19 Januari 2009

APA ITU DAMAI?

Pemandangan di luar amat kelam. Hujan deras sedang mengguyur kota. Jalanan yang biasanya amat ramai, kini terasa sepi. Hanya satu dua kendaraan yang lewat sambil melemparkan cahaya lampunya ke atas aspal yang lalu memantul ke atas bagai percahan sinar tanpa arah. Langit malam berwarna merah terang, menampakkan awan mendung yang tebal sedang melayang-layang menutup kotaku. Aku duduk di sebuah cafe, ditemani secangkir kopi, bersama seorang teman yang cukup lama tak pernah bersua. Sayup-sayup alunan suara dari Susan Wong bercampur dengan bunyi hempasan air hujan menemani kami. Suasana lembut. Amat lembut.

Malam itu kami bertutur panjang. Tentang kesedihan. Tentang musibah. Tentang cinta. Tentang kemanusiaan. Tentang derita dan keputus-asaan. Tentang alam, manusia dan Tuhan. Tentang apa saja yang terlintas di pikiran kami. Filsafat yang mengalir untuk berupaya memahami kehidupan kami. "Kita tak pernah belajar untuk menggunakan hati kita" katanya, "Kita lebih senang menggunakan otak kita. Tuhan tidak pernah memaksakan kehendak-Nya, kita diberi kebebasan untuk memilih, dan kita lebih senang memilih untuk memalingkan diri dari jalan-Nya. Kita ingin menempatkan Tuhan di depan kita untuk memimpin kita dan bukannya berpaling kepada-Nya...."

Aku kira, persoalan bukanlah karena kita lebih memilih berpaling dari-Nya. Seringkali hidup memaksa kita untuk tidak punya pilihan-pilihan. Seringkali kita tak mampu untuk memilih jalan yang harus kita tempuh. Penderitaan kita terbentuk dari lingkungan kita, yang sering tak bisa kita kendalikan secara utuh. Terlebih jika kita melulu hanya menggunakan hati dan perasaan. Hati dan perasaan kadang menjadi sedemikian menekan jiwa, sehingga satu-satunya jalan adalah dengan berpikir jernih untuk menerima apa yang sedang kita alami. Ya, hidup seringkali tidak sesederhana kata-kata indah, ucapan-ucapan penghibur hati dan perasaan belas kasih. Karena kita harus mengalami dan pengalaman itu sering kali amat menekan hati dan perasaan kita. Menekan jiwa kita.

Udara malam yang cukup dingin. Deraian hujan. Jalan yang sepi. Alunan lagu. Secangkir kopi hangat yang mengepulkan asap. Tiba-tiba aku merasa bahagia karena berada di tempat dan suasana saat itu. Karena aku tahu bahwa, ada banyak, ya ada banyak mereka yang pada saat yang sama, hanya bisa pasrah tak berdaya dalam kesunyian hatinya. Ada banyak mereka yang saat itu tak punya rumah, meringkuk kesepian, sedang mengalami bencana peperangan yang tak diinginkannya. Mereka yang sedang kelaparan dan terlunta dalam kepahitan akibat pemaksaan, kebohongan, kelemahan dan ketidak-berdayaan. Dan itu semua adalah proses mengalami, bukan hanya dalam kata-kata yang tertulis di koran atau majalah yang bisa kita beli dengan mudah di tepi jalan.

Aku memandangnya. Dan aku sadar bahwa semua pengalaman dari mereka-mereka yang menderita dan tertindas mungkin saja menimbulkan rasa iba dan belas di hati kita. Tetapi tetap saja berbeda antara yang mengalami dan yang mengetahui. Karena dengan hanya mengetahui, tanpa terlibat langsung dalam persoalan-persoalan kehidupan itu, kita selalu punya pilihan untuk mengelak. Kita selalu punya pilihan untuk menghindar. Kita bebas untuk memilih, namun ada banyak, ya ada banyak mereka yang tak punya pilihan lain selain dari menghadapi dan menerima penderitaan itu. Ya, tak ada pilihan lain. Maka sungguh sulit untuk bisa memahami penderitaan orang lain tanpa kita sendiri pernah mengalaminya. Luar biasa sulitnya jika bukannya mustahil.

"Kita tidak mendengarkan-Nya dengan hati. Mari kita gunakan hati kita. Kita gali hati kita untuk mendapatkan-Nya kembali..." katanya kembali. Ya, kita harus mendengarkan hati kita sendiri. Namun kita juga harus memikirkan dan mempertimbangkan banyak kemungkinan yang tidak melulu dari kepentingan kita sendiri. Hidup tidaklah sekedar hanya dengan perasaan. Jika itu yang kita jalankan, maka kita akan tenggelam dalam ruang tertutup dengan pintu-pintu yang terkunci. Saksikanlah penderitaan, rasakanlah kesakitan yang terjadi, kesakitan yang bukan hanya pada tubuh namun terutama pada jiwa yang tak berdaya berbuat apa-apa. Mereka yang dibohongi, mereka yang ditinggalkan dan disia-siakan. Mereka yang tenggelam dalam kesunyian hidup karena tak punya apa-apa untuk bangkit. Dan ada banyak, ya ada banyak di dunia ini mereka yang sedang berseru kepada-Nya. "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"

Aku menghirup kopiku yang mengepul. Suatu perasaan hangat dan puas mengarungi tubuhku. Di sini aku merasa aman, nyaman dan menikmati segala apa yang tersedia bagiku. Ruang yang sejuk. Alunan lagu. Cahaya yang remang-remang. Suasana melankolis dari hujan yang menderasi bumi. Aku merasa bebas dari derita. Bebas dari ketak-nyamanan udara malam yang terbuka. Bebas dari terpaan hujan di luar. Tiba-tiba aku berpikir: "Ah, seseorang yang tak pernah merasa kekurangan, mampukah merasakan kekurangan orang lain? Seseorang yang tak bersedih, mampukah merasakan kesedihan orang lain? Seseorang yang tak pernah menderita, mampukah merasakan penderitaan orang lain?..." Tuhan memang tidak pernah membiarkan kejahatan terjadi. Manusialah yang membiarkannya. Dengan melakukannya. Dengan bersikap tak peduli. Dengan melupakannya. Manusia yang merasa dirinya mewakili Tuhan. Manusia yang bersikap sebagai Tuhan. Hujan di luar semakin deras ......

Tonny Sutedja

16 Januari 2009

DATANGLAH KE GAZA

Bertanya pada hati, aku bertanya

Apa yang kucari? Apa yang kuingini?

Untuk apa aku disini? Untuk apa aku ada?

Bertanya pada diri, aku bertanya


 

Haruskah engkau ada, adakah engkau?

Mengapa tetap bisu? Mengapa tetap hampa?

Haruskah kau ada? Haruskah kau bicara?

Hanya angin lewat, lewatlah angin


 

Daun-daun berguguran

Tetes-tetes gerimis bercucuran

Tangan-tangan menggapai meminta

Meminta, meminta, meminta


 

Keringlah air mata

Habislah semangat

Tubuh terkapar diam

Di atas bumi kelu


 

Darah!

Maut!


 

Bertanya padamu, aku bertanya

Mengapa manusia saling memangsa?

Dalam semangat apakah jiwa-jiwa kau bentuk?

Nafasmu, oh nafasmu, menyuarakan harapan


 

Tapi kau lewat

Diam


 

Berguguran bunga-bunga

Gerimis tiba bersama cucuran darah

Dan aku bertanya pada siapa aku bertanya

Jawabmu hanya kata-kata yang bisu


 

Bisu

Dan kau lewat

Hanya lewat

Tak mampir


 

Lagi


 

Tonny Sutedja

GAZA

"Mengapa Tuhan membiarkan perang di Palestina terjadi?" demikian tanya seorang anak kecil kepadaku lewat SMS. "Ya, mengapa Tuhan membiarkan kekerasan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan kita? Mengapa manusia bertindak sebagai jagal bagi sesamanya? Jika Tuhan ada, bagaimana IA bisa membiarkan pembantaian, bahkan sering atas nama-NYA? Mengapa?" Ah, nak, aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan ini. Aku tidak tahu. Karena aku sendiri sering menanyakan hal yang sama terhadap diriku. Pertanyaan yang sama.

Ketika kusaksikan bom berdentuman di pemukiman dan teriakan kesakitan para korban, ketika aku membaca penderitaan manusia-manusia yang lemah dan tak berdaya, ketika aku mendengarkan kabar-kabar yang mengiriskan hati tentang tubuh yang remuk bertebaran akibat ledakan, aku pun selalu merasa bimbang pada kemampuan kita untuk memiliki cinta kasih. Ah, jelas kita memilikinya, namun nampaknya cinta kasih itu tertuju hanya pada mereka-mereka yang dekat pada kita, mereka-mereka yang kita kenali, mereka-mereka yang se paham dengan kita. Di luar itu, kita saling terasing satu sama lain. Saling terasing.

Dalam banyak hal, kita hanyalah nafsu untuk saling menguasai, nafsu untuk membalas, nafsu untuk tidak terkalahkan, nafsu untuk menghancurkan yang berbeda dengan kita. Kita tak pernah memikirkan para korban yang berjatuhan karena nafsu kita. Kita hanya memikirkan ambisi saat kita mampu menaklukkan lawan kita. Karena semua yang lain, semua yang berbeda, semua yang tidak sama dengan kita adalah musuh. Ya, dan kita sering menyamakan pemikiran kita, nafsu kita, ambisi kita dengan kehendak Tuhan. Maka kita berjuang untuk menghancurkan, saling menghancurkan, karena kita merasa bahwa kita adalah pembela-NYA. Dan jika kita mati, kita percaya bahwa IA akan menerima kita, IA akan memberi kita kebahagiaan surgawi. Tetapi benarkah itu, nak? Benarkah itu?

Ah, aku tak tahu jawabannya, nak. Aku sungguh tak tahu. Kita dilahirkan, kita ada, kita hidup, kita bergelut dengan segala macam hasrat, nafsu, ambisi dan kekuatan kita. Tetapi seharusnya kita juga memiliki nalar dan nurani untuk menentukan kebaikan apa yang harus kita wariskan kepada dunia. Kebaikan nak, bukan kehancuran. Tetapi lihatlah ke seputarmu. Saksikanlah kekejaman yang bisa kau tahu tetapi mudah-mudahan tak kau alami sendiri. Karena ada ribuan anak, bahkan mungkin jutaan anak telah terlibat langsung sebagai korban dalam proses hancur menghancurkan. Karena segala upaya atas nama politik, agama, bisnis, kelompok maupun hanya untuk pribadi orang-orang tertentu, telah membuat kita kehilangan kemanusiaan kita. Kehilangan daya pikir kita. Kehilangan cinta kasih kita. Bahkan kita telah kehilangan Tuhan.

Orang-orang itu nak, mengatakan bahwa Tuhan berada di belakang mereka. Ya, Tuhan berada di belakang mereka. Tak tahukah bahwa seharusnya Tuhan berada di depan kita? Memimpin jalan kita dan bukannya kita yang memimpin jalan-NYA? Mengapa Tuhan membiarkan perang di Palestina terjadi, tanyamu. Mengapa? Itu karena anggapan manusia, nak. Anggapan manusia melulu. Bahwa merekalah yang istimewa. Merekalah yang paling patut untuk hidup. Merekalah orang-orang pilihan. Lain dari itu, tak pantas dibiarkan ada. Lebih pantas untuk dimusnahkan. Ah, nak bersedihlah jika ingin, tetapi hidup nampaknya memang demikian. Memang demikian.

Maka bagimu, bagiku, bagi kita, sesungguhnya pertanyaan itu muncul bukan untuk dijawab dengan argumentasi panjang, bukan dengan kata-kata indah menyejukkan hati, bukan dengan mengutip ayat-ayat tertentu. Bagi kita nak, ialah memperjuangkan bagaimana agar kita dapat menghasilkan upaya untuk mengurangi penderitaan sesama kita. Kita toh harus mengakui keterbatasan kita untuk mengatur pemikiran seseorang karena jika itu kita lakukan, lalu apa bedanya kita dengan mereka yang mau mengatur pikiran dan kehidupan orang lain dan karena itu merasa tak bersalah untuk menghukum bahkan membantai sesamanya? Bukankah begitu nak?

Hidup seringkali terasa pahit, mengecewakan dan sering kita bertanya-tanya tentang peran Tuhan dalam segala kekacauan dan kemelut kehidupan kita. Dimana DIA? Dimana? Ah, nak, Tuhan ada di dalam hatimu. Di dalam hatiku. Di dalam hati setiap orang. Hanya jauh lebih sering tak kita kenali. Karena segala hasrat, ambisi, nafsu, kebencian, dendam, telah membuat IA tenggelam jauh ke belakang. Jauh ke belakang. Jauh............

Tonny Sutedja

MAKNA KEHIDUPAN

Ada yang lahir. Ada yang mati. Ada yang datang. Ada yang pergi. Ada yang berbahagia. Ada yang berduka. Namun sebagian besar perjalanan kita berada di antaranya. Sesekali kita mengalami puncak dan sesekali pula kita tenggelam ke dasarnya, namun jauh lebih panjang waktu kita berada di tengah-tengah antara puncak dan dasar itu. Hidup memang demikian teman. Dari awal keberadaan kita di dunia ini, dimulai dengan tangisan kita tetapi diiringi tawa gembira orang tua kita. Maka tangis dan tawa sungguh tergantung pada cara kita memaknai apa itu rasa derita maupun rasa gembira yang kita alami.

Pada hakekatnya, hidup berjalan terus. Kita ada, kita tiada, seakan-akan berhembus tanpa arti. Kita hanya lewat sejenak dalam sejarah yang panjang, mengisinya sekali jalan, lalu pergi bagaikan angin yang berhembus. Lenyap ditelan waktu. Siapakah diri ini? Mengapa aku harus ada? Mengapa aku harus berpikir? Mengapa aku harus mengalami? Mengapa? Ah, tidakkah tanpa mengalami, tanpa berpikir dan tanpa ada, kita tak pernah dapat menikmati rasa bahagia? Dan bukankah tanpa derita dalam kehidupan kita yang singkat ini kita tak dapat memahami kebahagiaan? Hidup memang sudah demikian teman.

Kita ada. Kita dilahirkan. Kita menangis. Kita tertawa. Kita berpikir. Kita mencipta. Kita menjalani kehidupan ini sebagaimana adanya sekarang karena kita sadar bahwa kita ada. Tanpa kesadaran itu, tanpa kemampuan untuk mengalami, memikirkan dan mendalami kehidupan ini, kita tak mungkin bisa tertawa bahagia. Atau menangis sedih. Semua ini adalah bagian dari kehidupan yang berjalan bersama waktu. Dan kita ada dan terlibat di dalamnya, bukan tanpa makna. Kehidupan berjalan justru karena kita sadar bahwa kita ada. Bukankah demikian teman?

Maka saat kau berduka, pikirkanlah masa bahagiamu, karena suatu saat dia akan tiba kembali. Dan saat kau berbahagia, kenanglah masa dukamu, yang mungkin akan tiba lagi. Siapa yang tahu? Siapa yang mampu meramalkan apa yang akan ditemuinya di masa esok? Siapa? Dan jika hari-harimu mulai beranjak menuju petang, jika saat kedua kakimu mulai mudah goyah, dan daya ingatan pun memudar, kenalilah musimmu sendiri. Kita hanya insan yang fana, hidup dalam sepenggal waktu dari panjangnya masa. Dan kita bisa merasa lega. Bahwa saat untuk istirah telah dekat. Dan pastikanlah semuanya telah berjalan dengan baik. Kita telah menjejaki hidup ini dengan sebaik-baiknya daya pikir kita. Dengan sebaik-baiknya talenta yang kita miliki. Apa itu derita dan apa itu kesenangan telah kita lalui, telah kita pahami dan telah kita limpahkan bagi dunia ini. Bagi dunia ini.

Ada pagi. Ada malam. Ada pertemuan. Ada perpisahan. Segala sesuatu ada waktunya. Segala sesuatu ada musimnya. Maka jika ada saat-saat dimana kita merasa demikian pahit, kecewa dan putus asa, saat-saat dimana terasa betapa dunia demikian kelam dan berat menghimpit jiwa kita, akan tiba pula waktunya kita kan bergembira dan merasa amat lega, beban kita akan segera menguap lenyap dan suatu cahaya yang demikian cemerlang mengiringi keberadaan kita. Kita akan melayang kemana angin berhembus. Di tempat dimana Sang Pencipta kita bertahta. Demikianlah makna kehidupan ini, teman. Demikianlah.....

Tonny Sutedja

11 Januari 2009

SEORANG LELAKI TUA DAN SEORANG WANITA REMAJA

Ada orang yang berusia lanjut, namun hanya mengalami sedikit. Ada pula yang baru memasuki masa remajanya tetapi telah mengalami banyak, ya banyak hal dalam kehidupan ini. Sulitnya adalah, sebagian dari mereka-mereka yang berusia lanjut merasa telah mengetahui banyak dan karena itu merasa mampu untuk mengadili mereka yang jauh lebih muda dari mereka. Padahal, apa artinya usia selain dari waktu yang berjalan dalam kalender buatan manusia?

Suatu pagi yang belum terlalu ramai, lelaki tua itu bersama kelompok teman-temannya, mendatangi rumah wanita remaja itu. Mereka menggerebek masuk, lalu menarik keluar wanita itu, menjambak rambutnya, menempeleng wajahnya dan menendangnya hingga jatuh tersungkur di tanah. Wanita itu berteriak kesakitan, rasa takut nampak jelas di matanya, namu dia tidak menangis. Tidak. Lelaki tua itu memakinya, "Pelacur hina! Enyah dari kampung kami. Kami tidak butuh wanita jalang seperti kalian!" dan seorang lain berseru, "Ayo telanjangi dia..." sambil tertawa. Ya, sambil tertawa. Beberapa pria itu melakukan pelecehan terhadap tubuh wanita itu, yang tidak berdaya sama sekali, sambil dengan setengah histeris berteriak, "Pelacur... Pelacur..." Ah, siapakah yang pelacur sebenarnya?

Lelaki tua itu berusia sekitar 60 tahun. Lahir dari keluarga yang berada dan taat pada agamanya. Dibesarkan dari orang tua yang amat memanjakannya, saat remaja bersekolah di sekolah yang cukup ternama, lalu kemudian menikah dan mempunyai 6 orang anak. Hidup secara tenang dan berkecukupan dari beberapa usaha hasil warisan orang tuanya. Dia menjalani hidup secara lurus dan setahuku, nyaris tanpa gejolak. Amat membenci perbuatan-perbuatan yang dianggapnya dosa dan tidak sesuai dengan perintah agamanya. Dia amat menjunjung kebenaran yang dianutnya secara keras dan, bahkan fanatik.

Sebaliknya, wanita remaja itu lahir dari keluarga penarik becak yang punya beberapa istri, pemabuk serta tidak mampu untuk menghidupi dirinya sendiri. Wanita itu bersekolah namun tidak menamatkan sekolah dasar karena tidak punya biaya. Masa remajanya diisi tanpa pekerjaan apapun, berpacaran dengan seorang tukang becak lainnya, yang lalu menghamilinya kemudian menghilang entah kemana. Dengan terpaksa dia melahirkan seorang bayi perempuan dengan bantuan dukun tua. Dan dia tidak mampu untuk membiayai bayinya sendiri, sebab itu lalu dijualnya ke seseorang yang menjadi makelar untuk keluarga-keluarga yang mandul. Wanita itu kemudian bekerja malam di sebuah tempat karaoke sebagai penghibur bagi lelaki yang kesepian. Gaji yang diterimanya amat kecil untuk mampu menghidupi dirinya dan juga ibunya yang sekarang menjadi tanggungannya, sementara ayahnya sendiri telah meninggalkan mereka beberapa waktu yang lalu (ayahnya menceraikan ibunya). Maka dengan terpaksa dia menerima tawaran dari tamu-tamu yang kesepian untuk menemani mereka di hotel-hotel murahan di dekat tempat kerjanya agar mendapatkan penghasilan tambahan. Ada tawa di wajahnya namun tangis di hatinya.

Lokasi rumahnya di sebuah perkampungan yang biasa-biasa saja dan nampak normal. Keluarga-keluarga saling memperhatikan, saling mempergunjingkan dan bahkan saling menyindir dan saling iri hati seperti di daerah mana saja yang kehidupannya keras dan padat, di sebuah kota besar yang kejam terhadap mereka yang tak memilki apapun untuk dibanggakan. Kehidupan malam yang dijalani wanita itu lalu menjadi gunjingan dan sindiran dari tetangga-tetangganya sendiri yang berdekatan. Tampilannya yang setiap malam nampak menur dan berpupur, bajunya yang kelihatan modern dan seksi, serta kebiasaannya sesekali pulang saat fajar sudah hampir jelang, akhirnya membuat lelaki tua itu menjadi gusar karena perbuatan-perbuatan itu, baginya, merupakan pelanggaran akhlak dan susila yang tak bisa dibiarkan begitu saja jika tidak ingin Tuhan marah. Ya, jika tidak ingin Tuhan marah, katanya. Maka dengan beberapa orang, dia pun mendatangi rumah wanita muda itu, mengobrak-abriknya dan membiarkan wanita itu terhempas di tanah, nyaris setengah telanjang, disaksikan oleh ibu wanita itu yang telah tua dan tak hentinya menangis minta tolong. Tetapi orang-orang tidak peduli. Bahkan Tuhan pun tidak peduli. Wanita itu diusir dari rumahnya sendiri. Dari rumahnya sendiri.

Siapa yang ingin bersedih, bersedihlah. Tetapi pengalaman seringkali takkan mampu dituturkan dengan baik selain dari menjalaninya sendiri. Ya, hidup adalah mengalami. Dan seseorang yang hidupnya nyaman dan tenteram, merasa taat dan alim, tidak kekurangan sesuatu dan tidak pernah tertipu oleh sesamanya karena memiliki kekuatan-kekuasaan-kekayaan dan seorang jantan, takkan pernah tahu apa artinya hidup itu. Baginya, Tuhan selalu bersama mereka. Baginya, Tuhan adalah mereka. Tangis seorang wanita hanya topeng atas kenikmatan yang diingininya sendiri. Tetapi betulkah itu suatu kebenaran? Sungguhkah bahwa Tuhan amat membenci wanita-wanita penghibur itu? Dimanakah para lelaki yang menghibur diri bersama mereka? Dimanakah? Mungkin, saat itu, dengan manisnya mereka sedang memeluk istrinya sendiri sambil merayu-rayu menyenangkan hati. Mungkin, saat itu, mereka sedang memangku putrinya sambil menyanyikan lagu nina bobo. Atau bahkan sedang membujuk-bujuk cucunya yang sedang merengek-rengek. Mungkin. Siapa yang tahu?

Kesedihan adalah kesedihan. Kepahitan adalah kepahitan. Tetapi mengadili dan mendakwa mereka-mereka yang lemah, mereka-mereka yang tak mampu namun tetap berusaha dan berjuang untuk hidup dengan cara apapun –karena kita tak mampu memberi pilihan lain– seakan menambah beban kehidupan ini menjadi kian berat. Saat itu, kita sebenarnya telah gagal untuk mengubah seseorang menuju kebenaran. Sebaliknya kita bahkan mendorong orang itu makin dalam ke dalam kegelapan hidupnya. Jadi, siapakah kita sebenarnya? Apakah kita merasa, bahwa dengan bertambahnya usia kita, kita akan makin matang dan makin berpengalaman menjalani hidup ini? Apakah dengan tindakan yang keras terhadap seseorang yang kita anggap berdosa dan bersalah berarti kita telah memenuhi perintah Tuhan? Ah, siapakah kita ini sesungguhnya, teman? Siapakah?

Tonny Sutedja

10 Januari 2009

DENDAM, UNTUK APA?

"Dendam, untuk apa?" tanyanya. Matanya tajam memandangku. Kerutan di bawah pelupuknya nampak jelas. Rambutnya sebagian besar telah beruban. Garis ketuaan dan derita membayang di wajahnya. "dendam, untuk apa?" tanyanya pula. Aku tak mampu menjawabnya. Dia, saat ini berusia 55 tahun, seorang pria yang tetap membujang. Masih keluarga jauh denganku. Aku tahu dia. Seorang pria yang amat baik dan lugu. Dengan kebaikan dan keluguannya, sering dia dimanfaatkan oleh teman-temannya yang telah banyak mengambil keuntungan dari kemampuannya. Sementara dia sendiri, saat ini, sama sekali tak memiliki apa-apa. Selain dirinya sendiri. Dirinya sendiri.

Dia telah bekerja di banyak tempat. Dan memiliki banyak kemampuan. Tetapi sungguh nyata, bahwa dia sendiri tetap hidup dengan kekurangan dan kepapaannya. Bagaimana ini dapat dijelaskan? Dia bekerja untuk kepentingan orang lain. Dia bekerja dan segala hasilnya diraup oleh yang mempekerjakannya. Dia telah masuk hutan di Kalimantan, dan terakhir di Papua. Sebagai mandor para pekerja yang bertugas untuk menebang pepohonan. Aku sendiri tak tahu mengapa saat ini dia nampak seakan terlunta-lunta. Terakhir, tuturnya, saat bertugas di Papua, dia bekerja si sebuah unit perusahaan yang akhirnya bangkrut karena terlibat illegal loging. Upahnya tak dibayar sesen pun. Dan dia pulang tanpa memiliki apa-apa. Bagaimana ini bisa terjadi?

Dulu, semasa aku masih kecil, aku ingat dia sebagai seorang remaja yang sangat lincah dan mudah bergaul. Dengan tangkas, dia akan membetulkan semua permainanku yang rusak. Membetulkan gasingku, membuatkan aku layang-layang sekalian dengan benangnya yang dilumuri adukan dari kaca halus agar dapat menang dalam persaingan tanding layang-layang yang semasa kanak-kanak dulu sering kami adakan. Dia kukenal sebagai seorang remaja yang memiliki banyak teman dan sahabat, membentuk gang-nya sendiri dan sesekali terlibat dalam perkelahian antar gang yang masih sering terjadi. Tetapi bagaimana pun, aku kenal dia sebagai seorang pria yang lembut hati dan pemurah. Serta ringan tangan membantu kami, anak-anak yang masih senang berkeliaran dengan mainan dari kulit jeruk yang dibuatkannya bagi kami.

Setelah aku bersekolah, kemudian aku mulai kehilangan kabar darinya. Aku masih bertemu beberapa kali, tetapi hanya selintas dalam beberapa kegiatan keluarga yang diadakan. Yang kutahu kemudian hanya bahwa dia, selepas SMA bekerja di Jawa, lalu ke Kalimantan dan terakhir di Papua. Aku bertemu kembali dengannya saat melayat ke rumah duka saat ibunya meninggal. Dengan terkejut aku memandangnya dan menjadi pangling. Dia telah berubah. Berubah sekali. Nampak jauh lebih tua dari umurnya, wajahnya kuyu dan tubuhnya yang dulu nampak berotot dan amat kuat, kini menyusut banyak. Waktu nampaknya telah memakan semua yang dimilikinya. Segalanya.

Dan beberapa waktu setelah itu, kami berjumpa kembali lalu saling bertukar kisah. Dia menyatakan kekesalannya terhadap beberapa orang yang telah menipunya habis-habisan. Yang telah memanfaatkan dirinya namun tak pernah memberikan imbalan setimpal. Aku terpana, takjub sekaligus heran. Inikah dia, remaja yang dulu nampak amat aktip, kreatip dan nampaknya bahkan mampu menguasai seluruh dunia dengan keahliannya. Ternyata tersisa hanya sesosok diri yang nampak lemah, pasrah dan tak berdaya. Dia juga tak menikah hanya karena telah ditolak oleh gadis yang dicintainya. Dan masih dicintainya hingga sekarang. Apakah yang dia alami sebenarnya? Kekecewaan? Dendam? Putus asa? Kepasrahan terhadap nasib? Apakah yang dipikirkannya? Aku tak tahu. Aku sungguh tak tahu.

"Dendam, untuk apa?" tanyanya kembali saat aku menanyakan apakah dia mendendam terhadap mereka-mereka yang telah menipunya. "Apakah balas dendam akan mampu mengembalikan semua harapanku? Apakah balas dendam bisa mengembalikan semua waktu-waktuku yang telah hilang? Bisakah? Jika tidak, untuk apa aku harus mendendam?" Aku berdiam diri. Aku tak mampu menjawabnya. Hanya wajahnya yang nampak tua, terus menerus membayangiku. Bahkan saat aku meninggalkan rumah yang ditinggalinya, rumah kecil yang dipenuhi oleh beberapa keluarga sekaligus, karena dia sendiri tak memilki rumah sendiri, wajahnya terus membayangiku.

Apakah ini nasibnya? Adakah nasib manusia itu memang telah ditentukan, sehingga kita harus menerima semuanya dengan kepasrahan dan sekaligus apatisme? Apakah melawan ketidak-benaran memang suatu hal yang tidak perlu dan sekaligus tidak berguna? Mendadak, ya mendadak saja aku berpikir, bahwa dia mungkin tidak merasa dendam lagi terhadap mereka-mereka yang telah menipunya dan telah menjerumuskannya ke dalam ketidak-berdayaan seperti yang dialaminya sekarang ini. Tidak, dia memang tidak mendendam terhadap dunia ini. Tetapi, ya tetapi bukankah sebagai akibatnya, dia ternyata mendendami dirinya sendiri? Dengan membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa putus asa, tidak berguna dan tidak mau berbuat apa-apa lagi? Jadi dimanakah dirinya kini? Dimanakah dia yang sesungguhnya? Dimanakah?

Tonny Sutedja

11 JANUARI 2009

Wahai, hujan dengan segala kekuatannya mengguyur dari langit yang merah sesaat sebelum fajar tiba. Dan angin, petir dan guruh mengiringinya dalam satu simponi yang berpadu sebagai suatu daya alam. Aku memandang pada genangan air yang memenuhi jalan depan rumahku. Beberapa lembar daun nampak melayang terbang, meliuk-liuk terbawa angin, lalu hinggap di atas genangan air dan terbawa pergi. Aku duduk dan menikmati semua itu sambil mendengarkan irama lagu dari Enya yang sayup-sayup dari hifiku. Suasana terasa lembut dan syahdu. Terasa dingin dan damai. Hatiku ingin bernyanyi....

Bagiku, bangun sesaat sebelum fajar tiba, adalah suatu kenikmatan yang paling murni. Merasakan kesegaran udara yang dingin, mendengarkan suara-suara yang datang dari alam, menikmati panorama langit yang perlahan berubah warna selalu membuatku terpana. Ah, betapa indahnya alam ini. Betapa indahnya hidup ini. Bukankah dalam keadaan apapun kita, alam selalu menyapa kita dengan kemolekannya? Dan jika hati kita peka, kita selalu dapat memahami isyarat yang diberikannya. Bahwa, kesedihan dan kesepian kita hanya ada dalam hati dan pikiran kita saja. Bahwa, jika kita berusaha untuk tidak hanya terpaku pada kesedihan dan kesepian kita, kita dapat menikmati panorama yang telah diberikannya kepada kita semua. Dimana pun kita berada. Apapun keadaan kita. Dan suara-suara yang dapat kita resapkan ke dalam jiwa kita, selalu akan membuat kita ingin bernyanyi....

Nyanyikanlah sebuah lagu. Nyanyikanlah sebuah lagu tentang suasana yang sedang bermain di depan kita. Nyanyikanlah sebuah lagu tentang rasa hatimu. Nyanyikanlah sebuah lagu yang membuat hatimu bergetar dalam kerinduan dan harapan. Lagu tentang alam. Lagu tentang cinta. Lagu tentang rasa damai yang mengendap dalam jiwamu. Maka alam pun ikut bernyanyi bersamamu. Dalam hujan. Dalam angin. Dalam petir dan guruh. Dalam dedaunan yang terbang melayang dan hinggap di atas genangan air. Dalam air yang mengalir entah kemana. Dalam derita dan kesunyian kita. Dalam kesedihan dan kesepian kita. Dalam apapun kita, marik kita nikmati sejenak alam yang ingin bernyanyi bersamamu ini....

Tuhan. Tuhan bersembunyi dalam alam. Tuhan bersembunyi dalam waktu. Tuhan bersembunyi dalam apapun yang nampak dan tak nampak. Tuhan bersembunyi dalam diri kita. Tuhan yang selalu kita cari tetapi sering gagal kita temukan, hanya karena kita tak sadar bahwa Dia tak kita temukan hanya karena Dia ada dalam segala sesuatu yang kita lihat. Dan karena itu kita pangling dan tak mengenalnya. Apa yang paling dekat dengan kita, seringkali menjadi apa yang paling tak kita sadari keberadaannya. Maka aku menemukan Dia turun bersama guyuran hujan. Ikut berhembus bersama kencangnya angin. Nampak bercahaya dalam kilatan petir. Dan bersuara dalam bunyi guruh yang bergelombang tiba. Ah, aku ingin bernyanyi padaMu....

Lagu. Lagu indah tentang cinta dan derita. Lagu syahdu tentang suka dan duka. Lagu lembut tentang damai dan perang. Lagu tentang rindu dan dendam. Lagu tentang rasa ini. Bersamamu, aku ingin bernyanyi. Bersamamu, aku ingin bertutur. Bersamamu, aku ingin menulis sebuah sajak. Sajak yang mengalir dan terbenam dalam segenap perasaan yang memenuhi hatiku pagi ini. Ada hujan. Ada petir. Ada guruh. Ada angin. Ada genangan air. Ada nyanyian Enya. Ada aku. Ada Kau. Ada segala-galanya yang kuimpikan ada. Lagu. Laguku. Ah, aku ingin bernyanyi bersamamu sekarang....

Tonny Sutedja

09 Januari 2009

SAAT HUJAN TURUN

Hujan turun sepanjang siang. Deras. Disertai petir dan guruh. Di emperan tempat deretan rumah toko yang berjejeran di sepanjang jalan sulawesi, aku melihat sepasang remaja sedang berteduh. Mereka duduk di atas sadel motor sambil bercengkerama. Dan menikmati sebungkus coklat yang mereka bagi bersama. Di samping mereka, kulihat seorang wanita tua, sedang jongkok sambil tangannya membongkar-bongkar buntalannya, lalu mengambil sebungkus makanan yang nampak hasil dari aneka macam hidangan yang telah terbuang, lalu dikumpulkannya, menjadi suatu jenis hidangan baru yang kini dinikmatinya dengan enak.

Di sekitar mereka, lalu lalang orang-orang, beberapa dengan membawa payung agar terhindar dari basah, beberapa lain tapi tak banyak, acuh tak acuh menerobos derasnya hujan dengan memakai jas pelindung. Mobil, motor, becak, pejalan kaki berseliweran dibawah derasnya hujan. Semua nampak bergegas. Namun sepasang remaja itu seakan tak memperdulikan waktu. Dan orang yang lalu lalang di seputarnya. Mereka bercakap dan saling bercakap, hidup ini memang penuh dengan topik yang takkan habis diperbincangkan. Sementara wanita tua itu pun asyik menikmati bungkusan makanan campur yang dikumpulkannya sambil mengais-ngais dari tempat sampah. Sendirian.

Aku terpana menyaksikannya. Padahal, beberapa jam yang lalu, aku berada dalam situasi panas perdebatan satu keluarga mengenai harta yang mereka perebutkan. Harta, untuk apakah? Kebahagiaan seseorang sesungguhnya tidak pernah tergantung pada berapa banyak yang dimilikinya. Kebahagiaan kita tergantung pada bagaimana cara kita menikmati milik kita sendiri. Aku terkenang pada satu keluarga lain yang memiliki sebuah rumah yang amat besar dan mewah. Namun nyaris sepanjang hidup, mereka hanya berada di satu ruangan yang sama. Sementara ruang lain di rumah itu tertinggal hampa tanpa tersentuh.

Hujan turun amat deras. Genangan air mulai naik di sisi-sisi jalan itu. Namun sepasang remaja itu seakan tak peduli. Dan wanita tua itu pun tak peduli. Mereka tenggelam dalam dunia masing-masing. Aku melihat mereka. Aku melihat ke sekelilingku juga. Pada orang-orang yang berseliweran entah akan kemana. Dan aku sadar, betapa kita masing-masing hidup di dunia yang satu ini, sambil membawa dunia kita sendiri. Demikian jauh, tak tersentuh. Demikian asing, tak dikenali. Dan aku pun hidup dalam dunia dan alam perasaanku sendiri pula. Kita masing-masing tenggelam dalam kenikmatan masing-masing. Jauh. Asing. Semuanya ada dalam hati kita. Dalam perasaan kita.

Hari makin siang. Dan hujan kian menderas. Langit kelabu sesekali diseling cahaya kilat dan suara guruh. Jalan sulawesi tetap ramai dan terkadang tersendat akibat kendaraan yang parkir akan bergerak. Semuanya bergerak apa adanya. Kehidupan bergerak apa adanya. Udara yang cukup dingin ini membuatku tersadar. Betapa sianya semangat hidup yang hanya bergerak untuk terus mencari dan memperjuangkan materi tanpa kita mampu menikmatinya. Betapa kita sering hanya dapat mempertontonkan apa yang kita miliki, tanpa kita sendiri bisa mempergunakannya. Hidup kita ini hanya sebatas pada apa yang dapat raih dalam jangkauan tangan. Tetapi kita ingin menguasai dunia. Kita ingin menguasai segalanya. Tetapi mampukah kita menghentikan hujan?

Tonny Sutedja

07 Januari 2009

MENCARIMU

Bagai angin

Kucari engkau

Yang berasa di sekujur diriku

Namun tak nampak


 

Bagai angin

Kukejar engkau

Seakan mengejar

Bayangan sendiri


 

Lihat!

Akulah merpati

Yang tak bersarang

Akulah harimau

Yang tak bertaring


 

Mendesak memanggil engkau

Datanglah! Datanglah!


 

Tetapi hanya ada angin

Yang mengelus rambutku

Tetapi hanya ada angin

Yang menggigilkan tubuhku

Dan engkau tak juga datang


 

Tak juga datang


 

Lirih suara angin

Berbisik di telingaku

Katanya:

Aku ada di hatimu

Aku ada di hatimu

Sendiri


 

Akulah:

Sepimu!


 

Tonny Sutedja

8 JANUARI 2009, SEBELUM FAJAR MENYINGSING

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan hampa. Ada sesuatu yang terasa hilang dari hatiku. Di luar, langit belum lagi terang. Dan udara yang dingin menyergap tubuhku saat aku membuka pintu rumahku. Gerimis sedang turun. Selain itu hanya ada sepi. Hanya sepi. Langit memerah karena mendung tebal sedang berarak. Bayang-bayang pohon palem depan rumahku bergerak terhembus angin yang bertiup cukup kencang. Bagaikan siluet dalam cahaya yang masih samar. Siluet yang bergoyang-goyang, bagaikan ingin memanggil diriku. Memanggil untuk menikmati alam sambil menanti cahaya fajar tiba. Cahaya fajar dalam kelabunya mendung.

Sambil duduk di teras, aku mencoba untuk menikmati dan menyerap keseluruhan yang ada dalam pandangan mataku ke dalam diriku. Semuanya terasa hening. Semuanya terasa damai. Namun perasaan yang hampa ini tak mau juga sirna. Aku merasa gamang. Aku merasa gejolak pemikiran simpang siur dalam otakku. Sementara di luar tubuh ini suatu panorama alam yang sejuk dan damai menghampiriku, aku serupa sesuatu yang jauh, jauh dari dunia ini. Terasa ada jarak walau telah kucoba untuk menghilangkan batas-batas tubuhku dengan alam. Aku ada. Alam ada. Namun keduanya tak saling bersentuhan. Saling tak memahami. Saling tak berbaur. Mengapa?

Awal Januari dengan penanggalan yang terus berjalan. Hari demi hari berlalu, dan lembar demi lembar helai tanggal disobek dan dibuang. Serta dilupakan. Namun pernahkah aku melupakan diriku sendiri? Bisakah aku menanggalkan, membuang serta melupakan segala kenangan yang telah kualami di waktu-waktu yang telah lalu? Terasa ada sesuatu yang menjadi bayang-bayang semu. Nampak tetapi tak teraba. Terasa tetapi tak nampak. Dan semuanya bergolak dalam jiwa yang seakan-akan diam. Seakan-akan. Dan hanya seakan-akan.

Mendadak, tanpa tanda-tanda awal, hujan deras mengguyur. Namun, apa yang tadinya hanya samar-samar dalam bayang malam, mulai menampakkan bentuknya. Hujan deras mengguyur dan mendung tebal menutup langit, namun tak kuasa mampu menghentikan datangnya sang pagi. Dan walau sang surya tak menampakkan diri, sembunyi di balik awan mendung tebal, tak ada sesuatu pun yang mampu membuat cahayanya hilang. Aku menyaksikan semua ini sambil merenungkan segala apa yang kurasakan sekarang. Cahaya pagi takkan mampu dibendung bahkan oleh mendung yang paling pekat pun. Dan walau tak nampak, dia selalu akan hadir. Selalu akan hadir. Lalu, untuk apa aku harus membiarkan segala kekecewaan ini jika aku tahu bahwa hari yang baru pasti akan hadir? Ya, untuk apa aku harus membiarkan diriku terbenam dalam kesedihan dan keputus-asaan jika aku tahu bahwa malam pasti akan berganti pagi? Untuk apa?

Tonny Sutedja

PENYAKIT

Rasa dingin menjalar dari punggung ke seluruh tubuhnya. Bagaikan mengawang, dia merasa seperti terhempas dari sebuah tebing curam ke sebuah jurang yang lebar menganga dan tak berdasar. Rasa hampa, takut, khawatir membuatnya tak mampu untuk berkata sepatah kata pun. Demikianlah perasaannya saat mendengarkan hasil diagnosa dokter setelah menjalani biopsi pada benjolan kecil di payudaranya. Ganas! Itu tumor ganas! Ya, Tuhan, mengapa hal ini menimpa diriku? Mengapa harus aku? Apakah yang telah kulakukan sehingga harus mengalami hal ini? Apakah salahku? Apa? Mengapa aku mesti mengalami penyakit yang menakutkan ini? Mengapa? Mengapa?

Wanita berusia 41 tahun itu nyaris tak sanggup untuk mendengarkan kabar tersebut dengan tabah. Wajahnya memucat. Perasaannya menjadi kosong dan tak berdaya. Dunia seakan runtuh baginya. Dengan lunglai, dia meninggalkan ruang praktik dokter spesialis tersebut hampir seperti merayap. Dan aku yang membayangkan kejadian tersebut, merasa sedih. Sedih! Dan membayangkan saat-saat yang akan dijalaninya, waktu yang akan dilewatinya, aku pun tak sanggup untuk berkata-kata juga. Ada suatu rahasia yang sering tak kita lihat dalam kehidupan ini. Bahwa dalam sekejap, ya hanya dalam sekejap, kegembiraan hidup yang sedang kita nikmati dapat berubah menjadi bayang-bayang kelam tanpa dapat kita kendalikan. Tak dapat kita kendalikan.

Apakah artinya penyakit yang datang menyerbu ke dalam tubuh kita? Apakah artinya sel-sel yang tadinya nampak normal, tiba-tiba dapat berkembang biak tak terkontrol dan merusak keseluruhan tubuh? Ada banyak teori. Ada banyak fakta yang menjadi dasar teori. Tetapi mengapa hal itu bisa terjadi? Terutama, mengapa itu bisa terjadi pada diri kita sendiri? Ya, mengapa kita harus mengalaminya? Dapatkah kita menjawabnya tanpa rasa tak berdaya menghadapi tubuh kita ini? Tubuh yang tadinya menjadi anugerah bagi kita, tiba-tiba menjadi bencana buat kita. Dan kian kita memikirkannya, kian terpuruk pula kita ke dalam lingkaran tanpa jawaban pasti. Ya, ada suatu rahasia yang sering tersembunyi dari pandangan kita. Rahasia yang pelan-pelan menggerogoti tubuh kita, perlahan namun pasti, akan merusak keseluruhan sistim kehidupan yang ada dalam daging ini, dan pada akhirnya akan menghentikan semuanya. Semuanya.

Bagaimana kita akan menyikapi diri kita sendiri, saat kita diberikan kepastian tentang apa yang sedang berlangsung dalam sel-sel tubuh kita? Dapatkah kita merasa tetap tabah dan bersikap kuat dalam menerima kenyataan yang pasti itu? Untukku sendiri, aku ragu. Akhir memang suatu kepastian yang akan tiba juga. Namun saat kita menerima kepastian itu, sikap kita akan menentukan apakah kita dapat dengan tabah menerima dan kuat menghadapinya atau kita melarikan diri dari kenyataan itu dan tenggelam dalam kepasrahan diri. Hidup kita singkat. Kita tahu itu. Tetapi bukan berarti kita menyerah dan pasrah lalu terbenam dalam keputus-asaan yang akan makin menyeret kita ke liang tak berdasar. Hidup kita singkat, namun bukannya tak berguna suatu perlawanan untuk tetap bersikap positip. Kita bisa menjadi teladan. Kita mampu menjadi teladan bagi mereka-mereka yang saat ini mengalami situasi yang sama.

Hujan deras sedang turun membasahi bumi. Dan wanita itu, dengan tegar mempersiapkan segala sesuatunya untuk memulai perjalanan panjang perjuangannya untuk menghadapi penyakitnya. Dengan tabah namun tidak pasrah. Dengan sedih namun tegar. Dengan kekuatan yang dimilikinya sekarang namun tetap bersandar pada doanya kepada Tuhan. Dengan itulah kita akan mampu menghadapi kehidupan ini. Sebab kita tahu bahwa ada Dia yang jauh lebih menentukan daripada segala upaya dan keinginan kita sendiri. Dan jika kita mampu untuk memahami semua itu, kita pasti akan menerima cahaya pengharapan dari-Nya. Cahaya pengharapan dari-Nya.

Tonny Sutedja

05 Januari 2009

CATATAN BUAT SEORANG SAHABAT

Apa yang harus kutulis lagi? Sebab kehidupan kadang sulit untuk dipahami. Tetapi harus dijalani. Saat masalah berdatangan bagai hujan. Sering tanpa diingini. Dan waktu yang tidak sesuai. Tapi apa yang harus dilakukan selain mengalaminya dengan tenang? Berapa banyakkah hasrat, keinginan dan cita-cita kita yang terkandas, bukan karena ketidak-mampuan kita, namun karena situasi dan kondisi yang sama sekali tidak mendukung kita? Berapa banyakkah kesedihan, kekecewaan dan kepahitan telah melanda diri kita sehingga kita kadang mengalami perasaan putus asa dan tenggelam dalam kepasrahan pasif menerima kehidupan kita ini? Berapa banyakkah ketidak-adilan telah kita saksikan dan alami sendiri saat menjalani riwayat kita?

Tetapi, terkadang hidup itu menggelikan. Saat ini, jika kita membayangkan masa-masa lalu yang sulit, masa-masa lalu yang hampir membuat kita putus asa bahkan dengan perasaan yang nyaris hancur, sering kita merasa geli sendiri. Mengapa ya, aku demikian dulu? Mengapa ya, aku demikian tak mampu menguasai diriku saat itu? Jika demikian, bukankah kekecewaan, kesulitan-kesulitan dan perasaan tak mampu dipahami yang melanda kita saat ini, dapat pula menjadi suatu lelucon indah di masa depan yang saat ini nampak jauh. Kata orang, waktu akan mengobati segalanya. Ya, waktu dapat membuat perasaan kita saat ini menjadi suatu sejarah indah kelak. Waktu akan membuat kesedihan dan ketakutan kita saat ini kelak menjadi suatu gurauan yang menggembirakan hati.

Maka apa yang dapat kutulis saat ini, selain berharap agar kita menjalani hidup ini apa adanya. Kita telah belajar banyak hal, mengalami banyak keadaan yang menyedihkan, menyaksikan banyak konflik dan kehancuran serta bencana, segala macam cobaan dan tantangan. Apakah semua itu mampu membuat dunia ini berhenti berputar? Apakah semua itu dapat membuat kita semua ramai-ramai berhenti menikmati hidup? Berhenti memberikan cinta dan berhenti menerima cinta? Berhenti membuat dan melahirkan kehidupan baru bagi dunia ini? Tidak! Nampaknya tidak. Waktu berlalu, dan ingatan kita pun akan mengubur segala kekecewaan dan kesedihan yang telah kita alami.

Hidup itu singkat. Maka sungguh tak berbahagialah kita, jika dalam kehidupan yang singkat ini, kehidupan yang telah diberikan oleh Sang Pencipta, kita sia-siakan dengan hanya mengeluh dan mengeluh tanpa mampu berbuat sesuatu apa pun. Kita hanya terpaku di depan pintu kesempatan yang telah tertutup tanpa mampu dan mau melihat pintu lain yang terbuka lebar. Sejarah telah mengajarkan kita betapa krisis seringkali berulang, namun kita adalah ciptaan-ciptaan yang telah dianugerahi kemampuan untuk berpikir dan memutuskan apa yang terbaik yang harus kita lakukan demi kebahagiaan kita semua. Hidup itu singkat. Dan sering bukan untuk hanya untuk dipahami, tetapi terutama untuk dijalani. Ya, dijalani apa adanya.

Dan inilah yang ingin kutuliskan di pagi yang mendung, tetapi tak mampu mengusir keindahannya. Pagi yang diderasi oleh hujan tetapi membuat hati kita menjadi lembut dan penuh inspirasi. Ilham, kesempatan dan kemampuan kita seringkali akan timbul justru saat kita dilanda kesulitan dan kekecewaan yang mendalam. Ya, hanya dalam situasi kritis saja segala nalar dan rasa kita menjadi maksimal dan berdaya penuh. Bukan dalam suasana yang tenang dan tanpa tantangan. Maka dalam hidup yang dipenuhi segala macam tantangan inilah yang bisa memacu segala kemampuan kita hingga ke tingkat yang bahkan kita sendiri tak pernah membayangkannya. Tak pernah.

Kelak, jika masa-masa suram ini berlalu, kita bisa berkumpul lalu saling berbagi kisah. Saling bertutur mengenai musibah dan bencana yang telah melanda kita. Sambil melempar canda. Sambil bergurau. Waktu, waktu telah menyembuhkan luka-luka hati kita. Kelak, dan waktunya tak lama dalam sejarah dunia yang demikian panjang, dalam waktu hidup kita yang singkat ini, kita dapat saling bertutur dengan riang. Berbagi suka. Berbagi duka. Berbagi kata. Berbagi diri. Dan tiba-tiba menyadari betapa indahnya kehidupan ini. Indahnya hidup ini. Bersama keluarga. Bersama sahabat. Bersama alam. Bersama Tuhan. Bersama. Maka jangan menyerah. Jangan pernah menyerah. Badai pasti berlalu.

Tonny Sutedja

03 Januari 2009

4 JANUARI 2009

Siang ini

aku ingin bertanya

pada angin

yang berhembus

dan membuat cemara di tamanku

melambai-lambai


 

Siang ini

aku ingin menemui

awan yang berarak

di langit biru

yang membuat mendung

menjadi gerimis


 

Siang ini

datangkah kau padaku?

serupa siluet sepi

menyentuh jiwaku

mengucap salam

buat hati yang gundah


 

Siang ini

kudengar suara angin

kulihat air menetes

kurasa sepi menyentuh

tak ada kata

tak ada kata


 

: lewatlah waktu!


 

Tonny Sutedja

02 Januari 2009

SEBUAH PERTANYAAN BUAT CINTA

Sunyi! Hatiku sunyi. Dan tak seorang pun yang mengenalinya. Tak seorang pun. Aku hidup dalam bayang-bayang malam. Dan seperti malam yang selalu dalam kegelapan, aku pun hidup bersama kegelapan. Tak tahukah kau, betapa tersiksanya hati yang tak punya siapa-siapa yang untuk bercakap? Untuk mengutarakan isi hati? Untuk menuturkan pikiran-pikiran yang melintas dalam kepala ini? Sunyi! Jiwaku sunyi. Sunyi yang berjalan dalam malam, dan tak tahu arah kemana akan menuju.

Lapar! Akalku lapar. Dan tak seorang pun yang mampu menghilangkan kelaparan ini. Sudah kucari engkau ke ujung-ujung pengembaraan hidupku. Sudah kususuri lembah dan gunung. Samudera dan benua. Udara dan daratan. Tetapi yang kutemukan hanya sekedar keping-keping puzzle yang tak berwujud. Dalam laparku, aku mencari engkau untuk memuaskan akalku. Namun engkau tak kutemukan. Dan kau tak juga datang. Tak juga datang.

Haus! Jiwaku haus. Dan tak seorang pun yang datang memberiku minum. Rasa haus membuatku kehilangan daya untuk berpikir. Dahaga dalam akal. Dahaga dalam rasa. Dimanakah tetesan embun yang dulu pernah kau tawarkan? Dimanakah mata air yang dulu kau janjikan? Lenyap, semua telah lenyap. Lihat, aku dahaga kini. Dahaga menantimu. Dahaga mengharapkanmu. Mengapa aku harus menanti? Mengapa engkau mesti menunggu?

Dingin! Tubuhku dingin. Dan tak seorang pun yang mampu membalutnya. Dengan menggigil kutanggung hidup ini seorang diri. Entah dalam derita macam apa kulangkahi detik demi detik. Dingin menjalari seluruh tubuhku. Dari kepala ke kaki. Dari kulit luar ke detak jantungku. Aku mencari tetapi tak menemukan. Aku meminta tapi tak diberi. Aku mengetok tapi tak seorang pun yang datang membukakan pintu bagiku. Dengan tubuh menggigil, aku berdiri di luar, mengharap-meminta-mengetok-merengek di pintumu. Tetapi hanya sunyi yang menjumpaiku. Sunyi yang dingin!

Takut! Aku takut. Aku takut dengan sunyi dan dingin ini. Dengan rasa lapar dan haus ini. Aku takut terjerembab ke dalam lumpur. Namun dengan menggeliat-geliat kesakitan dalam kerinduan padamu, dan terus menerus mengharap adamu, yang hadir hanya kekecewaan. Kekecewaan demi kekecewaan. Yang hadir cuma kekecewaan. Dan ketika kekecewaan sedemikian menyelubungi hidupku, bersama sunyi dan dingin yang menggigilkan ini, endapan lumpur yang hangat terasa amat menggoda. Demikian menggoda.

Lalu dimanakah engkau? Mengapa dalam bayang gelap engkau tak hadir? Mengapa dalam sunyi yang mencengkram jiwaku, engkau tak menemani? Mengapa dalam lapar dan hausku, engkau tak memuasiku? Mengapa dalam dingin yang menikam jiwaku, engkau tak membalutku? Mengapa dalam ketakutan dan kesesatanku, engkau tak datang juga? Mengapa? Mengapa? Kemanakah harus kucari engkau? Kemanakah? Kemana?

Langit hanya diam. Bumi turut membisu. Dalam sunyi, dalam lapar dan haus, dalam dingin dan ketakutanku, semua terasa sepi. Sepi menikam jantung. Sepi menikam hidup. Sepi tak terjawab. Lalu aku tersadar dari lamunan singkat ini. Aku bangkit berdiri dan menghirup udara, menghirupnya dalam-dalam, dan merasakan kesegaran mengisi dadaku. Bertanya-tanya dalam hati. Perlukah aku dijawab? Perlukah dia menjawab? Bukankah jawabannya dengan mudah kutemukan dalam hidupku sendiri? Bahwa apa yang sedang kulakukan saat ini, apa yang sedang kualami saat ini, apa yang sedang kurasakan saat ini, itulah jawaban dari semuanya.

Sebab kau ada dalam aku. Kaulah sunyi itu. Kaulah lapar dan hausku. Kaulah dingin dan rasa takutku. Sebab kaulah aku. Dan karena itu, tak kucari kemana pun akan kutemui kau. Dan kau bersamaku selalu. Bersamaku selalu. Cinta yang membawaku berjalan menyusuri kegelapan jiwaku. Cinta yang membagi kesunyiannya dalam kesunyianku. Cinta yang ikut merasa lapar dan haus saat aku mengalaminya. Cinta yang menggigil kedinginan dan ikut khawatir saat aku merasa sakit dan kecewa. Cinta adalah aku, aku yang sering tak kukenali. Yang sering kutinggalkan sepi sendiri. Dan kami saling terasing satu sama lain dalam kelekatan yang demikian menyatu: Hidupku sendiri!

Tonny Sutedja

01 Januari 2009

PAGI SAAT HUJAN MENDERAS

Aku ingin bernyanyi kepada pepohonan dan jalan yang basah

Aku ingin menyanyikan lagu tentang dingin dan sepiku

Dengan musik yang mengalun jauh hingga ke ujung dunia

Aku ingin mempersembahkan kepada dunia yang sedang menggigil


 

Perdengarkanlah kepadaku, wahai hati yang sedang merindu

Perdengarkanlah kepadaku suara rintik dan desau anginmu

Dimana kata tak perlu dan makna tak berarti apa-apa

Saat hidup berjalan ke depan sebagaimana mestinya


 

"Tik..tik...tik..bunyi hujan di atas genteng.."


 

Aku ingin berbaur bersama mendung dan langit yang kelabu

Aku ingin menghilang ke dalam kabut tebal yang menyelubungiku

Sebab tak ada kalimat berwujud di musim yang basah ini

Aku lelap dalam nyanyian alam yang demikian sendu di hatiku


 

Kunyanyikan lagu tentang suka dan dukaku di dunia

Kulantunkan nada bersama percikan air yang jatuh ke genangan di tanah

Dimanakah lagi 'kan kutemukan keindahanmu yang dulu pernah menakjubkanku

Dalam hatiku, dalam hatiku yang terus meminta kejernihan dari gejolaknya


 

"Tik..tik..bunyi hujan di atas genteng.."


 

Lirih aku bernyanyi. Lirih kau bernyanyi. Lirih kita bernyanyi. Bersama.

Dedaunan bergoyang diterpa angin. Kelopak bunga menggigil menunduk.

Datanglah padaku, wahai, datanglah padaku dunia yang bisu

Kita akan menyanyikan bersama sebuah lagu rindu tentang damai


 

Langit mendung. Hujan menderas. Angin bertiup. Aku tertunduk.

Dengan takwa kusandarkan kesenyapan ini ke dalam jiwaku

Sebab telah menghilang bayangku bersama turunnya kabut

Laguku. Lagumu. Lagu kita. Lagu dunia. Lagu yang tanpa kata


 

Kini kupersembahkan ke dalam tanganmu yang tak berwujud

Bersama dingin dan sepi. Bersama bisik dan rindu. Kaulah aku.

Padamu, alam, kita menjadi satu dan berbaur menghilang

Bersama suara tetesan air dan desauan angin lenyap menyatu


 

Tonny Sutedja


 

 

MANUSIA

Kelak, kau tahu, aku datang padamu

Bukan sebagai pengemis

Yang menadahkan tangannya

Sambil berharap


 

Kelak, kau tahu, aku pergi kepadamu

Bukan dengan kepala tertunduk

Sambil menangisi jiwaku

Yang tak pernah menyentuhmu


 

Akulah sosok kesepian

Meraih dunia

Merapal hasrat

Namun terus merindu


 

Pernahkah engkau

Menebang satu pohon

Untuk membuat jembatan

Agar aku sanggup ke seberang?


 

Pernahkah engkau

Menyalakan unggun

Dari bukit hijau

Agar dapat hangati tubuhku?


 

Kelak, kau tahu, kita bermuka-muka

Dan kan kukatakan padamu

Bahwa aku ingin bertahan hidup

Sambil menunggu panggilanmu


 

Kelak, kau tahu, aku dan kau

Terbelah dalam rindu dan dendam

Karena kau jauh di sana menanti

Dan aku di sini mengharap kau ada


 

Kau dan aku

Saling menunggu

Saling menunggu

Saling menunggu


 

Tonny Sutedja

MALAM INI HUJAN TURUN

Malam ini hujan turun Tapi kau tak ada Hujan turun bagaikan malaikat Yang merindukan kata Tetapi melupakan kalimat Dan diam-dia...