28 Agustus 2012

QUID ME PERSEQUERIS?


Seberapa seringkah kita bertanya-tanya, meragukan atau bahkan merasa tidak yakin akan suatu kebenaran? Bahkan kebenaran yang telah ditanamkan ke dalam pemikiran kita sejak dini selalu mengandung keragu-raguan pada saat-saat tertentu dalam hidup ini. Dan kita, manusia, telah menerima anugerah terbesar dan terutama dari Sang Pencipta bukan karena kebenaran yang mutlak dan kekal tetapi karena keragu-raguan dan ketidak-pastian yang dapat membawa kita pada pencarian kebenaran itu sendiri. Dalam proses mencari itulah kita akan mengetahui betapa sesungguhnya kita takkan pernah untuk tahu secara pasti dan mutlak. Karena segala sesuatu yang kita anggap pasti benar saat ini mungkin menjadi suatu kesalahan di masa depan. Demikianlah, sejarah seharusnya membimbing kita dalam proses untuk makin memahami apa yang saat ini dengan kukuh kita pertahankan dan perjuangkan, bahkan dengan pengurbanan sebesar apapun, bahwa tak seorang pun dapat memastikan keabadian hidupnya.

Namun, yang jelas, hidup adalah sebuah perjuangan pencarian. Dan pencarian itu takkan punya ujung selain dari ketidak-kekalan diri kita sendiri. Dan saat kita di ujung perjalanan hidup kita, apakah yang akan kita temukan selain dari ketidak-pastian yang penuh dengan kemungkinan? Dimanakah kebenaran yang kita perjuangkan itu? Dapatkah kita yakin bahwa semua perjuangan itu, bahkan dengan mengorbankan diri kita sendiri dan tidak hanya sesama kita, pasti akan membawa kita kepada kebenaran yang abadi? Tidak pernahkah ada keragu-raguan dalam perasaan kita pada saat kita menghadapi mereka-mereka yang telah menjadi tumbal dari apa yang kita anggap benar? Dan tidak pernahkah kita berpikir bahwa bukan hanya kita saja yang berjuang untuk mencari makna kebenaran hakiki kehidupan ini? Apakah hak kita untuk menghakimi perjalanan hidup orang lain? Apakah kita merasa bahwa kitalah yang telah memberi hidup bagi mereka oleh sebab itu kita layak untuk memaksakan keinginan kita kepada sesama? Siapakah kita? Mengapa kita senang menyamakan diri dengan San Pencipta? Atau bahkan sering memandang rendah Sang Pencipta dengan menganggap seakan-akan Dia patut dibela dalam kehidupan yang telah diberikan-Nya kepada kita? Tidakkah itu justru suatu pelecehan bagi-Nya? Tidak sadarkah kita atau kita merasa diri bukan bagian dari manusia dan karena itu berkuasa untuk memaksakan kebenaran kita?

Dan, suatu hari kita pasti akan berakhir juga. Suatu hari di batas yang tak pernah kita duga. Dan disaat itu tiba, apakah yang akan kita pikirkan? Rasakan dan alami? Karena pada akhirnya kita akan berhadapan dengan suatu ujung yang tak satu pun dari kita akan bisa memastikannya. Kita sendirian. Hanya sendirian. Dan jangan-jangan, jika saatnya tiba, Dia akan bertanya: “Mengapa kau menganiaya Aku? Mengapa? Manusia Ku-ciptakan untuk saling berguna satu sama lain, bukan untuk saling mengadili satu sama lain. Manusia Ku-ciptakan untuk mencari Aku dengan caranya masing-masing. Bukan untuk menjadi pengekor dan sama sekali tak mau berjuang untuk mencari kebenaran-Ku. Manusia Ku-ciptakan dengan karunia untuk berpikir, memilih jalannya. Dan hanya Akulah yang memiliki Kebenaran mutlak. Dan hanya Akulah yang punya Hak untuk mengadili. Aku tak butuh dibela. Aku hanya butuh dicintai. Dicintai. Dan kalian dapat mencintai-Ku dengan saling mencintai satu sama lain. Bukannya dengan saling membenci. Apalagi saling membenci atas nama-Ku.”

Tonny Sutedja

MALAM INI HUJAN TURUN

Malam ini hujan turun Tapi kau tak ada Hujan turun bagaikan malaikat Yang merindukan kata Tetapi melupakan kalimat Dan diam-dia...