19 Mei 2017

AGAMA DAN MANUSIA

Agama adalah sarana menuju kepada Sang Maha Pencipta semesta ini. Agama bukan Sang Maha Pencipta itu sendiri. Dan sebagai sarana, berbagai agama diturunkan sesuai dengan habitat manusia. Karena manusia diberikan kebebasan untuk memilih sesuai dengan kesadarannya masing-masing. Dan setiap agama selalu dituntun oleh mereka yang dianggap pandai dan punya integritas terhadap agama itu. Penuntun yang juga manusia tetapi memiliki keahlian dalam menafsirkannya. Tetapi akhir-akhir ini, agama tiba-tiba menjadi seakan-akan Sang Maha Pencipta yang tidak dapat dibantah, tidak dapat salah dan mutlak benar. Padahal sebagai sarana yang dilaksanakan oleh manusia, selalu ada ketidak-sempurnaan dalam berbagai bentuk karena manusia bukanlah mahluk yang sempurna.

Setiap agama memiliki lambang-lambang khas yang menjadi tanda khusus bagi para penganutnya. Namun, ketika lambang-lambang itu lebih diutamakan daripada kelakuan dan perbuatan para penganutnya, dimana mereka yang mengenakan lambang tersebut bisa dianggap tidak pernah salah, sesuatu yang sempurna, apapun yang telah dilakukan para penganut itu, maka timbullah kekisruhan. Ketika para pemakai lambang-lambang tersebut berhadapan dengan mereka yang tidak memakainya, mereka yang berbeda walau mungkin juga sama agamanya, dan bahkan menuding kepada mereka yang berbeda sebagai tidak beragama bahkan sebagai yang tidak percaya kepada Sang Maha Pencipta, sebagai kafir, bukankah itu malah menjadikan lambang-lambang agama sebagai sang maha pencipta, bahkan sebagai berhala baru?

Sang Maha Pencipta itu sempurna, tetapi sebagai manusia kita semua tidaklah sempurna. Kita hanyalah ciptaan yang berkembang sesuai dengan karakter, pola pikir dan kesadaran kita masing-masing, dan sesuai dengan habitat lingkungan dimana kita berada di dalamnya. Itulah yang membuat kita berbeda. Bahkan dalam habitat lingkungan yang sama pun, kita tetap berbeda karena masing-masing dari kita telah diberi karunia khas masing-masing: akal untuk berpikir dan menyerap semua pengalaman yang telah kita alami sebagai sesuatu yang unik pada masing-masing individu. Menyalahkan akal dan karakter seseorang sama saja dengan mempertanyakan, bahkan tidak mempercayai kekuasaan mutlak Sang Maha Pencipta Semesta ini untuk menjadikan kita sebagai manusia di dunia yang beragam dan tidak sempurna ini. Sebab, keberagaman diciptakan agar dunia ini menjadi lebih bermakna dan perjuangan untuk menjalani kehidupan ini punya arti bagi Sang Maha Pencipta sendiri.

Maka siapakah kita ini? Bukankah kita ini memiliki kesadaran untuk dapat berpikir, untuk dapat belajar dari segala yang ada di sekeliling kita, baik yang telah kita alami sendiri, maupun yang bisa kita serap dari segala sesuatu yang kita ketahui di dunia ini? Dan di ujung semua itu, bukankah kita pada akhirnya akan berakhir dengan satu pertanyaan besar tentang makna keberadaan kita di alam semesta ini? Ya, siapakah kita ini yang mungkin merasa paling tahu, paling hebat, paling jago bahkan paling sempurna tetapi sesungguhnya hanya senoktah kehidupan yang kelak akan menjadi tanah belaka? Mencari makna kehidupan ini selalu harus dengan belajar memahami, dan bukannya dengan menghapal segala apa yang telah kita terima dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak mungkin berubah, yang paling benar dan bahkan sempurna dan kekal. Sebab hanya Sang Maha Penciptalah yang sempurna, dan semua makna keberadaan kita di dunia ini tersimpan dalam rahasia Ilahi yang kelak akan terkuak setelah kita, ya kita semua, berhadap-hadapan dengan DIA.


Tonny Sutedja
Posting Komentar

MALAM INI HUJAN TURUN

Malam ini hujan turun Tapi kau tak ada Hujan turun bagaikan malaikat Yang merindukan kata Tetapi melupakan kalimat Dan diam-dia...