18 April 2017

MENIMBANG HIDUP

Kupandangi ragaku
Rabu pagi
19 April 2017
Wajah yang penuh kerut
Otot yang kian kendor
Dan semangat yang lepas terbang
Entah kemana

Berangkat dari keceriaan pagi
Berjalan menuju kemuraman senja
Malam hampir tiba

Tidak terlalu jauh lagi
Jarak pandang mengarah
Kini semesta yang luas
Terbentang hampa
Nyaris kosong

Sendirian
Ya, betapa banyak pun kita bersama
Tetapi diri ini hanya satu
Dan lihatlah
Betapa cepatnya waktu berlalu
Dan dalam perjalanan kehidupan
Waktu tak pernah menunggu

Langit menyimpan misterinya sendiri
Adakah yang tahu apa yang disembunyikan-nya?
Tetes-tetes hujan, dari manakah sumbernya?
Tidakkah kita semua hanya dapat mengeluh
Hanya bisa mengaduh
Tetapi toh, tetap bertingkah
Seakan waktu tak pernah berhenti
Seakan waktu takkan berakhir

Kupandangi ragaku
Rabu pagi ini
Sambil merenung
Betapa sedikitnya hal yang kuingat
Betapa sedikitnya kenangan yang kusimpan
Di jarak waktu alam yang seakan tak bertepi
Aku hanya sebintik noktah
Kecil
Tetapi seakan
Segala-galanya

: Nothing but everything

Tonny Sutedja



POTRET DIRI 2017

Aku melangkah di bayang sepi
Aku melangkah dengan ketak-berdayaan
Bersama tidak siapa siapa
Bahkan tidak juga bersamamu

Berjalan malam menembus kabut
Di depan hanya kelam semata
Bagaimana bisa kau katakan
Sepimu sepiku juga?

Dengarlah suara yang tak berbunyi
Rasakanlah jiwa yang tak teraba
Serasa perih mengurung hati
Sementara kau jauh di atas

Di sepanjang selasar kehidupan
Engkau dan aku tetap berjarak
Sementara aku berteman ketidak-pastian
Engkau diam bersama para malaikatmu

Bersorak-sorailah wahai surga
Bertepuk tanganlah wahai dunia
Sebab telah kau berikan waktu padaku
Sementara engkau diam tak berwaktu

Aku melangkah di bayang sepi
Aku melangkah dengan kesadaran
Risauku yang tak berujung
Hanya punya diriku sendiri


Tonny Sutedja

17 April 2017

RAHASIA-RAHASIA

Setiap orang memiliki rahasianya tersendiri. Setiap orang: kau-aku-dia selalu menyembunyikan sisi hidupnya yang tak ingin ditampilkannya di depan umum. Baik perasaan maupun perbuatannya. Dan setiap bantahan dan pengakuan pun layak untuk dipertanyakan. Siapa yang dapat menebak apa yang ada di balik suatu senyuman? Atau apa yang tersembunyi di balik suatu isak tangis? Jujurkah kita pada saat kita melakukan apa yang ingin kita perlihatkan pada dunia di sekeliling kita? Hanya kita yang tahu apa yang sedang kita pikirkan.

Hidup memang selalu menyimpan rahasia yang tak tertebak oleh siapa pun. Bahkan juga oleh diri kita sendiri.  Maka mereka yang bersikap seo;ah-olah tahu apa yang menjadi rahasia seseorang telah bersikap seolah-olah menjadi Tuhan. Tetapi jelas bahwa seolah-olah bukanlah suatu kepastian. Dan sungguh mustahil menjadi kepastian. Sebab apakah kepastian itu jika kita sendiri tidak mampu mengetahui apa yang akan terjadi kemudian? Rahasia apa yang belum terjadi tak mungkin dapat kita pastikan, seberapa hebat pun kita mengumpulkan data yang telah terjadi sebelumnya.

Demikianlah, hidup kita ini penuh dengan misteri. Penuh dengan ketidak-pastian. Penuh dengan rahasia yang tak kita sadari. Di setiap perjalanan menempuhnya, kita selalu berada di persimpangan. Kita selalu harus memilih dan memutuskan apa yang baik dan menyisihkan apa yang kita anggap tidak baik. Dan pilihan-pilihan itu akan berbeda-beda antara kau, aku dan dia. Sesungguhnyalah kita tidak pernah satu. Dan takkan menjadi satu. Seberapa dekat pun kita. Sebab hidup ini sendiri memiliki kebebasan yang tak dibatasi oleh apapun selain dari pikiran kita sendiri.


Tonny Sutedja

NYANYIAN PANTAI LAMBESU

Aku rindu pulang
Menemui semilir angin
Menyapa wajahku

Kata tak terucapkan
Menyisir hening siang
Deburan ombak mendekap

Menemui apa siapa
Tak lagi penting
Aku akan pulang

Pasir kini membasah
Dan dia bernyanyi
Tentang kesegaran pagi

Dan mentari terik
Mulai membakar hidup
Rindu yang menguap

Melayang ke udara
Duka dan suka
Mengenang engkau sayangku

Aku rindu pulang
Bawalah aku bersamamu
Kita renangi sepi

Bersama dalam lagu
Bersatu dalam nada
Rinduku padamu


Tonny Sutedja

10 April 2017

KEKHAWATIRAN

Sabtu petang. Aku sedang menunggu pesanan nasi goreng di sebuah warung makan. Saat itu langit sedang mendung sangat tebal. Kilat berseliweran. Guntur menderu. Dengan rasa khawatir akan kemungkinan bahwa beberapa saat lagi hujan deras akan turun, aku menatap pada ibu tua yang sedang memasak pesananku. “Cepat bu, cepat....” seruku. Tetapi cuma dalam hati saja. Kulihat ibu itu dengan sabar dan tenang, mengerjakan tugasnya, sementara aku berdiri memandang antara dia dan udara yang semakin kelam. Dengan was-was. Dengan penuh kekhawatiran. Bahwa sebentar lagi hujan deras pasti akan datang. Namun pada akhirnya, selesai juga pesananku itu. Gerimis perlahan mulai turun saat aku pulang ke rumah.

Namun, di depan pasar Anduonohu, aku terjebak kemacetan. Nampaknya karena ada mobil pengangkut sampah yang sedang berhenti dan dua orang pekerja dengan tenang sedang membersihkan tumpukan sampah di tepi jalan yang sempit itu. Antrian kendaraan mengular karena ada dua buah truk besar yang juga menutup akses jalan di jalur yang berlawanan. Sementara itu, langit kian gelap dan kekhawatiran pada hujan deras akan segera turun semakin nampak nyata. Tetapi toh, pada akhirnya, aku lolos juga dari rangkaian panjang antrian kendaraan tersebut dan sampai di rumah dengan aman. Sementara itu mendung tebal masih menutup langit, tetapi hujan deras belum turun.  Dan pada akhirnya, tidak turun. Hanya gerimis kecil yang lembut menyapa bumi.....

Demikianlah, kekhawatiran kita sering jauh lebih menakutkan daripada kenyataan yang terjadi kemudian. Sebab, ternyata, walau ada situasi dan kondisi dimana seakan harus dan pasti terjadi, pada akhirnya lewat tanpa suatu kejadian yang berarti. Maka ketika menghadapi masalah yang besar, dan seakan-akan tidak dapat dicegah, yang dapat kita lakukan hanya bersabar untuk menerima apa saja yang bisa terjadi. Ada banyak kemungkinan yang tidak dapat kita antispasi semua selain hanya dengan menerima apa adanya. Sabar menghadapinya. Waktu selalu akan memberikan jawaban terbaik dari segala kekhawatiran kita itu.

Memang, ada banyak hal yang membuat kita khawatir. Hukuman atas kesalahan yang telah kita lakukan. Jatuh tempo pinjaman yang telah kita terima. Situasi dan kondisi yang seakan-akan tanpa harapan sama sekali. Segala kemungkinan yang membuat kita berada di sebuah jalan buntu. Dan segala sesuatu yang seakan-akan tak mungkin kita selesaikan dengan baik. Tetapi, pada akhirnya kita semua harus menerima dan menjalaninya. Tidak semua dapat berjalan sesuai dengan keinginan kita. Namun bagaimana pun juga pengalaman telah mengajarkan bahwa banyak dari kekhawatiran itu ternyata kemudian tidak terjadi. Atau jika pun terjadi, tidak semenakutkan dari apa yang sebelumnya kita pikirkan. Ternyata kekhawatiran itu jauh lebih mengusik pikiran kita daripada kenyataan yang kemudian kita alami.

Maka menghadapi segala kemungkinan terburuk yang bisa kita alami, tak perlu membuat kita putus asa. Sebab waktu ke depan mustahil dapat kita ramalkan. Bahkan walau seakan-akan itu pasti akan terjadi. Percayalah, bahwa ada yang jauh lebih menentukan jalannya peristiwa daripada apa yang ada dalam pikiran kita. Memang, kita tidak mesti berpasrah diri. Kita harus berjuang untuk menghindari segala kemungkinan buruk yang mungkin kita alami. Tetapi pada akhirnya, segala sesuatu harus kita terima apa adanya. Waktu itu untuk dijalani hingga akhir. Bukan untuk dikeluhkan atau dikhawatirkan terus menerus.


Tonny Sutedja

27 Desember 2016

SANG BAYI

Seorang bayi selalu menyimpan banyak kejutan. Dan kita sering tak menyadarinya. Hanya seorang bayi yang bisa menangis dan langsung tertawa kegirangan  dalam sekejap. Hanya seorang bayi yang bisa bermain tanpa peduli pada menang atau kalah. Hanya seorang bayi yang bisa dengan mudah membuang sesuatu yang berharga lalu menatap kita dengan lugu hingga kita tak mampu untuk marah. Seorang bayi selalu menyimpan banyak kejutan.

Ada saatnya, ketika menatap sang bayi yang tertidur lelap, saya bertanya dalam hati, mimpi apakah yang sedang dialaminya? Adakah dia merasa sedih melihat kita, para orang dewasa, yang memandang segala hal dengan teramat serius? Saya berpikir, jangan-jangan Pencipta kita jauh lebih dekat dengan seorang bayi daripada kita yang senang mempersoalkan banyak hal. Sering hal yang tidak punya arti sama sekali. Ya, jangan-jangan kita yang selalu memandang Sang Pencipta sebagai sosok yang sangat serius dan karena itu mudah tersinggung sama seperti kita, para orang dewasa, sesungguhnya lebih mirip dengan sang bayi yang senang bercanda. Siapa tahu?

Dalam sebuah novel yang menarik, “The Name Of The Rose” yang ditulis oleh Umberto Eco, dikisahkan betapa Tuhan itu sosok yang demikian serius sehingga menolak segala macam guyonan. Dan mereka yang membaca guyonan harus dibunuh oleh Imam Jorge yang buta tetapi menganggap dirinya seakan-akan menjadi Tuhan yang dianggapnya sangat serius sehingga membenci tawa. Tetapi siapakah kita yang mampu mengetahui jalan pikiran Sang Pencipta lalu menafsirkannya sesuai dengan jalan pikiran kita?

Seorang bayi selalu menyimpan banyak kejutan. Maka terpikirkan oleh saya, betapa dekatnya sang bayi dengan Penciptanya, menyimpan banyak kejutan yang kelak, akan demikian mengejutkan kita semua yang menganggap bahwa segala hal adalah sama dengan kita. Sama dengan pikiran kita. Sebab sesungguhnya, hidup ini adalah sebuah permainan yang kita jalani waktu demi waktu tanpa perlu memikirkan kalah atau menang, unggul atau takluk, juara atau tidak. Dan di ujung kehidupan kita, kelak jika tiba waktunya, kita akan merasa terkejut jika mengetahui bahwa hidup ini hanya sekedar candaan saja. Ya, siapa tahu?


Tonny Sutedja

BAHAGIAKAH SAYA?

Beberapa saat lagi tibalah kita di ujung tahun 2016. Walaupun semua mungkin terasa masih sama, tetapi apa yang telah lewat, takkan kembali lagi. Sebab itu, di hari-hari terakhir sebelum kalender bertukar, biasanya kita mengadakan perenungan tentang apa yang telah terjadi, sekaligus merencanakan apa yang bisa dan akan terjadi kemudian.

Bahagia-kah saya? Satu pertanyaan sederhana tetapi tidak mudah dijawab. Tetapi, jika kita mau jujur, seringkali jawabannya adalah tidak. Atau mungkin belum. Memang, kenyataan hidup yang kita jalani ini bukanlah sebuah dongeng indah, dimana yang baik selalu menang melawan yang jahat. Dimana yang jujur selalu unggul dari yang menipu. Dimana kasih sayang selalu mengalahkan kebencian. Dimana kelembutan selalu menaklukkan kekerasan. Tidak! Justru dari kenyataan yang terjadi dalam kehidupan manusia, seringkali yang terjadi adalah sebaliknya. Keserakahan lebih sering menang dari kemurahan hati. Ketidak-adilan unggul atas keadilan. Dan kekerasan menyisihkan kelembutan.

Maka kita sering merasa betapa Sang Pencipta hanya diam. Sering merasa betapa Tuhan, bagi yang percaya dan juga yang tidak percaya, hanya tinggal di sudut yang gelap seakan-akan tidak peduli pada penderitaan manusia, ciptaan-NYA sendiri. "Eli, Eli, lama sabakhtani? Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”. Seruan Yesus saat menghadapi sakratul maut di atas tiang salib mewakili seruan kita semua saat penderitaan melanda dan Allah seakan-akan tak berdaya menghadapi kekerasan hidup, ketidak-adilan, penipuan dan kekerasan yang sering kita alami.

Sebagai manusia, kita tidak sempurna. Sebagai manusia, kita menjalani kehidupan dalam ketidak-sempurnaan yang sempurna. Sejarah mencatat betapa hidup ini tidak bisa dan tidak mungkin dihadapi dengan segala wejangan dan anjuran yang baik-baik belaka. Kenyataan akan situasi dan kondisi yang dihadapi seringkali membuat manusia sadar bahwa hidup tidaklah sesederhana cerita dongeng yang dituturkan dengan indah dan penuh semangat. Harapan masa depan sungguh bukan teori tetapi kenyataan yang harus diterima, dihadapi dan dijalani dengan penuh variasi. Baik dan buruk adalah teori yang seringkali hanya terbatas pada perbuatan yang kita lakukan. Dan menilai kebahagiaan kita sungguh tidak mudah saat kita merenungkan secara mendalam makna keberadaan kita saat ini.

Hidup ini adalah sebuah perjalanan, mungkin terasa panjang tetapi sungguh singkat. Seakan tak berujung tetapi pasti akan berakhir. Dalam hal ini, penderitaan kita, penyakit dan pilihan serta perbuatan yang salah, kepedihan akan kondisi hidup maupun lingkungan yang memaksa, ketidak-adilan, kekerasan, ketidak-berdayaan, kemiskinan, ketidak-pedulian sering membuat kita merasa terperangkap tak berdaya, penuh penyesalan dan bahkan putus asa untuk tetap berjalan melanjutkan hidup ini, semua hal yang membuat kita tidak pernah merasa bahagia. Dan kita semua, jika mencoba untuk jujur pada diri sendiri, akan menyadari betapa tak mampunya kita untuk menerobos segala kesulitan itu. Sementara Tuhan seakan-akan sembunyi, berdiam diri dan tidak peduli sama sekali. Hingga seakan-akan tidak ada, atau ada tetapi dalam rupa pikiran kita sehingga kita merasa menjadi Tuhan.

Bahagiakah saya? Ah, di penghujung tahun 2016 ini, saya menjawabnya dengan tidak. Tetapi dengan kesadaran bahwa ketidak-bahagiaan bukan berarti keputus-asaan dalam menjalani kehidupan ini. Hidup adalah sebuah perjalanan menuju kebahagiaan sejati, maka apa yang saat ini telah, sedang dan akan saya jalani adalah semacam gemblengan untuk mencapai kebahagiaan itu. Lulus atau tidaknya saya, itu bukanlah keputusan saya sebagai manusia yang tidak sempurna, tetapi milik DIA yang maha sempurna.

Selamat menyongsong tahun 2017. Semoga kita semua kelak akan berbahagia selamanya.


Tonny Sutedja

WAKTU

  Sering, saat malam kelam, aku menatap puluhan, ratusan bahkan ribuan bintang yang kelap-kelip di langit di atas kepalaku. Panorama yang ha...