab tak ada yang pasti kecuali ketidak-pastian itu sendiri.

Maka inilah kita. Sosok-sosok lemah yang hidupnya terkungkung dalam pemikirannya sendiri yang terbatas pada apa yang mampu dilihat, dipelajari dan dipahaminya. Sambil berjalan dan mencoba untuk memahami, sambil merasakan keterbatasan raga ini, kita biarkan imajinasi kita menerobos segala kungkungan ini. Sebab kita adalah mahluk bebas tetapi sendirian. Sebab kita adalah mahluk yang terkurung dalam pikiran sambil berupaya mencapai keluasan alam dan memahaminya. Maka siapakah kita selain insan yang memilki kemampuan untuk membuat kesadaran kita tumbuh terus menerus, berubah terus menerus, tanpa perlu memastikan semua hal yang hanya membuat kemampuan kita berhenti dan mati beku. Mari belajar memahami. Mari mempergunakan kesadaran kita. Mari berubah. Jangan takut. Kita adalah mahluk bebas yang telah diberikan kemampuan oleh Sang Pencipta untuk mencari Dia. Maka "carilah maka kamu akan menemukan, ketuklah maka pintu akan dibukakan, mintalah maka kamu akan menerimanya...." Tanpa mencari, tanpa mengetuk, tanpa meminta, kita takkan kemana-mana kecuali menjadi insan tanpa rasa yang dengan bangga memastikan kebenaran namun tak tahu betapa nisbinya kebenaran itu. Betapa nisbinya.......

Tonny Sutedja

NYALA

Ada langkah sunyi

Memantul dalam kelam

Ada pelita berkedip

Menerangi gelap malam


 

Sebuah lagu

Sebuah sajak

Mengisi hidup

Menguak hati


 

Lirih suara angin

Berbisik dengan sendu

Tetes air berkidung

Tentang rasa sepi


 

Sayup tiba

Resah jiwa

Dalam mencari

Kata pasti


 

Hati yang terbuka

Coba meraih harap

Rasa yang dalam

Bawa segala mimpi


 

Mau kemana

Langkah menuju

Hanya kelam

Dalam diam


 

Separuh malam lewat

Separuh pagi silam

Kan kutulis bagimu

Sajak tentang hidup


 

Tok

Tik

Tok

Tik


 

Entah kemana akan

Langkah kau bawa

Pelita berkedip nyala

Gelap dan Terang


 

Kita adalah

Cahaya api

Terus bersinar

Hingga usai


 

Ketika akhir tiba

Ketika nafas terhenti

Kita akan hidup

Dalam nyala abadi


 

NYA


 

Tonny Sutedja

SEPIMU ABADI

"Tak ada yang lebih menakutkan bagiku, selain kesepian. Rasanya dia menggigit jiwaku dalam kebosanan, tanpa daya dan aku pun kehilangan arah dalam memandang hidupku. Kesepian yang tiba menyergap, saat pagi, saat siang dan terutama saat malam, kala tak ada seorang yang mampu memahami diriku ini. Segalanya terasa kelam. Segala terasa hampa. Aku ada tapi tak ada. Ya, tak ada yang lebih menakutkan bagiku selain kesepian. Dan aku harus hidup bersamanya. Terpaksa hidup bersamanya. Maka aku melarikan diri bersama obat-obat terlarang itu. Bersamanyalah aku hidup dan menikmati hidupku. Bersamanyalah aku merasa nyaman. Nyaman dalam kesendiranku. Nyaman bersama kesepianku....."

Rasa sepi ini, siapakah yang tak pernah mengalaminya? Rasa sepi ini, siapakah yang mampu mengelakinya? Dia tertanam dalam jiwa kita, bagai akar-akar ganas yang menghujam ke dalam rasa kita. Dan terkadang menguasai segala daya pikir kita. Manusia, kita, yang merasa perkasa dan penuh dengan daya kehidupan, mampukah kita mengelakinya? Kesepian seakan benih kanker yang tertanam dan melata dalam perasaan dan jiwa kita. Dan bersamanya kita hidup. Bersamanya kita bertarung. Bersamanya kita berupaya untuk menaklukkannya.

Namun hidup adalah berjuang. Berjuang melawan segala ketaktahuan kita. Berjuang melawan nafsu dan hasrat kita. Berjuang melawan kehampaan jiwa dan rasa kita. Berjuang untuk hidup dengan lebih jujur, lebih adil dan lebih terbuka. Tetapi mampukah kita? Semuanya tergantung pada bagaimana kita menerima dan menghadapi apa yang ada dalam diri dan lingkungan kita. Kebenaran-kebenaran yang ada dalam anggapan kita, sesungguhnya bukan suatu kebenaran mutlak. Tak sesuatu pun yang bisa membuat kita jujur dan terbuka kecuali saat kita menghadapi diri kita dalam rasa sepi itu. Saat kita sendirian secara penuh. Dan utuh.

Maka kesepian tidak harus dihayati hanya dengan rasa tetapi pun dengan pikiran. Ada saatnya kita harus bertanya dalam hati kita, bertanya pada diri kita sendiri, tentang apakah yang kita cari dalam perjalanan hidup ini. Apakah yang kita inginkan yang sungguh-sungguh mampu membuat kita gembira dan bahagia. Bukan kegembiraan atau kebahagiaan sesaat, namun sesuatu yang mampu membuat kita menikmati hidup ini dengan tenang dan tanpa ketakutan-ketakutan untuk kalah atau merasa kehilangan. Hidup ini dipenuhi dengan kesenangan semu, kesenangan sesaat yang sejenak mungkin bisa menghilangkan kejenuhan kita, tetapi takkan berjangka waktu panjang. Apalagi untuk sepanjang hayat kita.

Maka bertarunglah dengan dirimu sendiri. Bertarunglah dengan perasaanmu. Bertarunglah menghadapi waktu hidupmu. Ingatlah, bahwa tak ada yang abadi di dunia ini, selain dari perubahan-perubahan yang terjadi. Sesaat kita mungkin merasa tersiksa dengan kenyataan yang harus kita hadapi, tetapi siapa yang tahu apa yang akan kita temukan di hari esok? Siapa? Tak seorang pun. Maka jangan merasa putus asa. Maka jangan pernah menyerah pada kenyataan yang saat ini menjeratmu. Sebab, kepasrahan atau keputus-asaan dapat membuatmu melakukan hal yang merusak hidupmu sendiri, yang kelak, mungkin akan kau sesali. Amat sesali. Saat angin berubah arah, dan hidupmu pun berubah, tiba-tiba kau temukan betapa kau tak mampu lagi untuk menikmatinya. Semata karena kerusakan yang telah kau buat sendiri. Semata karena kelalaianmu sendiri.

"Masa laluku yang kelam telah lewat. Kini, aku hidup dalam suatu situasi yang sangat menghangatkan diriku. Bersama orang-orang yang memahamiku. Bersama teman-teman yang mencintaiku. Bersama harapan baru. Bersama hidup yang demikian indah dan ingin kunikmati selamanya. Tetapi, karena kealpaanku sendiri, aku telah merusak kesempatan indah ini. Waktuku memendek dengan cepat. Saatku hampir tiba. Aku amat menyesal, tetapi apa yang dapat kulakukan? Segalanya telah terlambat. Segalanya terlanjur dan aku sadar bahwa tak mungkin aku membalik waktu ke belakang. Namun, aku masih berharap, ya aku punya harapan besar, agar kesalahan ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi mereka yang saat ini mengalami masalah yang sama denganku di masa lalu. Rasa sepi selalu ada tetapi tak perlu takut untuk menghadapinya. Apalagi lalu merasa putus asa dan mencoba lari dari kenyataan itu dengan merusak diri kita sendiri. Tidak, ada saatnya kita menderita, ada saatnya kita akan berbahagia. Tak perlu kita ragukan itu. Ingatlah bahwa Tuhan membuat kita sebaik-baiknya sesuai dengan talenta kita masing-masing. Maka jangan kita menanam talenta kita apalagi sampai membuangnya. Karena kelak, kita akan menyesalinya. Kita akan menyesalinya. Lihatlah diriku ini....."

Demikianlah, siang itu aku memandang ke jenasah seorang yang kukenali sambil mencoba untuk menghayati deritanya. Meninggal karena kerusakan hati yang parah, dia adalah pecandu narkoba di masa lalunya yang kelam. Dan dalam beberapa bulan sebelum kematiannya, dalam beberapa kesempatan, aku sempat berbincang dengannya. Ada sesal di matanya. Ada duka di hatinya. Ada kerinduan untuk bertahan hidup dalam semangatnya. Tetapi tubuhnya telah kalah di usianya yang baru 32 tahun. Tubuhnya telah rusak. Kerusakan yang semestinya tidak terjadi, jika saja dia mampu menghadapi hidupnya sendiri, dan tidak melarikan diri kepada rasa gembira dan bahagia yang semu karena pengaruh bahan-bahan kimia itu. Dengan sedih aku memandang kepada jasadnya sambil berharap agar segala kesalahan yang telah terjadi dapat menjadi bahan pelajaran bagi kita semua. Semoga tak ada lagi yang merasa menyesal setelah segalanya telah terlambat. Semoga tak ada lagi......

Tonny Sutedja

10 September 2009

CERMIN

"Mengapa aku berbeda dengan orang lain? Mengapa aku tak sama dengan mereka? Mengapa aku harus menjalani kehidupan begini? Mengapa aku harus mengalami hal ini? Mengapa? Mengapa aku sendiri tak bisa menjawabnya? Mengapa tak seorang pun bisa memberi jawaban kepadaku? Mengapa semua hanya mau menuduhku? Memandangku dengan sinis? Mengapa? Mengapa? Ayo, jawablah aku! Tolong jawab aku..."

Dia memandang bayang wajahnya yang memantul dari cermin di depannya. Kesedihan, kegundahan dan kesepian mengurat pada kerut mukanya. Suasana siang yang gerah menusuk ke dalam kulitnya. Dan kesenyapan yang demikian hampa memenuhi hidupnya. Sampai kapankah kebenaran harus disembunyikan? Sampai kapankah kenyataan ini harus dibenamkan dalam hidupnya? Adakah kita memang harus hidup bersama alur yang telah ditentukan semata oleh orang lain? Jika harus demikian, mengapakah dia harus mengalami perbedaan demikian? Mengapa? Apa yang salah?

Waktu berjalan dengan sederhana. Tetapi pikiran membelit jiwa dengan segala kekusutannya. Maka berbahagialah mereka yang menerima hidup ini apa adanya. Tetapi terkadang, ada kenyataan yang demikian membuat kita takut. Membuat kita terpaksa hidup dalam kegelapan. Kebohongan-kebohongan yang susul menyusul dengan cepatnya sehingga kenyataan dan kepura-puraan tak sanggup lagi bisa dibedakan. Dan hiduplah kita dengan topeng-topeng kita masing-masing. Siapakah kita ini sebenarnya? Siapakah kita?

Dia menatap matanya sendiri yang membulat hampa dari cermin. Dia berusaha menangkap dirinya. Jiwanya. Rohnya. Tetapi hanya ada rasa sepi sisa. Hanya ada rasa sepi yang terus menerus memanggil. Siang yang panas dan sepi menyergap dirinya dengan satu pelukan, demikian ketatnya hingga dia seakan merasa tak mampu lagi untuk bernapas. Tak mampu lagi untuk hidup. Hidup adalah perjuangan, kata orang. Tapi apa yang harus diperjuangkan, jika yang ada hanya kesia-siaan? Apa yang harus dilawan jika itu adalah dirinya sendiri? Dirinya sendiri?

"Mengapa aku demikian lemah? Mengapa aku demikian tak sanggup untuk melawan perasaanku sendiri? Mengapa aku demikian tak mampu untuk menguasai segala emosi, hasrat dan keinginanku sendiri? Dan haruskah aku menjadi benda mati dengan menyapu habis segala gejolak jiwaku agar aku menjadi sama dengan orang-orang lain? Haruskah aku menjadi tidak ada demi untuk tidak berbeda dengan mereka? Haruskah aku? Tolong jawablah aku. Tolong..."

Siang hening. Pohon diam merangas. Matahari bersinar terik. Dan detik berjalan terus. Suasana yang mungkin bisa dia tuliskan dalam urutan kata dan kalimat indah. Tetapi dapatkah dia menyusun kata demi menggambarkan suasana hati sendiri? Bukankah seringkali dia kehabisan kata? Atau mungkin tak berani untuk menguakkan kebenaran hidupnya? Dia hidup bersama rahasia-rahasia yang pahit dan tak terperikan namun nyata. Yang harus disembunyikan di balik wajah yang tanpa ekspresi. Bersalahkah dia? Patutkah dia disudutkan terus menerus? Bersalahkah dia?

Pandanglah kehidupan di sekelilingmu. Pandanglah wajah-wajah yang lalu lalang di depanmu. Pandanglah mereka semua dan kenalilah mereka. Siapa sesungguhnya kita ini? Berupayalah untuk memahami mereka, maka akan kau pahami pula betapa tak mudahnya untuk mencari jawaban pasti kebenaran yang kau inginkan. Dan semakin kita merasa mudah untuk menuding seseorang, semakin nampak pula betapa kita sama sekali tak memahami kehidupan itu sendiri. Maka hidup memang seringkali merupakan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawab. Karena jawaban tidak tergantung pada kata atau pengertian kita, tetapi tertanam jauh dalam hati dan perasaan kita. Dan di sanalah kita bisa mencoba untuk mengenal kehidupan kita semua. Terima apa adanya, dan bertarunglah jika kau anggap layak. Tetapi jangan menyerah. Kita ada di sini bukan untuk tunduk pasrah, tetapi untuk menjalani hidup dengan gagah berani. Dengan gagah berani.

Perenungan untuk SAVING FACE

Tonny Sutedja

11 SEPTEMBER 2009

Siang hari. Udara sedang panas menyengat. Tak ada orang yang lalu lalang di jalan. Sepi dan hening. Dedaunan pohon palem depan halamanku nampak menunduk bisu. Dua ekor burung kecil, tak kutahu namanya, nampak bertengger di atas besi pagar sambil sesekali mengepakkan sayap mereka yang mungil. Tak ada apapun yang mampu mengusik mereka. Tiga ekor anak kucing, seekor berwarna belang kuning keemasan dan dua ekor belang abu-abu kelabu, nampak tertidur sambil melingkarkan tubuh mereka di bawah naungan bayangan tembok samping. Suasana nampak demikian tenang. Aman. Damai.

Aku memperhatikan hal-hal sederhana itu sambil sedikit mengeluh. Betapa sepinya. Betapa panasnya. Tapi juga ada bisikan dalam diriku, betapa tenangnya siang ini. Suasana nampak demikian tenteram. Sayup-sayup ada suara musik yang mendengung dari tetangga sebelahku. Langit di atas nampak biru jernih. Nyaris tanpa awan. Tiba-tiba aku ingin bernyanyi. Sebuah lagu teringat demikian lekat dalam ingatanku saat ini. Sebuah nada yang telah lama terlupakan. Sedemikian lama, sehingga aku sendiri heran karenanya. Otak ini, demikian hebatnya dia, sehingga dalam suatu situasi tertentu, dapat memunculkan kembali hal-hal yang telah lama terbenam dalam waktu. Dan telah lama kulupakan.

Kehidupan ini seringkali mengandung ironi. Dimana hal-hal yang indah seringkali mengandung kesedihan. Dan sebaliknya. Kita berjalan menyelusuri panjang waktu. Peristiwa datang dan pergi. Silih berganti. Dan apa yang pada suatu saat sangat menarik perhatian dan hasrat kita, suatu saat kelak mungkin akan lenyap dan terlupakan dalam ingatan. Kita belajar dari sejarah, tetapi sejarah seringkali hanya menjadi kalimat-kalimat yang, bagi kita, nampak seakan tak berguna dan tak punya makna sama sekali. Kita belajar dari pengalaman, tetapi kemudian, pengalaman itu akan mengendap jauh ke dalam jiwa kita dan terlupakan. Terlupakan karena kerasnya kehidupan kita. Terlupakan karena kesibukan kita dalam membangun dan mengelola hasrat dan ambisi kita. Lalu sirna.

Namun suatu ketika yang tak tentu waktunya, bisa tiba-tiba muncul dari ingatan dan demikian menggugah kenangan kita. Darimana dia datang? Apakah dari dalam jiwa kita sendiri? Mengapa semua ini bisa terjadi? Mengapa kesedihan-kesedihan yang telah lama lenyap seakan mendadak timbul kembali? Mengapa suasana yang telah lama tak hinggap dalam mimpi kita sekali pun, bisa mendadak muncul dalam kenangan? Mengapa?

Siang hari. Di tengah suasana sepi dan gerah ini, aku menikmati suatu kedamaian sambil sedikit mengenang masa lampau. Dan ada musik dalam hatiku. Ada lagu dalam jiwaku. Ternyata, dalam kegersangan pun, selalu ada keindahan yang tersembunyi. Ternyata, dalam kesepian pun, selalu ada kenyamanan yang tak bisa kurasakan dalam keramaian. Hidup itu indah, jika kita mau menikmati dengan apa adanya. Tanpa sesal. Tanpa sakit hati. Tanpa dendam. Dan membiarkannya mengalir dalam waktunya sendiri. Dalam waktunya sendiri.

Tonny Sutedja

MALAM INI HUJAN TURUN

Malam ini hujan turun Tapi kau tak ada Hujan turun bagaikan malaikat Yang merindukan kata Tetapi melupakan kalimat Dan diam-dia...