24 Mei 2008

KONTRAS KEHIDUPAN

Mendung menutup sebagian langit. Siang itu, tidak begitu terik seperti hari-hari kemarin. Dan jalanan tidak seramai hari-hari biasa. Aku duduk di sisi jendela, di sebuah rumah makan siap saji, sambil memandang ke luar. Sekelompok anak-anak kulihat berdiri di depan sebuah etalase toko sambil memandang pada jejeran boneka cantik yang dipajang. Salah seorang gadis kecil itu, berpakaian kaos kumal berwarna merah yang mulai pudar, nampak memandang boneka itu dengan wajah yang terpesona. Mulutnya ternganga, matanya terbelalak, ekspresi wajah yang menyimpan ketakjuban, keinginan terpendam tetapi juga kepasrahan akan ketakmungkinan untuk mewujudkan impian-impiannya. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintas siang itu. Suatu situasi yang kontras dengan kondisi hari-hari sebelum terjadi kenaikan harga premiun dua hari sebelumnya. Dan aku memandang dari balik jendela kaca sebuah rumah makan siap saji sambil berpikir tentang kondisi ekonomi yang sedang sulit ini.

Aku membaca berita dari sebuah koran nasional yang baru kubeli secara eceran di tepi jalan. Ada berita tentang kemiskinan, tentang ketak-berdayaan, tentang harapan yang kian memudar dari mereka-mereka yang semakin terpuruk akibat dari kenaikan harga BBM. Betapa penghasilan yang tetap tak lagi mampu menopang kehidupan ini. Betapa pemecatan membuat para buruh kehilangan pekerjaan mereka akibat perusahaan tak lagi sanggup untuk terus hidup karena kenaikan biaya produksi. Betapa nilai uang yang kian tak berarti ditengah kenaikan harga-harga sembako dan transportasi. Betapa mereka-mereka yang tak lagi memiliki pekerjaan hanya mampu untuk pasrah menerima nasib. Hidup hanya tergantung dari uang Rp. 5.000 – Rp. 10.000 hasil pinjaman sana sini. Tetapi di bawah berita yang tragis itu, aku melihat, dalam setengah halaman berwarna, iklan sebuah produk elektronik yang amat menyolok mata. Sebuah handphone terbaru dengan harga jutaan rupiah. Aku membaca koran nasional ini sambil merasa terenyuh dengan kontras ini.

Siang itu udara tak begitu terik seperti biasanya. Dan aku duduk sendirian sambil menikmati seporsi nasi, sepenggal paha ayam dan segelas minuman ringan. Suasana ruangan tak begitu ramai. Dua orang anak-anak berlarian di tengah ruangan. Salah seorang dari mereka, seorang gadis cilik yang berusia sekitar 12 tahun, nampak memegang sebuah handphone munggil berwarna pink. Wajahnya ceria, matanya berbinar dan senyum terkembang di bibirnya. Seorang yang lain nampak merengek-rengek sambil mengejarnya. Udara dalam ruangan ini dingin karena pengatur suhu berfungsi dengan baik. Di dalam ruangan yang sedikit senyap ini, aku menikmati santap siangku sambil merasa sedikit tak nyaman. Di luar ruangan ini, beberapa anak-anak kecil yang sedang bergerombol itu, sudahkah mereka makan siang? Ya, sudahkah mereka makan siang?

Hidup memang seringkali menyakitkan, jika kita mau menyadari keberuntungan kita. Jika kita mampu mensyukuri kemakmuran kita. Berapa banyakkah dari antara kita yang mampu menyadari hal ini? Berapa banyakkah dari antara kita yang bisa bersyukur karena mampu untuk hidup layak? Paling tidak, berapa banyakkah dari kita yang memahami kesenangan kita sendiri di tengah banyaknya derita dan ketidak-mampuan manusia sekeliling kita? Ataukah kita hanya mampu merengek-rengek terus karena merasa betapa segala harapan dan ambisi kita tak juga bisa kita raih? Kita, yang saat ini mampu setiap saat menikmati nikmatnya makan siang di dalam ruangan berpendingin udara, seringkali tak menyadari betapa banyak sesama kita yang hanya mampu mengais-ngais hidup di tengah kemiskinan mereka. Hanya mengais-ngais hidup tanpa menemukan apa-apa, sebab kita telah meraupnya untuk segala ambisi dan kepentingan kita saja. Tidakkah kita sadar betapa menyakitkannya hidup kita sendiri?

Tonny Sutedja

MENJADI GURU

"Dunia pendidikan kita kian amburadul...." demikian kata seorang temanku, saat kami sedang berkumpul dan melakukan diskusi tanpa arti di suatu sore sambil memandang laut lepas di sebuah cafe di tepi pantai Losari. Mereka sedang membicarakan pendidikan anak-anak mereka. "Dan mutu-mutu guru pun kian buruk....." Aku memandang kepadanya sambil menggeleng. Dia seorang ayah dan seorang teman yang aku tahu sangat cerdas. Dulu kami pernah kuliah bersama, dan aku selalu menyenangi caranya menjelaskan masalah-masalah yang aku tidak pahami. Sore hari itu, kami berkumpul bersama, mengadakan sebuah reuni kecil, karena kehadiran seorang teman kuliah juga, yang baru tiba dari Sorong, Papua. Dia pun bercerita tentang soal-soal pendidikan anak-anaknya sambil asyik mengunyah "pisang epe" yang kami nikmati bersama di bawah udara sore yang cerah.

Aku memandang kepadanya yang terus bertutur tentang kekecewaannya tentang dunia pendidikan negeri ini. Setelah dia selesai mengeluh, aku lalu bertanya, "jika kau mengeluh tentang dunia pendidikan kita, tentang sikap moral para guru, lalu mengapa kau sendiri tidak mau menjadi seorang pendidik? Aku tahu kau mampu untuk itu. Bahkan lebih dari mampu, bila kau mau...." Dia terdiam. Ya, aku perlu bertanya saat itu dan aku juga ingin menulis sekarang ini. Banyak dari kita yang sesungguhnya bisa dan berbakat menjadi pengajar yang baik, namun menolak kesempatan itu. Mengapa? Menurutku, itu karena materi yang bisa kita terima tak akan mampu menutup gaya hidup kita. Pada akhirnya, menjadi guru hanya menjadi semacam pekerjaan untuk menghidupi kita. Maka tak heran, jika kita menolak untuk menjadi guru karena kita tahu bahwa penghasilan yang akan kita terima takkan pernah mencukupi kebutuhan hidup kita. Hidup yang kita inginkan menjadi sebuah kenyamanan dengan materi yang berlebih. Maka perlukah kita heran jika pada akhirnya, menjadi guru sebagian besar hanya akan dipilih oleh mereka-mereka yang tak punya jalan lain lagi? Tidak semua, memang. Namun nampak jelas bahwa jika ada pilihan lain, mereka-mereka yang mampu takkan mau menjadi guru karena mereka berpikir bahwa menjadi guru tak mempunyai masa depan yang cerah. Maka aku merasa bahwa tidak pada tempatnya temanku itu mengeluh tentang mutu pendidikan kita selama kita sendiri tak mau berkorban untuk masuk ke dalamnya. Maka selama itu yang terjadi, kita hanya mau berdiri di luar sambil terus mengeluh. Tanpa akhir.

Pernah juga, seorang teman yang lain mengeluh tentang betapa mahalnya pendidikan kita. "Buku-buku yang harus dibeli di sekolah setiap semester bisa mencapai 200an ribu" katanya. Aneh, gumamku. Aku tahu dia mampu untuk itu. Dalam beberapa kesempatan, aku bersama dengan keluarganya berjalan-jalan di Mal. Dan setiap kali ke Mal, aku tahu bahwa dia harus mengeluarkan dana ratusan ribu rupiah, untuk belanja anak-anaknya. Dan itu dilakukannya hampir setiap hari minggu. Lalu, mengapa untuk membeli buku-buku pelajaran sekolah anaknya yang hanya setiap semester saja dipermasalahkan? Berapakah nilai hiburan yang didapatkan di Mal jika dibandingkan pendidikan yang diterima anak kita di sekolah? Berapakah nilai permainan di Mal jika dibandingkan dengan nilai buku-buku pelajaran itu? Apa itu sebanding?

Menjadi guru. Menjadi pendidik yang baik di masa-masa sekarang ini tidaklah mudah. Kita harus sadari itu. Saat para guru-guru kita ke sekolah hanya dengan motor atau bahkan dengan kendaraan umum saja, para murid ke sekolah dengan mobil. Bagaimanakah perasaan guru-guru melihat dan merasakan kondisi itu? Pikirkanlah hal itu. Menjadi guru memang tidak mudah. Oleh sebab itu, yang kita perlukan saat ini bukan sebuah keluhan, namun upaya untuk memahami kehidupan mereka, memahami ketidak-berdayaan mereka, memahami ketak-mampuan mereka untuk mendalami ilmu yang mereka ajarkan. Karena bahkan untuk hidup pun mereka harus berjuang, maka mereka takkan mampu untuk membiayai perkembangan ilmu pengetahuan mereka yang memerlukan dana untuk membeli buku-buku pengetahuan terbaru yang kita tahu, sungguh mahal sekarang ini. Menjadi guru saat sekarang ini memang tak mudah. Sungguh tak mudah.

Tonny Sutedja

CINTA DALAM PERKAWINAN

"Aku ingin percaya bahwa cinta itu ada. Aku ingin percaya bahwa kejujuran itu nyata. Aku ingin percaya. Tetapi...." Dia berkata sambil menunduk. Di luar, langit sedang muram. Gerimis jatuh perlahan. Dan jalan sepi. Kami duduk di teras rumahnya sambil memandang ke jejeran tanaman azalea yang menghiasi pagar halamannya. Petang belum tiba, namun langit gelap. Matahari bersembunyi di balik mendung tebal. Setebal mendung di hatinya. Dan itu terjadi dua tahun lalu.

Wajahnya sedang kusut. Matanya sedang muram. Beberapa waktu sebelumnya, istrinya menghilang bersama seorang anaknya yang berumur 9 tahun. Dan setelah lama mencari kabar, istrinya mengirimkan sepucuk surat, meminta perceraian karena, tulisnya, dia tidak lagi mampu hidup dengannya. Memang, setahuku, keluarganya tidaklah bahagia. Percekcokan sering terjadi antara mereka. Keduanya memiliki sifat yang saling bertentangan. Dan keduanya pun tak bisa saling mengalah dan memahami satu sama lain. Hidup rumah tangga mereka serupa neraka saja. Namun tetap saja, peristiwa itu menjadi satu pukulan baginya.

"Apa yang harus kulakukan saat ini?" tanyanya padaku petang itu. "Apa yang harus kuperbuat? Haruskah aku menerima permintaan istriku atau aku menolaknya karena agama kami melarang perceraian? Tetapi jika kehidupan bersama kami dilanjutkan dalam suasana yang sama, tidakkah kami hanya menyia-nyiakan kehidupan kami? Tetapi bagaimana dengan anak kami? Ah, aku bingung. Aku ingin percaya bahwa cinta itu ada, tetapi......" Dia menghela napas panjang lalu menatapku tak berdaya.

Aku, sahabatnya. Aku, juga sahabat istrinya. Apa yang harus kulakukan? Saat itu aku bingung. Aku mungkin bisa memberikan hiburan dan nasehat-nasehat standar yang pernah kubaca dalam buku-buku tentang bagaimana memecahkan masalah keluarga, tetapi saat itu aku merasa semuanya takkan berguna. Hidup, yang mereka jalani bukan hidup yang kujalani. Perasaan, yang mereka alami bukan perasaan yang kualami. Dan pengalaman mereka bukanlah hanya sebuah teori di atas kertas bacaan saja. Apa yang harus kulakukan?

Saat itu, seingatku, aku hanya berkata, "cobalah untuk hidup berpisah dulu sambil merenungkan kesendirian kalian masing-masing. Tapi jangan dulu memikirkan perceraian. Jangan. Biarkan waktu mengendapkan pertikaian di antara kalian. Berdoalah dan mohonlah bimbingan Tuhan. Pergilah ke tempat-tempat dulu kalian pernah berpacaran dan nikmatilah kesendirian kalian di sana" Aku menyampaikan pendapatku tanpa rasa kepastian. Seolah hanya untuk menarik-narik waktu agar mereka dapat berpikir kembali dan tidak hanya tenggelam dalam aliran perasaan saja. Ya sering, kita hanya larut dalam perasaan tanpa mampu berpikir jernih, terutama saat sebuah ledakan peristiwa sedang terjadi. Demikianlah, malam telah tiba saat aku meninggalkannya sendirian. Hujan jatuh rintik dan aku berharap udara yang cukup sejuk mampu membuatnya berpikir jernih dan sederhana.

Dua hari lalu, saat hiruk pikuk kenaikan BBM masih terus berlangsung, aku bertemu dengannya di Mal Panakkukang. Dia dan bersama istrinya dan, anaknya serta seorang bayi yang dibopong istrinya. Kami lalu saling menyapa, lalu mereka mengundangku untuk makan bersama di sebuah resto kecil yang punya jendela kaca langsung menghadap ke panorama jalan karena resto ini terletak di atas jembatan penyeberangan Mal. Kami duduk bercerita sambil tertawa-tawa bersama. Tak nampak lagi kekusutan di wajah mereka. Bayi yang dibopong istrinya tiba-tiba menangis keras, dan istrinya kemudian sibuk mengurus bayinya, bayi mereka.

"Nampaknya semuanya kembali seperti semula" kataku padanya. "Ya, bahkan lebih baik dari semula" katanya padaku. "Apa yang telah kau lakukan sehingga istrimu kembali?" tanyaku. Dia memandangku dan tersenyum. "Pertama-tama aku mau menyampaikan terima kasih atas nasehatmu dulu. Ya, aku membiarkan semuanya mengalir saja. Tapi aku juga memikirkan segala sesuatu yang telah terjadi pada kami. Sesekali aku mengunjungi tempat-tempat kami pernah berpacaran dulu. Keindahan suasana dan perasaan kehilangan serta kesendirianku lalu membuatku berpikir. Selama ini, aku terlalu mementingkan diriku sendiri. Selama ini aku tak pernah mau memahami dirinya. Aku hanya mau percaya pada cinta dan kejujuranku sendiri, tanpa pernah percaya bahwa dia pun memiliki cinta dan kejujurannya sendiri. Aku berdoa, aku memohon pada Tuhan, dan aku mendengar suara hatiku berkata bahwa aku harus meminta maaf dan juga memaafkan segala yang telah terjadi diantara kami. Begitulah, temanku, kami lalu menyusun rencana baru, namun kali ini dengan lebih rasional. Sebab kami menyadari bahwa ternyata, jauh lebih indah untuk hidup bersama seperti dulu daripada masing-masing hanya memikirkan diri dan kepentingan kami sendiri-sendiri. Sekarang, kami bahkan sudah memiliki seorang bayi lagi hehehe...." Wajahnya cerah, senyum merekah di bibirnya dan matanya berbinar-binar. Saat itu aku merasa lega. Amat lega.

Dimanakah cinta? Dimanakah kejujuran? Di dalam kepercayaan kita satu sama lain. Di dalam doa kita kepada Tuhan. Di dalam saling pengertian dan pemahaman kita pada kehidupan ini. Kepercayaan kita terletak tidak di dalam diri kita, tetapi pada orang-orang yang kita temui di mana saja. Ya, cinta dan kejujuran hanya berarti jika kita percaya pada Tuhan dan sesama kita. Bukan hanya pada diri kita saja. Bukan pada diri kita saja. Dan aku kira, itulah gunanya kita hidup di dunia ini.

Tonny Sutedja

17 Mei 2008

BBM DAN PERJUANGAN TIM PIALA UBER


 

Matahari terik. Udara panas menyengat. Aku berada di barisan belakang antrian panjang sebuah Depot Pengisian Bensin, beberapa hari lalu. Di luar, jalanan macet karena sekelompok mahasiswa sedang melakukan demo menentang rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak, tepat di depan kampus. Mereka melakukan pemblokiran jalan sambil membakar ban bekas di tengah jalan raya. Sepasukan polisi nampak mengelilingi depan kampus sambil melihat segala kegiatan mereka. Suara hingar bingar dari klakson, asap knalpot dan dengung suara gas kendaraan terus menerus memenuhi udara. Aku melihat segala kekisruhan itu tanpa tahu harus berbuat apa. Ya, di sini, para mahasiswa melakukan demo untuk menolak keputusan yang akan menyusahkan rakyat tetapi sambil menyusahkan rakyat juga. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa semua hal nampak seakan tidak sinkron? Aku, bersama puluhan atau malah ratusan kendaraan terjebak dalam ketidak-pastian kondisi dan hanya mampu menunggu. Dan menunggu. Kapankah segala hiruk pikuk ini dapat berlalu?

Akhir-akhir ini hidup memang terasa tidak menyenangkan. Rencana kenaikan BBM akan menyusahkan kita. Tetapi demo menolak kenaikan BBM pun kian menambah kesusahkan juga. Terjebak di tengah polusi kota, dan secara mendadak aksi saling lempar batu antara mahasiswa dan aparat keamanan, aku melihat banyak wajah-wajah pasrah yang tak bisa berbuat apa-apa. Selain sabar menunggu, semoga situasi dapat segera teratasi dan kembali normal. Namun, kapankah itu? Kita seakan berjalan dalam lorong gelap tanpa ujung. Kita seakan menempuh kekelaman tanpa tahu adakah secercah cahaya yang nampak di ujung perjalanan ini. Kita berjalan sambil meraba-raba, sambil menebak-nebak, tetapi juga saling menyikut dan menjegal satu sama lain, karena keyakinan kita hanya ada pada kebenaran yang kita pikirkan sendiri. Kita ingin menang, tetapi tak tahu apakah kemenangan itu. Mengapa semua ini harus terjadi?

Semalam, aku menyaksikan perjuangan tim Piala Uber. Gegap gempita penonton yang memberikan dukungan kepada para pemain kita. Maria Kristin, Vita Marissa, Lilyana Natsir, Adriyanti Firdasari dan kawan-kawannya telah memperjuangkan angka demi angka demi mencapai harapan yang kita inginkan bersama, kemenangan. Jatuh bangun. Keringat bertetesan membasahi lapangan. Segala daya dan tenaga terkuras untuk mencapai harapan itu. Namun, harapan tinggal harapan. Kita harus mengakui kekuatan pemain lawan. Kita kalah. Tetapi kekalahan itu dicapai dalam suatu perjuangan keras dan pantang menyerah. Maka penonton pun tetap gegap gempita. Tidak, kita kalah dalam hasil, tetapi tidak kalah dalam nilai juang. Maka disini, nilai hiruk pikuk bernada lain dari hiruk pikuk yang kutemukan di jalan raya, depan Depot Pengisian Bensin beberapa hari lalu. Di sini, hiruk pikuk terjadi karena kita mengakui bahwa nilai suatu perjuangan tidak terletak pada apa yang kita inginkan, tetapi pada apa yang telah kita upayakan.

Maka aku kira, hidup pun demikian adanya. Hidup adalah suatu proses panjang dalam waktu yang harus kita tempuh, bukan sambil mengharapkan keberhasilan yang cepat. Hidup bahkan mungkin saja akan mengalami kegagalan. Namun, intinya, hidup seharusnya tidak tergantung pada hasil, tetapi pada upaya dan proses yang kita lewati. Waktu kehidupan kita, yang seringkali terasa amat panjang ini, sesungguhnya hanya sebintik saja dalam rangkaian waktu alam semesta. Maka mengapa kita terus mengharapkan keberhasilan yang segera mungkin? Mengapa kita harus menikmati kesenangan dan kebahagiaan itu sendiri? Mungkin itu layak, tetapi lebih pantaslah bahwa segala upaya kita ditujukan, bukan pada keberhasilan kita sekarang, tetapi lebih pada keberhasilan perjalanan kehidupan kemanusiaan kita. Pada kebahagiaan anak cucu kita. Atau bahkan pada keberhasilan generasi yang jauh di depan kita kelak. Maka, jika pun kita gagal dalam perjuangan kita sekarang ini, kegagalan ini dapat menjadi arah pegangan buat anak cucu kita untuk berbuat jauh lebih baik lagi. Ya, semangat itulah yang harus kita miliki sekarang. Saat kesulitan demi kesulitan menerpa. Saat harga BBM terus meningkat dan produksi terus menurun. Saat beban hidup kian bertambah dan kian mahal. Saat segala sesuatu nampak kelam dan tanpa ada cahaya secercah pun di depan terowongan yang kita jalani ini. Kita harus hidup dan menata kehidupan ini kembali, dengan proses panjang, langkah demi langkah, kegagalan demi kegagalan, sehingga kelak semua itu dapat menjadi titik tolak keberhasilan kita demi kemenangan anak cucu kita. Bukankah semua ini layak kita jalani?

Tonny Sutedja

12 Mei 2008

MENERIMA BUKAN HANYA MEMBERI

"Aku merasa letih menghadapi hidup ini. Aku letih menghadapi segala gejolak dan tentangan sekelilingku. Aku merasa tak bisa dipahami, ditolak dan dikucilkan saat aku ingin berlaku sebagai diriku sendiri. Saat aku ingin hidup dengan pemahamanku sendiri." Demikian tulismu kepadaku. Kau bertutur tentang upaya-upayamu dalam bekerja, dalam mengatur masyarakat, dalam niat untuk memperbaiki kondisi keluarga dan lingkunganmu. Namun, upayamu itu sering terbentur pada pendapat orang lain, bahkan orang yang ingin kau ubah dan perbaiki nasibnya. "Maka kini aku merasa putus asa dan membiarkan segalanya berjalan apa adanya. Sebab hidup nampaknya memang harus begini. Yang rusak biarlah rusak. Yang hancur biarlah hancur. Terlalu rumit untuk bisa menyederhanakan kejadian yang seharusnya sederhana saja....."

Aku membaca suratmu ini sambil memikirkan diriku sendiri. Sahabatku, hidup memang tidak mudah untuk dipahami. Aku pun pernah mengalami situasi yang amat menekan. Aku pernah jatuh dalam rasa frustrasi yang demikian dalam, sehingga nampaknya segala hal menjadi beku dan tak bisa lagi disembuhkan. Aku tak peduli pada hal-hal lain, kecuali diriku sendiri, penderitaanku, kemalanganku, ketidak-adilan yang kualami, ketidak-pahaman orang-orang lain terhadap pikiran dan perbuatanku. Ya, saat itu hidupku menjadi hari-hari yang teramat panjang dan malam-malam menjadi amat kelam dan pahit. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan kecuali menyesali segala apa yang telah terjadi. Aku enggan dan tak sanggup lagi memikirkan hari esok. Tidak, saat itu aku tidak lagi memiliki hari esok. Aku tergantung di bumi dengan tidak berbuat apa-apa selain dari ketidak-pedulian dan penyesalan yang berkepanjangan.

Namun aku sadar bahwa, ada atau tidak ada kita, hidup akan tetap berlangsung. Rasa sakit hati, frustrasi dan sesal hanya akan menyesatkan dan merugikan diriku sendiri. Padahal, di luar diriku, ada banyak hal-hal indah dan menarik yang seharusnya dapat kunikmati. Di luar kesedihan dan rasa putus asaku, banyak peristiwa yang layak melibatkan diriku dengan segala upaya dan kemampuan yang kumiliki. Hidup ini memang rumit, namun tak serumit apa yang ada dalam pikiran kita. Pandanglah matahari senja. Pandanglah cahaya fajar yang mulai menyingsing. Dengarkanlah nyanyian burung di pagi hari dan eongan kucing di tengah malam. Dalam sunyi, selalu ada suara yang tak pernah merasa bosan untuk mengisinya.

Maka jika saat itu aku menyerah dan menerima saja apa yang telah dan sedang kualami, mungkin saat ini kita tak pernah bisa berkenalan. Ya, sahabat, hidup ini adalah suatu perjuangan yang memang tidak mudah. Tetapi, betapa pun sulitnya ia, hidup selalu memiliki harapan-harapan baru selama kita mau melihat dan menyadarinya. Bahwa kita tak sendirian di dunia luas ini. Bahwa tak hanya kita seorang yang mengalami rasa sedih, depresi, ditinggalkan dan tak dipahami oleh orang-orang sekeliling kita. Sebab itu, sesungguhnya ada banyak hal yang dapat kita lakukan bagi kehidupan ini. Jika kita ditolak di satu tempat, tinggalkan dan carilah tempat baru dimana kita mungkin bisa berguna dan hidup kembali. Jangan menyerah. Suatu saat, sebelum kita kehilangan sang waktu, kita mungkin akan merasa betapa waktu sehari dua peluh empat jam bahkan tak cukup untuk segala kegembiraan yang kita alami. Bangkit dan bergegaslah untuk melupakan segala keletihanmu. Sebab ada banyak hal indah yang menunggumu di dunia ini. Ada banyak hal yang indah, sahabatku. Ada banyak hal yang indah.

Hidup ini sebenarnya tidak serumit yang kita duga dulu. Kerumitan hanya ada dalam pemikiran dan perasaan kita. Dan saat terkurung dalam tubuh kita, segala kerumitan itu kian menggelembung sebagai magma yang suatu saat akan meluap dan menghancurkan kehidupan kita. Padahal, saat kita hancurkan hidup kita, yang paling akan merasakan segala nyeri dan perihnya, hanya kita sendiri. Sahabatku, saat ini kegelapan kau rasakan di sekelilingmu, mengunci hidupmu, dan mengucilkan dirimu. Sesungguhnya, dunia tak pernah bisa mengucilkan kita. Kitalah yang mengucilkan diri sendiri, karena kita merasa bahwa kita tak sanggup lagi untuk menerima apa-apa yang kita rasa tak sesuai dengan keinginan kita. Padahal, haruskah dunia berlaku sesuai dengan keinginan kita? Haruskah sekeliling kita mengikuti segala pemikiran kita? Haruskah dunia berubah demi apa yang kita pikirkan sebagai kebaikan bagi kita? Mengapa harus?

Demikianlah, saat aku membaca suratmu yang panjang itu, aku merasa betapa dekatnya engkau dengan suatu kesadaran baru mengenai kehidupan ini. Ya, aku bisa mengatakan bahwa engkau hampir-hampir telah mengenal dunia ini. Hanya saja, engkau belum keluar dari sangkar kepentinganmu. Engkau belum mencoba untuk mulai memikirkan cara pikir dunia. Engkau sekedar larut dalam cara berpikirmu sendiri. Selangkah saja kau mau maju, dengan mencoba untuk merasakan dan memikirkan apa yang dipikirkan oleh dunia, maka kau akan dan sanggup menerima dan menghadapi keletihanmu itu. Kau sanggup jika kau mau untuk berubah, dan tidak memaksakan perubahan. Kau mampu jika saja kau bisa menerima, dan tidak hanya ingin memberi terus menerus apa yang ingin kau berikan. Memberi memang bagus, namun memberi tanpa keinginan untuk menerima, tidak sesuai dengan hukum alamiah kehidupan ini, sahabatku. Maka mulailah berpikir untuk tidak hanya sanggup memberi, tetapi juga mampu untuk menerima. Itu saja jawabanku, sahabat, itu saja. Semoga Tuhan, Sang Pencipta, menyertaimu selalu.

Tonny Sutedja

11 Mei 2008

SAAT-SAAT AKHIR

"Aku belum mau mati, mama.....mama........" Opa itu menangis terisak-isak. Tangannya menggapai-gapai ke arah kami. Tubuhnya yang lemah hanya tinggal kulit membungkus tulang, amat kurus. Sungguh jauh berbeda saat dia masih sehat dulu. Ketika itu tubuhnya gempal dan gerakannya pun amat lincah. Tetapi perlahan tetapi pasti, kanker paru yang menyerangnya membobol segala kegesitan, kekuatan dan keceriaannya. Sudah hampir dua bulan opa ini terbaring di ruang VIP Rumah Sakit Swasta menjalani kemoterapi dan segala upaya lain, termasuk mengundang tim-tim doa untuk membantu proses penyembuhannya. Namun, usia yang sudah menjelang 80 tahun dan kondisi fisiknya sendiri membuat segala daya upaya itu nampaknya amat mustahil. Hanya keajaiban yang dapat mengusir sel-sel kanker paru yang telah menjalar kemana-mana di seluruh tubuhnya dapat dilenyapkan. Ya, keajaiban yang tak juga kunjung dan bahkan tak pernah tiba padanya.

"Aku takut, aku takut mati mama.... Aku takut...., Mama... dimanakah kau? Mama...." kalimat yang terputus-putus itu selalu keluar dari mulutnya saat aku datang mengunjunginya. Air mata nampak mengendap dari pelupuk matanya, dan perlahan mengalir ke pipinya yang nampak tak berdaging lagi. Nafasnya tersengal-sengal, pendek dan cepat, dibantu dengan selang oksigen yang menutupi hidungnya. Dadanya kembang kempis di balik balutan selimut, menandakan suatu perjuangan keras dari sesosok kehidupan yang berupaya keras untuk tidak kalah. Kedua tangannya bergerak tak teratur, menandakan kegelisahan dan kekhawatiran menanti sang maut yang akan segera tiba. Ah, opa, tak bisakah engkau menerima kepastian itu dengan tenang dan pasrah? Tak bisakah kau menanti kedatangan detik-detik akhirmu dengan sabar dan penuh harapan?

Telah berapa kalikah engkau memandang datangnya kematian? Apa yang engkau pikirkan jika engkau sendiri yang menunggu sang maut? Ketika penyakit perlahan-lahan menggerogoti tubuhmu, perlahan-lahan menghancurkan organ-organ dalam dirimu, dan suatu kepastian telah ditetapkan, suatu vonis telah dijatuhkan, bahwa waktumu segera usai, apakah yang akan kau rasakan? Ketakutan, seperti opa itu, kepasrahan, putus asa atau kemarahan pada nasib? Ya, apakah yang kita pikirkan saat kematian sudah semakin dekat, dan kita sadar, bahwa tak ada lagi jalan untuk menunda kedatangannya? Aku sungguh ingin tahu.

Waktu ada saat kita masih sadar dalam hidup. Masih adakah dia saat kita lelap dalam mati? Ruang nampak saat kita rasa dalam sadar. Masih nyatakah dia saat kita terbenam dalam lupa? Tak heran jika kematian selalu mengundang rasa takut dan khawatir. Sebab di ujungnya, kita sungguh tak tahu apa-apa. Suatu rahasia besar. Suatu misteri. Namun, apapun juga, kematian juga suatu kenyataan yang harus kita hadapi, sama seperti hidup juga merupakan suatu kenyataan yang harus kita jalani. Dan kita tak bisa dan tak akan mampu untuk mengatasinya. Jadi, jika dia merupakan suatu kepastian, sama seperti hidup juga adalah suatu kepastian, mengapa kita mesti takut? Mengapa?

Malam, dua hari setelah kunjunganku ke opa itu, aku menerima sebuah SMS yang mengabarkan bahwa opa itu telah meninggal hanya beberapa saat setelah menerima sakramen perminyakan. Dengan perlahan aku berdoa singkat untuknya. Jangan takut, hadapilah kematianmu dengan sebuah harapan. Sebuah harapan bahwa, hidup atau mati adalah milikNya. Sebuah harapan bahwa, kita semua akan melangkah di jalan yang sama. Kita semua, tanpa kecuali akan melaluinya. Maka saat aku melawat ke rumah duka dan melihat wajah tua yang kini diam, beku dan mata yang terpejam erat tanpa setetes air yang bisa mengalir lagi, aku tiba-tiba tersenyum saat menampak bibirnya tertarik seakan tersenyum padaku. Ah, opa, kematian telah membawa segala perjuanganmu dalam hidup ini. Pergi dan beristirahatlah dalam damai. Jangan takut. Jangan sesali apa yang telah terjadi, karena hidup atau mati, toh, kita ini adalah milik Dia juga. Dia yang selalu akan menyertaimu selalu dalam cinta dan kasihNya. Amin.

Tonny Sutedja

PEMIMPIN KAMI

Pemimpin kami yang ada di pusat

Datanglah keadilanmu bagi kami

Jadilah jujur buat kami

Di dalam mengatur kami, rakyatmu

Maupun di dalam mengatur pemerintahanmu sendiri

Berilah kami, rakyatmu, kesejahteraan dan kemakmuran

Pada saat-saat yang sulit

Dan didiklah kami dengan benar

Seperti yang kami selalu harapkan darimu

Janganlah menghasut kami demi kepentinganmu

Tetapi berilah kami kebebasan untuk hidup

Sebab engkaulah pemimpin yang kami pilih

Hanya dalam jangka yang terbatas

(Kelak kami berhak menolakmu

Jika saat ini engkau menolak kami)


 

Tonny Sutedja

KEKASIH YANG HILANG

Kemanakah engkau pergi, kekasih? Dimanakah engkau berada saat ini, kekasih? Masihkah engkau mengenang aku, kekasih? Ataukah segala mimpi-mimpi yang dulu kita rencanakan bersama telah pergi, terbang bersama angin? Sungguh, sering aku ingin tahu apa yang engkau pikirkan saat ini. Aku ingin meraba perasaanmu, sayangku. Mengapa kita harus berpisah? Mengapa engkau tega meninggalkan aku? Mengapa waktu kebersamaan kita demikian ringkas? Mengapa? Jika Tuhan menyayangi kita, mengapa dia rela memanggilmu dan memotong saat-saat indah kita? Tak tahukah Dia akan kesedihan yang akan abadi menetap dalam jiwaku? Tak sayangkah lagi Dia padaku? Ya, kekasihku, jika kau sempat bertemu dengan Dia, sungguh aku ingin kau menanyakan pertanyaan yang timbul dari luka hatiku yang terdalam ini. Aku ingin bertanya padamu, padaNya, ribuan pertanyaan yang aku tahu, takkan bisa terjawab dalam hidupku ini. Sedihnya aku, sayangku. Sedihnya aku.

Malam-malam menyisakan sepi. Malam-malam menyimpan kerinduan hati. Hanya ada desir angin yang perlahan menyelusup masuk ke dalam kamarku. Kamar kita dulu. Sepenggal mimpi yang telah terputus. Sepenggal harapan yang tak pernah terjangkau. Kadang-kadang aku menangisi masa lalu. Kadang-kadang aku tersiksa oleh rasa sendirian. Tertinggal dalam hidup yang tak lagi punya makna. Harapan, adakah dia? Tuhanku, dimanakah Engkau? Masihkah Engkau ada bersama elusan angin di pipiku? Masihkah Engkau tinggal dalam jiwaku yang sepi merana? Masihkah Engkau mau mengucapkan salam dalam jiwaku yang terhimpit sepi? Mengapakah aku mesti banyak menyimpan pertanyaan dalam hati dan pikiranku? Mengapakah aku harus memikirkan semua hal-hal yang telah terjadi? Mengapakah aku mesti ada? Mengapakah kita mesti lahir dan saling mengasihi? Mengapakah engkau mesti harus lewat berlalu dalam waktu yang hanya sekejap saja? Mengapa, sayangku? Mengapa?

Aku memandang pada sahabatku yang baru saja ditinggalkan istrinya, setelah sepanjang waktu mereka bergulat melawan kanker payudara yang menyerang istrinya. Aku melihat kesedihan pada wajahnya dan mengenang masa-masa sedihku dulu. Ah, sahabat, hidup seseorang bisa usai dalam detik yang tak terduga, namun dunia tetap berputar. Nasib macam apa yang akan kita jalani, tak seorang pun dapat meramalkannya. Namun, percayalah bahwa tetesan-tetesan hidup kita, sekecil apapun, telah mampu menyegarkan dunia ini. Keberadaan kita tak pernah tanpa arti. Diri seseorang, siapa pun dia, pasti punya makna bagi orang lain. Tak seorang pun yang saat ini hidup, maupun yang telah berlalu, tidak meninggalkan jejak di hati orang-orang yang mengenalnya. Karena itulah, maka aku berani mengatakan bahwa, hidup itu sungguh indah. Ya, hidup itu indah karena kita semua mampu memberi makna bagi keberadaan dunia ini, sekecil apapun kita. Engkau, dia, kita, mereka, semua ada untuk saling melengkapi untuk sejenak, saling mengisi dan mengasihi. Sesudah itu, bahkan saat waktu kita telah usai, kita akan tetap dikenang dalam memori waktu sebagai sesuatu yang pernah ada. Bukannya ditinggalkan dan dilupakan begitu saja. Ya, kita semua mempunyai makna di dunia ini. Maka jika seseorang yang amat kita kasihi telah berlalu, kita tetap harus ada demi dan untuk orang-orang lain. Orang-orang yang mengenal dan mengasihi kita. Untuk dunia.

Aku sungguh tak tahu, sayangku, mengapa engkau harus pergi. Aku tak tahu mengapa waktumu hanya sedemikian singkat. Namun aku sadar, bahwa waktuku belum tiba. Jika begitu, percayalah bahwa aku selalu akan merindukanmu. Tetapi hidupku yang masih berlanjut ini, takkan kusia-siakan hanya untuk menangis dan menyesali segala apa yang telah terjadi. Malam memang menyimpan sepiku. Tetapi malam juga menyadarkan aku, betapa kesepian itu bukan milikku sendiri. Dunia, dunia yang kuhuni ini, dan pernah juga kau huni, menyembunyikan banyak misteri dan rahasia yang memang takkan pernah terkuak. Mungkin. Tugaskulah untuk mencoba mencari arti keberadaan kita di dalamnya. Tugaskulah untuk mencoba menyusun sepi demi sepi ini menjadi suatu lukisan indah suatu kehidupan. Dan aku tahu, seperti juga kau tahu, bahwa kelak jika waktunya tiba, dan akan tiba juga, pada akhirnya kita akan bertemu lagi sebagai suatu kesatuan dalam alam yang baru. Tuhan memang tidak nyata di dunia sekarang ini, tetapi akan segera nampak jika kita bertemu kelak. Kesepian, kesedihan dan duka cita ini akan menjadi cobaan bagiku, apakah aku layak untuk hidup, apakah aku pantas diciptakanNya, apakah aku memang bisa berguna, apakah aku mampu mempergunakan talenta-talenta yang diberikanNya sesuai dengan keinginanNya. Itu saja, sayangku, itu saja.

Maka sebelum waktuku tiba, sebelum kelak kita bersua lagi, aku hanya bisa menitipkan salam bagimu yang kini berada jauh, amat jauh dari jangkauanku. Engkau tetap bersamaku dalam hati dan kenangan yang abadi menetap di dunia yang penuh gejolak ini. Kita diciptakan dan ada bukan untuk hanya larut dalam kesedihan. Kita diciptakan dan hidup demi untuk memuliakan Dia, Sang Pemilik Kehidupan, Yang Abadi, dan kelak demi untuk kenangan-kenangan indah bagi siapa saja yang tahu dan mengenal kita. Hidup untuk berguna, bukan untuk kesia-siaan.

Tonny Sutedja

10 Mei 2008

DENY

Wajahnya menyiratkan raut kesedihan dan kepasrahan yang dalam. Kerut-kerut terukir halus di dahinya. "Kata orang, untuk berbahagia di dunia ini, janganlah tergantung pada orang lain. Aku setuju itu. Sudah dari masa remaja, aku tak pernah mau tergantung atau menggantungkan diri pada orang lain. Tetapi soalnya adalah, aku tidak tergantung pada orang lain, memang, tetapi semua orang tergantung pada diriku. Aku merasa harus mengangkat beban orang lain dan aku tak berdaya untuk melepaskan ketergantungan mereka dari hidupku. Aku tak bisa hidup hanya untuk diriku sendiri. Aku tak bisa melepaskan diri dari keterikatan orang padaku. Beban mereka, walau aku merasa keberatan, haruslah kupikul seorang diri. Maka aku harus selalu berusaha agar orang lain merasa senang. Walau pasti tidak akan menyenangkan diriku sendiri......" Dia menghela nafas dan menatap jauh ke depan.

Hidup memang tidak tergantung pada bagaimana kita memikirkannya. Hidup adalah pengalaman yang kita alami, kita saksikan dan kita rasakan sendiri. Kadang kita memandang seseorang dengan perasaan sinis saat kita menyaksikan atau sekedar mendengar apa-apa yang telah atau sedang mereka lakukan. Namun, yang pasti, dia bukanlah kita. Kita takkan pernah tahu dengan pasti apa yang sedang merundung mereka. Kita hanya melihat kulit luar, topeng wajah, suatu perbuatan, tanpa mampu mengetahui jejak-jejak di belakangnya. Manusia hidup bersama perjuangan batinnya sendiri. Manusia hidup dalam perasaannya masing-masing. Dan yang nampak mungkin, hanya segaris senyum di bibir atau tawa lepas tanpa arti apa-apa.

Demikianlah, dia setiap hari berdiri dan mengatur perparkiran di suatu kawasan pertokoan yang amat ramai dan padat. Dengan mengenakan t-shirt yang nampak kusam, dia berseliweran di antara deretan beraneka jenis mobil yang sedang terparkir sambil sesekali meniupkan sempritan murahan yang dibawanya. Hampir setiap bertemu dengannya, aku menyapanya dan dia membalasnya dengan senyuman ringan. Namun, di suatu siang yang amat terik, aku mendengar kabar kalau dia terlibat dalam perkelahian dan mengalami luka-luka serius akibat tikaman di bagian perutnya. Nampaknya perkelahian itu berhubungan dengan perebutan lahan parkir di pusat keramaian itu. Maka sore menjelang malam ini, aku menengoknya di sebuah rumah sakit tentara di kotaku.

Dia saat ini tinggal bersama ibunya yang sudah tua di sebuah rumah sederhana di tepi kanal. Bersama mereka juga hidup adik perempuannya bersama suami dan tiga orang anaknya. Iparnya, seorang pengangguran dan adik perempuan nya sendiri tiap hari sibuk mengurus ketiga anaknya yang masih kecil. Ayahnya, pensiunan tentara, sudah lama meninggal karena TBC. Maka semua beban keluarga di rumah kecil itu praktis berada di pundaknya. Pernah, sebelum mengenalnya dengan lebih baik, aku mendengar dari masyarakat sekeliling, bahwa dia adalah seorang bajingan dan menjadi kepala anak-anak nakal di kompleks tentara itu. Namun kemudian, saat kami berkenalan lewat ibunya, dan dia aktip membantu kami dalam suatu kegiatan sosial, ternyata aku menemukan sosok yang ramah walau agak keras, ringan tangan walau sedikit angkuh, cerdas dan tak pernah menolak pekerjaan yang kami rencanakan. Walau tak pernah mau dibayar sepeser pun, dia sibuk membantu kami dalam menjalankan proyek sosial kami.

Maka sore hari ini, saat menjenguknya, aku melihatnya duduk di sandaran ranjang rumah sakit, dengan tangan kanan yang terkulai bersama sebuah selang infus yang tergantung dekat kepalanya. Wajahnya beku dan terasa dingin saat aku menyampaikan salamku. Kami berbincang sejenak tentang hal-hal sederhana dan kemudian, saat aku bertanya mengapa dia harus terlibat dengan semua perselisihan dan perkelahian itu, dia pun menjawab dengan perasaan yang nampak sekali amat pahit, "Aku harus, demi uang, untuk hidup kami. Sebab kalau bukan aku, siapa lagi? Siapa yang akan memegang tanggung jawab atas mereka? Atas orang-orang yang aku sayangi? Siapa?"

Dengan sedih aku menatap wajahnya. Dengan pedih aku merasa betapa dunia ini terkadang amat tak adil. Inilah seorang bajingan di mata masyarakat namun seorang malaikat di mata keluarganya. Hidup memang seringkali hanya bisa kita pandang dari kulit luar saja. Kita, yang tiap hari bangun dengan santai lalu duduk membaca koran pagi sambil menikmati segelas kopi, dan sesaat kemudian merasa letih membaca berita-berita kekerasan yang ditampilkan setiap hari, mungkin sambil mengutuk para pelaku kekerasan itu, tak pernah memahami latar belakang sebelum kekerasaan itu terjadi. Hidup kita sering hanya terpaku pada peristiwa yang sedang terjadi, tetapi tak mampu memahami mengapa peristiwa itu sampai terjadi.

Keluar dari gedung rumah sakit ini, aku bertanya-tanya dalam hati. Dimanakah kita saat ada orang-orang yang membutuhkan kita? Pernahkah kita berpikir tentang kehidupan orang-orang lain? Tentang kesedihan orang-orang lain? Tentang nasib dan kesengsaraan orang lain? Tentang kelemahan orang lain? Atau kita hanya terpaku pada nasib, kemalangan dan kesedihan diri kita saja? Mengapa demikian banyak dari antara kita bahkan ingin melarikan diri dari nasib dan kemalangan kita tanpa pernah mau tahu kepiluan mereka-mereka yang tetap bertahan dalam menghadapi tanggung-jawabnya terhadap kehidupan ini? Ah, dia yang dianggap sampah masyarakat, ternyata jauh, ya jauh lebih kuat dari sebagian di antara kita yang hanya dapat mengeluh dan bahkan ingin mengakhiri hidup ini karena kita takut untuk memikul tanggung jawab kita atas kehidupan ini. Dia telah mengajarkan kepadaku, bahwa hidup ini, sepahit apapun, haruslah kita hadapi demi tanggung jawab kita terhadapnya.

Tonny Sutedja

MALAM INI HUJAN TURUN

Malam ini hujan turun Tapi kau tak ada Hujan turun bagaikan malaikat Yang merindukan kata Tetapi melupakan kalimat Dan diam-dia...