Cari Blog Ini

Memuat...

Pencarian dengan Google

Custom Search

16 Februari 2013

SALAH PAHAM


Seringkali kita merasa disalah-pahami. Seringkali kita merasa betapa orang-orang tidak mampu untuk mengerti perasaan kita. Dan jika kita menginginkan sesuatu yang tak mampu diwujudkan oleh mereka yang kita anggap harus menjadikan nyata keinginan kita sebagai suatu keberhasilan bagi kita, maka kita menjadi kecewa, sakit hati, frustrasi dan bahkan sering membuat kita menjadi putus asa dan apatis. Tetapi pertanyaan penting di balik kesalah-pahaman itu adalah, dapatkah kita memahami orang lain?

Seringkali memang kita merasa tidak dipahami. Tetapi jika kita mau jujur, seringkali pula kita ternyata tidak mampu memahami orang lain. Keterbatasan dan sifat-sifat pribadi orang lain yang mustahil serupa dengan kita. Bahkan jika kita berani untuk merenung lebih dalam, sesungguhnya bahkan kita sendiri sering tidak memahami diri kita. Keinginan kita. Perbuatan kita. Jika demikian adanya, perlukah kita mempersalahkan sesama kita? Dapatkah kita merasa kecewa dan sakit hati karena keinginan kita gagal terwujud karena kepentingan kita ternyata berbeda dengan kepentingan sesama?

Di dunia ini, waktu yang terus bergerak maju beriringan dengan perubahan yang mengikutinya. Situasi dan kondisi di era belasan atau bahkan puluhan tahun lalu tidak akan bisa disamakan dengan situasi dan kondisi saat ini. Demikian juga dengan pola pemikiran dan perasaan kita yang jelas tak akan mungkin sama dengan pola pemikiran generasi sekarang. Makassar di era 70-80an jelas sangat berbeda dengan Makassar saat ini. Perubahan-perubahan yang terjadi, disadari atau tidak, pasti membentuk pandangan dan pola pikir yang berbeda pula. Dan kita tak mungkin dapat menyamakannya. Kita mustahil untuk mundur kembali ke masa lalu. Seperti itulah pengalaman yang kita lalui setiap saat. Jadi perlukah kita kecewa karenanya?

Sesungguhnya banyak salah paham terjadi bukan karena sesuatu yang diragukan atau sesuatu yang disengaja. Tetapi jauh lebih sering karena ketidak-mampuan kita untuk memahami, baik terhadap sesama kita dan bahkan juga terhadap diri kita sendiri. Sebab, jika kita sendiri tidak memahami diri kita, dapatkah kita menyalahkan mereka yang tak mampu untuk memahami kita? Bukankah hal itu justru membuat kita sendiri ternyata tidak memahami kehidupan ini? Tidak menyadari perubahan yang terjadi? Tidak mengerti bahwa waktu ternyata terus melaju dengan membawa banyak hal yang tidak akan sama dengan kondisi dan situasi waktu yang telah lewat?

Hidup selalu berubah. Maka kita pun dituntut untuk mengubah diri. Kita tidak perlu merasa kecewa karena segala impian dan harapan kita ternyata gagal kita raih. Kita tidak perlu sesali jika apa yang kita harapkan ternyata tak dapat kita wujudkan. Sebab bukankah kita hanya mampu untuk memahami jika sadar akan keterbatasan diri kita dan keterbatasan sesama kita? Dalam waktu yang sangat panjang, kita hanya mengambil bagian terkecil saja di dalamnya. Dan sesungguhnya, kita pun bukan inti dari kehidupan walau masing-masing dari kita selalu mengira, dalam kesadaran dan pemikiran, bahwa kitalah yang sungguh nyata karena kita hidup. Tetapi jika kita melihat ke segala penjuru, kita akan menemukan kehidupan lain yang berbeda, sangat berbeda dengan kehidupan kita. Demikianlah adanya manusia ini.

Seringkali kita merasa tidak dipahami. Dan jelas bahwa seringkali pula kita ternyata gagal untuk memahami. Dan itu sudah merupakan hal yang lumrah sebab kerap kita pun ternyata tidak mampu memahami diri sendiri. Tetapi sesungguhnya kita hidup dengan kodrat yang jauh lebih luas dari hanya menyesali salah paham yang terjadi. Kita hidup tidak untuk dipahami saja. Kita hidup untuk juga dapat memahami. Dan jika kita mampu untuk melakukan hal itu, kita bisa sadar bahwa pemahaman kita ternyata terbatas, sangat terbatas. Karena setiap orang hidup dengan dan bersama rahasianya msing-masing. Rahasia yang sungguh tak mudah terkuak bahkan oleh kita yang memilikinya sendiri. Tak mudah.

Maka mari kita mencoba untuk tidak mudah menyesali kesalah-pahaman itu. Mari kita berupaya untuk mencoba mengerti kelemahan-kelemahan diri kita sendiri. Mari kita menjadi manusia yang sadar bahwa tidak semua kenyataan dapat kita pahami. Bahwa hidup kita yang hanya selintas ini sesungguhnya memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada hanya saling menyalahkan. Salah paham adalah hal yang lumrah. Bersamanya, kita justru harus mengerti bahwa kita hidup tidak seorang diri saja. Dengan demikian, setiap kesalah-pahaman justru dapat membuat kita lebih kuat dalam memahami diri kita. Mari kita memahami salah paham itu.

Tonny Sutedja
Poskan Komentar