07 Mei 2017

DOMBA YANG TERSESAT

Waktu sepanjang hidup. Hidup sepanjang nafas. Begitu sederhana. Namun rumit. Ada demikian banyak suka. Dan duka. Begitu banyak manis. Dan pahit. Sepanjang waktu nafas yang singkat ini. Awalnya mungkin perkenalan biasa. Lalu debaran-debaran di dada. Disusul masa pacaran. Lalu pernikahan. Begitulah awal sebuah cinta. Keluarga pun terbentuk. Wanita menjadi istri. Lelaki menjadi suami. Waktu terus melaju. Hidup tetap melata. Wanita melahirkan. Anak-anak bermunculan. Mereka hidup menyatu di sebuah rumah kontrakan. Kecil dan mewah, mepet sawah. Lelaki itu bekerja di sebuah perusahaan kecil. Sebagai satpam. Penghasilan pas-pasan membuat hidup mereka nyaris tanpa hiburan. Maka anak-anak pun terus bermunculan. Dengan tujuh bocah kecil, kehidupan mereka pun semakin sulit. Biaya untuk hidup. Biaya untuk sekolah. Biaya untuk segala macam. Maka air kesulitan berada tepat di bawah lubang hidung mereka.

Kehidupan yang keras dan sulit membuat perubahan drastis dalam sikap. Kambing hitam lalu dicari. Mereka mulai saling menyalahkan. Segala yang dilakukan oleh pasangan menjadi sasaran kemarahan. Saling tuding. Saling tuduh. Hari-hari menjadi tak tertahankan. Istri menjadi amat peka dan ceriwis. Suami menjadi pemarah dan ringan tangan. Maka lumrahlah jika saat-saat tertentu wajah sang istri menjadi biru lebam akibat tamparan dan pukulan suaminya. Suami menjadi jarang di rumah. Ngelayap kemana-mana. Anak-anak pun terlantar.

Suatu hari saat dua dari anak mereka akan Sambut Baru, tak ada uang sepeser pun di kantung. Padahal ibu sang suami datang berkunjung dari daerah khusus untuk menghadiri acara tersebut. Maka pontang-pantinglah mereka mencari dana. Hutang kiri kanan. Wajah sang Istri selalu cemberut. Suami marah terus. Situasi menjadi peka dan mudah meledak dan memang itulah yang akhirnya terjadi. Seorang anak mereka, yang bungsu, tiba-tiba jatuh sakit. Mertua pun ikut campur dalam segala hal. Akhirnya sang istri tidak tahan lalu lari ke rumah orang tuanya. Tetapi sang suami datang dan menyeretnya pulang. Di rumah, di hadapan anak-anak dan mertuanya, dia diperlakukan bak samsak. Darah berceceran di wajahnya. Ia jatuh terjerembab ke tanah. Penglihatannya nanar. Lalu gelap. Gelap!

Aku merenungkan hal itu saat duduk di sebuah Restauran Cepat Saji. Di tanganku tergenggam koran Pedoman Rakyat tanggal 5 Nopember 2001. Dan berita tentang seorang suami yang membunuh istrinya ketika anak mereka akan menerima sambut baru hanya karena kekurangan dana. Di luar kulihat seorang wanita, berpakaian compang-camping, berjalan dibawah cucuran hujan. Jalan Sultan Hasanuddin sepi karena waktu buka puasa telah tiba bagi umat muslim. Dan di dalam Restauran ini suasananya amat hiruk pikuk. Penuh tawa ria. Ironi yang demikian tajam menusuk pikiranku.

Bagaimana kita memaknai kejadian-kejadian tersebut saat Natal menjelang? Dan Hari Ibu akan kita rayakan bersama? Saat baju-baju baru disiapkan. Saat libur panjang mulai direncanakan. Dan acara-acara gembira siap digelar? Selalu dan selalu ada yang terlupakan di belakang. Selalu dan selalu ada yang tertinggal dalam laju waktu. “Maka raja itupun menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Kukira itulah jawaban yang ditawarkan Tuhan Yesus pada kita saat kita bersama-sama menyambut kelahiranNya. Sebab “Dia datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani” (Mrk 10:45). Untuk itulah Kristus lahir ke dunia. Maka saat lonceng-lonceng Natal mulai bergema, patutlah kita renungkan kembali makna kelahiranNya. Kembali ke hakekat inti pada makna dan bukan hanya menikmati kulit luarnya saja. Marilah kita melakukan sesuatu yang tidak kelihatan namun berharga daripada melakukan sesuatu yang kelihatan jelas namun tidak punya harga apa-apa di hadapan Bapa.

Kembali ke kehidupan nyata, aku duduk dengan gundah. Sambil menyantap makanan yang tersaji di depanku, pandanganku terarah ke luar. Ke jalanan yang sepi. Gelap sepanjang hujan. Hujan sepanjang malam. Malam sepanjang hidup.


Tonny Sutedja
Posting Komentar

MALAM INI HUJAN TURUN

Malam ini hujan turun Tapi kau tak ada Hujan turun bagaikan malaikat Yang merindukan kata Tetapi melupakan kalimat Dan diam-dia...