19 Januari 2010

ELEGI KEHIDUPAN

Why do the birds go on singing

Why do the stars glow above

(End Of The World)

Dalam kehidupan ini, ada banyak hal yang ingin kita katakan, namun tak terucapkan. Ada banyak hal yang ingin kita lakukan tetapi tak kita laksanakan. Ada banyak, ya ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi yang sama sekali tak pernah kita duga. Kita seringkali larut dalam obrolan tetapi tak sekali pun saling memahami. Kita mungkin hidup dalam kebersamaan tanpa sekali pun saling mengenal. Dan, saat kita masing-masing sibuk hanya dengan diri kita sendiri, kesempatan lewat dan tak mungkin kita raih kembali. Tak mungkin......

Mengapa bersedih? Mengapa berduka? Tidakkah kita sadari bahwa detik-detik yang kita lewatkan dalam keputus-asaan, membuat kita melupakan nyanyian burung dan keindahan bunga yang mekar mewangi? Butakah kita akan keindahan bulan dan bintang-bintang yang bersinar di hitam langit malam? Hitam. Kelam. Dan lihatlah, betapa cahaya purnama menyinari kegelapan langit dengan segenap kecemerlangannya. Ingatlah, bahwa hidup bisa berarti sebuah nyanyian pilu yang kita bawakan dengan penuh perasaan sehingga menjadi sedemikian indahnya. Sedemikian indahnya......

Kita tahu, bahwa waktu kita terbatas. Kita sadar, bahwa ada banyak hal yang tak mungkin kita kuasai. Kita paham, bahwa takkan mungkin mengubah semua hal menjadi sesuai dengan keinginan kita sendiri. Tetapi haruskah kita mengeluh? Haruskah kita kecewa atau merasa sakit hati? Bukankah, fajar tetap menyingsing dan senja akan segera tiba dengan segala kepermaiannya? Hidup mengalir dalam waktu. Dan kita ikut mengalir bersamanya. Segala sesuatu yang ingin kita tolak, segala sesuatu yang tidak kita kehendaki tetap akan terjadi tetapi kemudian akan segera lewat. Akan segera lewat.....

Maka marilah kita bangkit dan menikmati kehidupan ini. Marilah kita berupaya untuk mengisi kehidupan ini. Marilah kita berjuang untuk mencapai apa yang kita inginkan, tanpa kehilangan kesadaran pada keterbatasan dan kelemahan kita sendiri. Ya, kita hanya setitik debu di keluasan alam semesta ini. Kita hanya senoktah riwayat di panjang masa yang demikian tak terbatas. Tetapi sekarang, saat ini, kita adalah pusat dari kehidupan dunia kita sendiri. Kita memiliki pikiran dan perasaan yang nyata, ada dan pasti. Sama seperti alam raya, kita adalah secuil atom, hanya secuil atom tetapi karena kita ada maka keindahan bisa kita rasakan dengan seluruh inderawi kita. Seluruh inderawi kita.....

Kita berpikir. Kita merasakan. Kita menikmati segala kekhawatiran dan ketakutan kita. Kita pun menikmati segala kebahagiaan dan kegembiraan kita. Tak ada yang salah dengan hidup ini. Tak ada yang salah. Semua tergantung dari bagaimana kita hidup. Bagaimana kita menghadapi dan menerima hidup kita. Tak ada sesuatu yang sia-sia di muka bumi ini. Tak ada sesuatu yang terjadi tanpa ada gunanya. Bahkan musibah dan ketidak-beruntungan kita sekali pun. Kita coba belajar untuk menerima semua hal apa adanya. Seperti burung-burung yang bernyanyi dikala duka. Seperti bintang-bintang yang bersinar di malam kelam. Kita ada dan tak mungkin kita hapus lagi. Tak mungkin.....

Dan saat kita berpikir bahwa hidup kita rumit, sadarilah bahwa sesungguhnya kerumitan itu hanya ada dalam pikiran kita saja. Hanya ada dalam apa yang kita coba raih namun sering tak terjangkau. Dalam apa yang kita inginkan namun tak terwujud. Kita hidup dalam kebersamaan dengan dunia dan itu menandakan keberadaan kita sendiri. Dan jika musibah terjadi, bahkan jika kita harus mengetahui keterbatasan waktu kita sendiri, tak tahukah kita bahwa memang kita semua memiliki keterbatasan yang sama? Mengapa harus khawatir? Mengapa harus takut? Hiduplah dengan senyum. Maka segala sesuatu akan tersenyum bagi kita. Bagi kita semua.....

Tonny Sutedja

15 Januari 2010

SAJAK UNTUKMU

Lihat,

Kami adalah aksara

Yang membentuk kalimat

Walau kadang

Hampa


 

Dengar,

Kami adalah suara

Yang membentuk nada

Walau kadang

Sepi


 

Rasa,

Kami adalah angin

Yang memacu hidup

Walau kadang

Bosan


 

Kami

Penjaring

Angin

Yang berhembus

Di tepi

Tebing

Dengan

Kata

Suara

Angin

Berputar

Tak henti

Hingga beku

Hingga usai

Di haribaan-MU

Di haribaan-MU


 

Tonny Sutedja

RODA

Kata orang, hidup ini seperti roda yang berputar. Kadang berada di atas, kadang pula di bawah. Dan putarannya pun, kadang terasa cepat, kadang pula lambat. Bahkan mungkin juga mandek. Roda yang bulat melingkar tanpa ujung adalah riwayat yang utuh dengan segala suka dan dukanya. Lihat, dengar dan rasakan semua yang mampu kita resapkan. Sadarkah kita bahwa sesungguhnya tak ada yang sia-sia di dunia ini? Tak ada yang sia-sia, walau kita sering merasakan kesia-siaan. Walau kita sering berpikir bahwa kita telah disia-siakan dan menyia-nyiakan hidup ini. Bukankah keberadaan kita sendiri bermakna bahwa kita hidup dan patut untuk hidup serta menikmati keberadaan kita sendiri?

Gerimis turun dan mulai membasahi bumi. Angin berhembus kencang, membuat ranting dan dedaunan pepohonan depan rumah itu meliuk-liuk. Langit nampak kelam, tertutup mendung yang tebal. Dan udara terasa dingin. Aku melihat dia, ibu paruh baya itu, duduk di beranda rumah kecilnya, menemani putrinya yang sedang asyik membaca komik, sambil tangannya membelai kepala gadis kecil itu. Suatu panorama yang indah, intim dan penuh keakraban, namun siapa yang tahu apa yang ada dalam hatinya? Siapa yang menyadari apa yang tersembunyi di balik apa yang nampak saat ini? Siapa yang bisa menebak apa yang ada di balik kedamaian pemandangan ini?

Aku terkenang akan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu. Keributan dan pertengkaran yang menghantui rumah tangganya. Perkawinan yang telah berlangsung selama lebih dari delapan belas tahun seakan tak mampu untuk membuat suatu kesepahaman dan saling pengertian antara dia dan suaminya. Dengan empat orang anak, dua putri dan dua putra, hidup bagi mereka seakan menjadi neraka yang tak tertanggungkan. Dan seperti dua buah roda yang bergerak saling bertentangan, tak mampu untuk menggerak-majukan kereta rumah tangga yang awalnya, pasti dimulai dengan satu tekad untuk berputar dalam kebersamaan, menuju tujuan yang mereka cita-citakan.

"Aku tak mampu lagi untuk memahami dia" keluhnya suatu ketika saat menuturkan kehidupan perkawinannya. "Dia seakan menjauh dan semakin menjauh, tak lagi mampu kuraih. Apa yang kuharapkan dulu, ternyata hanya harapan semu. Sia-sia semua. Ya, sia-sia semua apa yang pada mulanya menjadi sumber pencerahan bagiku. Ternyata, dia begitu sulit untuk dipahami, sulit untuk memahami diriku dan tak mau merubah dirinya sedikit pun..." Matanya nampak basah. Tubuhnya mengerut dalam keputus-asaan. "Masa-masa indah kami telah berlalu. Masa-masa dimana segalanya nampak akan menjadi demikian berarti bagi kami, ternyata hanya impian semu bagi diriku sendiri...."

Terkadang aku merasa bingung. Bagaimana bisa, pasangan yang telah sedemikian lama hidup bersama dalam satu rumah, dalam satu kamar, bahkan di atas satu ranjang, demikian memiliki jarak yang demikian lebar, dekat namun tak mampu meraih satu sama lain? Dengan anak-anak yang terus bermunculan, dengan segala perjuangan untuk meraih harapan, bergulat dalam suka dan duka, ternyata tetap tak juga bisa mengikat mereka untuk saling berbagi dan berkomunikasi dengan intim? Apakah harapan yang mereka buat pada awal kehidupan bersama mereka terlalu tinggi? Ataukah masing-masing memilki harapan yang berbeda namun enggan untuk saling mengungkapkan diri karena merasa yakin bahwa dalam kebersamaan, semuanya dapat teratasi?

Kita masing-masing memiliki roda kehidupan sendiri. Dan saat mengawali satu kebersamaan dalam keluarga, putaran roda-roda kehidupan kita haruslah saling menyesuaikan diri. Sehingga kereta kehidupan berkeluarga kita mampu bergerak secara serasi untuk meraih harapan yang kita inginkan. Dan memang, tak seharusnya roda kehidupan kita gerakkan sekendak kita saja. Sebab putaran yang tak harmonis, walaupun awalnya terasa cepat, akan merusak atau bahkan menghancurkan kereta keluarga kita. Semakin kita pacu dengan kecepatan yang berbeda, semakin mandek pula gerak maju kereta ini. Dan pada akhirnya, kita tak akan kemana-mana, selain dari menyesali dan merusak diri kita sendiri. Sekaligus menghancurkan kereta rumah tangga kita.

Hidup kita masing-masing memang seperti roda yang berputar. Kadang di atas. Kadang di bawah. Dan kita ingin agar roda kehidupan kita terus bergerak ke depan, maju menembus sang waktu. Namun, dalam kebersamaan yang kita putuskan, setiap roda harus saling menyesuaikan diri dengan mengatur kecepatannya agar sesuai dan serasi satu sama lain. Tak satu pun yang bisa mengandalkan diri pada kecepatannya sendiri tanpa merusak kereta bersama ini. Dalam keharmonisan gerak inilah, kebersamaan kita diuji. Dengan kesabaran, pemahaman, komunikasi dan saling berbagi, selayaknya kereta kita bisa berjalan dengan harmonis menuju apa yang kita harapkan bersama. Yang kita harapkan bersama.

Hujan mulai menderas. Beberapa helai daun nampak melayang gugur, terlepas dari ranting yang selama ini mengikatnya. Langit yang mendung gelap seakan melepaskan segala beban kekelamannya turun ke bumi yang bisu. Dan ibu itu lalu menarik putri kecilnya untuk berdiri, sambil memandang ke atas sejenak, kemudian mereka masuk ke dalam rumah, menghindari titik-titik air yang berhamburan ke beranda akibat hembusan angin. Waktu melaju dan terus melaju. Kilatan cahaya petir dan gemuruh suara guntur memenuhi langit. Muram. Tetapi ah, badai akan berlalu. Badai pasti berlalu. Jika kita bisa memahami keterbatasan kita. Jika kita mampu mengatasi kelemahan kita....

Tonny Sutedja

09 Januari 2010

SEDERHANAKANLAH HIDUP INI!

Hidup ini menyimpan banyak impian. Seberapa banyakkah yang dapat mewujudkannya? Sampai dimanakah batas kemampuan seorang manusia untuk melaksanakannya? Akan kemanakah kita melangkah untuk mencoba merebutnya kembali? Hidup ini menyimpan banyak impian. Dan kita sering terkecoh jika hanya memandang sesuatu hanya dari luarnya saja. Dan selama kita tak mampu atau tak mau memahami apa yang terpendam di balik tampilan luar, kita akan selalu terkecoh dalam kesalah-pahaman saat menghadapi kenyataan yang harus kita jalani.

Kita semua larut dalam hidup kita. Larut dalam keinginan, hasrat dan ambisi kita. Larut dalam kepentingan diri kita. Dan sering tak mampu untuk menerobos keluar dari kurungan pikiran kita. Kita hidup bersamanya, tenggelam dalamnya dan bahkan lelap semakin dalam saat menghadapi guncangan dan kehampaan kita. Kita mencari tetapi tak pernah merasa menemukan. Kita meminta dan tak pernah merasa menerima. Kita mengetuk tetapi merasa tak pernah ada kesempatan yang terbuka. Kita berjalan tertatih-tatih menghadapi kenyataan, sering bahkan tak paham apa yang sebenarnya kita cari. Kita jadi tak memahami diri sendiri. Kita ada tetapi merasa tak ada. Larut dan hanya larut...

Bagaimanakah harus kita jalani hidup ini? Mengapa seakan segala sesuatu tak berjalan sebagaimana harusnya yang kita ingini? Mengapa kita sering harus terperangkap dalam ketak-mampuan untuk menghadapi hidup ini? Merasa sepi, sendiri dan tak berdaya sama sekali? Kemanakah perginya segala impian, harapan dan cita-cita yang kita hasratkan? Mengapa segalanya lenyap bagai terhembus angin waktu yang tak mampu kita raih? Dan tak mungkin kita raih kembali? Dimanakah kita berada sekarang? Mengapa kita harus ada di sini? Waktu lewat. Dan kita merasa ditinggalkan seorang diri. Seorang diri.

Hidup ini menyimpan banyak impian. Impian yang satu per satu berguguran tanpa sanggup kita raih. Dan kita pun menangisinya. Menangisinya sepanjang waktu. Menyesali segala kegagalan itu tetapi merasa tak mampu untuk bangkit berdiri dan mencoba mengejarnya. Ah, impian dan perasaan. Kadang demikian menyiksa diri. Kadang demikian mendatangkan keputus-asaan. Kadang demikian melemahkan semangat. Dan meluluhkan harapan. Tetapi haruskah kita hanya duduk menunggu akhir atau malah mempercapat akhir? Betul tak ada lagikah yang dapat kita lakukan?

Kita semua memiliki pilihan. Kita semua harus memutuskan. Kita semua pun harus bertanggung-jawab atasnya. Memang, hidup ini sering terasa amat pelik dan sulit, tidak sederhana sesuai apa yang kita angankan. Tetapi haruskah kita kian mempersulitnya dengan tenggelam di dalam lautan ketak-berdayaan kita? Hidup memang tidak sederhana, tetapi jangan mempersulitnya dengan menyembunyikan diri kita dalam tembok-tembok tebal yang kita bangun demi perasaan kita saja. Sebab, ada banyak hal lain yang pasti saat ini jauh dari penglihatan kita. Karena tembok yang kita bangun tak memungkinkan kita untuk melihat ke luar. Untuk menikmati hidup. Untuk merasakan kesederhanaan yang mungkin bisa kita temui di luar diri kita. Betapa seringnya, kepelikan hidup kita terjadi bukan karena hidup kita yang rumit, namun cara kita memandang hidup yang rumit.

Hidup ini memang memang menyimpan banyak impian. Tetapi haruskah kita meraih semua impian itu? Haruskah? Tengoklah, saat sebuah kembang mulai mekar tetapi lalu luluh saat hujan deras melanda. Rasakanlah, saat matahari yang terik menikam kulit kita tiba-tiba tertutup awan lalu hujan deras turun membasahinya. Dan bagaimana dengan rencana kita yang gagal untuk keluar tamasya tetapi kemudian kita dapat duduk dengan santai sambil mendengarkan alunan musik indah. Ah, kita punya banyak impian yang mungkin tak mampu kita raih, tetapi toh, ada banyak hal lain yang tak pernah kita impikan ternyata kemudian membuat diri kita merasa bahagia. Sesuatu yang bukan pilihan kita bukan berarti tak menyenangkan. Sesuatu yang tak pernah kita impikan bukan berarti tidak kita butuhkan. Bukankah begitu, temanku, bukankah begitu?

Tonny Sutedja

TANTE DAN OMA

Tubuh wanita setengah baya itu merangkul ibunya, yang nampak lemah dan tak berdaya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang sendok yang berisi bubur manis untuk menyuapi ibunya. Tangannya gemetar dan matanya berkaca-kaca. Dan ibunya, sambil mendelik menolaknya dan meminta dibelikan nasi kuning sambil tangannya berusaha menepis sendok yang disodorkan ke mulutnya. Wanita itu mengatakan dengan lembut bahwa sang ibu tidak diperbolehkan dokter untuk menyantap makanan yang demikian sampai dia sembuh, namun ucapan itu tak diterimanya. "Saya tidak mau bubur, saya minta nasi kuning. Saya hanya mau nasi kuning. Saya tidak mau makan ini........."

Aku berdiri di samping wanita itu, memperhatikan tangannya yang gemetar dan merasakan perasaan putus asa dan tak berdaya menghadapi ibunya sendiri. Ruangan yang temaram dipenuhi oleh keluarga yang berkumpul sambil berbicara satu sama lain, memperhatikan peristiwa itu dan tak mampu berbuat apa-apa. Di luar ruangan ini, terdengar suara hujan yang menderas dan tetesan air dari langit-langit yang bocor, jatuh ke atas sebuah ember kecil yang disediakan agar tidak membasahi lantai. Dan jam di dinding menunjukkan waktu pukul sembilan malam. Udara terasa dingin dan beku. Dan ibu tua yang berbaring di atas ranjang tua nampak memperlihatkan kekerasan hatinya, seakan waktu tak pernah berjalan. Dan kondisinya tak pernah berubah.

Aku memandang wanita itu, sambil merenung. Waktu yang bergerak menjauh, dan membuatnya menua dengan cepat. Wanita itu tidak menikah, dan betapa aku merasakan ada ikatan tarik menarik antara wanita itu dengan ibunya sendiri. Kesanggupannya untuk merawat ibunya, kerelaannya untuk mengurbankan hidup bagi ibunya seolah-olah berbanding terbalik dengan rasa ketergantungan ibu tua itu terhadap anaknya sendiri. Semua harus diperolehnya. Semua harus sesuai dengan keinginannya sendiri. Tak peduli apa yang terjadi pada anaknya, dia harus diikuti dan didengarkan. Apapun yang terjadi, semua mesti berjalan sesuai dengan kehendaknya sendiri. Tak ada yang bisa menolaknya. Tak ada yang dapat merubahnya. Dan itu sudah semenjak dari awalnya demikian.....

Siapakah kita yang katanya memiliki pikiran dan perasaan ini? Dimanakah kesadaran kita dalam menerima dan menghadapi pikiran dan perasaan orang lain? Mengapa kita sering harus kukuh bertahan pada keinginan dan kehendak kita saja? Haruskah kita selalu diikuti dan disetujui walau terkadang keputusan dan keinginan kita itu menyalahi kepentingan orang lain? Tak pernahkah kita bisa ikut memahami dan menjenguk isi hati dan perasaan orang lain? Mengapa kita demikian ingin menguasai daripada dikuasai? Tak mampukah kita surut ke belakang untuk mengakui kelemahan kita sebagai manusia yang lemah, yang juga memiliki keterbatasan dalam menghadapi hidup ini? Ah, siapakah kita yang demikian teguh dalam memperjuangkan keinginan dan kehendak kita saja? Aku tak tahu. Sungguh tak tahu.

Tubuh ibu tua yang lemah itu nampak ringkih terbaring di atas ranjangnya. Waktunya nampak demikian dekat pada akhir. Tetapi ada hal-hal yang tidak berubah. Ada hal-hal yang tetap sama. Kami yang memenuhi ruang sempit ini, duduk dan melihatnya. Duduk dan menunggu. Tetapi aku jadi heran, apa yang kami tunggu? Apa yang kami harapkan? Wanita setengah baya itu kulihat berdiri di samping ibunya. Tubuhnya yang kurus nampak mengecil, tak berdaya dan putus asa. Berapa banyakkah waktu hidupnya yang terbuang hanya untuk memenuhi segala keinginan dan kehendak ibunya? Berapa banyakkah waktu yang telah disia-siakan demi untuk tidak mengecewakan ibunya sendiri? Berapa banyakkah? Dan apakah ini berguna? Adakah gunanya semua itu?

Gemuruh petir tiba-tiba terdengar, menghentakkan kami semua dari lamunan kami. Hujan semakin deras. Dan waktu berjalan demikian lambat. Demikian lambat. Dan kami semua seakan menanti di jalan yang tak berujung. Tanpa ujung. Betapa satu kehidupan, satu kehendak, satu pemikiran, dapat mempengaruhi kehidupan banyak orang. Dan seringkali tak berdaya untuk dirubah. Tak berdaya untuk dilepaskan dari kehidupan kita. Membuat kita merasa putus asa, tak berdaya dan hanya mampu untuk pasrah menerimanya. Mengapa harus begini? Salahkah kita jika kita sesekali ingin mendobrak dan melepaskan diri kita dari kungkungan keinginan orang lain? Salahkah kita? Hanya terdengar tetesan air yang jatuh ke dalam ember kecil di sudut ruang ini. Dan kami hanya mampu mebisu. Kami hanya membisu.....

Tonny Sutedja

05 Januari 2010

SANG WAKTU

Ada suara mengusik mimpi

Lirih menembus sepi

Susuri lorong kelam

Gelap menikam diri

Bayang-bayang kelu

Ada hati menjerit luka


 

Siapa datang mengetuk

Perlahan menyapa

Di ruang hampa

Tanpa lanskap

Tanpa kata

Bisu


 

Ada suara mengusik mimpi

Katakan saja salammu

Perlahan dan lembut

Sebab luka terbuka

Dan jiwa terjerat

Ada hati menjerit pilu


 

Siapa menjenguk apa

Tatap wajah ini

Meleleh dalam duka

Tangan-tangan terbuka

Dari mana asalmu

Kemana pergimu


 

Dan mimpi pun lewat

Sekilas membawa kabar

Telah tercecer hati

Entah ke mana

Dan suara ini

Datang menjengukmu


 

Kemanakah kau cari

Serpih yang luluh

Dari keping hati

Angin lewat dan

Mimpi lenyap

Bersama nyanyi malam


 

Hotel Kartika – Kendari

31 Desember 2009

Tonny Sutedja

TEPIAN TELUK KENDARI

Seberapa besarkah arti cinta buatmu? Bagaimanakah kau memandang kesedihan dan kegembiraan dalam hidup ini? Sesungguhnya semua terletak dalam cara kita memandang hidup ini. Dalam cara bagaimana kita memikirkan hidup ini. Peristiwa datang dan pergi, melintas dan tak pernah abadi. Seperti roda yang berputar, kita kadang berada di atas, kadang pula terpuruk di bawah. Yang kita butuhkan hanya niat untuk tetap bertahan. Niat untuk tetap menikmati apapun yang kita alami. Sebab sesungguhnya, kita ada untuk itu. Ya, kita ada untuk hidup kita sendiri.

Pelangi nampak membayang mengitari sebagian langit yang berawan tipis. Lembayung senja membawa keindahan warna langit dalam suatu kontras yang menakjubkan mata. Dan sayup di kejauhan beberapa perahu kecil nampak terombang-ambing di tengah teluk yang luas. Angin sepoi berhembus mengusap wajah. Dunia, ah dunia seakan mengucapkan salam cintanya bagiku. Bagimu. Bagi kita yang sadar betapa hidup ini menyimpan banyak impian dan harapan. Dan walau duka mungkin bersembunyi di baliknya, tidakkah kita tetap mampu merasakan cintanya bagi kita? Bagi kita semua yang mencoba memahaminya.

Seberapa besarkah arti cinta buatmu? Terkadang hidup menjadi demikian sulit dan terasa tak tertahankan. Terkadang derita dan sepi demikian tajam menusuk jiwa. Terkadang harapan nampak demikian hampa dan tak berarti. Tetapi siapakah kita, yang menginginkan segala sesuatu bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan? Siapakah kita? Bukankah kita hanya perlu duduk diam, sejenak, menikmati hari-hari kita. Dan mencoba untuk merenungkan apa yang telah kita alami lalu mulai menyusun langkah baru ke depan. Ah, masa depan tak teramalkan. Siapa yang sanggup? Tetapi bukankah hari esok tetap datang? Dan kita tetap harus menerima apapun yang diberikannya kepada kita? Apapun.....

Laut di teluk beralun pelan. Langit perlahan mengelam. Tetapi lihat, gemerlap cahaya lampu mulai muncul. Bagai cahaya kunang-kunang dalam kegelapan. Dan di langit, jauh tinggi di atas, cahaya bulan yang sedang purnama, nampak demikian indah membagikan terangnya. Membagikan terangnya kepada siapa pun yang mau menerimanya. Siapapun. Bersama kerdip bintang-bintang yang mendampinginya. Apakah yang dipikirkan oleh para nelayan yang sedang duduk bermenung di sampan kecil mereka, jauh di tengah teluk, yang berayun-ayun dalam lembut gelombang? Bukankah kita semua hidup bersama renungan kita masing-masing? Bukankah kita patut merasakan apa pun yang sedang kita pikirkan saat itu? Bukankah kita harus hidup dengan pikiran dan perasaan kita sendiri?

Seberapa besarkah arti cinta buatmu? Meluncur di jalan pesisir pantai Kendari aku saksikan insan-insan yang sedang bersenda gurau atau yang hanya duduk seorang diri sambil merenungkan sesuatu. Wajah-wajah dengan ekspresi yang beraneka ragam. Dan angin berhembus dengan lembutnya. Seakan ingin menyapa kami semua. Seakan ingin menguatkan jiwa yang sedang lemah. Menghibur yang sedang berduka. Menciptakan suasana romantis bagi yang sedang bercinta. Membagikan harapan kepada semua yang ingin menerimanya. Dunia yang luas ini menyimpan rahasianya sendiri dalam hati masing-masing kita yang lelap dalam pikiran dan perasaan kita. Ah, rasakan betapa cinta adalah satu kekuatan untuk menciptakan semangat bertahan dari terpaan segala macam kesulitan dan kesedihan kita. Seperti alun gelombang. Seperti hembusan angin. Seperti pelangi yang membentang. Kita tetap ada. Dan hidup.

Tonny Sutedja

04 Januari 2010

2010

Sampai dimanakah perjalanan waktu ini akan kita tempuh? Tahun datang dan pergi. Peristiwa mengalir silih berganti. Suka dan duka. Harapan dan kekecewaan. Ah, pergantian kalender sering tak menyentuh waktu yang nyata. Lewat melintas begitu saja. Dan mungkin, di ujung pergantian itu, kita bersuka ria, melepas hasrat dan mencoba untuk melupakan segala kegagalan, kekecewaan dan kehampaan kita untuk nanti akan menjumpai kenyataan yang sama di tahun yang baru. Siapakah kita, selain dari setetes air di samudera kehidupan yang tak berbatas ini?

Lihatlah! Langit dipenuhi percikan cahaya kembang api. Dan rembulan yang sedang purnama, malu-malu bersembunyi di balik awan tipis, seakan malu cahayanya dapat meredupkan kegembiraan manusia. Dan hiruk pikuk kota Kendari yang sayup-sayup bergema seakan meneriakkan harapan tetapi juga kegamangan kita menghadapi masa depan. Dan hidup, ah hidup. Dia selalu menyimpan harapan. Dalam tiap insan yang berharap dalam ketak-pastian menghadapi kemungkinan yang tak teramalkan di hari esok. Siapakah kita, selain dari sedetik saat di lintasan perjalanan waktu yang telah dan akan berjalan abad ke abad?

Sampai dimanakah perjalanan waktu ini akan kita susuri? Demikianlah, malam itu, di kota Kendari, aku merenungkan perjalanan kehidupan ini. Ada keraguan. Ada kehampaan. Tetapi ada pula harapan yang sayup-sayup terbit dalam relung hati kita. Dan ada banyak kemungkinan yang akan terjadi. Hidup memang memiliki banyak pertanyaan yang sering tak mampu kita temukan jawabannya. Selain dari menjalaninya. Selain dari menjalani dan mengalaminya sendiri. Dan bagaikan percikan cahaya kembang api di langit yang sebagian tertutup mendung tetapi tak mampu menyembunyikan cahaya malu-malu dari rembulan yang sedang purnama, hidup kita serupa pula dengannya. Kita ada hanya untuk sejenak, tetapi kita sanggup untuk mengisinya dengan satu keindahan cahaya yang demikian mempesona.

Maka saat memasuki lembaran baru sang waktu, saat kita menanggalkan kalender yang telah usang dengan yang baru, dan satu niat untuk mengisi lembaran hidup kita dengan harapan baru, kita bisa saling tersenyum. Detik selalu meninggalkan kita, namun selama kita masih memiliki yang baru, kita masih ada dan tetap memiliki harapan untuk bersinar walau hanya untuk sejenak. Sebab memang demikianlah hidup ini. Memang demikianlah. Selalu ada harapan yang mungkin tak pernah kita pikirkan sebelumnya. Siapakah yang dapat mengatakan bahwa dia tahu dengan satu kepastian akan apa yang akan ada di hari esok? Siapakah?

Kita adalah pemilik kehidupan ini. Sekarang. Saat ini. Dan itu adalah milik kita yang paling berharga. Waktu yang kita miliki bukan hanya satu mimpi, tetapi satu anugerah yang harus kita kenali, harus kita isi bukan dengan kesia-siaan dan perasaan tanpa daya. Selalu ada harapan. Selalu ada hari esok. Selama kita hidup. Selama kita mampu untuk menikmatinya. Apa yang telah terjadi di hari kemarin biarkan berlalu. Apa yang akan kita hadapi di hari esok penuh dengan kemungkinan. Namun berharaplah bahwa tak ada yang sia-sia untuk dijalani. Tak ada yang sia-sia. Langit malam memerah seakan hujan akan turun. Tetapi dia tak juga turun. Dan bulan purnama menampakkan kecemerlangannya dengan penuh seri. Dan semua itu masih memiliki kita. Dan kita pun memilikinya. Kita dimiliki dan memiliki. Kita.

Lewatlah tahun 2009. Memasuki tahun 2010. Langkah-langkah kita, walau bergema sepi dan sendirian di ujung malam, tak pernah terasa asing dimana pun kita berada. Dunia meluas dengan hamparan langit yang tak berbatas. Dan langit kota menebarkan lanskap yang demikian tak terduga dan penuh dengan kemungkinan dan harapan yang mengharap untuk diraih. Mengharap untuk diraih. Dari kitalah segala upaya itu berawal. Dari kitalah yang harus memulai segala sesuatunya. Kita adalah harapan bagi kehidupan kita sendiri. Hingga akhir tiba. Hingga akhir tiba.

Kendari, 31 Desember 2009 – 1 Januari 2010


 

Tonny Sutedja

MALAM INI HUJAN TURUN

Malam ini hujan turun Tapi kau tak ada Hujan turun bagaikan malaikat Yang merindukan kata Tetapi melupakan kalimat Dan diam-dia...