Angin perlahan mewujud
Dalam mendung dan gerimis
Tangis
Tercecer di atas jalan berlumpur
Tangis
Terbaur bersama genangan air hitam
Tangis
Aku tahu. Saatnya tiba. Bahwa
Angin perlahan mewujud
Lewat waktu
Lalu
Lebuh sepi. Tanpa mimpi
Gerimis. Hampa
Mengalir waktu ke selokan bau
Dan kata. Dan kata
Tertutup mendung
Terbawa mengalir bersama
Hening
Bercakap pada alam aku
bertanya padamu
Langit
Mendung
Kaukah aku?
Akukah kau?
Kaukah kau?
Akukah aku?
Tapi sepi
Datang. Menendang mimpi-mimpi
bertanya padaku
Jiwa
Rasa
Siapakah kau?
Siapakah aku?
Siapakah kita?
Siapakah?
Angin perlahan mewujud
Menunggu datangnya senja
Sepi dan dingin menikam jantung
Duka
Larut dalam hidup tanpa saat
Duka
Sisa kata melarung tangis
Duka
Saatnya tiba. Aku tahu. Bahwa
Angin perlahan mewujud
Lewat waktu
Lalu
Tiada kata
Lebuh sepi
Tiada mimpi
Tangis dan duka
Bercakap pada alam aku
bertanya padamu
Dimanakah diri?
Mengapa hidup?
Harus ada
Tanpa tiada
Genangan air mengalir
Ke selokan bau
Hitam mengalir tak kemana
Sosok diam adalah aku
Disini
Terbenam
Dalam waktu
Terbenam dalam waktu
Dan sepi
Datang
Menikam
Dalam jiwa
Menikam dalam jiwa
Tonny Sutedja
Vita Brevis. Hidup itu singkat. Maka jangan pernah berputus harap. Dum Spiro, Spero. Selama aku bernafas, aku berpengharapan. Tetaplah berjuang!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
WAKTU
Sering, saat malam kelam, aku menatap puluhan, ratusan bahkan ribuan bintang yang kelap-kelip di langit di atas kepalaku. Panorama yang ha...
-
Maka tibalah saat akhir itu Kau datang dan aku pergi Taburkan kembangmu di bumi bisu Lantas pahami makna diri Suka dan duka berjarak tipis...
-
Pagi menjelang siang. Bus yang kutumpangi melaju di tengah lembah yang sepi. Pepohonan berlarian di sepanjang jalan. Debu berterbangan di b...
-
Kita tahu bahwa kita ini hanya setitik debu di lautan sejarah yang tak terbatas Kita tahu bahwa rasa sering tak bisa kita sampaikan ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar