07 Mei 2017

SALIB

Pagi menjelang siang. Bus yang kutumpangi melaju di tengah lembah yang sepi. Pepohonan berlarian di sepanjang jalan. Debu berterbangan di belakang kami. Dan kami pun melewati sebuah pekuburan umum. Aku melihat sebuah salib tegak di antara puluhan nisan yang terhampar. Sebuah salib di tengah-tengah puluhan nisan berbentuk kubah. Keterpencilan? Ah, bukan! Dengan takjub dan terharu aku merasakan suatu ketegaran iman. Sebuah salib yang seakan-akan menjadi penunjuk bagi ratusan nisan lainnya. Sebuah lambang kesendirian yang berdiri dalam sunyi namun menyimpan kekuatan yang akan tetap hidup bagi kita semua.

Betapa sulit untuk memiliki iman. Saat kita menjadi minoritas yang hidup terpencil, kerap kali kita tergoda untuk mengikuti arus. Kita mudah untuk menyerah. Padahal Yesus sendiri pernah berkata kepada murid-muridNya: "Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:20) Ya, memang mudah bagi kita untuk menyatakan diri beragama tetapi sulit luar biasa untuk memiliki iman. Maka jika kita menghadapi suatu persoalan, kita cenderung untuk cari aman dan menghindari masalah dengan menerima saja pendapat mayoritas. Atau dengan hanya berdiam diri menyembunyikan sikap kita. Kita tidak lagi memiliki kepercayaan utuh terhadap Kristus, walau kita tahu bahwa Dia sendiri bahkan telah mati di kayu salib demi mempertahankan dan menyelamatkan kita semua. Dia mengurbankan diriNya untuk keselamatan kita semua agar tidak tersesat dalam lautan pendapat mayoritas yang bertentangan dengan cinta Bapa kepada manusia.

Sebuah salib berdiri di tengah jejeran ratusan nisan lainnya. Sebuah salib, mungkin dengan berjuta kisah, berjuta nestapa, berjuta tantangan yang telah dihadapinya. Namun dia tetap tegar mempertahankan imannya. Dapatkah kita berbuat demikian jika berada pada situasi yang sama? Ataukah kita lalu lari sambil meninggalkan iman kita? Meninggalkan segala prinsip dan pemikiran serta perasaan kita? Layaklah kita bertanya pada diri kita sendiri. Berada di tengah kalangan sendiri memang jauh lebih enak dan aman daripada sendirian di antara kalangan yang berbeda. Namun iman kita barulah teruji saat kita menghadapi kesulitan dan tantangan hidup. Iman kita baru akan terasah ketika kita merasa terpencil karena kebenaranNya. Kita, saudara-saudari tercinta Yesus sendiri selayaknya mengikuti teladanNya sendiri. “Agar kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan” Demikian pinta Rasul Paulus kepada kita semua (Flp. 2:15).

Bus yang kutumpangi melaju terus. Meninggalkan kepulan debu. Meninggalkan lembah yang indah. Meninggalkan pemakaman yang terpencil itu. Menuju ke tujuan yang ingin kucapai. Namun kenangan ini tetap akan terpatri dalam album hidupku. Bahwa ada yang semestinya tidak terkalahkan. Bahwa ada yang seharusnya tetap kekal dalam hidup yang singkat ini. Iman, harapan dan kasih kita semua pada Kristus. Karena padaNyalah kelak akan kita rebahkan diri. PadaNyalah kita serahkan segala duka nestapa kita. Semoga kita mampu untuk bertahan dalam iman seperti salib yang tegak di tengah ratusan nisan itu.


Tonny Sutedja
Posting Komentar

MALAM INI HUJAN TURUN

Malam ini hujan turun Tapi kau tak ada Hujan turun bagaikan malaikat Yang merindukan kata Tetapi melupakan kalimat Dan diam-dia...